Author Topic: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit  (Read 1418205 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

Offline Juan pablo

  • di atas ada satelit dan langit
  • Forum Moderator
  • Master
  • *****
  • Posts: 5192
  • Age: 118
  • Location: Bumi Angso Duo
  • Date Registered: September 24, 2007, 06:33:18 pm
  • Reputasi : 292
  • Victoria Concordia Crescit,.... no-matter-what
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #900 on: August 19, 2008, 01:37:04 pm »
kalo ga salah tv0ne sekarang kan milik bakrie group

dan kalo ga salah juga, anteve milik dia juga dulu

bener ga??

bener broo, kalo antv itu join antara Bakrie dan starttv. kalo Tvone itu juga join antara bakrie, group mahaka (yg punya jak tv). jadi antv, tvone dan jaktv juga punya bakrie. dan habis ini bakrie punya pay tv B Vision. wow emang deh kerajaan bakrie guede banget ya
semoga aja yang die rencanakan lebih terasa "indonesia" nya
Jadilah petarung, karena hanya petarunglah yg mengerti arti kalah dan menang. Terbanglah kepusaran angin dan pusat pusat badai, segeralah bangun tanpa banyak mengeluh ketika jatuh dan terhempas. Karena "sakit" itu menyehatkan dan mendewasakan jiwa

Offline risal.maros

  • Grand
  • Up Level
  • Master
  • ********
  • Posts: 5474
  • Age: 50
  • Location: Maros_sulsel
  • Date Registered: March 15, 2008, 11:39:52 pm
  • Reputasi : 208
    • Email
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #901 on: August 19, 2008, 02:43:45 pm »
Mnc grup kan dah direlay ma pay tv jepang termasu trijaya fm. Mnc ditelstar mungkin tuk direlay di sana

Offline Ibani_neo

  • fanatisme fta
  • Forum Moderator
  • Guru
  • *****
  • Posts: 3447
  • Age: 6
  • Location: Latitude: -2.4191 Longitude: 115.2473/Amsterdam city~ ASj
  • Date Registered: May 29, 2008, 11:26:25 am
  • Reputasi : 90
  • the legend of sa'ilanmaulah
    • Www.Ibnet.Forumsmotion.Com
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #902 on: August 19, 2008, 03:10:54 pm »
Mnc grup kan dah direlay ma pay tv jepang termasu trijaya fm. Mnc ditelstar mungkin tuk direlay di sana
kalau gak salah saya pernah ketemu di ABS 1 TV indonesia (ITV)indonesia televisi,,,maaaf kalau salah sebut ;D ;D
5F206429

Offline tvholic

  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 2100
  • Age: 33
  • Location: Banyuwangi
  • Date Registered: March 04, 2008, 11:04:00 am
  • Reputasi : 35
  • Mencari Yang Terbaik
    • Email
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #903 on: August 19, 2008, 07:41:50 pm »
Mnc grup kan dah direlay ma pay tv jepang termasu trijaya fm. Mnc ditelstar mungkin tuk direlay di sana
kalau gak salah saya pernah ketemu di ABS 1 TV indonesia (ITV)indonesia televisi,,,maaaf kalau salah sebut ;D ;D

ITV tuh tv yang nggak jelas banget. katanya tv Indonesia tapi kok malah di satelit sendiri nggak nongol. mumed aku  :(XX

Offline andriyuliantomi

  • Up Level
  • Ksatria
  • *******
  • Posts: 1143
  • Age: 34
  • Location: Dari Painan (SumBar) ke Batam (Kepri)
  • Date Registered: January 10, 2008, 12:16:33 pm
  • Reputasi : 26
    • Salah Seorang Interisti dari Sumbar
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #904 on: August 19, 2008, 07:58:27 pm »
Di mana keberadaan Indonesia TV (ITV) sekarang? Ada yang tau nggak?
Bagaimana dengan kelanjutannya, atau malah sudah bubar di tengah jalan?

Offline hidden004

  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 2283
  • Date Registered: July 16, 2008, 09:19:22 am
  • Reputasi : 49
    • Email
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #905 on: August 20, 2008, 08:21:02 am »
HURU-HARA LIGA INGGRIS, ASTRO, AORA TV DST
Perkembangan  mutakhir  hak  siar  liga  premier sepakbola Inggris (English Premiere  League,  EPL)   dan  kiprah  Astro Malaysia di Indonesia memasuki babak  yang  semakin  buruk.  Sekarang ini, bukan saja masyarakat luas yang dilecehkan,  tapi  keseluruhan  sistem  penyiaran  Indonesia  pun dijadikan bulan-bulanan.
Celakanya,  Komisi  Penyiaran  Indonesia  dan  Depkominfo termangu bodoh di pojok sana.
Saat  ini,  mereka  yang  sudah  membayar  200  ribu rupiah per bulan untuk berlangganan  Astro  pun  sudah  tidak  bisa  lagi  menikmati  siaran  EPL.
Penyebabnya sederhana: Astro berseteru dengan Direct Vision yang selama ini menjadi operator TV yang membawa isi siaran yang dibawa Astro ke Indonesia.
Astro  menyatakan  menarik diri dari kerjasamanya dengan Direct Vision, dan dengan tenangnya mereka melenggang keluar.
Namun,  itu  tak  berarti  EPL  akan hilang sama sekali dari layar televisi Indonesia. Astro sudah akan pindah dari Direct Vision ke sebuah operator tv berlangganan  baru,  AORA  TV  yang sejak awal Agusus ini sudah beroperasi.
Hanya  saja,  untuk  sementara  migrasi  ini  masih berada pada tahap awal, sehingga  segenap tayangan Astro secara lengkap diperkirakan bisa disajikan di AORA baru pada awal 2009 nanti.
Ini  tentu  menimbulkan  banyak masalah. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia sudah  bersuara  keras  tentang  hak  pelanggan Direct Vision. Direct Vision sendiri   pasti   sedang  kelimpungan  kehilangan  pelanggan  besar-besaran sekaligus  mencari  pengisi  isi  siaran alternatif selepas perginya Astro.
Migrasi  pelanggan dari Direct ke AORA juga pasti melibatkan  birokrasi dan dana yang besar.
Bagi  banyak  orang,  segenap kekacauan ini sudah bisa diantisipasi terjadi karena  memang tak ada aturan yang jelas ditetapkan oleh KPI dan Depkominfo mengenai  industri  televisi  berlangganan  di Indonesia. Industri televisi berlangganan  kita  dibiarkan berantakan. Dan contoh terbaik dari kekacauan ini adalah soal Astro TV.

KEKACAUAN DEMI KEKACAUAN
Astro, tentu semua tahu, datang dari Malaysia. Di negaranya sendiri, mereka
adalah  pemain  tunggal. Dengan posisinya yang monopolistis itu, Astro bisa
mempenetrasi 60 persen rumah tangga di Malaysia.
Dalam  rangka  memperbesar  diri, Astro kemudian merambah ke Indonesia yang tingkat  penterasi  televisi  berbayarnya  masih sangat rendah. Untung bagi Astro,  kebijakan  di  Indonesia  sangat longgar. Tak ada pembatasan jumlah pemain televisi berbayar di negara ini.
Satu-satunya  pembatasan  di  Indonesia  yang  menghambat ekspansi Astro ke Indonesia  adalah ketetapan UU Penyiaran mengenai modal asing. UU Penyiaran kita  tak  mengizinkan  pemain asing masuk begitu saja. UU menyatakan bahwa saham  asing di lembaga penyiaran berlangganan di Indonesia adalah maksimal 20 persen. Karena itulah Astro masuk ke Indonesia pada 2005, melalui Direct Vision yang adalah anak perusahaan grup Lippo.
Masalah  berikutnya  adalah  soal  satelit siaran. Astro sejak awal membawa siarannya   dari   Malaysia  melalui  satelit  Malaysia,   Measat-2,   yang sebenarnya  tak  memiliki  apa  yang  disebut  sebagai "hak labuh" (landing right)  di  Indonesia. Saat itu hanya satelit milik Indonesia yang memiliki
hak  labuh di Indonesia. Tapi, hambatan itu tak menghentikan langkah Astro.
Perusahaan  ini  memang  memiliki  kedekatan dengan para petinggi Malaysia. Hubungan  antar  pemerintah  pun  dilakukan. Hasilnya, pemerintah Indonesia mengizinkan  siaran  Astro dipancarkan ke Indonesia melalui MEASAT-2. Untuk menyenangkan hati para pemain di Indonesia, dalam kesepakatan itu dikatakan bahwa kedua negara menerapkan asas resiprokal (timbal-balik). Implikasinya, satelit Indonesia pun seharusnya memiliki hak labuh d Malaysia.
Sekadar  catatan,  prinsip resiprokal ini jadi tak berarti karena pada saat yang  sama,  pemerintah  Malaysia  tak  mencabut ketetapan tentang monopoli Astro  dalam  industri  pay-tv  di  Malaysia.  Akibatnya, walaupun  satelit Indonesia  dapat  memancarkan  siaran  ke Malaysia, itu tak dapat digunakan
untuk  kepentingan  bisnis  televisi berbayar di luar Astro. Padahal semula diharapkan   dengan   disepakatinya   prinsip  tersebut,   operator  pay-tv Indonesia  seperti  Indovision bisa juga berbisnis memasuki pasar Malaysia.
Tapi itu semua gagal diwujudkan karena, seperti biasa, pemerintah Indonesia begitu mudah dikadali.
Setelah  Astro  resmi beroperasi di Indonesia, masalah demi masalah muncul. Astro  tahu  tak  mudah  menembus  pasar  Indonesia.  Karena  itu,  "tujuan menghalalkan  cara". Mereka tahu kuncinya adalah memaksa penonton Indonesia untuk  berpindah  dari  operator pay- tv yang ada serta memaksa mereka yang sebelumnya  tidak  berlangganan  pay-tv  untuk  mulai  berlangganan pay-tv.
Kuncinya adalah: monopoli siaran!
Karena  itulah sejak 2007 , mereka memegang monopoli hak siar EPL, sehingga pertandingan-pertandingan  liga  sepakbola  terpopuler  itu  tak  bisa lagi disaksikan  melalui   operator  televisi  berbayar  lain  dan juga tak bisa disaksikan  oleh  penonton  televisi free-to-air. Strategi itu itu ternyata
lumayan  sukses.  Dikabarkan,  Dircet  Vision  hanya  dalam satu tahun bisa memperoleh  60-80  ribu  pelanggan.  Masih  jauh  dari  harapan  Astro yang mentargetkan bisa memperoleh satu juta pelanggan, tapi bisa disebut sebagai
kesuksesan terbesar dibandingkan pay-tv yang lain.
Tapi   rupanya,   Astro  belum  cukup  puas  dengan  itu.  Kabarnya,  Astro sebenarnya  berharap  bisa  membeli  20  persen  saham  Direct Vision. Tapi kenyataannya   sampai   tahun  ini,  rencana  itu  tak  kesampaian.  Apapun persoalannya, Astro tahun ini pecah kongsi dengan Direct Vision.
Namun,  itu  tentu bukan keputusan yang dibuat mendadak. Begitu Astro putus hubungan  dengan  Direct  Vision, hadir operator televisi berbayar baru: PT Karya  Megah  Adijaya  (KMA)-perusahaan  yang  mayoritas  sahamnya dimiliki
keluarga  Rini  Mariani  Soemarno.  KMA  ini yang menjadi mitra baru Astro.
Brand yang digunakan KMA adalah Aora. Nama itu bisa disebut sebagai akronim Astro  Nusantara.  Aora TV juga akan menggunakan satelit Malaysia, MEASAT-3 yang  menggunakan  frekuensi  KU-Band.  Apakah  MEASAT-3 sudah memiliki hak
labuh    di    Indonesia?    Tak    jelas   benar.   Tapi   siapa   peduli?
Meloncatnya  Astro  dari  Direct  ke  KMA  tentu  hal serius dipandang dari kebutuhan  membangun  industri  yang  sehat.  Tapi  nampaknya, tak akan ada kebijakan   apapun   dikeluarkan   oleh   KPI  dan  Depkominfo.  Akibatnya,
perpindahan Astro berjalan mulus.
Menarik  juga  untuk  mencatat  bahwa  pihak  KMA  adalah lembaga penyiaran berlangganan pertama di Indonesia yang memperoleh izin penyiaran tetap dari Depkominfo  pada  31  Juli  lalu.  Mereka  memeprolehnya sementara operator
pay-tv lain ? seperti Telkom Vision atau Indovision ? masih menunggu proses
penyelesaian izin dari KPI. Barangkali ini ada kaitannya pula dengan siapa yang berada di belakang KMA.
Rini   Soemarno   dulu    dikenal  sebagai  Rini  Suwandi,  mantan  menteri perdagangan era Megawati. Inevastasi awal KMA, menurut tabloid Kontan, baru Rp 40 miliar.Tapi mereka juga mengaku bahwa akan ada kucuran dana sampai Rp
450  miliar.  Uang  siapa?  Bisa jadi, keluarga Soemarno. Tapi tolong catat satu  hal:  Presiden Direktur KMA adalah Ongki Sumarno, yang dulunya adalah Presiden  Dikrektur  salah satu anak perusahaan  Humpuss, grup bisnis milik Tommy Soeharto. Nah!
Keluarga  Soemarno  menguasai 95 persen saham KMA, sementara lima persennya lagi  dimiliki  bersama  oleh  sejumlah  orang  penting  Golkar, termasuk ?
kabarnya -- Solihin Kalla, salah seorang putra Jusuf Kalla. Nah. Lagi!
SKANDAL EPL DI INDONESIA
Cerita hak siar EPL di Indonesia tahun ini juga tak kalah memalukannya.
Pihak  yang  menguasai  hak  siar  EPL  di  Asia adalah ESS, yang merupakan
kerjasama  dua  raksasa  kanal  olahraga  berbayar  di dunia: ESPN dan Star
Sports.  Sebelum  masuknya  Astro  ke  Indonesia,  televisi  free-to-air di
Indonesia   berhubungan  dengan  ESS  untuk  memperoleh  hak  siar  EPL  di
Indonesia.  Sementara pelanggan pay-tv di Indonesia  menyaksikan EPL di dua
channel: ESPN dan Star Sports.
Ini  semua  berubah tahun lalu, ketika Astro All Asia Network (induk Astro)
menyabet hak siar EPL di tiga negara: Malaysia, Indonesia dan Brunei.
Manuver  Astro  memang mengejutkan. Mereka membayar ESS 60 juta dolar untuk
tiga  musim EPL (dari 2007-2008 sampai 2009-2010) untuk memperoleh hak siar
tiga negara sekaligus. Tapi mereka jelas bukan sekadar menghambur-hamburkan
uang. Kalau diperinci menjadi per negara, Astro sebenarnya "hanya" membayar
20  juta  dolar  AS  untuk hak siar EPL di masing-masing negara selama tiga
musim, atau kurang dari 7 juta dolar AS per negara pada satu musim.
Manuver  Astro  mengacaukan  pasar  dalam  negeri Indonesia. Sebelum Astro,
pertarungan  terjadi antar pemain di Indonesia untuk memperoleh hak siar di
Indonesia  saja. Misalnya saja, pada 2005-2006, TV7 membayar 4,4 juta dolar
AS  untuk  satu  musim  EPL. Para stasiun televisi lokal ini tentu saja tak
tertarik  untuk  bertarung  memperebutkan hak siar tiga negara seperti yang
dilakukan                                                            Astro.
Karena  itulah, tahun lalu, Astro berjaya dengan hak siar eksklusifnya atas
EPL  di Indonesia. Dengan hak itu, Astro berhak meminta ESPN dan Star Sport
untuk  tidak menyiarkan satupun pertandingan liga Inggris melalui pay-tv di
luar Astro.
Tapi   tahun lalu para operator televisi berbayar lain memprotes karena hak
siar itu tidak pernah ditawarkan pada para pemain di Indonesia. Praktek itu
dianggap tidak adil. Tahun ini, rupanya kecaman itu berusaha diredam dengan
paktek akal-akalan yang sama sekali memalukan.
Sebelum  EPL  dimulai  tahun  ini,  pihak  ESS  dan  Astro  tiba-tiba  saja
menawarkan  hak siar EPL untuk musim 2008-9 dengan nilai fantastis: 25 juta
dolar  AS!  Ini  angka  gila  sebenarnya.  Lebih  gila  lagi,  mereka hanya
menyediakan  waktu  empat  hari  bagi  para  operator  televisi berbayar di
Indonesia untuk menjawab tawaran. Jadi tawaran diajukan pada 8 Agustus, dan
pihak  yang  tertarik  diminta  mengajukan  kesediaan pada 11 Agustus, yang
kemudian  diralat  menjadi 12 Agustus pagi. Bahkan dengan tambahan catatan,
bila memang bersedia membeli, pihak yang tertarik sudah harus membayar uang
muka pada 14 Agustus 2008.
Tanggal  8  Agustus  adalah hari Jumat, sementara 12 Agustus adalah Selasa.
Jadi  bisa dibayangkan, para pengambil keputusan di empat televisi berbayar
Indonesia  harus  mengambil  keputusan  sangat cepat hanya dalam waku empat
hari, yang dua hari di antaranya adalah weekend!
Tapi yang tak dibayangkan Astro adalah, manuver itu ternyata justru membuat
para  operator  televisi  berbayar Indonesia bersatu. Empat operator pay-tv
Indoensia (Indovision, First media, Telkom Vision, dan IM2) memutusan untuk
membentuk semacam 'konsorsium' untuk menjawab tawaran ESS-Astro itu. Mereka
bersama-sama  menjawab  bahwa  mereka  tertarik  untuk   membeli  hak  siar
tersebut dengan harga yang ditawarkan, dengan rencana bahwa mereka kemudian
akan  berbagi  siaran selama satu tahun. Semangatnya adalah, pokoknya bukan
Astro!
Melihat  akal-akalan  mereka  berantakan,  ESS  kemudian mengumumkan  bahwa
tawaran  itu  dibatalkan mengingat "sudah ada tawaran pihak lain yang lebih
menarik".  Tak  ada penjelasan apa-apa mengenai siapa pihak lain itu. Tapi,
tentu saja, siapapun tahu yang akan memperoleh hak siar EPL itu adalah Aora
TV.  Di  Wikipedia  saja, sudah ada entri Aora TV, yang di dalamnya termuat
penjelasan  bahwa  "Aora TV berhasil memperoleh hak siar Liga Utama Inggris
di  Indonesia  untuk  musim  2008-2009  yang  semula  dimiliki  oleh  Astro
Nusantara".
Apa  yang  terjadi  itu  menjelaskan  betapa berantakannya sistem penyiaran
kita.  Semua berlangsung dengan  diketahui Depkominfo dan juga KPI. Tak ada
satupun  yang  berbuat  apa-apa.  Tak  ada  regulasi.  Tak  ada intervensi.
Kompetisi  dipersilakan  berlangsung  sebabas-bebasnya.  Tak ada kepedulian
pada  kepentingan  publik.  Tak  ada  kepedulian  pada kepentingan industri
nasional                             yang                            sehat.
Sekadar  catatan,  Singapura  menolak kehadiran pemain asing dalam televisi
berbayar  mereka.  Sekadar  catatan pula, di Inggris sendiri, tak boleh ada
monopoli  siaran  EPL. Di sana yang menyiarkan EPL adalah televisi berbayar
Sky-Tv dan televisi publik free-to-air, BBC.
Menurut  saya,  sudah  saatnya  negara  (dalam  hal ini Depkominfo dan KPI)
mengintervensi  persoalan EPL. Kalau tidak, kita akan menjadi bulan-bulanan
bisnis  televisi  dan  olahraga  internasional  yang  dengan seenak-enaknya
menghisap  kekayaan  kita,  seraya mengahancurkan industri pertelevisian di
dalam negeri.
Kalau  perlu  negara turut campur dan mewakili stasiun-stasiun televisi dan
operator  televisi  berbayar  untuk berhadapan dengan industri asing. Kalau
tidak,  kita  benar-benar  akan  jadi  bulan-bulanan.   Harga hak siar Liga
Inggris  pada 2003, cuma 1,2 juta dolar AS untuk 62 pertandingan. Dua tahun
berikutnya  sudah  melonjak  menjadi  4,4 juta dolar AS. Kalau sekarang ESS
berani mematok harga 25 juta dolar AS, itu menunjukkan betapa mudahnya kita
dianggap dapat diadu-domba oleh konglomerat industri media internasional.
--
Hananto L. Wibowo -- [email protected]

Offline oxanno21

  • Siswa
  • ***
  • Posts: 282
  • Location: Indonesia
  • Date Registered: May 23, 2008, 09:41:35 am
  • Reputasi : 4
    • Email
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #906 on: August 20, 2008, 11:10:16 pm »
Setelah era LATIVI, TRANS TV, dan TV 7, belum ada lagi tv nasional baru di Indonesia.

Malahan sekarang yang akan bertambah banyak mungkin pay tv.

TV yg baru-baru dah gak boleh lagi siaran nasional
Skrg yg boleh TV lokal
Jd TV Swasta nasional kita dah cukup 10 ajah bro..

Offline tvholic

  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 2100
  • Age: 33
  • Location: Banyuwangi
  • Date Registered: March 04, 2008, 11:04:00 am
  • Reputasi : 35
  • Mencari Yang Terbaik
    • Email
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #907 on: August 21, 2008, 06:21:46 am »
Setelah era LATIVI, TRANS TV, dan TV 7, belum ada lagi tv nasional baru di Indonesia.

Malahan sekarang yang akan bertambah banyak mungkin pay tv.

TV yg baru-baru dah gak boleh lagi siaran nasional
Skrg yg boleh TV lokal
Jd TV Swasta nasional kita dah cukup 10 ajah bro..

betul brooo, emang ada keputusan untuk menutup ijin tv swasta nasional coz keterbatasan frekuensi. mudah mudahan setelah indonesia bener benar go digital, akan dibuka lagi ijin untuk tv swasta nasional  >>/

Offline Ibani_neo

  • fanatisme fta
  • Forum Moderator
  • Guru
  • *****
  • Posts: 3447
  • Age: 6
  • Location: Latitude: -2.4191 Longitude: 115.2473/Amsterdam city~ ASj
  • Date Registered: May 29, 2008, 11:26:25 am
  • Reputasi : 90
  • the legend of sa'ilanmaulah
    • Www.Ibnet.Forumsmotion.Com
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #908 on: August 21, 2008, 10:29:14 am »
kalau gak terima tu imprealisme penyiran kita bentuk perjuangan kita jgn mau berlanganan minimal jgn ambil faket buat sport   :( :(
saya aja gak pernah liat sport musin lalu ... >:D
5F206429

Offline andriyuliantomi

  • Up Level
  • Ksatria
  • *******
  • Posts: 1143
  • Age: 34
  • Location: Dari Painan (SumBar) ke Batam (Kepri)
  • Date Registered: January 10, 2008, 12:16:33 pm
  • Reputasi : 26
    • Salah Seorang Interisti dari Sumbar
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #909 on: August 21, 2008, 10:55:46 am »
Kan nantinya Indonesia akan meluncurkan satelit baru pada tahun 2009 yaitu Palapa D, dan Telkom 3 (mohon koreksi jika salah), sehingga bisa mengatasi masalah keterbatasan frekuensi. Bisa juga satu frekuensi/transponder untuk 10 tv nasional sehingga lebih efisien. 

Offline darktemplar

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Posts: 5030
  • Location: depok - Jakarta PP
  • Date Registered: September 20, 2007, 01:23:26 pm
  • Reputasi : 384
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #910 on: August 21, 2008, 11:02:30 am »
Kan nantinya Indonesia akan meluncurkan satelit baru pada tahun 2009 yaitu Palapa D, dan Telkom 3 (mohon koreksi jika salah), sehingga bisa mengatasi masalah keterbatasan frekuensi. Bisa juga satu frekuensi/transponder untuk 10 tv nasional sehingga lebih efisien. 

yang terbatas frekuensi bukan untuk satellite bro, tapi teresterial (UHF)
everything for better

Offline oxanno21

  • Siswa
  • ***
  • Posts: 282
  • Location: Indonesia
  • Date Registered: May 23, 2008, 09:41:35 am
  • Reputasi : 4
    • Email
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #911 on: August 21, 2008, 11:22:49 am »
Kan nantinya Indonesia akan meluncurkan satelit baru pada tahun 2009 yaitu Palapa D, dan Telkom 3 (mohon koreksi jika salah), sehingga bisa mengatasi masalah keterbatasan frekuensi. Bisa juga satu frekuensi/transponder untuk 10 tv nasional sehingga lebih efisien. 

yang terbatas frekuensi bukan untuk satellite bro, tapi teresterial (UHF)

Yaah.. kalo mnurut gw sih, bbrp taon ngeliat perkembangan tv, kalo nanti-nanti TV di Indonesia tambah banyak, percuma ajah.. kagak ada artinya... soalnye programnya paling itu-itu ajah, TV2x Indonesia khan terkenal latah.. paling-paling juga isi programnya juga sinetron, kontes-kontesan, atau dialog-dialog yg kagak ade juntrungannya..
Banyak TV tp kalo content programnya monoton jg percuma, abis semenjak KPI mulai "bertingkah", TV kita cuma cari "selamat" sih, coba dulu-dulu, waduh, jd inget acara-acara di TV swasta kurang lebih sebelum 3-4 tahun yg lalu, betah deh gw lama-lama di depan Tipi, sekarang mah... weleeehh..

Offline glen_dot

  • Up Level
  • Pendekar
  • ******
  • Posts: 803
  • Location: Jakarta, Indonesia
  • Date Registered: September 24, 2007, 04:37:16 pm
  • Reputasi : 27
  • Firstmedia - Transvision - MyRepublic - IPTV
    • Email
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #912 on: August 21, 2008, 03:34:34 pm »
Kan nantinya Indonesia akan meluncurkan satelit baru pada tahun 2009 yaitu Palapa D, dan Telkom 3 (mohon koreksi jika salah), sehingga bisa mengatasi masalah keterbatasan frekuensi. Bisa juga satu frekuensi/transponder untuk 10 tv nasional sehingga lebih efisien. 

Transponder sama frekwensi beda jauh bro...jaka sembung naik ojek, nggak nyambung jek...
Transponder kita sekarang aja masih banyak yang kosong. Frekwensi teresterial yang terbatas,
mudah mudahan  dengan digitalisasi nanti frekwensi baru bisa banyak yang kosong,
karena 1 frekwensi bisa dipakai 3-5 channel sekaligus...
Script Writer - Screenplay - Traveler

Offline hidden004

  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 2283
  • Date Registered: July 16, 2008, 09:19:22 am
  • Reputasi : 49
    • Email
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #913 on: August 21, 2008, 03:36:28 pm »
Kan nantinya Indonesia akan meluncurkan satelit baru pada tahun 2009 yaitu Palapa D, dan Telkom 3 (mohon koreksi jika salah), sehingga bisa mengatasi masalah keterbatasan frekuensi. Bisa juga satu frekuensi/transponder untuk 10 tv nasional sehingga lebih efisien. 

yang terbatas frekuensi bukan untuk satellite bro, tapi teresterial (UHF)

Yaah.. kalo mnurut gw sih, bbrp taon ngeliat perkembangan tv, kalo nanti-nanti TV di Indonesia tambah banyak, percuma ajah.. kagak ada artinya... soalnye programnya paling itu-itu ajah, TV2x Indonesia khan terkenal latah.. paling-paling juga isi programnya juga sinetron, kontes-kontesan, atau dialog-dialog yg kagak ade juntrungannya..
Banyak TV tp kalo content programnya monoton jg percuma, abis semenjak KPI mulai "bertingkah", TV kita cuma cari "selamat" sih, coba dulu-dulu, waduh, jd inget acara-acara di TV swasta kurang lebih sebelum 3-4 tahun yg lalu, betah deh gw lama-lama di depan Tipi, sekarang mah... weleeehh..


itu dia, bro! banyak stasiun tv menolak untuk migrasi ke digital... coba kalau mereka mau migrasi dari analog ke digital... udah tumple... plek deh tuh palapa dan telkom!!

Offline darktemplar

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Posts: 5030
  • Location: depok - Jakarta PP
  • Date Registered: September 20, 2007, 01:23:26 pm
  • Reputasi : 384
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #914 on: August 21, 2008, 03:59:10 pm »
Kan nantinya Indonesia akan meluncurkan satelit baru pada tahun 2009 yaitu Palapa D, dan Telkom 3 (mohon koreksi jika salah), sehingga bisa mengatasi masalah keterbatasan frekuensi. Bisa juga satu frekuensi/transponder untuk 10 tv nasional sehingga lebih efisien. 

yang terbatas frekuensi bukan untuk satellite bro, tapi teresterial (UHF)

Yaah.. kalo mnurut gw sih, bbrp taon ngeliat perkembangan tv, kalo nanti-nanti TV di Indonesia tambah banyak, percuma ajah.. kagak ada artinya... soalnye programnya paling itu-itu ajah, TV2x Indonesia khan terkenal latah.. paling-paling juga isi programnya juga sinetron, kontes-kontesan, atau dialog-dialog yg kagak ade juntrungannya..
Banyak TV tp kalo content programnya monoton jg percuma, abis semenjak KPI mulai "bertingkah", TV kita cuma cari "selamat" sih, coba dulu-dulu, waduh, jd inget acara-acara di TV swasta kurang lebih sebelum 3-4 tahun yg lalu, betah deh gw lama-lama di depan Tipi, sekarang mah... weleeehh..


itu dia, bro! banyak stasiun tv menolak untuk migrasi ke digital... coba kalau mereka mau migrasi dari analog ke digital... udah tumple... plek deh tuh palapa dan telkom!!

kalau migrasi gak pake satelit bro, pake antena UHF biasa dengan perantara DVB-T sedangkan untuk satelit DVB-S, kalau yang siaran via satelit sekarang yang pasti sudah digital dong bukan analog :d .....tuh sama bro glen udah diterangin
everything for better

Offline darktemplar

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Posts: 5030
  • Location: depok - Jakarta PP
  • Date Registered: September 20, 2007, 01:23:26 pm
  • Reputasi : 384
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #915 on: August 21, 2008, 04:05:22 pm »
EDISI 20 Agustus 2008
Retak Kongsi Lippo-Astro
Izin tayangan Astro oleh Direct Vision berakhir pada 1 September 2008.

JAKARTA -- Kongsi Grup Lippo dan Astro All Asia Network Plc (Malaysia) di PT Direct Vision terancam berakhir. Negosiasi pembagian kepemilikan saham di perusahaan pengelola bisnis televisi berbayar Astro Nusantara itu tak kunjung tuntas.

Sumber Tempo yang dekat dengan Lippo mengungkapkan negosiasi kedua raksasa bisnis itu kini cenderung menuju proses perceraian ketimbang terus bekerja sama, yang telah dibangun sejak awal 2005. "Tinggal membicarakan harta gono-gini, berapa bagian masing-masing setelah bercerai," katanya kemarin.

Kerja sama Lippo dengan Astro Malaysia awalnya berjalan mulus lewat pendirian PT Direct Vision. Di perusahaan ini, Lippo kebagian jatah 49 persen saham lewat PT Ayunda Prima Mitra, anak usaha PT First Media Tbk. Sedangkan Astro Malaysia mengantongi 51 persen saham lewat Silver Concord Holding Limited.

Dengan kerja sama ini, Direct Vision diizinkan menggunakan merek dagang Astro Nusantara. Lewat kerja sama itu pula, Astro Malaysia memasok isi tayangan, perangkat teknologi, dan menempatkan beberapa orangnya di posisi strategis Direct Vision.

Persoalan mulai muncul ketika di pengujung 2005 porsi kepemilikan saham itu harus dikaji kembali. Gara-garanya, aturan industri penyiaran di negeri ini melarang kepemilikan saham oleh pihak asing di atas 20 persen. Begitulah yang terungkap dalam laporan keuangan Astro Malaysia pada kuartal pertama tahun ini.

Dengan aturan baru itu, Astro Malaysia sudah pasti harus rela melepas sebagian kepemilikan sahamnya itu di Direct Vision jika ingin tetap eksis di Indonesia. Pilihan lainnya, Astro cabut dari Indonesia dan menjual seluruh kepemilikan sahamnya ke Lippo atau pihak lainnya.

Pilihan mana yang diambil Astro hingga kini belum ada kejelasan. Chief Executive Officer Astro All Asia Ralph Marshall mengatakan belum ada kemajuan berarti dalam proses negosiasi. "Diskusi belum mencapai titik temu," ujarnya dalam situs resmi Astro Malaysia akhir bulan lalu.

Yang jelas, kata Marshall, dalam perjanjian lisensi dan merek dagang disebutkan bahwa hak Direct Vision menayangkan siaran Astro kepada para pelanggannya di Indonesia berakhir pada 1 September 2008. "Kami sedang mengkaji opsi-opsi kami berkaitan dengan itu," ujarnya.

Vice President Corporate Affairs Direct Vision Halim Mahfudz juga mengaku tak tahu sejauh mana negosiasi berlangsung, termasuk soal kelanjutan penggunaan merek dan pasokan tayangan dari Astro Malaysia. "Itu yang belum diputuskan," ujarnya ketika dihubungi kemarin.

Persoalan makin ruwet setelah belakangan ini muncul pula perselisihan urusan keuangan di antara kedua belah pihak. Kelompok Lippo menuding ada sejumlah penyimpangan dana yang dilakukan pihak Astro dalam mengoperasikan perusahaan patungan itu. "Ayunda merasa Direct Vision hanya dijadikan pintu keluar-masuknya uang Astro Malaysia di Indonesia, yang peruntukannya bukan bagi Direct Vision," ujar sumber itu.

Isu ini makin runcing setelah beredar surat anonim atas nama Kelompok Karyawan Peduli dan Anti-Korupsi di PT Direct Vision, yang ditujukan kepada para petinggi Astro Malaysia, Direct Vision, Ayunda Prima, dan First Media tertanggal 11 Mei 2008.

Dalam surat itu disebutkan adanya penggunaan dana tak wajar sebesar US$ 16,2 juta atau senilai Rp 148,2 miliar sepanjang Mei-Juli 2007 oleh orang-orang Astro di tubuh Direct Vision. Kelompok ini mendesak pihak Astro Malaysia mengembalikan dana itu untuk kepentingan Direct Vision.

Benar-tidaknya isu miring ini hingga kini juga belum bisa dipastikan. Halim mengaku tak tahu-menahu soal surat itu. "Saya tidak pernah terima," katanya. Namun, ia menilai terlalu spekulatif mengaitkan isu miring tersebut dengan belum tercapainya kata sepakat dalam negosiasi.

Kejelasan juga belum bisa didapat dari pihak Astro. Direktur Eksekutif Astro Entertainment Sdn Bhd Zainir Aminullah kepada Tempo menyatakan belum bisa berkomentar soal kabar perselisihan itu. AGOENG WIJAYA

'Selingkuh' dengan Aora TV

Seperti tayangan gosip selebritas di layar kaca, retak rumah tangga PT Direct Vision dibumbui cerita soal "selingkuh". Kabar ini santer beredar setelah tayangan Liga Inggris, yang selama ini jadi andalan televisi berbayar Astro Nusantara, sejak Kamis pekan lalu distop dan bakal hijrah ke televisi berbayar baru, Aora.

Aora TV berada di bawah payung PT Karya Megah Adijaya, yang dimotori oleh mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini Soemarno. Televisi berbayar ini telah resmi memperoleh hak siar eksklusif Liga Inggris 2008-2009.

Diperolehnya hak siar itu berawal dari tawaran yang disodorkan ESPN Star Sport (ESS) dan Astro All Asia Multimedia Network (unit usaha Astro Malaysia) kepada seluruh televisi berbayar di Indonesia pada 1 Agustus lalu.

Setelah menimang-nimang, keduanya memilih Aora sebagai pemenang. Alasannya, proposal Aora lebih menarik dari sisi komersial dan operasional dibanding tawaran dari operator televisi berbayar lainnya. Aora juga dinilai lebih baik dalam rencana mempopulerkan layanan Liga Inggris dan meningkatkan penetrasi televisi berlangganan di Indonesia.

Pejabat Hubungan Masyarakat Karya Megah, Dinar Hanggarani, Senin lalu, membenarkan bahwa Aora telah mengantongi lisensi siaran eksklusif tersebut. Namun, ia tak bersedia menjelaskan isi kesepakatan yang dicapai dengan ESS dan Astro Malaysia.

Keputusan ini seolah menguatkan desas-desus seputar retaknya hubungan Astro Malaysia dengan Grup Lippo, yang sejak tiga tahun lalu menjalin kongsi bisnis televisi berbayar Astro Nusantara di bawah bendera Direct Vision.

Menurut sumber Tempo di Grup Lippo, masuknya pihak ketiga ini bahkan membuat persoalan "rumah tangga" Direct Vision semakin ruwet. "Sebab, salah satu pihak telah berselingkuh," ujarnya. AGOENG

Terus Dirundung Masalah

28 Februari 2006

Televisi berbayar Astro Nusantara mulai mengudara di Indonesia dioperasikan oleh PT Direct Vision. Astro bersiaran menggunakan satelit Measat-2 (Malaysia).

Maret 2006

Siaran Astro mulai dipermasalahkan, salah satunya oleh Komisi I DPR. Sebab, satelit Measat-2 tak dilengkapi izin hak labuh.

April 2006

Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi memperingatkan Direct Vision atas penggunaan Measat-2.

Juni 2007

Pemerintah menerbitkan izin hak labuh satelit Measat-2 atas nama PT Broadband Multimedia Tbk (kini PT First Media Tbk) milik Grup Lippo, setelah tercapai kesepakatan asas timbal balik dalam penggunaan satelit dengan pemerintah Malaysia.

Agustus 2007

Astro Nusantara menjadi satu-satunya televisi berbayar yang menayangkan Liga Inggris di Indonesia.

September 2007

PT MNC Skyvision (Indovision), PT Indonusa Telemedia (Telkomvision), dan PT Indosat Mega Media (IM2) mengadukan Direct Vision ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha, yang dituding memonopoli siaran Liga Inggris. Kasus ini akan diputuskan akhir bulan ini.

11-14 April 2008

Pemerintah menghentikan siaran Astro untuk sementara karena penggunaan izin hak labuh yang dipegang PT First Media tak dilengkapi kontrak kerja sama. Direct Vision juga menunggak biaya hak penggunaan frekuensi Rp 191,4 juta.

14 Agustus 2008

ESPN Star Sport dan All Asia Multimedia Network (unit Astro Malaysia) mencabut hak tayang Liga Inggris di Astro Nusantara.
everything for better

Offline tvholic

  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 2100
  • Age: 33
  • Location: Banyuwangi
  • Date Registered: March 04, 2008, 11:04:00 am
  • Reputasi : 35
  • Mencari Yang Terbaik
    • Email
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #916 on: August 21, 2008, 05:17:40 pm »
Kan nantinya Indonesia akan meluncurkan satelit baru pada tahun 2009 yaitu Palapa D, dan Telkom 3 (mohon koreksi jika salah), sehingga bisa mengatasi masalah keterbatasan frekuensi. Bisa juga satu frekuensi/transponder untuk 10 tv nasional sehingga lebih efisien. 

yang terbatas frekuensi bukan untuk satellite bro, tapi teresterial (UHF)

Yaah.. kalo mnurut gw sih, bbrp taon ngeliat perkembangan tv, kalo nanti-nanti TV di Indonesia tambah banyak, percuma ajah.. kagak ada artinya... soalnye programnya paling itu-itu ajah, TV2x Indonesia khan terkenal latah.. paling-paling juga isi programnya juga sinetron, kontes-kontesan, atau dialog-dialog yg kagak ade juntrungannya..
Banyak TV tp kalo content programnya monoton jg percuma, abis semenjak KPI mulai "bertingkah", TV kita cuma cari "selamat" sih, coba dulu-dulu, waduh, jd inget acara-acara di TV swasta kurang lebih sebelum 3-4 tahun yg lalu, betah deh gw lama-lama di depan Tipi, sekarang mah... weleeehh..


itu dia, bro! banyak stasiun tv menolak untuk migrasi ke digital... coba kalau mereka mau migrasi dari analog ke digital... udah tumple... plek deh tuh palapa dan telkom!!

bukan masalah migrasi dari analog ke digital brooo. coz sekarang pemasukan bisnis tv dah mulai kembang kempis. belum lagi kalo mo siaran digital tambah alat dan biaya, terus belum tentu semua orang indonesia ngerti masalah digital. makannya mulai tahun ini dah dimuali perlahan demi perlahan menuju era digital.  >>/

Offline Juan pablo

  • di atas ada satelit dan langit
  • Forum Moderator
  • Master
  • *****
  • Posts: 5192
  • Age: 118
  • Location: Bumi Angso Duo
  • Date Registered: September 24, 2007, 06:33:18 pm
  • Reputasi : 292
  • Victoria Concordia Crescit,.... no-matter-what
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #917 on: August 21, 2008, 09:57:44 pm »
nice post bro dark
jadi tambah terang neh storinya
pake acara2 penggunaan dana segala,....

thx bro,...gw kirim whisky ya......
Jadilah petarung, karena hanya petarunglah yg mengerti arti kalah dan menang. Terbanglah kepusaran angin dan pusat pusat badai, segeralah bangun tanpa banyak mengeluh ketika jatuh dan terhempas. Karena "sakit" itu menyehatkan dan mendewasakan jiwa

Offline sifa shafira

  • hormati
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 2440
  • Age: 40
  • Location: Balikpapan
  • Date Registered: September 28, 2007, 11:56:07 am
  • Reputasi : 133
  • 081520316195
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #918 on: August 21, 2008, 10:15:30 pm »
nice post bro dark
jadi tambah terang neh storinya
pake acara2 penggunaan dana segala,....

thx bro,...gw kirim whisky ya......

Offline risal.maros

  • Grand
  • Up Level
  • Master
  • ********
  • Posts: 5474
  • Age: 50
  • Location: Maros_sulsel
  • Date Registered: March 15, 2008, 11:39:52 pm
  • Reputasi : 208
    • Email
Re: Gosip Hangat Seputar Dunia Multimedia & Satelit
« Reply #919 on: August 21, 2008, 10:22:15 pm »
Tadi siang saya mengikuti sosialisasi Frekuensi dari Pos dan Telekomunikasi di MGH Makassar dan membahas TV Digital. cuman sayang tidak ada tanya jawab, padahal banyak yang mereka bahas sudah di bahas di forsat. Yang pasti TV digital pasti akan kita nikmati, dulu juga UHF  teknologi terhebat pada jamannya sampai harus beli conventer bagi tv yang tidak ada uhf nya. Lihat aja nanti pasti banyak produk eksperiman tuk digital yang murah