September 03, 2010, 09:32:08 am *
Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Login with username, password and session length
News: Yg belum baca Peraturan Forum Satelit, silakan dipahami dgn sebaik-baiknya!
 
   Home   Help Login Register Chat  

* FORSAT Whats New And TV Guide
Pages: [1] 2 3 4 5 6 ... 293   Go Down
  Print  
Author Topic: Tutorial Parabola (Pemula & Expert)  (Read 563142 times)
ozora
Pengembara


Reputasi : 0
Trade Count: (0)
Offline Offline

Posts: 14


« on: September 26, 2007, 10:00:24 pm »

--== TUTORIAL PARABOLA ==--

Bagi yang punya tutorial pemasangan antenna parabola, silakan share disini.....
« Last Edit: March 28, 2009, 04:23:37 pm by Juan pablo » Logged
Oly
Siswa
***

Reputasi : 28
Trade Count: (0)
Offline Offline

Posts: 293



« Reply #1 on: September 27, 2007, 06:47:01 pm »

mau tanya nih , maklum saya newbie,
Apakah ada pengaruh ngak jika antena saya yg 6 feet solid,karena lama jadi karatan , kemanpuan recieve signal jadi berkurang ? gimana ya cara utk meningkatkan signalnya ? Ini saya alami setelah 2 bulan di tinggal ke luar kota, waktu pulng jadi signal asiasat dan palapa jadi kadang kadang tidak bisa diterima ? terutama RCTI ,TVRI dan di asiasat TVB8, AsiaPLus ?
Logged
pl@nko
Guest

« Reply #2 on: September 27, 2007, 07:56:01 pm »

mau tanya nih , maklum saya newbie,
Apakah ada pengaruh ngak jika antena saya yg 6 feet solid,karena lama jadi karatan , kemanpuan recieve signal jadi berkurang ? gimana ya cara utk meningkatkan signalnya ? Ini saya alami setelah 2 bulan di tinggal ke luar kota, waktu pulng jadi signal asiasat dan palapa jadi kadang kadang tidak bisa diterima ? terutama RCTI ,TVRI dan di asiasat TVB8, AsiaPLus ?
ada karena karat menghambat pemantulan sinyal ke LNB, jadi kudu dibersihkan disikat dan dicat kembali.
@BP
Logged
yansen
Siswa
***

Reputasi : 23
Trade Count: (0)
Offline Offline

Posts: 460



« Reply #3 on: October 01, 2007, 09:14:13 pm »

saya mo ngejar bang yamal nech, penasaran belum dapat juga padahal lankatv sudah dapet dengan gambar yang putus2, makanya mo ganti dish 6feet solid dengan mesh 12feet , cuman saya khawatir kalo nantu KU band tidak dapat dengan dish mesh....minta pencerahannya dari rekan2 semua.

thks, salam
yansen Terima kasih Terima kasih
Logged

2 solid 6f starcom (KU MTi & Cband Tanaka)
2 solid oRi astro
positioner&actuator yuri yp-300DR, disecQ 4x1, dm500s, ss2,
SCARLET 42LG60FR
santika
Siswa
***

Reputasi : 28
Trade Count: (0)
Offline Offline

Location: under my dish
Posts: 388


Web designer for hire

zul_eha
Zoel Qivlie
WWW
« Reply #4 on: October 02, 2007, 12:25:47 am »

bro Yansen, mungkin masalah bung yamal bisa masuk di topic yamal 202, semua jurus2 dan sesajen buat ke temu bung jamal ada disana beserta para pakar2 nya TopBGT
Logged

yansen
Siswa
***

Reputasi : 23
Trade Count: (0)
Offline Offline

Posts: 460



« Reply #5 on: October 02, 2007, 03:27:20 am »

Maksud saya yg KU band pake dish mesh-nya bro santika, apa hasilnya akan optimal pake dish mesh. Karena berdasarkan info yg saya peroleh bhwa gelombang KU berbeda dg C band.

Thks, salam
yansen
Logged

2 solid 6f starcom (KU MTi & Cband Tanaka)
2 solid oRi astro
positioner&actuator yuri yp-300DR, disecQ 4x1, dm500s, ss2,
SCARLET 42LG60FR
pl@nko
Guest

« Reply #6 on: October 02, 2007, 03:49:18 am »

Maksud saya yg KU band pake dish mesh-nya bro santika, apa hasilnya akan optimal pake dish mesh. Karena berdasarkan info yg saya peroleh bhwa gelombang KU berbeda dg C band.

Thks, salam
yansen
Disarankan anda menggunakan dish solid 2.4 m (8 ft) saja utk hasil optimal ku dan c band.
@BP
Logged
yansen
Siswa
***

Reputasi : 23
Trade Count: (0)
Offline Offline

Posts: 460



« Reply #7 on: October 02, 2007, 06:25:25 am »

Maksud saya yg KU band pake dish mesh-nya bro santika, apa hasilnya akan optimal pake dish mesh. Karena berdasarkan info yg saya peroleh bhwa gelombang KU berbeda dg C band.

Thks, salam
yansen
Disarankan anda menggunakan dish solid 2.4 m (8 ft) saja utk hasil optimal ku dan c band.
@BP

masalahnya jarang yang jual dish solid 8 feet kebanyakan 6 feet solid.

thks BP, salam
yansen
Logged

2 solid 6f starcom (KU MTi & Cband Tanaka)
2 solid oRi astro
positioner&actuator yuri yp-300DR, disecQ 4x1, dm500s, ss2,
SCARLET 42LG60FR
pl@nko
Guest

« Reply #8 on: October 02, 2007, 06:43:13 am »

Maksud saya yg KU band pake dish mesh-nya bro santika, apa hasilnya akan optimal pake dish mesh. Karena berdasarkan info yg saya peroleh bhwa gelombang KU berbeda dg C band.

Thks, salam
yansen
Disarankan anda menggunakan dish solid 2.4 m (8 ft) saja utk hasil optimal ku dan c band.
@BP

masalahnya jarang yang jual dish solid 8 feet kebanyakan 6 feet solid.

thks BP, salam
yansen


Kan bisa pesan sama tokonya atau klo lagi pas ke Jkt kan bisa dihunting tuh dish 8 ftnya atau titip juga bisa jika ada teman or keluarga yang ke jkt...gampangkan?hehe..
@BP
Logged
darktemplar
Guru
********

Reputasi : 240
Trade Count: (0)
Online Online

Location: depok - Jakarta PP
Posts: 3389



« Reply #9 on: October 02, 2007, 09:30:17 am »

«  on: December 25, 2006, 07:22:37 AM »

dari arsip forum lama
   

CARA PASANG PARABOLA Good Good

by Arman Yusuf modified

Berikut adalah material yang saya siapkan sebelum kegiatan ini dimulai :

Satu set piringan parabola, prime focus, Ø 115 cm. Di titik tengah parabola, kedalamannya adalah 18 cm.

C Band Low Noise Block Fedhorn (LNBF) yang fungsinya sebagai transverter dari input 3,4 – 4,2 GHz menjadi output 0,95 – 1,75 GHz dengan bantuan Local Oscillator (LO) 5,15 GHz. Banyak orang menyebutnya sebagai Feedhorn atau LNB saja.

Kabel koaksial khusus 75 Ω penghubung dari LNBF ke Set-Top Box (STB) lengkap dengan jacknya.

Digital STB. Gunanya untuk menala sinyal keluaran LNBF, mendecode sinyal dan menghasilkan komponen audio + video yang siap diumpankan ke televisi. Saya menggunakan @Metabox I (http://www.metaware.co.kr) karena kualitas yang baik serta firmwarenya bisa diupdate dengan mudah. Di pasaran, banyak sekali STB ditawarkan, mulai dari kelas Free-to-Air Digital STB (menangkap siaran gratis seperti siaran televisi swasta nasional) sampai yang sanggup membuka Pay Television (siaran teracak, harus berlangganan misalnya siaran IndoVision).

Televisi yang memiliki RCA/AV Input (3 kabel: 1 video + 2 stereo audio). Bila Anda memiliki perangkat Home Theatre yang mendukung Dolby Prologic II,  suara stereo yang diterima dapat dialihkan ke Home Theatre sehingga siaran yang dibuat dalam tata suara surround (biasanya film-film dengan label DTS, Dolby Surround atau THX) dapat disuarakan bak bioskop pribadi Smiley.

Setelah semua disiapkan, Anda harus mencatat data berikut:

Satelit yang akan kita tala. Demi kemudahan, mari kita tala satelit AsiaSat 3S yang berlokasi di 0,0o S 105,5o E. Informasi posisi, transponder dan channel terkini ada di http://sattracker.mrtian.com/chart

Posisi parabola kita (gunakan GPS untuk mengetahuinya). Dalam hal ini QTH saya adalah di 6,12o S 106,5o E. Jika kita telaah, ternyata posisi saya hanya berbeda 6,12o S 1,0o E dengan satelit AsiaSat 3S sehingga nanti “pucuk” parabolanya kira-kira akan mendongak ke atas langit Jakarta.

Menyiapkan Parabola

Letakkan parabola di bidang (tempat terbuka) tidak ada halangan ke langit bebas serta datar. Untuk menentukan kedatarannya, Anda bisa tuang air ke baskom. Bila air penuh tepat lurus di bibir baskom berarti bidang cukup datar terhadap bumi. Bila posisinya miring, gunakan papan yang diganjal untuk mendapatkan bidang yang datar.



Gambar 1: Menentukan datar tidaknya bidang peletakkan parabola

Buatlah garis vertikal dan horizontal pada parabola untuk membantu penentuan posisinya. Titik temu garis ini harus berada tepat di dasar parabola (gunakan gundu, tempat di mana gundu diam itulah titik dasar parabola). Setelah digaris, berikan penanda empat arah mata angin seperti gambar berikut:




Gambar 2: Menggambar arah mata angin di piringan parabola

 

Arahkan piringan parabola ke arah mata angin menggunakan kompas yang diletakkan di dasar parabola (yaitu titik pertemuan garis vertikal horizontal tadi). Atur agar keempat arah mata angin itu sesuai dengan yang ditunjukkan di kompas.



Gambar 3: Mengarahkan piringan ke arah mata angin. Sumbu S – N masih sedang diarahkan

 

Pasanglah LNBF pada bracket yang disediakan LNBF pada parabola. Untuk menentukan tinggi bracket yang tepat, gunakan rumus berikut:

 



Gambar 4: Menentukan posisi tinggi bracket dari dasar antena

 

Pada badan LNBF ada angka-angka 0,42 sampai 0,30. Angka itu disebut f/D, didapat dengan membagi 45,9 cm / 115 cm = 0,40. Pasanglah LNBF tepat di posisi f/D 0,40



Gambar 5: Mengatur posisi f/D LNBF di 0,40

 

Pada kepala LNBF ada angka-angka -30o, 0o dan +30o. Angka itu mengatur arah polarisasi antena dalam LNBF. Aturlah garis 0o tepat ke arah W, yang berarti juga searah garis W pada piringan parabola. Tanpa mengubah posisi f/D, kencangkan mur pengunci pada posisi yang pas.




Gambar 6: Mengatur polarisasi antena dalam LNBF

Karena saya berada di 6,12o S, yaitu 6,12o di bawah garis katulistiwa maka saya harus mendongakkan piringan parabola sebanyak 6,12o di sumbu N agar posisi antena tepat mengarah ke atas katulistiwa. Karena Ø parabola 115 cm, maka dengan menghitung SIN 6,12o x 115 cm didapat 12 cm (ingatlah rumus trigonometri Sine, Cosine dan Tangent. Gunakan scientific calculator untuk memudahkan perhitungan). Yang kita lakukan ini disebut dengan mengatur “deklinasi”.



Gambar 7: Mengatur deklinasi

Karena saya berada di 106,5o E sementara satelit berada di 105,5o E berarti saya harus menurunkan posisi piringan sebesar 1,0o di sumbu W. Karena Ø parabola 115 cm, maka dengan menghitung SIN 1,0o x 115 cm didapat 2 cm. Yang kita lakukan ini adalah mengarahkan piringan parabola tepat pada orbit satelitnya. Karena hanya coba-coba, saya berikan beban tertentu ke sumbu W, diganjal di bawah sedemikian rupa sehingga piringan parabola turun tepat sebanyak 2 cm di sumbu W.



Gambar 8: Menyesuaikan piringan ke arah ke orbit satelit AsiaSat 3S



Gambar 9: Hasil akhir pemasangan parabola

 

Selesailah kita mengatur antena parabola. Kita akan mengatur STB. Karena pengaturan tiap merk STB berbeda-beda, gambar yang ditampilkan hanyalah sekadar acuan belaka. Pertama, masukkan konfigurasi antena pada STB, dan akhiri dengan mencari transponder serta channel yang disediakan pada satelit tersebut (otomatis ada pada STB masing-masing):

a. Satellite: AsiaSat 3S;

b. LNB Type: Standard (Frequency 5,150 MHz);

c. 22 KHz: Off;

d. Polarity: Auto.




Gambar 10: Mengatur konfigurasi antena

 

Jika Anda tidak dapat menemukan transponder atau channel --- masukkan secara manual data salah satu TV, misalnya TV 5 ASIE:

a. Frequency: 3.670 GHz;

b. Polarity: HORIZONTAL (H);

c. Symbol Rate: 26,000 symbols/second;

d. FEC: 7/8;

e. Name: TV 5 ASIE;

f. Video PID: 1120;

g. Audio PID: 1121;

h. PCR PID: 1120.

Jika Anda menemukan beberapa channel TV secara otomatis melalui fasilitas

Search di STB --- pilihlah satu channel misalnya TV 5 ASIE.

 

Gambar 11: Kekuatan sinyal yang diterima

Kemudian, aturlah agar sinyal diterima sebesar mungkin dengan mengkoreksi kedudukan piringan parabola. Pada gambar di atas, kekuatan sinyal yang semula hanya 20% setelah dikoreksi menjadi 73%, kualitas tetap 85% tetapi warnanya sudah hijau artinya sudah cukup stabil menerima sinyal. Pada STB yang saya miliki, gambar akan tampak baik bila sinyal ada di atas 60%, kualitas di atas 80% dan bar persentase menunjukkan warna hijau (bisa berbeda di tiap STB).

Setelah sepuluh langkah ini selesai dilalui, kita bisa mengulang pencarian transponder serta channel lain agar seluruh siaran bisa ditangkap. Ada 55 siaran TV gratis + 26 siaran radio gratis yang saya bisa nikmati (di luar siaran teracak yang jumlahnya mendekati 100). Setelah itu siaplah kita menikmati siaran dari luar negeri melalui satelit AsiaSat 3S dengan kualitas video tanpa cacat serta suara stereo yang membahana.







Gambar 12: Beberapa channel yang bisa ditangkap. Gambar di sini kurang cerah karena kamera digital memfoto langsung layar televisi

 

Sangat puas bisa menemukan posisi satelit secara mandiri, biar pun sinyal yang diterima pas-pasan tetapi karena mencari dengan usaha sendiri, ada ilmu berharga yang bisa kita serap. Tantangan ke depannya adalah bagaimana mencari satelit untuk TVRO lainnya seperti Palapa C2, Panamsat 7 + 10, ST 1, Thaicom23, Apstar 2R, AsiaSat 2 serta Telkom 1. Mengganti C Band LNBF dengan antena receiver/transverter band amatir radio adalah hal yang mudah setelah Anda tahu posisi satelitnya berada di mana. Antena transmitter untuk komunikasi dua arah dengan satelit biasanya Yagi; tentunya mudah ditentukan arahnya dengan bantuan referensi posisi piringan parabola kita.

Catatan:

Pengaturan posisi piringan parabola ini hanya untuk menerima sinyal satelit Geostationer Earth Orbit (GEO) yang orbitnya di sekitar garis katulistiwa, bukan untuk satelit Low/Medium Earth Orbit (LEO/MEO) atau yang orbitnya tidak berada di garis katulistiwa.

SUMBER : http://c.1asphost.com/mainsource/Indonesia.asp
« Last Edit: June 16, 2007, 08:04:34 AM by planko »
Logged

everything for better
darktemplar
Guru
********

Reputasi : 240
Trade Count: (0)
Online Online

Location: depok - Jakarta PP
Posts: 3389



« Reply #10 on: October 02, 2007, 09:34:11 am »

dari arsip forum lama : « Reply #1 on: December 25, 2006, 07:33:40 AM »
   

CARA INSTALASI ANTENA KU BAND

by didi2k3@telkom.net

Sinyal Ku band memiliki beamwidth (lebar berkas) lebih kecil dari C band sehingga mengakibatkan penyetelan antena parabola lebih sulit dibandingkan C band. Selain itu Diameter antena juga berhubungan dengan beamwidth C atau Ku band, dimana tuning antena yang berdiameter lebih besar akan lebih sulit dibandingkan diameter yang kecil, karena antena berdiameter besar memiliki beamwidth yang lebih sempit. Jadi menyetel antena untuk Ku band akan relatif lebih mudah pada dish berdiameter kecil (6 feet ke bawah). Sebuah antena yang telah di tuning pada Ku band akan berfungsi baik pada C band, tetapi kebalikannya, antena yang di tuning di C band belum tentu berfungsi di Ku band.

Mesh atau Solid?

Sebuah solid dish yang memiliki bentuk parabola sempurna akan memantulkan sinyal yang sama banyaknya dengan mesh dish yang memiliki 1,25 x diameternya. Jadi secara teori: 6 feet perfect solid dish = 1,25 x 6 = 7,5 feet perfect mesh dish. Untuk memilih solid atau mesh dish, adalah hal yang lebih penting apabila dish tersebut memiliki bentuk parabola yang sempurna sehingga gain yang dihasilkan maksimum. Lalu bagaimana kalau yang tersedia hanya mesh dish saja? OK, asal dish tersebut memiliki persyaratan sbb:

Mesh memiliki lubang tidak lebih besar dari 1/4” (0,4 - 0,5 cm) atau sinyal 10-12 ghz akan 'lewat' dan tidak terpantulkan.

Mekanisme mounting antena harus cukup presisi sehingga tidak mempunyai gerak (spelling) di setiap arah sumbunya, misalnya ketika antena ditiup angin dan mempunyai smooth tracking sepanjang kurva satelit, dsbnya.

Actuator juga memiliki 'ketelitian' Ku band – tidak memiliki gerak lebih dari 1/16” ketika ditekan/diputar.

Sinyal Beam

Masalah klasik kalau ada yang bertanya “apakah saya bisa menerima siaran Ku ini dan itu?” Untuk jelasnya sebelum mengeluarkan biaya yang relatif mahal, ada baiknya melihat foot print sinyal Ku satelit yang anda inginkan untuk mengetahui apakah sinyal Ku band tersebut melingkupi daerah anda. Juga dapat bertanya dengan rekan-rekan yang sudah pernah mencoba atau berhasil.

Di bawah ini saya ambil contoh foot print satelit NSS6 95°E yang memancarkan sinyal Ku untuk spot North East Asia. Pada gambar jelas terlihat satelit tersebut tidak memancarkan sinyal untuk daerah Indonesia, tetapi untuk Philipina dengan beam pancaran terbesar 53 dbW, Jepang, Korea, dan sebagian China serta Rusia. Bila diteliti, beam sinyal terkecil adalah 42 dbW dapat diterima di sebagian kalimantan dan nyaris pulau Sumatra. Berdasarkan Tabel Perbandingan besarnya pancaran dan ukuran dish yang diperlukan, dapat kita ketahui secara teori bahwa besar minimal diameter dish yang dibutuhkan untuk dapat menerima sinyal tersebut adalah 110 cm. Selanjutnya tinggal keberuntungan anda, apakah anda tinggal di daerah yang masih di dalam cakupan sinyal Ku tersebut – walaupun hanya spill-over signal? Apakah peralatan dan setting antena anda cukup akurat, dsbnya. Bagi yang senang bereksperimen merupakan tantangan yang mengasyikkan untuk mencoba menerima sinyal 'tumpahan' tersebut dengan antena berukuran besar – 8 feet ke atas.



Satelit Ku NSS-6 95°E North Asia Spot




Tabel untuk Ku LNBF dengan Noise Figure (NF) = 0.6 - 0.7 dB

Perbandingan besarnya kuat pancaran dan ukuran dish yang diperlukan.

Jenis Antena

Terdapat 2 jenis dish antena yang umum digunakan pada Ku band, yaitu Offset dan Prime focus dish. Prime focus dish adalah jenis dish antena yang biasa digunakan pada C band dimana LNBF terletak tepat di titik fokus dish. Offset dish adalah parabola dish yang dipancung sehingga memiliki luas permukaan yang lebih kecil dari dish parabola sesungguhnya. Keuntungan offset dish adalah bentuk fisik yang lebih kecil dan penerimaan sinyal Ku relatif tidak terganggu pada saat hujan dibandingkan prime focus yang terkadang harus kehilangan sinyal pada waktu hujan lebat. Kekurangannya adalah gain yang dihasilkan relatif lebih kecil dari pada parabola dengan diameter sesungguhnya – prime focus. Offset dish digunakan pada wilayah cakupan sinyal yang kuat. Untuk tingkat keberhasilan yang relatif besar disarankan menggunakan prime focus antena dan lnbf. Di tanah air beredar beberapa merk solid dish seperti Venus, Starcom, Matrix dan Technosat.

LNBF

LNBF Ku band memiliki harga yang relatif lebih mahal (200-400 RB) dibandingkan LNBF C band. Bentuk fisik lebih kecil dan cara penempatan pada titik fokus yang berbeda. Umumnya LNBF C band memiliki tanda (berupa garis dengan angka 0 di tengah dan 30 di kiri dan kanannya) dimana garis dengan angka 0 harus diletakkan pas ke arah Timur atau Barat dan kemudian dikoreksi (putar ke kiri-kanan) sampai mendapatkan gambar/sinyal terbaik. Hal ini dapat dijelaskan dengan terdapatnya 2 antena kecil di dalam wave guide (corong lnb) dimana masing-masing berfungsi sebagai antena berpolarisari vertikal dan horisontal. Berbeda dengan C band, Ku band LNBF memiliki hanya 1 antena yang letaknya sejajar dengan arah F konektor (terletak di dalam wave guidenya).



Gambar Offset Ku band LNBF

Ku band LNBF dibedakan 2 macam yaitu tipe Offset dan prime focus LNBF. Kedua tipe ini dipilih sesuai dengan jenis antena yang digunakan di atas. Offset LNBF umumnya memiliki rasio f/D = 0,5 ke atas sedangkan prime focus LNBF memiliki f/D = 0,3 - 0,4. Sangat dianjurkan untuk menggunakan tipe LNBF yang sesuai dengan antena yang digunakan. Untuk menggunakan Offset LNBF pada prime focus antena boleh-boleh saja, terutama apabila sinyal Ku cukup besar beaming ke daerah anda. Tetapi sesungguhnya akan terdapat pengurangan gain yang cukup berarti karena faktor f/D yang berbeda antara LNBF dan dish. Apabila ingin hasil yang memuaskan: gunakanlah prime focus LNBF pada prime focus antena.



INSTALASI

1. Menghitung Titik Fokus

Menurut rumus kurva parabola titik fokus f (cm) adalah diameter (D) pangkat 2 dibagi dengan 16 x depth Martini glass	.

f = D2/16.d

Jadi bila menggunakan antena 6 feet (180 cm) dengan depth 30 cm, maka titik fokus f (tempat menempatkan lnbf) adalah 67,5 cm dari dasar piringan antena.

Rasio fokus/Diameternya (f/D) = 67,5 cm/ 180 cm = 0,36.

Angka f/D inilah yang kita gunakan untuk mengatur naik turunnya adjustable scalar ring pada LNBF C band. Untuk menempatkan LNBF di titik fokus diperlukan bracket yang tersedia di pasaran. Dengan bracket ini anda dapat memasang LNBF di antena tipe tripod atau singlepod. Cara menginstallnya kurang lebih sama dengan LNBF C band. Tetapi pada Ku band LNBF, arahkan garis dengan angka O pada arah UTARA atau SELATAN. Bila tidak ada garis 0 sebagai gantinya arahkan KONEKTOR sesuai dengan arah Utara atau Selatan. Kemudian atur ketinggian LNBF supaya ring terletak 67,5 cm dari dasar antena- sesuai dengan jarak titik fokus hasil perhitungan.






Gambar prime focus Ku band lnbf dan bracket

Ada yang mungkin bertanya apakah dapat memasang LNBF Ku band di samping LNBF C band yang sudah terpasang? Karena saya belum pernah mencobanya, silahkan teman lain memberikan masukan apabila pernah mencobanya.

2. Setting Local Oscilator Frequency (LOF)

Untuk universal LNBF set LOFnya 9750/10600 dan 22 Khz Auto atau LOF1 9750 dan LOF2 10600. Umumnya receiver jenis baru telah memberikan pilihan setting otomatis ketika kita memilih LO tersebut, tinggal memilih jenis LNBF universal dengan LOF 9750/10600 dsnya. Apabila menggunakan LNBF tipe lama, set LOF=9750 dengan switch 22 Khz OFF untuk low band 10,7-11,7 Ghz dan LOF=10600 dengan switch 22 Khz ON untuk high band 11,7-12,75 Ghz. Cara setting ini dapat berbeda tergantung dari receiver yang digunakan.

3. Tips Mencari sinyal

Cara termudah, gunakanlah sinyal C band untuk mencari arah kurva (Timur-Barat) satelit terlebih dulu. Untuk mencari sinyal, tune antena pada salah satu frequensi/sinyal C band analog atau digital. Setelah didapatkan sinyal quality dan sinyal strength terbaik, ganti LNBF dengan Ku band dan scan di freq yang anda inginkan. Bila sinyal strength besar tetapi sinyal qualitynya 0 atau kecil, koreksi Deklinasi (Arah Utara – Selatan) dengan mur setelan di antena. Perhatikan bahwa 1 - 2 kali putaran baut Deklinasi tersebut dapat memiliki perbedaan yang sangat besar: Sinyal quality dari 0 – 100 %. Dari percobaan-percobaan yang telah saya lakukan, tipe mounting seperti pada gambar memberikan hasil yang paling akurat dan waktu penyetelan yang cepat.



Gambar mur setelan Deklinasi

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah frequency, symbol rate, dll. pada satu LNBF/Receiver dengan lnbf/receiver lainnya tidak mutlak sama. Hal ini besar pengaruhnya pada Ku band, tidak seperti halnya C band. Misalnya Siaran A pada Freq. 12.000 Mhz Hor SR:10.000 k/s pada receiver X belum tentu sama dengan receiver Y, Z dsbnya. Pada receiver Y mungkin sinyal quality baru stabil/lock pada 12.002 Mhz dengan SR: 10.001 k/s dan di receiver Z pada 12.004 Mhz SR: 10.003 k/s, dstnya. Ini menjelaskan kenapa terkadang sulit untuk mencari sinyal Ku band berdasarkan informasi dari Web site atau teman, yang pada C band tidak pernah/jarang ditemukan. Anda harus berimprovisasi – play with your remote! Setelah melakukan semua langkah diatas tetapi anda masih belum mendapatkan sinyal yang dicari? Satu hal yang paling mungkin adalah karena anda telah menggunakan tiang / post yang memiliki diameter yang lebih kecil dari diameter mounting antena. Sehingga usaha berjamjam untuk mencari sinyal menjadi sia-sia karena antena memilih gerak (meskipun sedikit, tetapi tidak bisa ditolerir untuk Ku band) bebas ke dua sumbu. Pemecahannya adalah perbaiki diameter tiang dengan diameter yang pas dengan mounting antena sehingga tidak memiliki gerakan lagi. Bisa dengan mengganti dengan tiang baru atau menambahkan pipa berdiameter lebih besar sepanjang pipa mounting (plus 10-20 cm). Diameter luar pipa/tiang yang sering ditemukan adalah 7,5 cm sedangkan pada beberapa produk antena, diameter bagian dalam mounting adalah 8-8,5 cm.

SUMBER : http://c.1asphost.com/mainsource/Indonesia.asp

Logged

everything for better
satyamukti
Baru Daftar


Reputasi : 0
Trade Count: (0)
Offline Offline

Location: indonesia
Posts: 6



Email
« Reply #11 on: October 02, 2007, 09:37:08 am »

Beberapa bacaaan yang berhubungan dengan antenna
diarsip dari forum sebelumnya
semoga berguna
Logged

berlarilah menuju kaki langit
darktemplar
Guru
********

Reputasi : 240
Trade Count: (0)
Online Online

Location: depok - Jakarta PP
Posts: 3389



« Reply #12 on: October 02, 2007, 09:38:43 am »

dari arsip forum lama : « Reply #2 on: December 25, 2006, 07:42:21 AM »
   
SATU PIRING DUA SISTEM Good Good

-->> SEPIRING BERDUA <<--

( C-Band & Ku Band )

 by Jimmy Djurian

 

Original from global_parabola@yahoogroups.com

 

 

Peralatan yang dibutuhkan(secara sederhana):

-         C Band LNBF

-         Ku Band Universal LNBF(prime focus)

-         Palu

-         Paku atau bisa juga obeng pelat

-         Lem besi atau sejenisnya yang kuat

-         Lakban



Langkah I

Lubangi bagian atas C Band LNBF menggunakan palu dan paku atau sejenisnya. Buatlah lubang melingkar dengan rapi agar benar benar bulat. Jangan terlalu keras memukul palu, karena body LNBF yang terbuat dari aluminium tersebut bisa pecah. Dianjurkan untuk memakai LNBF yang body-nya agak tipis agar lebih mudah melubanginya. Yang saya gunakan adalah merk Chieta.



 

Langkah II

Oleskan lem besi disekeliling lubang yang telah kita buat dan pada bagian bawah Ku Band. Tempelkan Ku Band LNBF tepat pada lubang C Band. Posisi Ku Band harus tegak lurus dengan C Band.

 



 
Perhatian.

Sebelum menempelkan Ku Band pada Lubang C Band, pastikan polarisasinya sudah betul-betul pas dan sejajar. Horizontal pada C Band, horizontal pula pada Ku Band. Vertikal akan otomatis sejajar.

 

Disarankan untuk menggunakan Universal Ku Band LNBF yang dibuat khusus untuk prime focus dish. Lebih disarankan lagi, untuk menggunakan merk Micro Electronics karena diameter feedhorn-nya sama dengan ukuran lubang pada C-Band(bila menggunakan merk Chieta). Merk lain bisa saja digunakan, asal bentuk dan ukurannya seperti Micro Electronics.

 
Langkah III

Setelah lem kering, rekatkan lakban secara melingkar untuk menutupi bekas lem, juga untuk menutupi celah yang mungkin timbul sewaktu kita membuat lubang pada C Band. Nah sudah selesai C/Ku Band LNBF nya. Berikutnya cara pasangnya pada piring.

 
Langkah IV

Pasang pada ring LNBF C Band(sama seperti kita pasang C Band saja). Saya sarankan untuk memakai ring ukuran kecil(seperti yang saya gunakan, merk Chieta)untuk memaksimalkan signal yang akan dipantulkan piring ke LNBF.




  Langkah V

Pemasangannya ke piring sangat mudah, yaitu berpatokan pada polarity C Band saja. Anggap saja Ku Band-nya tidak ada agar tidak bingung.

Dengan catatan: Sewaktu menyambung C Band dan Ku Band, posisi polarity keduannya sudah betul-betul tepat/sejajar.

Sediakan 2 ujung kabel coaxial (@ ± 3 meter)pasang jack F pada kedua ujung masing-masing kabel. Satu kabel untuk dipasang pada C Band dan satunya lagi untuk Ku Band.






 
Setelah itu masing-masing ujungnya dipasang pada DiSEqC(1/2 atau 1/4).

Misalnya: C Band ke LNB 1 dan Ku Band ke LNB 2. Saya menggunakan DiSEqC 4/1 merk Chieta. Sudah saya coba memakai beberapa merk receiver, DiSEqC ini bisa bekerja dengan baik.Tegangan pada keempat input LNB bekerja dengan baik sehingga bisa digunakan pada receiver merk apapun yang support DiSEqC. Sebaiknya DiSEqC ditempatkan pada tiang agar piring bisa melindunginya dari panas dan hujan.


 


Langkah VI

Tinggal memasang kabel coaxial dari receiver ke  DiSEqC Out to Receiver. Aturlah setting pada receiver agar sesuai dengan sambungan dari LNBF ke DiSEqC.

Misalnya: Measat 1 C

LNB Frequency : 5150

DiSEqC : 1 of  4(Topfield) atau 1/4(Metabox).

 

Sedangkan untuk Measat 1 Ku

LNB Frequency : 9750/10600

DiSEqC : 2 of  4(Topfield) atau 2/4(Metabox).

 

 

Kelebihan:

-         Biaya jauh lebih murah karena hanya memakai satu piring saja.

-         Hemat waktu dan tempat.

 

Kekurangan:

-         Untuk signal Ku Band yang relatif lemah, tidak bisa ditangkap.

 SUMBER : http://c.1asphost.com/mainsource/Indonesia.asp
Logged

everything for better
satyamukti
Baru Daftar


Reputasi : 0
Trade Count: (0)
Offline Offline

Location: indonesia
Posts: 6



Email
« Reply #13 on: October 02, 2007, 09:51:12 am »

masih dari arsip forum sebelumnya.
lupa sumbernya, terima kasih banyak buat yang membuat tutorial ini.
cuma bisa bantuin ngarsip doang.
Logged

berlarilah menuju kaki langit
iischibira
Baru Daftar


Reputasi : 0
Trade Count: (0)
Offline Offline

Posts: 4


Email
« Reply #14 on: October 02, 2007, 11:43:00 pm »

bgmn supaya ada chinasat 6b

receiver saya ga ada chinasat 6b nich
perlu panggil teknisikah

thx b4
Logged
Pages: [1] 2 3 4 5 6 ... 293   Go Up
  Print  
 
Jump to:  

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player


Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.11 | SMF © 2006-2009, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!