Author Topic: Mengenal budaya kita INDONESIA  (Read 16168 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
Mengenal budaya kita INDONESIA
« on: February 25, 2010, 10:37:27 am »
ISTILAH DALAM SASTRA JAWA

Dibawah ini  adalah istilah – istilah yang sering kita jumpai dalam karya sastra Jawa.

   1.
      Babad: sastra sejarah dalam tradisi sastra Jawa; digunakan untuk pengertian yang sama   dalam tradisi sastra Madura dan Bali; istilah ini berpadanan dengan carita, sajarah (Sunda), hikayat, silsilah, sejarah (Sumatera, Kalimantan, dan Malaysia).
   2.
      Bebasan: ungkapan yang memiliki makna kias dan mengandung perumpamaan pada keadaan yang dikiaskan, misalnya nabok nyilih tangan. gancaran: wacana berbentuk prosa.
   3.
      Gatra: satuan baris, terutama untuk puisi tradisional.
   4.
      Gatra purwaka: bagian puisi tradisional [parikan dan wangsalan] yang merupakan isi atau inti.
   5.
      Guru gatra: aturan jumlah baris tiap bait dalam puisi tradisional Jawa (tembang macapat).
   6.
      Guru lagu: (disebut juga dhong-dhing) aturan rima akhir pada puisi tradisional Jawa.
   7.
      Guru wilangan: aturan jumlah suku kata tiap bait dalam puisi tradisional Jawa.
   8.
      Janturan: kisahan yang disampaikan dalang dalam pergelaran wayang untuk memaparkan tokoh atau situasi adegan.
   9.
      Japa mantra: mantra, kata yang mempunyai kekuatan gaib berupa pengharapan.
  10.
      Kagunan basa: penggunaan kata atau unsur bahasa yang menimbulkan makna konotatif: ada berbagai macam kagunan basa, antara lain tembung entar, paribasan,bebasan, saloka, isbat, dan panyandra.
  11.
      Kakawin: puisi berbahasa Jawa kuno yang merupakan adaptasi kawyra dari India; salah satu unsure pentingnya adalah suku kata panjang dan suku kata pendek (guru dan laghu).
  12.
      Kidung: puisi berbahasa Jawa tengahan yang memiliki aturan jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata tiap baris, dan pola rima akhir sesuai dengan jenis metrum yang membingkainya; satu pupuh kidung berkemungkinan terdapat lebih dari satu pola metrum.
  13.
      Macapat: puisi berbahasa Jawa baru yang memperhitungkan jumlah baris untuk tiap bait, jumlah suku kata tiap baris, dan vokal akhir baris; baik jumlah suku kata maupun vokal akhir tergantung atas kedudukan baris bersangkutan pada pola metrum yang digunakan; di samping itu pembacaannya pun menggunakan pola susunan nada yang didasarkan pada nada gamelan;secara tradisional terdapat 15 pola metrum macapat,yakni dhandhang gula, sinom, asmaradana, durma,pangkur, mijil, kinanthi, maskumambang, pucung, jurudemung, wirangrong, balabak, gambuh, megatruh, dan girisa.
  14.
      Manggala: “kata pengantar” yang terdapat di bagian awal keseluruhan teks; dalam tradisi sastra Jawa kuno biasanya berisi penyebutan dewa yang menjadi pujaan penyair (isthadewata), raja yang berkuasa atau yang memerintahkan penulisan, serta–meskipun tak selalu ada–penanggalan saat penulisan dan nama penyair; istilah manggala kemudian dipergunakan pula dalam penelitian teks-teks sastra Jawa baru.
  15.
      Pada: bait parikan: puisi tradisional Jawa yang memiliki gatra purwaka (sampiran) dan gatra tebusan (isi); pantun (Melayu).
  16.
      Parikan lamba: parikan yang hanya mempunyai masing-masing dua baris gatra purwaka dan gatra tebusan.
  17.
      Parikan rangkep: parikan yang mempunyai masing-masing dua baris gatra purwaka dan gatra tebusan.
  18.
      Pepali: kata atau suara yang merupakan larangan untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu, misalnya aja turu wanci surup.
  19.
      Pupuh: bagian dari wacana puisi dan dapat disamakan dengan bab dalam wacana berbentuk prosa.
  20.
      Panambang: sufiks/akhiran.
  21.
      Panwacara: satuan waktu yang memiliki daur lima hari: Jenar (Pahing), Palguna (Pon), Cemengan (Wage), Kasih (Kliwon), dan Manis (Legi).
  22.
      Paribasan: ungkapan yang memiliki makna kias namun tidak mengandung perumpamaan, misalnya dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan.
  23.
      Pegon: aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa.
  24.
      Pujangga: orang yang ahli dalam menciptakan teks sastra; dalam tradisi sastra Jawa; mereka yang berhak memperoleh gelar pujangga adalah sastrawan yang menguasai paramasastra (ahli dalam sastra dan tata bahasa), parama kawi (mahir dalam menggunakan bahasa kawi), mardi basa (ahli memainkan kata-kata), mardawa lagu (mahir dalam seni suara dan tembang), awicara (pandai berbicara, bercerita, dan mengarang), mandraguna (memiliki pengetahuan mengenai hal yang ‘kasar’ dan ‘halus’), nawung kridha (memiliki pengetahuan lahir batin, arif bijaksana, dan waskitha), juga sambegana (memiliki daya ingatan yang kuat dan tajam).
  25.
      Saloka: ungkapan yang memiliki makna kiasan dan mengandung perumpamaan pada subyek yang dikiaskan, misalnya kebo nusu gudel.
  26.
      Saptawara: satuan waktu yang memiliki daur tujuh hari: Radite (Ngahad), Soma (Senen), Buda (Rebo),Respati (Kemis), Sukra (Jumuwah), dan Tumpak (Setu).
  27.
      Sasmitaning tembang: isyarat mengenai pola metrum atau tembang; dapat muncul pada awal pupuh (isyarat pola metrum yang digunakan pada pupuh bersangkutan) tetapi dapatpula muncul di akhir pupuh (isyarat pola metrum yang digunakan pada pupuh berikutnya.
  28.
      Sastra gagrak anyar: sastra Jawa modern, ditandai dengan tiadanya aturan-aturan mengenai metrum dan perangkat-perangkat kesastraan tradisional lainnya.
  29.
      Sastra gagrak lawas: sastra Jawa modern, ditandai dengan aturan-aturan ketat seperti–terutama–pembaitan secara ketat.
  30.
      Sastra wulang: jenis sastra yang berisi ajaran,terutama moral.
  31.
      Sengkalan: kronogram atau wacana yang menunjukkan lambang angka tahun, baik dalam wujud kata maupun gambar atau seni rupa lainnya yang memiliki ekuivalen dengan angka secara konvensional.
  32.
      Singir: syair dalam tradisi sastra Jawa.
  33.
      Sot: kata atau suara yang mempunyai kekuatan mendatangkan bencana bagi yang memperolehnya.
  34.
      Suluk: (1) jenis wacana (sastra) pesantren dan pesisiran yang berisi ajaran-ajaran gaib yang bersumber pada ajaran Islam; (2) wacana yang ‘dinyanyikan’ oleh dalang dalam pergelaran wayang untuk menciptakan ’suasana’ tertentu sesuai dengan situasi adegan.
  35.
      Supata: kata atau suara yang ‘menetapkan kebenaran’ dengan bersumpah.
  36.
      Tembung entar: kata kiasan, misalnya kuping wajan.
  37.
      Wangsit: disebut juga wisik, kata atau suara yang diberikan oleh makhluk gaib, biasanya berupa petunjuk atau nasihat.
  38.
      Wayang purwa: cerita wayang atau pergelaran wayang yang menggunakan lakon bersumber pada cerita Mahabharata dan Ramayana.
  39.
      Weca: kata atau suara yang mempunyai kekuatan untuk melihat kejadian di masa mendatang.
  40.
      Wirid: jenis wacana (sastra) pesantren yang berkaitan dengan tasawuf.


@hasil copasan
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

komunitas forum satelit indonesia

Mengenal budaya kita INDONESIA
« on: February 25, 2010, 10:37:27 am »

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
SERAT GATOLOCO
« Reply #1 on: February 25, 2010, 10:44:12 am »
FALSAFAH GATOLOCO
Ngemot Falsafah Kawruh Kawaskitan
Miturut babon aslinipun
Kagubah dening :  Prawirataruna
Ing awale abad 20 Masehi
Katiti-pariksa
Sarta kasalinan aksara Latin
Dening : R. Tanoyo
Penerbit S. Mulyo, Solo


PUPUH I
Mijil


Prana putek kapetek ngranuhi, wiyoganing batos, raosing tyas karaos kekese, taman bangkit upami nyelaki, rudah gung prihatin, nalangsa kalangkung.
Yroning kingkin sinalamur nulis, serat Gatoloco, cipteng nala ngupaya leyare, tar len muhung mrih ayeming galih, ywa kalatur sedih, minangka panglipur.
Kyai Guru Tetelu Ing Pondok Rejasari
Kang kinarya bebukaning rawi, Reyasari pondok, wonten Kyai yumeneng Gurune, tiga pisan wasis muruk ilmi, katah para santri, kapencut maguru.
Bakda subuh wau tiga Kyai, ruyuk casnya condong, Guru tiga ngrasuk busanane, arsa linggar sadaya miranti, duk wanci byar enying, sareng angkatipun.
Murid nenem umiring tut wuri, samya anggegendong, kang ginendong kitab sadayane, gunggung kitab kawan likur iyi, ciptaning panggalih, tuwi mitranipun.
Ingkang ugi dadya guru santri, ing Cepekan pondok, Kyai Hasan Besari namane, wus misuwur yen limpad pribadi, putus sagung ilmi, pra guru maguru.
Datan wonten ingkang animbangi, pinunyul kinaot, langkung ageng pondokan santrine, krana saking katahipun murid, uyaring pawarti, pinten-pinten atus.
Amangsuli kang lagya lumaris, sadaya mangulon, sepi mendung sumilak langite, saya siyang lampahnya wus tebih, sunaring hyang rawi, saget benteripun.
Marma reren sapinggiring margi, ngandap wringin ayom, ayem samya anyereng kacune, tinamakken ayoming waringin, pan kinarya linggih, yengkeng semu timpuh.
Ecisira cinublesken siti, murid sami lunggoh, munggeng angarsa ayeyer lungguhe, kasiliring samirana ngidid, pating clumik muyi, tesbehnya den etung.
Murid nenem ambelani muyi, dikir lenggak-lenggok, manggut-manggut sirah gedeg-gedeg, dereng dangu nulya aningal, mring sayuga nyanmi, lir dandang lumaku.
Gatoloco Lan Candrane

PUPUH II
Dandanggula


Endek cilik remane barintik, tur aburik wau rainira, ciri kera ing mripate, alis barungut tepung, irung sunti cangkeme nguplik, waja gingsul tur petak, lambe kandel biru, janggut goleng semu nyentang, pipi klungsur kupingira anjepiping, gulu panggel tur cendak.
Pundak broyol semune angempis, punang asta cendak tur kuwaga, ting carentik dariyine, alekik dadanipun, weteng bekel bokongnya cantik, semu ekor dengkulnya, lampahipun impur, kulit ambesisik mangkak, ambengkerok napasira kempas-kempis, sayak lesu kewala.
Bedudane pring tutul kinisik, apan blorok kuninge semu bang, asungsun tiga pontange, bongkot tengah lan pucuk, timah budeng ingkang kinardi, cupak ireng tur tuwa, gripis nyenyepipun, meleng-meleng semu nglenga, labet saking kenging kukus saben ari, pangoturik den asta.
Kandutane klelet gangsal glinding, alon lenggah caket Guru tiga, sarwi angempos napase, kapyarsa senguk-senguk, gandanira prengus asangit, tumanduk mring panggenan, santri ingkang lungguh, Gatoloco ngambil sigra, kandutane tegesan kang aneng kendit, gya nitik karya brama.
Nulya udut kebulya ngebuli, para santri kawratan sedaya, asengak sanget sangite, murid nenem tumungkul, mergo sarwi atutup rai, saweneh mites grana, kang saweneh watuk, mingser saking palenggahan, samya pindah neng wurine guruneki, nyingkiri punang ganda.
Guru tiga waspada ningali, mring wujuja ingkang lagya prapta, kawuryan mesum ulate, sareng denira nebut, astagafiru’llah hal ‘adlim, dubi’llah minas  .........., ilaha la’llahu lah iku manusa apa, salawase urip aneng dunya iki, ingsun durung tumingal.
Janma ingkang rupane kajeki, sarwi noleh ngandika mring sabat, pada tingalana kuwe, manusa kurang wuruk, datan weruh sakehing nabi, neng dunya wus cilaka, iku durung besuk, siniksa aneng achirat, rikel sewu siksane neng dunya kuwi, mulane wekasingwang.
Ingkang petel sinauwa ngaji, amrih weruh syara’ Rasulu’llah, slamet dunya achirate, sapa kang neja manut, ing sari’at Andika’ Nabi, mesti oleh kamulyan, sapa kang tan manut, bakale nemu cilaka, Ahmad ‘Arif mangkana denira eling, janma iku sunkira.
Dudu anak manusa sayekti, anak belis .......... brekasakan, turune memedi wewe, Gatoloco duk ngrungu, den wastani yen anak belis, langkung sakit manahnya, nanging tan kawetu ngungkapi gembolanira, kleletipun sajebug sigra ingambil, den untal babar pisan.
Pan sakala endeme mratani, mrasuk badan kulit dagingira, ludira otot bayune, balung kalawan sungsum, kekiyatan sadaya pulih, kawistara njrebabak, cahyanipun santun, Guru tiga wrin waspada, samya eram tyasnya ngungun tan andugi, pratingkah kang mangkana.
Abdu’l Jabar ngucap mring Mad ‘Arif, lah ta mara age takonana, apa kang den untal kuwe, lan sapa aranipun, sarta maneh wismane ngendi, apa panggotanira, ing sadinanipun lan apa tan adus toya, salawase dene awake mbasisik, janma iku sun kira.
Ora ngreti nyara’ lawan sirik, najis mekruh batal lawan haram, mung nganggo senenge dewe, sanajan iwak asu, daging celeng utawa babi, angger doyan pinangan, ora nduwe gigu, tan pisan wedi duraka, Ahmad Arif mrepeki gya muwus aris, wong ala ingsun tannya.
Bebantahan Ilmu
Lah ta sapa aranira yekti, sarta maneh ngendi wismanira, kang tinannya lon saure, Gatoloco aranku, ingsun janma lanang sajati, omahku tengah jagad, Guru tiga ngrungu, sareng denya latah-latah, bedes buset aran nora lumrah janmi, jenengmu iku haram.
Gatoloco ngucap tannya aris, dene sira pada latah-latah, anggeguyu apa kuwe, Kyai Guru sumaur, krana saking tyasingsun geli, gumun mring jenengira, Gatoloco muwus, ing mangka jeneng utama, gato iku tegese sirah kang wadi, loco pranti gosokan.
Marma kabeh pada sun-lilani, sakarsane ngundang marang ingwang, yekti sun-sauri bae, tetelu araningsun, kang sawiji Barang kinisik, siji Barang panglusan, nanging kang misuwur, manca pat manca lelima, iya iku Gatoloco aran-mami, prasaja tandha priya.
Kyai Guru mangsuli tan becik, jenengira iku luwih ala, jalaran banget sarune, haram, najis lan mekruh, iku jeneng anyilakani, jeneng dadi duraka, jeneng ora patut, wus kasebut jroning kitab, nyirik haram yen mati munggah suwargi, kang haram manjing nraka.
Gatoloco menjep ngiwi-iwi, gya gumujeng nyawang Guru tiga, sarwi mangkana ujare, syara’ira kang kliru, sapa bisa angelus wadi, yekti janma utama, iku apesipun priyayi kang lungguh demang, myang panewu wadana kliwon bupati, liyane ora bisa.
Rehning ingsun tan dadi priyayi, mung jenengku jeneng wadi mulya, supaya turunku tembe, dadi priyayi agung, ‘Abdu’ljabar angucap bengis, dapurmu kaya luwak, nganggo sira ngaku, lamun sajatine lanang, Gatoloco gumujeng alon nauri, ucapku nora salah.
Ingsun ngaku wong lanang sajati, basa lanang sajati temenan, wadiku apa dapure, sajati tegesipun, ingsun urip tan neja mati, Guru tiga angucap, dapurmu lir antu, sajege tan kambon toya, Gatoloco macucu nulya mangsuli, ewuh kinarya siram.
Upamane ingsun adus warih, badaningsun wus kaisen toya, kalamun adus genine, jro badan isi latu, yen resika sun-gosok siti, asline saking lemah, sun-dusana lesus, badanku sumber maruta, tuduhena kinarya adus punapi, ujarnya Guru tiga.
Asal banyu yekti adus warih, dimen suci iku badanira, Gatoloco sru saure, sira santri tan urus, yen suciya sarana warih, sun kungkum sangang wulan, ora kulak kawruh, satemene bae iya, ingsun adus tirta tekad suci ening, ing tyas datan kaworan.
Bangsa salah kang kalebu ciri, iya iku adusing manusa, ingkang sabener-benere, Kyai Guru sumaur, wong dapure lir kirik gering, sapa ingkang pracaya, nduwe pikir jujur, sira iku ingsun-duga, ora nduwe batal haram mekruh najis, weruhmu amung halal.
Najan arak iwak celeng babi, angger doyan mesti sira-pangan, ora wedi durakane, Gatoloco sumaur, iku bener tan nganggo sisip, kaja pambatangira, najan iwak asu, sun-titik asale purwa, lamun becik tan dadi seriking janmi, najan babi celenga.
Ngingu dewe awit saking cilik, sapa ingkang wani nggugat mring wang, halale ngungkuli cempe, sanajan iwak wedus, yen asale srana tan becik, haram, lir iwak sona, najan babi iku, tinilik kawitanira, yen purwane ngingu dewe awit genjik, luwih saking maenda.
Najan wedus nanging nggonmu maling, luwih babi iku haramira, najan mangan iwak celeng, lamun asale jujur, mburu dewe marang wanadri, dudu celeng colongan, halale kalangkung sanajan iwak maesa. Yen colongan luwih haram saking babi, ujarnya Guru tiga.
Luwih halal padune si belis, pantes temen uripmu cilaka, kamlaratan salawase, tan duwe beras pantun, sandangane pating saluwir, kabeh amoh gombalan, sajege tumuwuh, ora tau mangan enak, ora tau ngrasakake legi gurih, kuru tan darbe wisma.
Gatoloco ngujap anauri, ingkang sugih sandang lawan pangan pirang keti momohane, kalawan pirang tumpuk, najis ingkang sira-simpeni, Guru tiga duk myarsa, gumuyu angguguk, sandangan ingkang wus rusak, awor lemah najisku kang tibeng bumi, kabeh wus awor kisma.
Gatoloco anauri malih, yen mangkono isih lumrah janma, ora kinaot arane, beda kalawan ingsun, kabeh iki isining bumi, sakurebing akasa, dadi darbekingsun, kang anyar sarwa gumebyar, sun-kon nganggo marang sanak-sanak-mami, ngong trima nganggo ala.
Apan ingsun trima nganggo iki, pepanganan ingkang enak-enak, kang legi gurih rasane, pedes asin sadarum, sun-kon mangan mring sagung janmi, ingkang sinipat gesang, dene ingsun amung, ngawruhi sadina-dina, sun-tulisi sastrane salikur iji, sun simpen jroning manah.
Ingsun dewe mangan saben ari, ingsung milih ingkang luwih panas, sarta ingkang pait dewe, najise dadi gunung, kabeh gunung ingkang kaeksi, mulane kang bawana, pada metu kukus, tumuse geni sun-pangan, ingkang dadi padas watu lawan curi, klelet ingkang sun-pangan.
Sadurunge ingsun ngising najis, gunung iku yekti durung ana, benjang bakal sirna maneh, lamun ingsun wus mantun, ngising tai metu teka silit, titenana kewala, iki tuturingsun, Guru tiga duk miyarsa, gya micara astane sarwi nudingi, layak kuru tan pakra.
Gatoloco sigra anauri, mila ingsun kurune kalintang, krana nurut mring karsane, Gusti Jeng Nabi rasul, saben ari ingsun turuti, tindak menyang ngepaken, awan sore esuk, mundhut candu lawan madat, dipun dahar kalawan dipun obongi, Allah kang paring wikan.
Kanjeng Rasul yen tan den turuti, muring-muring banget anggone duka, sarta banget paniksane, ingsun tan bisa turu, Guru tiga samya nauri, mung lagi tatanira, Kanjeng Nabi Rasul, karsa tindak mring ngepaken, Kangjeng Rasul pepundene wong sabumi, aneng nagara Mekah.
Gatoloco anauri aris, Rasul Mekah ingkang sira-sembah, ora nana ing wujude, wus seda sewu taun, panggonane ing tanah ‘Arbi, lelakon pitung wulan, tur kadangan laut, mung kari kubur kewala, sira sembah jungkar-jungkir saben ari, apa bisa tumeka.
Sembahira dadi tanpa kardi, luwih siya marang raganira, tan nembah Rasule dewe, siya marang uripmu, nembah Rasul jabaning diri, kabeh sabangsanira, iku nora urus, nebut Allah siya-siya, pating brengok Allah ora kober guling, kabebregen suwara.
Rasulu’llah seda sewu warsi, sira-bengok saking wisma-nira, bok kongsi modot gulune, masa bisa karungu, tiwas kesel tur tanpa kasil, Guru tiga angucap, ujare cocotmu, layak mesum ora lumrah, anyampahi pepundene wong sabumi, Gatoloco manabda.
Bener mesum saking susah-mami, kadunungan barang ingkang gelap, awit cilik tekeng mangke, kewuhan jawab-ingsun, yen konangan ingkang darbeni, supaya bisa luwar, ingsun njaluk rembug, kapriye bisane jawab, aywa nganti kena ukum awak-mami, Guru tiga miyarsa.
Asru ngucap nyata sira maling, ora pantes rembugan lan ingwang, sira iku wong munapek, duraka ing Hyang Agung, lamun ingsun gelem mulangi, pakartine dursila; mring panjawabipun, ora wurung katularan, najan ingsun datan angklakoni maling, yen gelem mulangana.
Nalar :censored: paturane maling, yekti dadi melu kena siksa, Gatoloco pamuwuse, yen sireku tan purun, amulangi mring jawab maling, payo pada cangkriman, nanging pamitengsun, badenen ingkang sanyata, lamun sira telu pisan tan mangreti, guru tanpa paedah.
Kyai Guru samya anauri, mara age saiki pasalna, cangkrimane kaya priye, manira arsa ngrungu, yen wus ngrungu sayekti bangkit, masa bakal luputa, ucapna den gupuh, angajak cangriman apa, sun-batange dimen pada den sekseni, santri murid nom noman.
Cangkriman Endi Kang Tuwa Dalang Wayang Kelir Balencong

PUPUH III
Sinom


Gatoloco nulya ngucap, dalang wayang lawan kelir, balencong endi kang tuwa, badenen cangriman iki, yen sira nyata wasis, mesti weruh ingkang sepuh, Ahmad ‘Arif ambatang, kelir kang tuwa pribadi, sadurunge ana dalang miwah wayang.
Balencong durung pinasang, kelir ingkang wujud dingin, wus jumeneng keblat-papat, ngisor tengah lawan nginggil, mila tuwa pribadi, ‘Abdu’ljabar asru muwus, heh Ahmad ‘Arif salah, pambatangmu iku sisip, panemuku tuwa dewe kaki dalang.
Anane kelir lan wayang, kang masang balencong sami, wayang gaweyane dalang, mulane tuwa pribadi, tan ana kang madani, anane dalang puniku, ingkang karya lampahan, nyritakake ala becik, asor unggul tan liya saking ki dalang.
Nulya Kyai ‘Abdulmanap, nambungi wacana aris, karo pisan iki salah, pada uga durung ngerti, datan bisa mrantasi, tur remeh kewala iku, mung nalar luwih gampang, ora susah nganggo mikir, sun ngarani tuwa dewe wayangira.
Upama wong nanggap wayang, isih kurang telung sasi, dalange pan durung ana, panggonanane durung dadi, wus ngucap nanggap ringgit, tutur mitra karuhipun, sun arsa nanggap wayang, ora ngucap nanggap kelir, ora ngucap nanggap balencong lan dalang.
Wus mupakat janma katah, kang tinanggap apan ringgit, durung paja-paja gatra, wus muni ananggap ringgit, mila tuwa pribadi, Gatoloco alon muwus, ‘Abdu’ljabar Du’lmanap, tanapi si Ahmad ‘Arif, telu pisan pambatange pada salah.
Batanganing Cangkriman Kang Bener
Yen mungguh pametekingwang, balencong tuwa pribadi, sanajan kelir pinasang, gamelan wus miranti, dalang niyaga linggih, yen maksih peteng nggenipun, sayekti durung bisa, dalange anampik milih, nyritakake sawiji-wijining wayang.
Kang nonton tan ana wikan, marang warnanira ringgit, margane isih petengan, ora kena den tingali, yen balencong wus urip, kantar-kantar katon murub, kelire kawistara, ing ngandap miwah ing nginggil, kanan kering Pandawa miwah Kurawa.
Ki Dalang neng ngisor damar, bisa nampik lawan milih, nimbang gede cilikira, tumrap marang siji-siji, watake kabeh ringgit, pinates pangucapipun, awit pituduhira, balencong ingkang madangi, pramilane balencong kang luwih tuwa.
Dene unining gamelan, wayange kang den gameli, dalange mung dharma ngucap, si wayang kang darbe uni, prayoga gede cilik, manut marang dalangipun, sinigeg gangsa ika, kaki dalang masesani, nanging darma ngucap molahake wayang.
Parentahe ingkang nanggap, ingkang aran Kyai Sepi, basa sepi tanpa ana, anane ginelar yekti, langgeng tan owah gingsir, tanpa kurang tanpa wuwuh, tanpa reh tanpa guna, ingkang luwih masesani, ing solahe wayang ucape ki dalang.
Ingkang mesti nglakonana, ingkang ala ingkang becik, kang nonton mung ingkang nanggap, yeku aran Kyai Urip, yen damare wus mati, kabeh iku dadi suwung, tan ana apa-apa, lir ingsun duk durung lair, tetap suwung ora ana siji apa.
Basa kelir iku raga, wayange Suksma sajati, dalange Rasul Muchammad, balencong Wahyune Urip, iku upama Widdhi, cahyane urip puniku, nyrambahi badanira, jaba jero ngandap nginggil, wujudira wujude Allah kang murba.
Yen wayang mari tinanggap, wayange kalawan kelir, sinimpen sajroning kotak, balencong pisah lan kelir, dalang pisah lan ringgit, marang ngendi paranipun, sirnane blencong wayang, upayanen den kepanggih, yen tan weruh sira urip kaya reca.
Benjang yen sira palastra, uripmu ana ing ngendi, saikine sira gesang, patimu ana ing ngendi, uripmu bakal mati, pati nggawa urip iku, ing ngendi kuburira, sira-gawa wira-wiri, tuduhena dunungge panggonanira.
Banjure Bebantahan ‘Ilmu
Guru tiga duk miyarsa, anyentak sarwi macicil, rembug gunem ujarira, iku ora lumrah janmi, Gatoloco nauri, dasar  sun-karepken iku, aja lumrah wong katah, ngungkulana mring sasami, ora trima duwe kawruh kaya sira.
Santri pada ambek lintah, ora duwe mata kuping, anggere amis kewala, cinucap nganti malenti, ora ngreti yen getih, gandane amis tur arus, kinira madumangsa, yen wus wareg mangan getih, amalengker tan metu nganti sawarsa.
Wekasan kaliru tampa, tan weruh temah ndurakani, manut kitab mengkap-mengkap, manut dalil tanpa misil, amung ginawe kasil, sinisil ing rasanipun, rasa ni’mating ilat, lan rasane langen resmi, rasanira ing kawruh ora tinasa.
Tetep urip tanpa mata, matamu mata soca pring, matamu tanpa paedah, matamu tan migunani, Kyai Guru mangsuli, muring-muring asru muwus, apa sira tan wikan mring mataku loro iki, Gatoloco sinaur sireku beja.
Dene pada duwe mata, loro-loro guru siji, apa sira wani sumpah, yen duwe mata kekalih, Guru tiga nauri, dasar sayektine ingsun tetela duwe mata, tetep loro mata-mami, Gatoloco gumujeng sarwi anyentak.
Sireku wani gumampang, sayekti balak bilahi, ngaku dudu matanira, sun-lapurken pulisi, mesthine den taleni, angaku loro matamu, yen nyata matanira, konen gilir genti-genti, prentahana siji melek siji nendra.
Dadi salawasmu gesang, ora kena dimalingi, Guru tiga samya ngucap, endi ana mata gilir, Gatoloco nauri, tandane nyata matamu, sira wenang masesa, saprentahmu den turuti, yen tan manut yekti dudu matanira.
Guru tiga samya mojar, aku wani sumpah yekti, awit cilik prapteng tuwa, tan pisah lan rai-mami, Gatoloco mangsuli, dene-sira wani ngaku, matamu ora pisah, mata olehmu ing ngendi, apa tuku apa gawe apa nyelang.
Apa sira winewehan, iya sapa kang menehi, kalawan saksine sapa, dina apa aneng ngendi, Guru tiga miyarsi, deleg-deleg datan muwus, wasana samya ngucap gaweyane bapa bibi, Gatoloco gumuyu alatah-latah.
Kiraku wong-tuwanira, loro pisan pada mukir, karone ora rumasa, gawe irung mata kuping, lanang wadon mung sami, ngrasakake ni’matipun, iku daja jalaran, wujude ragamu kuwi, ora neja gawe rambut kuping mata.
Guru tiga nulya mojar, Allah Ingkang Maha Suci, ingkang karya-raganingwang. Gatoloco anauri, prenah apa sireki, kalawan Kang Maha Luhur, dene ta pinaringan, mata loro kanan-kering, telu pisan pinaringan grana lesan.
Guru tiga saurira, katrima pamuji-mami, Gatoloco asru nyentak, pujimu pujining Widdhi, sira ora nduweni, marang pangucap sadarum, iku ucaping Allah, yen mangkono sira maling, wani-wani kadunungan barang gelap.
Yen tan bisa ndunungena, kajedegan ingkang diri, mestine dadi sakitan, ora kena sira mukir, meloke wus pinanggih, teka ngendi asalipun, yen asale tan wikan, matanira loro kuwi, ora kena angukuhi matanira.
Sakehing reh lakonana, yen tan manut sun-gitiki, jalaran sira wus salah, kajedegan sira maling, lah iku duwek-mami sira-anggo tanpa urus, saikine balekna, ilange duk jaman gaib, ingsun-simpen ana satengahing jagad.
Saksine si wujud ma’na, cirine rina lan wengi, ingsun-rebut tanpa ana, saiki lagya pinanggih, sira ingkang nyimpeni, santri pada tanpa urus, yen sira tan ngulungna, sun-lapurake pulisi, ora wurung munggah ing rad pengadilan.
Mesti sira kokum peksa, yen wengi turu ning buwi, lamun rina nambut karya, saben bengi den kandangi, beda kalawan, salawase ngong tumuwuh, sadurunge tumindak, ingkang daja seja-mami, agal alus kasar lembut ingsun-nalar.
Murih aja dadi salah, Ahmad ‘Arif anauri, guneman karo wong edan. Gatoloco amangsuli, edanku awit cilik, kongsi mangke prapteng umur, ingsun tan bisa waras, saben dina owah gingsir, nampik milih panganan kang enak-enak.
Panganggo kang sarwa endah, ingsun edan urut margi, nurut margane kamulyan. ‘Abdul’jabar muring-muring, astu sumaur bengis rembugan lan asu buntung. Gatoloco angucap, bener olehmu ngarani, sakrabatku bapa kaki buyut canggah.
Dasare buntung sadaya, tan ana buntut sawiji, basa asu ma’na asal, buntut iku wus ngarani, ingsun jinising janmi ora buntut lir awakmu, balik sira wong apa, sira gundul anjedindil, apa Landa apa Koja apa Cina?
Apa sira wong Benggala, Guru tiga anauri, ingsun iki bangsa Jawa, Muchammad agama-mami, Gatoloco nauri, sira wong kapir satuhu, Kristen agamanira, lamun sira bangsa Jawi dene sira tan nebut Dewa Batara.
Agama Rasul Muchammad, agamane wong ing ‘Arbi, sira nebut liya bangsa, tegese sinipat kapir, tan sebutmu pribadi, anggawe rusak uripmu, mulane tanah Jawa, kabawah mring liya jinis, krana rusak agamane kuna-kuna.
Wiwit biyen jaman Purwa, Pajajaran Majapahit, wong Jawa agama Buddha, jaman Demak iku salin, nebut Rasulu’llahi, sebute wong ‘Arab iku, saiki sira-tular, anilar agama lami, tegesira iku Kristen bangsa ‘Arab.
Guru tiga duk miyarsa, sru nyentak sarwi nudingi Gatoloco sira gila, Gatoloco anauri, ingsun gila sayekti, yen weruh kaya dapurmu, wedi bok katularan, ora duwe mata kuping, kawruhira amung jakat lawan pitrah.
Kyai Guru tiga pisan, tyasnya runtik anauri, nyata sira anak jalang. Gatoloco amangsuli, iku bener tan sisip, bapa biyung kaki buyut, kabeh kena ing pejah, lamun wis tumekeng jangji, yekti mulih mring asale pada ilang.
Kiraku manawa sira, metu saking reca wesi, dene wujud tanpa nyawa, sira ora duwe budi, Kyai Guru nauri, samya misuh trukbyangamu, Gatoloco angucap, iku banget trima-mami, krana sira telu pisan misuh mring wang.
Sira nuduhake biyang, ingsun iki tan udani, duk lair saking wadonan, amung ingkang sun-gugoni, wong tangga kanan kering, bapa biyang ingkang ngaku, nganakake maring wang, iku ingkang sun-sungkemi, nanging batin ingsun ora wani sumpah.
Iya iku bapa biyang, ingkang weruh lair-mami, saikine sira bisa, nuduhake biyang-mami, wismane ana ngendi, lawan sapa aranipun, amba-ciyute pira, duweke wong tuwa-mami, yen tau weruh iku ujar ambelasar.
Krana ingsun nora wikan, wujude ingsun saiki, mujud dewe tanpa lawan, Allah ora karya mami, anane raga-mami, gaweyanira Hyang Agung, duk aneng ’alam dunya, ana satengahing bumi, lawan sira kala karya raganira.
Sawindu lawan sawarsa, rolas wulan pitung ari, pendak pasar ratri siyang, saejam sawidak menit, ora kurang tan luwih, wukune mung telung puluh, raganingsun duk daja, sarta wus wani nyampahi, wruhaningsun sanajan saiki uga.
Badanku kena ing rusak, urip-mami wangawuhi, saobah-osiking badan, Rasulu’llah andandani, krana ingsun kekasih, kinarya Pangeraningsun, marang sagunging sipat, nggesangaken saliring tunggil, iya Ingsun iya Allah ya Muchammad.
Guru tiga asru mojar, sira wani angakoni, tunggal wujud lan Pangeran, apa kuwasamu kuwi, Gatoloco nauri, ngrawuhi dadine lebur, kalawan peparengan, karsane Kang Maha Suci, ingsun dewe tan kuwasa apa-apa.
Ragengsun wujuding Suksma, angawruhi ing Hyang Widdhi, tumindak karsanira Hyang, aweh mosik liya mami, Muchammad kang nduweni, pangucap paningalingsun, pangganda pamiyarsa, dene lesan lawan diri, kabeh iku kagungane Rasulu’llah.
Ingsun ora apa-apa, mung pangrasa duwek-mami, iku yen ana sihing Hyang, yen tan ana sihing Widdhi, duwekingsun mung sepi, basa sepi iku suwung, tan ana apa-apa, lir ingsun duk durung dadi, tetep suwung ora weruh siji apa.
‘Abdu’ljabar nulya mojar, sira iku angakoni, wujudmu wujuding Suksma, ing mangka ragamu kuwi, kena rusak bilahi, ora langgeng sira wutuh, Gatoloco angucap, ingkang rusak iku bumi, kalimputan wujud-mami lan Pangeran.
Ingsun Ingkang Maha Mulya, tan kena rusak bilahi, ingkang langgeng swarga mulya, Kyai Guru ananuri, yen mangkono sireki, weruh pestine Hyang Agung, kang durung kalampahan, Gatoloco anauri, weruh pisan pestine mring raganingwang.
Ingsun-pesti awakingwang, wayah iki dina iki, jejagongan lawan sira, mengko gawe pesti maning, kang durung den lakoni, kanggone mengko lan besuk, supaya aja salah, dadi ora kurang luwih, lamun salah ngrusak buku sastra angka.
Kalawan ngrusak gulungan, iku banget wedi-mami, wedi manawa dinukan, marang ingkang juru-tulis, mulane ngati-ati, gawe pesti aja kliru. Kyai Guru angucap, kang durung sira-lakoni, beja sarta cilakamu besuk apa.
Aneng ngendi kuburira, Gatoloco anauri, kuburan wus ingsun-gawa, saben dina urip-mami, kalawan ngudaneni, ning sawates umuringsun, kalamun parek ‘ajal, sajroning rolas jam mami, lagya milih dina sarta wayahira.
Yen gawe pesti samangkya, papestene awak-mami, bokmanawa luwih kurang, susah anggoleki pesti, becike saben lawan ari, anggawe papesthen iku, manut senenging driya, dadi ora kurang luwih, ora angel ara cidra ing semaya.
Kyai ‘Abdu’ljabar ngucap, pestine marang Hyang Widdhi, ingkang durung kalampahan, Gatoloco anauri, iku pestening Widdhi, dudu pesti saking ingsun, Allahku saben dina, anggawe papesten-mami, anuruti marang kabeh karsaningwang.
Guru tiga sareng ngucap, Gatoloco sira iki, nyata kasurupan .........., Gatoloco anauri, bener pan ora sisip, kala ingsun dereng wujud, ana ing ‘alam samar, tumeka ing jaman mangkin, setaningsun durung pisah saking raga.
Basa .......... iku seta, asaling bibit sakalir, wujudingsun duk ing kuna, punika asale putih, lamun durung mangreti, iya iku asal-ingsun, purwa saking sudarma, tumeka kalamu’llahi, sayektine ingsun asal kama petak.
Menek Guru telu sira, kama ireng ingkang dadi, dene buntet tanpa nalar, ‘Abdu’lmanap duk miyarsi, mojar mring Ahmad ‘Arif, ‘Abdu’ljabar yen sarujuk, wong iki pinatenan, lamun maksih awet urip, ora wurung ngrusak syara’ Rasulu’llah.
Iku wong mbubrah agama, akarya sepining masjid. Gatoloco asru ngucap, den enggal nyuduk mring mami, sapisan nyuduk jisim, pindo batang sira-suduk, ya ingsun utang apa, arsa mateni mring mami, saurira mung lega rasaning driya.
Krana sira ngrusak syara’, Gatoloco anauri, syara’ tan kena rinusak, pinesti dening Hyang Widdhi, syara’e, yen mangan lebokna silit, iku tetep aran janma ngrusak syara’.
Dene bangsane agama, sasenengane wong ngaurip, sanajan agama Cina, lamun terus lair batin, yekti katrima ugi, Guru telu agamamu, iku agama kopar, agamaku ingkang suci, iya iku kang aran agama rasa.
Tegese agama rasa, nuruti rasaning ati, rasaning badan lan lesan, iku kabeh sun-turuti, rasaning legi gurih, pedes asin sepet kecut, pait getir sadaya, sira agama punapi, saurira agamaku Rasulu’llah.
Gatoloco asru ngucap, patut sira tanpa budi, aran ra punika raras, sul usul raras kang sepi, sul asal tegesneki, mulane sireku kumprung, Guru tiga miyarsa, sigra kesah tanpa pamit, sakancane garundelan urut marga.
Sanget dennya nguman-uman, Ahmad ‘Arif muwus aris, ‘Abdul’ljabar ‘Abdu’lmanap, salawasku urip iki, aja pisan pisan panggih, kalawan wong ora urus, manusa tan wruh tata, jroning ngimpi ingsun sengit, yen kapetuk sun mingkar tan sudi panggya.
Gatoloco Rumasa Menang Bantahe
Gatoloco kang tinilar, aneng ngisoring waringin, rumasa yen menang bantah, mangkana osiking galih, banget kepati-pati, angekul sameng tumuwuh, sun-kira luwih mana pangrawuhe Guru santri, dene iku isih bodo kurang nalar.
Durung pada durung timbang, yen tinanding kawruh-mami, durung nganti ingsun-gelar, kawruhku kang luwih edi, prandene anglangani, kalah tan bisa samaur, yen mangkono sun-kira, ingkang muruk tanpa budi, iku nyata .......... ingkang minda janma.
Lamun wulange manusa, mesthine pada mangreti, mring duga lawan prayoga, aywa karem karya serik, mulane kudu eling, eling marang Ingkang Asung, asung urip kamulyan, upayanen den kapanggih, yen pinanggih padang terang sagang nalar.
Yen padang tegese gesang, lamun peteng iku mati, janma ingkang duwe nalar, aran manusa sajati yen luwih wus ngarani, agal myang alus cinakup, tan kaya Guru tiga, bodone kepati-pati, cupet kawruh peteng nalar ma’nanira.
Wangsalan Pangura-urane Gatoloco
Gatoloco gya lumampah, tetembangan urut margi, kebo bang kagok (sapi) upama, sapisan maning pinanggih, bibis alit ing tasik (undur-undur), ora mundur bantah kawruh, pelem gung mawa ganda (kuweni), kawuk ingkang minda warni (slira), becik ingsun ngenteni lan ura-ura.
Gude rambat (kara) puspa kresna (tlasih), manira pan isih wani, witing pari (dami) entong palwa (welah), ora neja kalah mami, araning wisma paksi (susuh), mungsuh sira guru pengung, parikan uler kambang (lintah), ingsun seneng bantah ilmi, welut wisa (ula) tininggal atiku gela.
Mendung petak (mega) kunir pita (temu), muga-muga temu maning, tepi wastra rinumpaka (kemada), banjur pada maring ngendi, kayu rineka janmi (golek), apa golek guru jamhur, sarkara munggeng tala (madu), arsa den adu lan mami, wadung rema (cukur) malah sokur yen mangkana.
Jangkrik gung wismeng kebonan (gangsir), manira ora gumingsir, bebasan putrane menda (cempe), sakarepe sun-ladeni, jamang wakul (wengku) upami, angajak apa sireku, duh lae puter wisma (dara), nganggo sira mejanani, kentang rambat (katela) sanajan rupaku ala.
Menyawak kang sabeng toya (slira), prakara mung bantah ‘ilmi, wulu bauning kukila (elar), kabeh nalar sun tan wedi, sayekti pinter mami, tinimbang lan sira guru, kaca tumraping netra (tesmak), ora jamak mejanani, mulwa rengka (srikaya) yen sira luru saraya.
Kemaduh rujit godongnya (rawe), aywa suwe sun-anteni, guru ngendi srayanira najan jamhur luwih wasis, ingsun wani nandingi, angayoni bantah kawruh, masa ingsun mundura, yeku karsane Hyang Widdhi, raganingsun yektine darma kewala.
Gatoloco sukeng driya, rerepen alon lumaris, miling-miling mung priyangga, dumugi patopan mampir, manjing mring bambon linggih, ngambil klelet kang kinandut, saglinding dipun untal, ngrusak badan anyegeri, kraos gatel astane ngukur sarira.
Kyai Hasan Besari Ing Pondok Cepekan

PUPUH IV
Pangkur


Kacarita ing Cepekan, pondok ageng panggenan santri ngaji, punika sampun misuwur, kawentar manca praja, wonten Kyai pinunjul jumeneng Guru, ‘alim jamhur tanpa sama, kang nama Hasan Besari.
Kajuwara yen ‘ulama, mila unggul ginuron para santri, muridipun tigang atus, ing wanci bakdha ‘isya’, wus salat neng langgar ngaji sadarum, Kyai Guru arsa mulang, kitab Pekih miwah Tafsir.
Unda usuk warna-warna, wonten santri ingkang lagya niteni, ma’na lapal Kuranipun, ngasil-ingasil ika, samya taken-tinaken mring kancanipun, wonten ingkang sampun paham, ngapalaken kitab Sitin.
Tanapi sagunging kitab, sasenenge santri sawiji-wiji, santri ingkang sampun putus, ing ma’na lapal Kuran, mencil mencul madoni mring Kyai Guru, ma’nanira lapal Kuran, angambil sagunging misil.
Ingkang sampun kinawruhan, kang saweneh ana santri pradondi, ing lapal ma’na Kur’an, mencil-mencul madoni mring Kyai Guru, ma’nanira lapal Kur’an, angambil sagunging misil.
Ingkang sampun kinawuhan, kang saweneh ana santri pradondi, ing lapal ma’na puniku, udreg paben grejegan, santri kalih mara merak marang Guru, gya kasaru tamu prapta, “Abdul’ljabar ‘Ahmad Arif. “
Miwah Kyai ‘Abdul manap sabat nenem datan pisah tut wuri, sinauran salamipun, kang ngaji tutub kitab, tamu wau nulya minggah nglanggar gupuh, apan samya sesalaman, jawat tangan genti-enti.
Sawustru sesalaman, sampun warata sadaya para santri, munggeng langgar tata lungguh, Hasan Besari mojar, dene gati kados wonten karsanipun, pukul pinten mangkatira, saking pondok Rejasari.
Angling Kyai ‘Abdu’ljabar, bakda subuh mangkat wanci byar enjing, milahipun ngantos dalu, kedangon wonten marga, mandeg bantah kawon mengsah tiyang kupur, Gatoloco namanira, dapure mboten mejaji.
Punika .......... katingal, anak belis ambekta wadung linggis, pan kinarya ngrusak ngremuk, ing syara’ Rasulu’llah , ingkang leres dipun wadung lemah putung, yen pokah rebah binubrah, agami den obrak-abrik.
Sadaya syara’ tinerak, morak-marik sirik den orak-arik, amung nekad gasruh rusuh, jinawab mung sakecap, gulagepan kula tan bangkit sumaur, sagung haram rinampasan ambubrah syara’ lan sirik.
Wungkul akal mokal nakal, sanget ngrengkel ngungkil nyrekal metakil, sakeh kawruh kabarubuh, sagung pasal kasingsal, dalil-dalil katail ing misilipun, kula mapan mung kasoran, kula nyingkring boten mlangkring.
Panggah bantah meksa kalah, boten betah isin den iwi-iwi, sakeh padu dipun buru, sakeh jawab tan menang, salin pisuh boten pasah saya rusuh, malah munggah ngarah sirah, lir maling neja anjiling.
Kula tansah kaungkulan, pijer kojur boten saged ngungkuh, kula-suwun mring Hyang Agung, salami-kula gesang, sampun ngantos kepranggul tiyang kajeku, yen kapetuk kula nyimpang, jejera kula sumingkir.
Manah-kula sampun jinja, krana saking kapok den iwi-iwi. Hasan Besari duk ngrungu, mring nalar kang mangkana, sanalika dennya ngontor asru bendu, jaja bang mawinga-winga, muring-muring waja gatik.
Netra andik angatirah, Kyai Hasan Besari ngucap bengis, patut kang kaya dapurmu, santri remeh kewala, bener sira mantolos endasmu gundul, buntu buntet tanpa nalar, mung jakat kang sira-incih.
Durung patut ginuronan, guru bodo kawruhmu mung sanyari, ora liya kabisanmu, marani angger wisma, kang ginawa kasang wadah karag sekul, bisane ndonga kabula, ngaji kulhu lamyakunil.
Ora pada kaya ingwang, marma gundul kasundul ing agami, mila putih surbaningsun, titih teteh micara, kalah iki mesti ngambil saking biku, mila ketu tarancangan, panjalin ingkang kinardi.
Kerigen santri ‘ulama, ora kewran kawruhku salin-salin, nrawang putus ngisor duwur, mila klambi kebayak, bisa miyak marang kawruh agal alus, sabuk poleng manca warna, kawruh-ingsun warni-warni.
‘Ilmu Jawa Landa, Cina, Turki Koja Hindu Benggala Keling, kabeh iku wus kacakup, sun-simpen aneng kasang, kawruh ‘Arab awit timur nganti lamur, kawruh Jawa tan kuciwa, dasar ingsun bangsa Jawi.
Mila bebed sarung amba, omber jembar ngungkuli ingkang dakik, kabeh ‘ilmu ingsun weruh, nganggo tesbeh sanyata, kabeh kawruh ingkang luwih saking alus, ora nana bisa mada, amadani marang mami.
Mulane nganggo gamparan, saparanku angungkuli sasami, mulane cis tekeningsun, kumecis nora cidra, anerawang jaba jero ngisor duwur, upamane ingsun kalah, mungsuh janma tanpa budi.
Sayektine ingsun wirang, golekana saiki ana ngendi, si Gatoloco wong kumprung, ingsun arsa uninga, mring warnane janma ingkang kurang urus, Ahmad ‘Arif ujarira, duk wau sapungkur-mami.
Tut wingking lampah-kawula, kinten-kinten dalu punika ugi, nyipeng wonten kita Pungkur, Hasan Besari ngucap, lamun mrene sun-jewere kupingipun, mungsuh janma ngrusak syara’, kalah lambene sun-juwing.
Sun-karya pangewan-ewan, duk samana dupi sampun byar enjing, wanci bakda salat subuh, prentah mring santri tiga, golekana Gatoloco den katemu, tekakna mring ngarsaningwang, santri tiga gya lumaris.
Gatoloco Dibutuhake Kyai Guru
Datan winarna ing marga, santri tiga lampahnya sampun prapti, ing pacandon kuta Pungkur, nulya manjing ngepakan, santri tiga pramana samya andulu, ing pacandon wonten janma, endek cilik bokong cantik.
Tinakenan namanira, gya sumaur yen sira takon mami, Gatoloco araningsun, santri tiga tuturnya, katimbalan sireku mring ngarsanipun, Guruning santri Cepekan, Kiyai Hasan Besari.
Kinen sareng lampah-kula, Gatoloco maleleng ngiwi-iwi, gela-gelo manggut-manggut, nanging kendel kewala, cangkemipun macucu boten sumaur, nulya nembang ura-ura, larase mung angger muni.
Gatoloco Ngura-ura Wangsalan
Piyik anak manuk dara, pedet iku jarene anak sapi, cempe cilik anak wedus, gudel anak maesa, kirik cilik iku jare anak asu, belo kepel anak jaran, genjik cilik anak babi.
Sekar pucang jare mayang, sekar mlati jarene sekar mlati, kembang gedang jare jantung, yen kembang klapa manggar, duh lae duh kembang menur kembang menur, kembang pacar kembang pacar, kembang sruni kembang sruni.
Gatoloco Panggil
Santri murid kang dinuta, samya eram sadaya tyasnya geli, kapingkel-pingkel gumuyu, wacana jroning driya, apa baya pancen duwe lara gemblung, dene pijer ura-ura, becik kudu diasori.
Murid tiga angrerepa, sanjang malih sarana ngarih-arih, ingarah mung murih purun, mangga tumunten mangkat, mring Cepekan manggihana Kyai Guru, manawi den arsa-arsa, kedangon kula ngentosi.
Gatoloco klewa-klewa, sarwi ngucap apa sira tan uning, ingsun iki lagya ewuh, lan banget ketagihan, lamun sira pari-paksa ngundang mring sun, ketumu bae sun-selang, prelu kanggo gaden dingin.
Candu rong timbang kewala, nanging jangji sira-tebus pribadi, mengko yen wus mendem ingsun, tumuli mangkat mrana, lamun sira ora lila ketu iku, ingsun wegah lunga-lunga, moh nemoni Kayi Haji.
Santri tiga duk miyarsa, rerembugan lawan rowange sami, lamun ora sigung ketu, sayekti tan lumampah, ora wurung Kyai Guru mengko bendu, upama ingsun-wenehna, luwih becik den turuti.
Santri duta kang satunggal, amangsuli mangkana dennya angling, wus tetela nalar kojur, iku pada kewala, ketu-mami uga anyar oleh tuku, lawase satengah wulan, regane srupiyah putih.
Kang satunggal tumut ngucap, ora beda anyare ketu-mami, lagi nganggo patang taun, mangka utang pitung wang, bayar nicil seteng seteng saben esuk, sun-lowongi durung esah, isih kurang limang ketip.
Najan camah awakingwang, waton oleh aleme guru-mami, santri tiga samya muwus, niki ketu-kawula, tampenana Gus Nganten sampeyan-pundut, gadekna kula sumangga, saknana dipun tampeni.
Wusnya ketu tinampenan, santri duta malah den iwi-iwi, ngisin-isin sarwi muwus, sireku ngentenana, ketu tiga dipun ngantosaken candu, rong timbang cinukit ngingkrang, sineret bantalan dingklik.
Gatoloco Ngura-ura Wangsalan Maneh
Wus tuwuk panyeretira, bedudane nulya dipun sangkelit, Gatoloco gya lumaku, den iring santri tiga, sadangune lumampah urut dalanggung, ngupaya senenging driya, rerepen sinawung gending.
Bismi’llah sun-ura-ura, sun-wangsalan petis apyun (candu) upami, ana ketu dadi candu, candu dadi gelengan, patek tungkak (bubul) gelengane dadi kebul, kebule mrasuk mring badan, sumrambah dadi nyegeri.
Jenang sobrah (ager-ager) ancur kaca (rasa), balung tipis munggeng pucuk dariji (kuku), seger dadi rosa mlaku, nanging ingkang kelangan, paribasan sabet kuda (cemeti) mesti getun, aranira tirta maya (wisuhan), misuh-misuh jroning batin.
Duh bakul sotya kencana (para), sela ingkang kinarya ngasah lading (ungkal), manira bakal katemu Guru santri Cepekan, paksi alit kang dadya sasmiteng tamu (prenjak), petel panjang tanpa sangkal (tatah), neja ngajak bantah ‘ilmi.
Kadal gung wismeng bangawan (bajul), jambu ingkang isi lir mirah edi (dlima), sanajan guru pinunjul, alim jamhur ‘ulama, wadung pari (ani-ani) ingsun uga wani mungsuh, mrica kecut dedompolan (wuni), sagendinge sun-ladeni.
Gatoloco Tumeka Ing Pondok Cepekan
Dumugi pondok Cepekan, kacarita ing pondok para santri, miwah sagung para guru, mulat kang lagya prapta, maksih wonten plataran ngandap wit jeruk, Kyai ‘Abdu’ljabar ngucap, mring Kyai Hasan Besari.
Tiyang makaten punika, najis mekruh tan pantes minggah mriki. Hasan Besari sumaur, najan mekruh najisa, nanging iku tekane saking karepmu, becik kinen munggah langgar, dimene tumuli linggih.
Reged ora dadi ngapa, yen wus lunga tilase disirami, Hasan Besari gya dawuh, uwong ala lungguha, kono bae ing jrambah lor-wetan iku, Gatoloco sigra minggah, marang langgar mapan linggih.
Sendeyan prenah lor-wetan, bedudane maksih dipun sangkelit, nulya nitik karya latu, ngakep rokok tegesan, tegesane sadriji kebule mabul, mratani sajroning langgar, ambetipun sengang sangit.
Para santri tutup grana, wonten ingkang ngalih denira linggih, Hasan Besari amuwus, sira jenengmu sapa, wangsulane Gatoloco araningsun, Hasan Besari tetanya, apa kang sira-sangkelit.
Sumaur iki watangan, watangane cipta pikir kang ening, ana dene pentolipun, iki arane cupak, prelu kanggo mapak kawruh ingkang luput, obate candu lan bakal, ron awar-awar kinardi.
Dadi arang ingkang tawar, yen kacampuh obat kalawan mimis, ora wurung kena bendu, mimis glintiran madat, yen wus awas patitise damar murub, lesane pucuking ilat, sentile napas kang lungid.
Cetute aran dzatu’llah, rasa awor ngumpul dadi sawiji, manjing marang cetutipun, rumasuk jroning badan, sumarambah kukit daging balung sungsum, tyasingsun padang nerawang, ora kewran kabeh pikir.
Bebantahan Falsafah
Hasan Besari ngandika, sira wani mapaki kawruh-mami, nganggo sira wani nglebur, mring syara’ Rasulu’llah, apa sira nampik urip demen lampus, ora wedi manjing nraka, ora melik munggah swargi.
Gatoloco alon ngucap, kaya apa bisane nampik milih, wus pinesti mring Hyang Agung, sakehing kasusahan, iku dadi duweke marang wong lampus, dene sakehing kamulyan, dadi duweke wong urip.
Yen wong urip iku susah, metu saking takdirira pribadi, ingkang gawe susah iku, dene Kang Maha Mulya, sipat murah puniku kagunganipun, nanging kabeh sipat samar, ora keno tinon lair.
Sira ingkang tanpa nalar, endah-endah ingkang sira-rasani, suwarga naraka iku, mangka katon wus ceta, sapa-sapa ingkang mulya uripipun, iku ingkang manjing swarga, sapa mlarat manjing geni.
Ya iku manjing naraka, Kyai Hasan Besari amangsuli, suwarga naraka iku, besuk aneng achirat, Gatoloco sumaur sarwi gumuyu, lamun besuk ora nana, anane namung saiki.
Kyai Guru saurira, nyata nakal rembuge janma iki, maido marang Hyang Agung, lan syara’ Rasulu’llah, pancen wajib pinatenan dimen lampus, lamun maksih awet gesang akarya sepining masjid.
Gatoloco alon ngucap, ora susah sira mateni mami, nganggo gaman tumbak duwung, saiki ingsun pejah, Kyai Hasan Besari asru sumaur, iku lagi tatanira, wong mati cangkeme criwis.
Awake wutuh lir reca, Gatoloco alon dennya nauri, yen patine kewan iku, nganti gograge badan, mati aking ya iku patining kayu, yen ilang patining .........., ingkang kaya awak-mami.
Ora mujud ora ilang, mangka iku ingsun uga wus mati, kang mati iku nepsuku, mulane kabeh salah, ingkang urip budi pikir nalar jujur, pisahe raga lan nyawa, kinarya tundaning lair.
Iku ingkang aran sadat, pisahira kawula lawan Gusti, lunga pisah tegesipun, dadi roh Rasulu’llah, yen wis pisah ragane lan Suksma iku, rasa pangrasa lan cahya, panggonane ana ngendi.
Kyai Guru saurira, bener ingsun luluh awor lan siti, rasa lan pangrasa iku, kalawan cahya gesang, pan kagawa iya marang Suksmanipun, kabeh munggah mring suwarga, Sang ‘Ijrail ingkang ngirid.
Lamun Suksmane wong Islam, kang netepi salat limang prakawis, sarta akeh pujinipun, rina wengi tan owah, anetepi jakat salat pasanipun, pitrah ing dina riyaya, yen katrima ing Hyang Widdhi.
Kaunggahaken suwarga, krana manut parentahe Jeng Nabi, kabeh oleh-olehingsun, kang wus kasebut syara’, yen Suksmane wong kapir ingkang tan manut, dawuhe Jeng Rasulu’llah, pinanjingaken yumani.
Awit mukir mring Panutan, yen wong kapir dadi satruning Widdhi, Gatoloco asru muwus, dene Ingkang Kuwasa, nganggo nyatru marang wong kapir sadarum, lamun sira tan pracaya, maring kudrating Hyang Widdhi.
Maido kuwasaning Hyang, dennya karya warnane umat Nabi, anane kapir punika, sapa kang gawe kopar, lawan maneh ingkang karya uripipun, akarya beja cilaka, tan liya Hyang Maha Suci.
Upama Allah duweya, satru kapir, murtat marang Hyang Widdhi, becik sadurunge wujud, tinitah aneng dunia, dadi ora duwe satru ing Hyang Agung, yen mengkono Allahira, iku ora duwe budi.
Demen karya kasusahan, adu-adu wong Islam lawan kapir, beda kalawan Allahku, mepeki ing aguna, anuruti sakarepe umatipun, ora ana kapir Islam, beda-beda kang agami.
Tegese aran agama, panggonane ngabekti mring Hyang Widdhi, ing sasebut-sebutipun, waton terus kewala, tanpa salin agamane langgeng terus, sapa kang salin agama, nampik agama lami.
Iku kapir aranira, krana nampik papestene Hyang Widdhi, agamamu iku kupur, nampik leluhurira, sasat nampik papestenira Hyang Agung, panyebutmu siya-siya, anebut namaning Widdhi.
Sira iku bisa kanda, lamun kapir Suksmane manjing geni, Suksmane wong Islam iku, kabeh manjing suwarga, apa sira wis tau nglakoni lampus, weruh suwarga naraka, panggonane aneng ngendi.
Hasan Besari angucap, kang kasebut sajroning kitab-mami, Gatoloco sru gumuyu, sira santri keparat, ngandel marang daluwang mangsi bukumu, nurun bukune wong sabrang, dudu tinggalane naluri.
Buku tembung cara ‘Arab, tan ngopeni buku saking naluri, sayektine kabisanmu, mung kitab sembarangan, sira-gawa oleh-oleh lamun lampus, katur marang Gusti Allah, bali ingkang duwe maning.
Bakale apa katrima, krana iku kagungane pribadi, sakehe puji dikirmu, kabeh pangucapira, iku uga kagunganira Hyang Agung, mangka sira-aturena, bali marang kang ndarbeni.
Apa ora nemu dosa, iku kabeh kagungane Hyang Widdhi, kepriye olehmu matur, Kyai Guru saurnya, sira iku maido kitabing Rasul, Gatoloco alon ngucap, tan pisan maido mami.
Sawuse sira tumingal, mring unine buku daluwang mangsi, landaten kanyatahanmu, rasane saking sastra, sarta maneh sira iku mau ngaku, besuk lamun sira pejah, anggawa sanguning brangti.
PUPUH V
Asmaradana
Rehning sira wis ngakoni, benjang lamun sira pejah, rasakna badanmu kuwe, kalawan cahyamu gesang, obah-osiking manah, anggawa lapal Suksmamu, munggah mring suwarga loka.
Sang ‘Ijaril ingkang ngirid, sowan ngarsane Hyang Suksma, yen mangkono sira kuwe, ora ngamungna neng dunya, olehmu dadi :censored:, aneng achirat dadi pandung, anggawa dudu duweknya.
Sira aneng dunya iki, kadunungan barang gelap, ora tuku ora nyileh, sira-anggo saben dina, ing mangka aneng achirat, anggawa dudu duwekmu, dunya achirat dadi :censored:.
Tanpa gawe jungkar-jungkir, nembah salat madep keblat, clumak-clumik kumecape, angapalake alip lam, tegese iku lapal, angawruhana asalmu, urip prapteng kailangan.
Sireku kaliru tampi, ngawruhi asale wayah, subuh luhur myang asare, mahrib lawan bakda ‘isya, sayekti tanpa guna, sipat urip duwe irung, pada weruh marang wayah.
Yen mangkono sira kuwi, mung mangeran marang wayah, tan mangeran Ingkang Gawe, lamun bengi sarta awan, pijer ketungkul wayah, ora mikir mring awakmu, urip prapteng kailangan.
Rasane badanmu kuwi kagungane Rasulu’llah, cahyane uripmu kuwe, kagunganira Pangeran, obah-osiking manah, Muchammad kang nggawa iku, duwekmu amung pangrasa.
Mangka sira-gawa kuwi, ora sira-ulihena, balekna marang Kang Duwe, yen sira maksih anggawa, titipan tri prakara, apa sira ora lampus, Kyai Guru duk miyarsa.
Ketune binanting siti, muring-muring ngucap sora, mring ngendi nggonku ngulihke, ingsun tan rumasa nyelang, titipan tri prakara, Gatoloco gya gumuyu, sira urip tanpa mata.
Upama padanging rawi, asalira saking surya, sirna kalawan srengenge, kalamun padange wulan, asale saking wulan, sirnane kalawan santun, bali maneh asalira.
Hasan Besari nauri, krana ngapa rasanira, lan cahyamu urip kuwe, myang obah-osiking manah, tan sira-ulihena, marang Kang Kagungan iku, Gatoloco asru nyentak.
Ingsun iki ora wani, ngulihake durung masa, yen tan ana pamundute, ingsun wedi bok kinira, anampik sihireng Hyang manawa nemu sesiku, sireku kaliru tampa.
Kang kasebut kitab-mami, saking Nabi Muchammad, Kyai Guru pangucape, salat witri iku iya, salat sakoberira, Gatoloco alon muwus, sireku kaliru tampa.
Yen mangkono sira kuwi, dudu umat Rasulu’llah, dene sira ngestokake, sari’ate nabi lima, endi panembahira, mring nabi Muchammad iku, Kyai Guru saurira.
Sembahingsun salat witri, iya ing samasa-masa, Gatoloco pamuwuse, sira iku santri blasar, mangka Nabi Muchammad tetela Nabi Panutup, tunggule nabi sadaya.
Parentahe ora sisip, wus kapacak aneng kitab, ingkang salah sira dewe, kinen sujud kaping lima, rina wengi mangkana, esuk-esuk wayah subuh, sujud tumrap maring Adam.
Iku dudu Adam Nabi, adam suwung sujudana, kang suwung langgeng anane, marmanira sinujudan, dene luwih kuwasa, ngilangake peteng iku, kagenten padanging surya.
Panase saya ngluwihi, saking kuwasaning Allah, surya iku darma bae, sakehe manusa dunya, samya susah sadaya, krana saking panasipun, Nabi Muchammad parentah.
Marang umatira sami, supaya pada sujuda, marang Kang Murbeng ‘alame, tatkala patang raka’at, kabeh pada nuwuna, mring sudane panas iku, lan sudane dosanira.
Lan pada nuwuna maning, linanggengna kaluhuran, kaya luhure srengenge, pramilane lama-lama, tumurun saya andap, daja asrep panasipun, wong akeh ngarani ‘asar.
Nabi Muchammad ningali, parentah mring umatira, supayane sujud maneh, sarta pada nenuwuna, langgeng ananing Suksma, lan pada nuwuna iku, linanggengna kaluhuran.
Pangeran kang Maha Luwih, angganjar ing asorira, linanggengna kamulyane, dadine bisa kalakyan, tumurun saya andap, mulane ngaranan surup, sira pada sumurupa.
Kuwasanira Hyang Widdhi, bisa gawe peteng padang, gawe unggul lan asore, kang padang tegese gesang, kang peteng iku pejah, Nabi Muchammad andulu, parentah mring umatira.
Den purih sujuda maning, marang Ingkang Murbeng ‘alam, dene luwih kuwasane, bisa gawe peteng padang, lan gawe pejah gesang, bilahi asor lan unggul, lama-lama kang baskara.
Jagade datan kaeksi, petenge saya katara, amratani jagad kabeh, manusane ‘alam dunya, rumasa kasusahan, krana saking petengipun, amarga suruping surya.
Sagunge umat nuruti, nenuwun marang Pangeran, kanti nangis panuwune, mulane ngaranan ‘isya, tegese anangisa, marang Ingkang Murbeng luhur, nenuwun supaya padang.
Kagenten padanging sasi, sakehe manusa suka, uninga wulan cahyane, padang sarta ora panas, cacade mung pisahan, mulane ingaran santun, santun warna saben dina.
Tegese sasi samya sih, Kyai Guru aris mojar, kitab apa patokane, Gatoloco angandika, Baru’lkalbi arannya, mangretine barul: laut, dene kalbi iku manah.
Ati kang kaya jaladri, tanpa wates jero jembar, lan maneh akeh isine, Hasan Besari tetannya, sira ora sembahyang, Gatoloco aris muwus, sembahyang langgeng tan pegat.
Sujud-mami sujud eling, keblatku tengahing jagad, bareng napasku sujude, napasku metu mbun-mbunan, salatku mring Pangeran, metu saking utekingsung, sembahyangku mring Hyang Suksma.
Ingkang metu lesan-mami, sembahyang mring Rasulu’llah, kang metu irungku kiye, ingkang dzat pratandanira, iku taline gesang, kabeh saking napasingsun, sebutku Allahu Allah.
Sira pada ora ngreti, Rasulu’llah sabatira, iku durung linairke, lintang wulan lawan surya, ‘alam dunya wus ana, yekti tuwa suryanipun, iku kang kitab Ambiya.
Kang tinitahake dingin, dening Hyang cahya Muchammad, iku lawan sahabate, nanging wujud eroh samya, neng jroning lintang johar, mangka lintang johar iku, wadahe roh sadaya.
Babonira saking urip, dadi saking Nur Muchammad, lintang rembulan srengenge, ora liya asalira, pan saking Nur Muchammad, mangka lintang johar iku, dadi pusere Muchammad.
Yen sira maido mami, dadi nampikaken sira, mring Kuran sesebutane, Hasan Besari miyarsa, rumaos kaungkulan, mangkana denira muwus, wis Gatoloco minggata.
Gatoloco anauri, sun linggih langgare Allah, kabeneran panggonane, iki aneng tengah jagad, ingsun seneng kapenak, linggih langgar karo udut, ngenteni prentahing Allah.
Hasan Besari Kalah Bantahe
Sakala Hasan Besari, sidakep kendel kewala, puwara alon wuwuse, wus dadi prasetyaningwang, kalamun bantah kalah, kabeh iki darbekingsun, sira wajib mengkonana.
Ingsun rila lair batin, langgar wisma barang-barang, pasrah sah duwekmu kabeh, santri murid ing Cepekan, ingkang seneng ngawula, mara sira anggeguru, wulangen ‘ilmu utama.
Para Kyai mitra-mami, ingsun sumarah kewala, apa kang dadi karsane, manira saiki uga, neja lunga lelana, kabeh keriya, rahayu, Hasan Besari gya mangkat.
Nalangsa rumasa isin, saparan kalunta-lunta, katiwang-tiwang lampahe, ingkang kantun ing Cepekan, Gatoloco sineba, para murid tigang atus, ander samya munggeng ngarsa.
Gatoloco Pepeling Marang Para Sahabat
Gatoloco sukeng galih, angandika mring sahabat, sanak-sanakingsun kabeh, yen sira arsa raharja, poma-poma elinga, aywa tiru lir gurumu, anggepe sawenang-wenang.
Kang mangkono ora becik, ngina-ina mring sasama, umat iku pada bae, pinter bodo becik ala, beja lawan cilaka, wong kuli tani priyantun, lanang wadon ora beda.
Wus pinesti mring Hyang Widdhi, tan kena ingowahana, papestene dewe-dewe, mulane becik narima, aywa katungkul sira, urip iku bakal lampus, aneng dunya ngelingana.
Aja jubriya lan kibir, sumengah nggunggung sarira, open dahwen panastene, karem dora pitenahan, jail silib melikan, angapusi agal alus, anggluweh demen sikara.
Aja pisan ladak edir, watak angkuh nguja hawa, aja wareg mangan sare, nglakonana sawatara, ingkang sabar tawakal, ingkang sumeh aja nepsu, ngajeni marang sasama.
Aja sira gawe serik, aja sira gawe gela, aja gawe wedi kaget, iku aran najis haram, nyandang mangan ingkang sah, iku lakune wong ‘ilmu, tan kena kanti sembrana.
Gatoloco Apitutur Soal Pasemoning ‘Ilmu

PUPUH VI
Kinanti


Kudu ingkang nrimeng pandum, sumarah karsaning Widdhi, manusa darma kewala, saikine sun-takoni, apa mantep trusing driya, ngaku bapa marang mami.
Lamun sira wus tuwajuh, gugunen pitutur iki, nanging sira aja samar, tan kena maido ‘ilmi, yen maido kena cendak, uripe kamulyanneki.
Kabeh sira anakingsun, badenen pasemon iki, lamun bengi ana apa, yen awan ingkang ngebeki, apa ingkang ora nana, satuhune iya endi.
Adoh tanpa wangen iku, cedak tan senggolan iki, yen adoh katon gumawang, yen cedak datan kaeksi, lamun isi ana apa, yen suwung luwih mratani.
Lembut tan kena jinumput, agal tan kena tinapsir, ingkang amba langkung rupak, kang ciyut wiyar nglangkungi, bumbung wungwang isi apa, sapa neng ngarepmu kuwi.
Yen lanang tan nduwe jalu, yen wadon tan duwe belik, iya kene iya kana, iya ngarep iya buri, iya kering iya kanan, iya ngandap iya nginggil.
Baitane ngemot laut, kuda ngrap pandengan nenggih, tapaking kuntul ngalayang, pambarep adine ragil, si welut ngeleng ing parang, kodok ngemuli lengneki.
Wong bisu asru calatu, jago kluruk jro ndogneki, wong picak amilang lintang, wong cebol anggayuh langit, wong lumpuh ngideri jagad, aneng ngendi susuh angin.
Aneng ngendi wohing banyu, myang atine kangkung kuwi, golek geni nggawa diyan, wong ngangsu pikulan warih, kampuh putih tumpal petak, kampuh ireng tumpal langking.
Tumbar isi tompo iku, randu alas angrambati, mring uwit sembukan ika, sagara kang tanpa tepi, rambut ireng dadi petak, ingkang petak saking ngendi.
Irenge mring ngendi iku, kalawan kang diyan mati, urube mring ngendi ika, golekana kang pinanggih, yen tan weruh siya-siya, durung sampurna kang ‘ilmi.
Ingkang sarah munggeng laut, gagak kuntul saba sami, duk mencok si kuntul ika, si gagak ana ing ngendi, gagak iku nulya teka, si kuntul miber mring ngendi.
Prayoga kudu sumurup, kabeh sira anak-mami, pralambang iku rasakna, kang katemu pada jati, sajatining rasa ika, rasa jroning jalanidi.
Sasmitanen ingkang wimbuh, kawruhana ucap iki, kalawan pangrungunira, sarta paningalmu ugi, tan ana ucap dwi ika dadi solah-tingkaneki.
Ora sak tan serik iku, tan tesbehmu dzatu’llahi, kang krasa yen datan mangan, den krasa yen minum nenggih, sembahyanga den karasa. Den krasa dzatu’llah kuwi.
Gatoloco Medarake Soal-jawabing ‘Ilmu
Kang wus sawural Allahu, iku aran salat daim, ana maneh ingaranan, martabate kasdu kuwi, lawan ta’rul ta’yin ika, mangretine kasdu kuwi.
Pikarepe niyat iku, ciptane ingkang dumadi, dene ta’rul tegesira, pamekasing niyat nenggih, dumadine panggraita, mangreteni ingkang ta’yin.
Iku nyata yen satuhu, wasesane niyat kuwi, dumadine ingkang cipta, cetane iku sayekti, ingkang kasdu kuwi iman, ingkang ta’rul iku tohid.
Kang ta’yin makrifat iku, kang iman yen ana kuwi, ing niyat ingkang gumletak, yekti iku ora serik, tansah ningali ing Allah kang tohid nenge myang osik.
Gleteke paningal iku, pamyarsa pangucapneki, nyata angen-angenira, ingkang nggletakaken Widdhi, myarsa ngucapken pestinya, Allah ta’ala ngimbuhi.
Dadi aja sak srik iku, tingalira mring Hyang Widdhi, ana dene kang ma’rifat, iku nenge lawan mosik, anenggih paningalira, pangrungu pangucapneki.
Dadi lan ing dewekipun, tegese iku sayekti, bila: tesbeh lire ika, tan loro kahananneki, apan mung Allah kewala, ingkang mosik meneng kuwi.
Pamiyarsa lan pandulu, nyatane kahanan iki, poma aja sak srik, sasmita sariraneki, kang den ucap ingkang ngucap, tan liya Kang Maha Suci.
Kudu ingkang awas emut, ora nana liya maning, lamun sira tinakonan, apa pangajape Widdhi, mangkene wangsulanira, pangawruhingsun mring Widdhi.
Kawimbuhan ‘ilmunipun, Pangeran kang Maha Suci, ana maneh soalira, apa ingkang den arani, sakecap sarta satindak meneng mung sagokan kuwi.
Nulya saurana gupuh, ujar sakecap puniki, kang ngucap nenggih Hyang Suksma, kang mlaku satindak Widdhi, kang meneng sagokan ika, ingkang wus angel nggoleki.
Hyang Suksma ya dirinipun, sarta lamun den takoni, pira martabating tingal, saurana tri prakawis, tasnip ingkang kaping pisan, insan-kamil kaping kalih.
Kadil-kapri kaping telu, tasnip: idep tegesneki, insan-kamil: kang sampurna. Iku kaya roh idlafi, utawa tasnip semunya, tingal luluh sampurnaning.
Wahyu iku tegesipun, ingkang paningale sidik, iku tetep wahyunira, pramilane samya wajib, den weninga prabedanya, anggenira aningali.
Mring nabi wali mukminu, nabi tetep tingalneki, dene para mundur ika, ing tingale wali mukmin, pira martabating lampah, wangsulana dwi prakawis.
Dingin kaya geni iku, kaping kalih kaya angin, semune kang kaya brama, penet panase pribadi, tegese sira mrih enggal, panrima kasuwen dening.
Ingkang angin tegesipun, penet tan kena pinurih, tegese wus ora pisan, susah angulati malih, pira martabating badan, saurana tri prakawis.
Wondene ingkang rumuhun, kaya tanggal ping pat nenggih, ping dwi kaya tanggal sanga, tanggal ping patbelas ping tri, tegese tanggal kaping pat, tulis lair tulis batin.
Kaya tanggal sanga iku, luluh sirna tegesneki, kahananira Pangeran, tanggal ping patbelas kuwi, dene sasejane sama, kaya Kang nDadekken nenggih.
Wus tumeka wangenipun, tekane kawula kuwi, ora naja yen dadiya, dadi Gusti kang sayekti, nanging yekti dadi uga, pira mastabat pamanggih.
Saurana lima iku, kang dingin kleteking ati, ingkang kaping kalihira, katepeking lampah nenggih, panjriting tangis ping tiga, ketuk nutu ping pat neggih.
Cleret ngantih ping limeku, dene pajriting wong nangis, lawan kleteking wardaya, myang tepeking wong lumaris, tuhune iku pangucap, martanipun achir kadi.
Kaja kapilaku iku, ing tekade kang wus tampi, calereting ngantih ika, lir sipat jamalu’llahi, ketuking nutu upama, wedale pangucapneki.
Nyata ora mamang iku, ora susah angulati, Hyang Agung Kang Maha Mulya, kang ngucap iku Allahi, poma aja pindo karya, puniku ingkang sajati.
Martabate bumi iku, saurana tri prakawis, dzating roh idlafi ika, kaping pindo roh jasmani, kaping telu tanpa prenah, tanpa tuduh tanpa yekti.
Kang aran Muchammad iku, kang hakiki kang majaji, iku nuli saurana, kang aran Muchammad nabi, dene kang hakiki iku, iya dzatu’llah idlafi.
Nabi Muchammad puniku, anenggih ingkang majaji, dzatu’llah jasadi ika, kang hakiki kang majaji, loro-loroning atunggal, nyatane yen sira kuwi.
Ingkang tanpa prenah iku, lawan tanpa tuduh kuwi, ing hakekate dzatu’llah, tan liya pesti sireki, krana sajatine sira, poma aja pindo kardi.
Martabat nugrahan iku, lamun sira den takoni, pira nugrahaning sadat, saurana tri prakawis, iku ingkang ping sapisan, ngeningake imanneki.
Ping dwi ngeningken tyasipun, ana dene kang kaping tri, nglampahake panggaotan, nugrahaning salat nenggih, saurana tri prakara, megat karsa ingkang dingin.
Tinggal cipta kalihipun, amadep ingkang kaping tri, nugrahaning takbir pira, saurana tri prakawis, dingin kawruh dwi kawruhnya, jatining weruh kaping tri.
Pituturku durung rampung, nanging iku bae disik, krana ingsun arsa lunga, ora lawas ingsun bali, mrene maneh mulang sira, dimene imbuh mangreti.
Gatoloco Lunga Andarung Lakune

PUPUH VII
Gambuh

Anak murid sireku, kabeh pada keriya rahayu, lilanana saiki manira pamit, Gatoloco mangkat gupuh, lumampah ijen kemawon.
Mider-mider ngelantur, sejanira angupaya mungsuh, sagung pondok guru santri den lurugi, binantah ing kawruhipun, yen kalah dipun pepoyok.
Ana ingkang gumuyu, kapok kawus santri kang tan urus, wus dilalah karsaning Kang Maha Luwih, Gatoloco tyas kalimput, mengku takabur ing batos.
Pangrasanira iku, sapa menang padon karo aku, padu kawruh ingsun punjul sasami, marmane manggih sesiku, kasiku dening Hyang Manon.
Kang sipat samar iku, Gatoloco tan rumasa luput, yen andulu, ingkang bangsa lair batin, kaelokaning Hyang Agung, karya lakon langkung elok.
Gatoloco andarung, lampahipun terus minggah gunung, Endragiri wastanira ingkang wukir, sadaya santri ing gunung binantah kawruhnya kawon.
Jejanggan para wiku, resi buyut wasi lan manguyu, den lurugi bantah kawruh syara’ ‘ilmi, ingkang kawon den geguyu, Gatoloco asru moyok.
Solah tingkah kumlungkung, ngrengkel nakal remen nyrekal digung, watak edir ‘ilmu syara’ den pabeni, mila saya camahipun, ya ta genti winiraos.
Endang Retna Dewi Lupitwati Ing Depok Cemarajamus
Ing Endragiri gunung, wonten endang gentur tapanipun, apeparab Retna Dewi Lupitwati, sadaya punggawanipun, samya estri maksih anom.
Satunggal wastanipun, apeparab Dewi Mlenukgembuk, nama Dewi Dudulmendut, kang satunggil, merak-ati dasar ayu, cantrik kalih ugi wadon.
Satunggal namanipun, akekasih Dewi Rara Bawuk, kang satunggal Dewi Bleweh kang wewangi, grapyak sumeh kaduk cucut, neng ngarsa gusti tan adoh.
Sang Retna depokipun, yeku depok ing Cemarajamus, pratapane ing guwa Seluman werit, angker sinengker barukut, boten sembarangan wong.
Bangkit uningen ngriku, yen tan antuk lilane Sang Ayu, dene lamun wus kepareng den ideni, kaiden ingkang amengku, sinome guwa katongton.
Gatoloco Manjing Depok Cemarajamus
« Last Edit: February 25, 2010, 10:51:36 am by luky »
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
Re: Mengenal budaya kita INDONESIA
« Reply #2 on: February 25, 2010, 10:54:32 am »
PUPUH VIII
Sinom


Ingkang samnya neng asrama, Retna Dewi Lupitwati, lagya sakeca ngandikan, lawan ceti emban cantrik, kaget dupi umeksi, dumateng wau kang rawuh, sajuga janma priya, lenggah sanding para estri, Mlenukgembuk sigra nabda atetannya.
Lah sira iku wong apa, wani malbeng Endragiri, rupamu ala tur kiwa, pinangkanira ing ngendi, lan sapa kang wewangi, angakuwa mumpung durung, cilaka siya-siya, apa tan kulak pawarti, lamun kene larangan katekan priya.
Gatoloco tansah nyawang, boten pisan amangsuli, mendongong kendel kewala, lir bisu mung clumak-clumik, malah angiwi-iwi, lingak-linguk kukur-kukur, dereng purun cantenan, nudingi mring cantrik estri, dandu-dangu sumaur ngucap mangkono.
Sun iki janma utama, nyata yen lanang sajati, kekasih Barangpanglusan, lan aran Barangkinisik, tetelu jeneng-mami, ananging ingkang misuwur, manca pat manca lina, tanapi manca nagari, Gatoloco puniku aran-manira.
Omahku ing tengah jagad, pinangkane saking wuri, nuruti sejaning karsa, pramilane prapteng ngriki, prelu arsa pinangggih, marang sireku wong ayu, duh mirah pujaningwang, lamun condong sun-rabeni, Mlenukgembuk muring-muring asru sabda.
Gumendung si asu ala, lancang pangucap kumaki, deksura tindak sembrana, adol bagus marang mami, ingsun tan pisan sudi, andeleng marang dapurmu, becik sira minggata, aja katon aneng ngriki, eman-eman panggonan den ambah sira.
Wangsulane gemang lunga, malah sira mirah nuli, nurutana karsaningwang, duh wong ayu sun-rabeni, mangsuli manas ati, wuwuse saya dalurung, si anjing kena sibat, tan kena ginawe becik, mara age tutugna dak-kepruk bata.
Gatoloco Nrerepi Wangsalan
Gatoloco saurira, wideng galeng (yuyu) duh maskwari, wong ayu bok aja duka, kuwuk mangsa kolang-kaling (luwak), ron kang kinarya kikir (rempelas), welasana awakingsun, parikan jenang sela (apu), apuranen sisip-mami, jalak pita (kapodang) sun-cadang dadiya garwa.
Baita kandeg samudra (labuh), lara wirang sun-labuhi, terong alit dedompolan (ranti), bok iya nganti sawarsi, bibis kulineng tasik (undur-undur), sayekti tan neja mundur, isih cuwa atiku pan durung lega.
Lan maneh ngong ngrungu warta, gustimu Sang Lupitwati, misuwur lamun waskita, pinter mring sabarang ‘ilmi, tan ana kang ngungkuli, sarta wus jumeneng wiku, lamun kapata nyata, manira arsa nandingi, bantah kawruh sakarsane ‘ilmu apa.
Ambatang Cangkrimane Dewi Mlenukgembuk
Mlenukgembuk saurira, badenen cangkriman-mami, lan soale gustiningwang, Retna Dewi Lupitwati, soale emban cantrik, yen sira ngreti sadarum, najan rupamu ala, gustiku Sang Lupitwati, apa dene para ceti cantrikira.
Mestine nurut kewala, kabeh gelem anglakoni, Gatoloco alon mojar, apa temen tan nyidrani, upamane ngapusi, apa sira wani tanggung, yen sira ora dora, sun-jawabe ing samangkin, lah ucapna cangkrimane kaya apa.
Mlenukgembuk alon mojar, ana wit agung siji, pang papat godonge rolas, kembange tanpa winilis, wohe amung kekalih, mung sawiji trubusipun, mubeng wolu pangira, puniku ingkang sawiji, ana dene ingkang satunggal.
Ingsun ningali maesa, katahe amung kekalih, nanging telu sirahira, badenen cangkriman kuwi, Gatoloco miyarsi, reka-reka tan sumurup, malenggong palingukan, kecap-kecap ketip-ketip, Mlenukgembuk gumujeng alatah-latah.
Kowe maneh yen bisaa, ambatang cangkriman iki, dapurmu ala tur kiwa, Gatoloco anauri, mengko disik pinikir, supaya bisa katemu, mara pada rungokna, wong kabeh aneng ngriki, sun-badene bener luput saksenana.
Ananging kalamun salah, aja padha ngisin-isin, bismi’llah mbade cangkriman, cangkrimane wong mrak-ati, wit agung mung sawiji, iku jagad tegesipun, pang papat iku keblat, godong rolas iku sasi, trubus siji epang wolu iku warsa,
Kembang tanpa wilang lintang, minangka woh loro kuwi, anane surya rembulan, lan maneh ingkang sawiji, sira niku ningali, kebo loro ndase telu, iku wus dadi lumrah, kebo ‘alam dunya iki, lanang wadon ketel wulu sirahira.
Gatoloco alon ngucap, apa bener apa sisip, mangkono pambatangingwang, mring cangkriman iki. Mlenukgembuk miyarsi wus kabatang soalipun, rumasa yen kasoran, sedot mundur sarwi nglirik, alon ngucap saiki narima kalah.
Ambatang Cangkrimane Dewi Dudulmendut
Dudulmendut sigra mapan, mesem-mesem angesemi, wus ayun-ayunan lenggah, Gatoloco nukya angling, soal apa sireki, sun-badene cangkrimanmu, Dudulmendut angucap, mangkene cangkriman-mami, mara age badenen ingkang pratela.
Ing ngendi prenahe iman, ing ngendi prenahe budi, ing ngendi prenahe kuwat, apa kang luwih pait, lan ingkang luwih manis, luwih atos saking watu, apa kang luwih jembar ngungkuli jembaring bumi, apa ingkang luwih duwur saking wiyat.
Apa ingkang luwih panas, ngungkuli panasing geni, luwih adem saking toya, luwih peteng saking wengi, endi aran ningali, lan endi kang luwih duwur, endi kang luwih andap, apa ingkang luwih gelis, akeh endi wong gesang karo wong pejah.
Wong sugih lawan wong nista, wong jalu lawan wong estri, wong kapir lawan wong estri, wong kapir lawan wong Islam, mara badenen saiki, Gatoloco nauri, prenahe iman puniku aneng jantung nggonira, ing utek prenahe budi, otot balung prenah panggonane kuwat.
Prenahe wirang ing mata, ing dunya kang luwih pait, batine wong malarat, dene ingkang luwih manis, batine wong kang sugih, lamun wong kang luwih lumuh, kang blilu tan weruh sastra, ingkang aran aningali, iku janma ingkang wruh ‘ilmuning Allah.
Ing ngendi kang luwih perak, ing dunya kang luwih gelis, ingkang luwih bungahira, iku marmaning Hyang Widdhi, kang amba luwih bumi, yekti pandeleng puniku, landep luwih kang braja, iku nalare wong lantip, ingkang adem luwih toya ati sabar.
Luwih atos saking sela, atine wong dangkal pikir, atine wong kang brangasan, panase ngungkuli ngungkuli geni, wong jalu lan wong estri, yekti akeh wadonipun, sanajan wujud lanang, tan weruh tegese estri, kena uga sinebut sasat wanita.
Wong urip lan wong palastra, temene akeh kang mati, sanajan wujude gesang, kalamun wong tanpa budi iku prasasat mati, wong sugih lan wong nisteku, mesti akeh kang nista, sanajan sugih mas picis, lamun bodo tanpa budi tanpa nalar.
Kena sinebut wong nista, tan duwe pakarti benjing, kalamun ing rahmatu’llah, wong Islam lawan wong kapir, Islam kapir mung lair, yen tan ana anggitipun, menawa datan wikan, pranatanira agami, tetep kapir yektine janma punika.
Wong iku nyata pinteran, tan kena den mejanani, Dudulmendut mundur sigra, sarwi awacana aris, wus bener ora sisip, saikine ingsun teluk.
Ambatang Cangkrimane Dewi Rara Bawuk
Rara Bawuk gya mapan, mangkana denira angling, ndika-bedek Gus Nganten cangkriman-kula.
Kabeh ingkang sipat gesang, kang ana ing dunya iki, pangucape pirang kecap, mangka leklu iku klimis, Gatoloco miyarsi, reka-reka tan sumurup, malenggong palingukan, gedeg-gedeg angucemil, Rara Bawuk gumujeng alatah-latah.
Sarwi keplok bokongira, angencepi ngisin-ngisin, sira maneh yen bisaa, anjawab cangkriman-mami, dapurmu anjejinggis kaya antu lara ngelu, Gatoloco angucap, mbuh bener mbuh luput iki, sun-badenen diajeng cangkrimanira.
Ucape kang sipat gesang, kang ana ing dunya iki, panamung salikur kecap, nora kurang nora luwih, dene sastra kang muni, pan iya amung salikur, kabeh ucaping jalma, kang ana ing dunya iki, leklu klimis iya iku tegesira.
Telek neng alu lesungan, yen dicekel yekti amis, salawase durung ana, telek ingkang mambu wangi, Rara Bawuk miyarsi, yen kajawab soalipun, rumasa katiwasan, ora wurung dirabeni, sentot mundur sumingkir semu kisinan.
Angucap ingsun wus kalah, saprentahmu sun-lakoni.
Ambatang Cangkrimane Dewi Bleweh
Gantya Dewi Bleweh mapan, lenggah neja bantah ‘ilmi. Sang Dewi Bleweh angling, badenen cangkrimaningsun, isine ‘alam dunya, kabeh ana pirang warni, lawan pira rasane lamun pinangan.
Sun andulu wujudira, adege wolung prakawis, pikukuhe raga tunggal, sipat papat keblat kalih, patbelas ingkang keri, kang loro tutup-tinutup, samya manjer bandera, kekalih pating karingkih, lan badenen, mangretine dadi paran.
Gatoloco duk miyarsa, reka-reka tan mangreti, mung deleg-deleg kewala, Dewi Bleweh ngisin-isin, lenggak-lenggok nudingi malerok sarwi gumuyu, sira masa bisaa, ambatang cangkriman-mami, wong dapurmu saru kiwa ireng mangkak.
Gatoloco saurira, mengko sun-pikire disik, bismi’llah mbade cangkriman, cangkrimane genduk kuwi, isine dunya amung sanga katahipun, ingkang kinarya ngetang, angkane mung sangang iji, ora nana ingkang luwih saking sanga.
Sawuse jangkep sadasa, bali marang siji maning, iku tandane mung sanga, isine dunya iki, kabeh mung sanga kuwi, kahanane rupa iku, yektine nem prakara, wijange sawiji-wiji, ireng biru putih kuning ijo abang.
Liya iku ora nana, rupa ingkang manca warni iku pada ngemu rasa, dene kabeh kang binukti, ing ‘alam dunya iki, rasane mung ana wolu, legi gurih kalawan, pait getir pedes asin, sepet kecut ganepe wolung prakara.
Adu bokong tegesira, genah lamun asu ganjing, pada adu bokongira, ngadeg suku wolung iji, keblatira kekalih, madep ngalor lawan ngidul, sipate iku papat, matanira patang iji, lawangane bolongan ana patbelas.
Cangkem irung miwah karna, silite kalawan preji, gung-gunge kabeh patbelas, kang tutup-tinutup sami, panjine dakar preji, pating krengih endemipun, dene umbul puletan, bandera buntute kalih, ting jalentir lir bandera karo pisah.
Apa bener apa ora mangkono pambatang-mami, mara age wangsulana, Dewi Bleweh duk miyarsi, kajawab soalneki, sakalangkung getun ngungun, nggarjita jroning nala, pinasti kalawan takdir, awakingsun kinanti wong kaya sira.

PUPUH IX
Kinanti

Dewi Bleweh nulya mundur, sarwi awacana manis, ingsun wus rumasa kalah, sakarepmu sun-lakoni, manira manut kewala, ora sumeja nyelaki.
Ambatang Cangkrimane Retna Dewi Lupitwati
Namun kantun kusuma yu, Retna Dewi Lupitwati mapan lenggah arsa bantah, Gatoloco nabda aris, sireku keri priyangga, embane kalawan cantrik.
Kalah bantah pada mundur, sira Dewi Lupitwati, apa nutut apa bangga, sabudimu sun-kembari, Retna Dewi angandika, apa saujarmu kuwi.
Yen sira ngarani teluk, yektine teluk wak-mami, yen sira ngarani bangga, sabenere ingsun wani, mung iki cangkrimaning-wang, katahe telung prakawis.
Badenen ingkang dumunung, tegese wong laki rabi, lan tegese wadon lanang, tegese sajodho kuwi, Gatoloco saurira, ora susah nganggo mikir.
Prakara cangkriman iku, tegese wong laki rabi, ingkang aran wadon lanang, ingsun uga wus mangreti, mung remeh gampang kewala, rungokna pambatang-mami.
Tegese wong lanang iku, ala kang temenan kuwi iya iku ananingwang, rupane ala ngluwihi, wadon iku tegesira genah panggonane wadi.
Wadine wong wadon iku, wujude wujudmu kuwi, sabenere luwih ala, dunung sarta asalneki, acampur kalawan priya, tuduhna akang ala iki.
Mula rabi aranipun, wong lanang amengku estri, rahab ngrahabi sadaya, kang ala lawan kang becik, mula lanang aranira, aja nglendot marang estri.
Mung iku pambatangingsun, apa bener apa sisip, Lupitwati aturira, pukulun pepunden-mami, saestu leres sadaya, marmane amba samangkin.
Nrimah kawon sampun teluk, sumanggeng karsa nglampahi, muhung asrah jiwa raga, tan pisan neja gumingsir, ing dunya prapteng delahan, tetep mantep lair batin.
Gatoloco Mulang Para Garwa
Gatoloco sukeng kalbu, gumujeng sarwi mangsuli, tuturira sun-tarima, lan maneh wiwit saiki, sireku kabeh kewala, tetep dadi garwa-mami.
Mulane sira sadarum, kudu manut gurulaki, sabarang parentahingwang, abot enteng aywa nampik, lamun nampik siya-siya, tan wurung sida bilahi.
Wus lumrah wong lanang iku, wajibe mengkoni rabi, sanajan rupane ala, nanging pantes den ajeni, sinembah mring garwanira, krana aran gurulaki.
Solah tingkah murih patut, satiti angati-ati, tan kena kanti sembrana, yen sira sembrana ora becik, sanajan lunga sadela, kudu pamit marang mami.
Kajaba kang kadi iku, rungokna pitutur-mami, amurih salametira, aywa karem karya serik, den sabar aywa brangasan, ngajenana mring sesami.
Upama sira katemu, marang pamitranmu yayi, kalamun sira micara, kudu ingkang sarwa manis, dimene rena kang myarsa, aywa nganti den ewani.
Yen sira micara saru, utawa demen ngrasani, mring alane liyan janma, sayekti akeh kang sengit, datan seneng malah ewa, sinebut wong kurang budi.
Upamane ana tamu, deng enggal sira nemoni, kang sreseh nuli bagekna, linggihane ingkang resik, sireku kang lembah manah, sokur bisa nyugatani.
Sanajan tan bisa nyuguh, nanging sumeh ulat manis, tembunge grapyak sumanak, rumaket sajak gresepi, supaya tamune suka, seneng ora gelis mulih.
Yen sira semu marengut, kang mradayoh yekti wedi, kinira kalamun ladak, utawa kinira edir, den arani ora lumrah, datan kurmat mring sesami.
Watak andap asor iku, wekasane nemu becik, raharja sugih tepungan, kineringan mring sesami, linulutan pawong mitra, akeh ingkang tresna asih.
Kang garwa samya tumungkul, sadaya matur wot sari, duh pukulun kasinggihan, wulangipun gurulaki, sliring dawuh-paduka, sayekti kawula-pundi.
Tetenger Sajatining Wadon Lan Sajatining Lanang
Gatoloco alon muwus, rehning sira wus ngantepi, dharma saking karsaningwang, kepengin arsa udani, pratandane kang sanyata, apa bener sira estri.
Samengko mrih genahipun, manira arsa nontoni, mring prenah tetengerira, wujude ingkang sajati, sireku pada lukara, supaya ceta kaeksi.
Para garwa alon matur, duh pukulun kadi pundi, dene paring dawuh lukar, kawula lumuh nglampahi krana saking boten limrah, nalar saru tan prayogi.
Gatoloco asru bendu, tuturmu pada ngantepi, mantep lair batinira, mituhu mring gurulaki, kaya paran ing samangkya, tan miturut prentah-mami.
Lamun rewel datan manut, sireku bakal bilahi, sidane nemu cilaka, katiban gitik panjalin, wong siji kaping limalas, lan maneh sun-sepatani.
Ananging yen pada manut nurut marang karep-mami, sawuse lukar busana, nuli marang tilam sari, awakingsun pijetana, supaya kesele mari.
Para garwa samya manut, tyas ajrih  den supatani, sadaya lukar busana, Gatoloco duk umeksi, gumujeng alatah-latah, sarwi ngingkrang munggeng kursi.
Mangkana denira muwus, saiki katon sajati, wus ceta nyata wanita, tengere wadon kaeksi, warna-warna datan pada, ana gede ana cilik.
Rehning ceta wus kadulu, wujudnya sawiji-wiji, akarya renaning driya, ing samengko sun-lilani, kabeh pada tutupana, ngagema busana maning.
Yen sireku arsa weruh, marang sajatining laki, duwekingsun tingalana, becike apa saiki, utawa mengko kewala, sakarepmu sun-turuti.
Lamun sira ngajak ngadu, duwekmu lan duwek-mami, manira manut sakarsa, gelem bae ingsun wani, sira ngajak kaping pira, manira saguh ngladeni.
Retna Dewi alon matur, pukulun pepunden-mami, prakawis nalar punika, amba tan kapengin uning, dumateng wujuding priya, nuwun gunging pangaksami.
Kang awit pamanggih-ulun, kirang prelu angingali, kawula datang mentala, lan malih boten prayogi, pramilane boten susah, paduka paring udani.
Gatoloco alon muwus, duh wong ayu merak ati, sumeh semune prasaja, susileng solah respati, wangsalan iki rungokna, wulang mring sira wong manis.
Wangsalan Wulang Wanodya

PUPUH X
Dandanggula


Jayeng sastra empaning lelungid (carik), sirik ageng jenenging wanuja, luput barang reh wurine, wruh ing wekasanipun, teja panjang kang ngemu warih (kluwung), sinjang ageming priya (bebed), kang kedah sinawung, pawestri katah rubednya, taji sawung (jalu) ganda pangusaping lati (lenga krawang), kalupute kawangwang.
Putran-denta (pratima) ron aglar ing siti (uwuh), pelem agung kang galak gandanya (kuweni), ewuh-aya pratikele, wanita tindak dudu, kuda mijil ing Tamansari (Kalisahak), piring siti (cowek) upama, dadyan dewekipun, angrusak badan priyanggan sari tala (malam) dadaking ron (talutuh) sun-wastani, nalutuh ‘alam dunya.
Kisma rempu (lebu) atmaja Jumiril (Umarmaya), marma estri tan kalebu weca, Nata Prabu ing Tasmiten (Geniyara), kaca kang tanpa ancur (ram), gawe eram ingkang ningali, pantes yen piniyara, talatahing laut (muwara), ing tekad angayawara, jamang wastra (tepi) ojating wong awewarti (kaloka), netepi ing saloka.
Gingsiring wulan purnama siddhi (grahana), bebayi sah kang saking tuntunan (puput), graitanen sauntase, ingkang tumibeng luput, tambang palwa (welah) ingsun-wastani, parikan jenu tawa (tungkul), pan aja katungkul, ing solah kang tanpa karya, menyan kuning (welirang) kang toya saking jasmani (kringet), engeta kawirangan.
Ing Ngajerak Papatih Nata Jin (Sannasal), pulas langking kang kinarya sastra (mangsi), keksi-eksi wekasane, tanpa asil ing laku, sembahyange janma minta sih (salat hajat), katrapaning manusa (denda), dendaning Hyang Agung, tanpa kajating panyipta, yasa ranu (bale kambang) Narendra Bojanagari (Suryawisesa), kumambang ing wisesa.
Janma wirya (mukti) salendro jroning pring (suling), dipun eling-eling wong ngagesang, aja manggung mukti bae, duh babo jamang wakul (wengku), sekar pandan mawur kasilir (pudak), najan tedaking Nata, sajagad winengku, barat gung mrataweng wreksa (prahara), jarot pisang (serat) ana mlarat ana sugih, wus kaprah ‘alam dunya.
Putri Mandura (Sumbadra) kang nyamang kudi (karah), najan trahing janma sudra papa, lamun becik pamarahe, aji Nata Salyeku (candrabirawa), puter alit ginantang nginggil (prekutut), patut sira-anggowa, condongna ing kalbu, Wiku Raja ing Kusniya (Bawadiman), Sarkap putra (Samardikaran) den gemi simpen wewadi, ywa kongsi kasamaran.
Tawon agung kang atala siti (tutur), wikan nugraha wulang achirat (swarga), yen siranggo tutur kiye, nyuwargakken bapa biyung, nyarambahi mring kaki nini, salawase raharja, mitra karuh lulut, yen kena godaning .........., sapu gamping (usar) garwa Hyang Guru Pramesti (Batari Durga), durgama karya sasar.
Wideng galeng (yuyu) Kumbayana siwi (Aswatama), tegese estri ayu utama, pratanda serat pangrembe (penget), cipta tyas tan kawetu (graita), kang wus lepas graita lantip, nget-enget ing kawignyan, pangumbaring puyuh (jajah), anjajah saruning badan, jala panjang (krakad) suluke wayang kalitik (sendon), yen kaledon ing tekad.
Kentang rambat (katela) gancaring wong ngringgit (lakon), tetelada estri kang utama, kang prayoga lelakone, singa lit munggeng kasur (kucing), kenya putri Kartanegari (Susilawati), yen tan susileng priya, pan kuciweng semu, dekunging sabda tanaga (taklim), gugur parlu (batal) nora batal ing wewadi, wong taklim sapadanya.
Gatoloco Pamit Lunga Marang Cepekan
Retna Dewi matur awot sari, saking dawuh piwulang-paduka, muhung nuwun pangestune, mugi-mugi jinurung, badan-kula bangkit nglampahi, Gatoloco ngandika, duh sira wong ayu, ayune ayu temenan, aywa kaget ingsun lilanana pamit, saiki ingsun lunga.
Krana prelu kangen arsa tilik, anak murid ing pondok Cepekan, besuk bali mrene maneh. sira keri rahayu, Gatoloco mangkat pribadi, ing marga tan winarna, kacarita sampun, dumugi pondok Cepekan, para murid dupi miyat ingkang prapti, sukeng tyas kanti kurmat.
Gatoloco Jumeneng Gurunadi
Gatoloco praptanipun, ing Cepekan pondok santri, langkung sukaning wardaya, aningali para murid, samya sanget kurmatira, dumateng Sang Gurunadi.
Nulya minggah ing langgar gupuh, sesalaman genti-genti, riwusnya samya salaman, para murid nilakrami, wilujeng rawuh-paduka, Gatoloco anauri.
Iya saking pandongamu, ingsun ginanjar basuki, sasuwene ingsun-tilar, sira kabeh anak murid, apa pada kawarasan, santri murid awot sari.
Pangestu brekah-pukulun, palimarmaning Hyang Widdhi, sadaya kawilujengan, maksih langgeng kados lami, Gatoloco angandika, kapriye wulangku nguni.
Apa sira isih emut, sokur lamun ora lali, aturnya maksih kemutan, kawula sanget kapengin, nuwun mugi kasambungan, lajengipun kados pundi.
Gatoloco alon muwus, panjalukmu sun-turuti, sireku aywa sumelang, uga bakal sun-sambungi, lah mara pada rungokna, manira tutur saiki.
Medarake Banjure Soal-jawabing ‘Ilmu
Nugrahaning budi iku, saurana tri prakawis, cipta ning kang kaping pisan, panggraita kaping kalih, sang panyipta kaping tiga, kanugrahaning roh kuwi.
Saurana iku telu, ana dene ingkang dingin, urip tan kalawan nyawa, ingkang kaping kalih kuwi, ora angen-angen liyan, Allah kewala kaping tri.
Tan ana woworanipun, ingkang wahdati’lmujudi, nugrahan sakarat pira, saurana tri prakawis, kang dingin adepanira, idep ingkang kaping kalih.
Madep ingkang kaping telu, lamun sira den takoni, nugrahaning iman pira, saurana tri prakawis, sokur ingkang kaping pisan, tawakal ingkang ping kalih.
Sabar ingkang kaping telu, pira nugrahaning tohid, saurana dwi prakara, krana tetep ingkang dingin, wedi kaping kalihira, nugrahan ma’rifat jati.
Sira sumaura gupuh, iku namun saprakawis, ana ing kahananira, anenggih karsa: rasaning, rasa wisesa prayoga, martabate kramat kuwi.
Mangretine ana telu, karem af’al para mukmin, para wali karem sifat, akarem dzat para nabi, lire karem ing dzatu’llah, ya sok ana asihaning.
Ingkang karem sifat iku, uga ana gumleteking, lire karem af’alu’llah, mila ana obah osik, yen sebit paningalira, ening kabuka sayekti.
Ing sifat jamal puniku, jamal kamal kahar nenggih, dumadine imanira, sakbul gumleteking ati, dadine oleh sampurna, sampurnaning gesang nenggih.
Martabate nyawa iku, lamun sira den takoni, katahe namung satunggal, iya iku roh idlafi, mung sawiji marganira, tegese urip puniki.
Ora nana urip telu, ingkang mesti mung sawiji, lamun sira tinakonan, endi Allah ing saiki, iku nuli saurana, sapa ingkang ngucap kuwi.
Aja ta sireku umyung, yen sira dudu Hyang Widdhi, yektine ingkang den ucap, kang ngucap tan liyan Widdhi, nanging kudu kawruhanana, ing panarima sayekti.
Ana ingkang nrima iku, kaja toya lawan siti, lawan ingkang kaya udan, apa dene kaya wesi, kalawan kaya samudra ingkang kaya lemah warih.
Den rumesep tegesipun, ora pegat kang rohani, tegese kang kaja udan, datan pegat tingalneki, ana maneh kaja tosan, sakarsanira mrentahi.
Ginaweya arit wedung, petel wadung kudi urik, ora owah sifatira, isih bae wujudneki, ingkang upama samudra, pituduh ingkang prayogi.
Puniku mestine antuk, ing ujar sakecap tuwin, ing laku satindak lawan, ameneng sagokan nenggih, lamun wis kaja samudra, ora owah tingalneki.
Sira andulu dinulu, ora nana tingal kalih, ora nana ucap tiga, dadi sampurna salating, weruh paraning sembahyang, weruh paraning ngabekti.
Nyata bener ora kusut, lan weruh paraning osik, weruh paraning nengira, weruh paraning miyarsi, weruh paraning pangucap, weruh paran ngadeg linggih.
Lan weruh paraning turu, weruh paranira tangi, weruh paraning memangan, weruh paran nginum warih, weruh paran ambebuwang, weruh paran sene nenggih.
Weruh parang seneng nepsu, weruh paraning prihatin, weruh paran ngidul ngetan, mangalor mangulon kuwi, weruh paraning mangandap, weruh paraning manginggil.
Weruh paran tengah iku, weruh paranira pinggir, weruh paraning palastra, weruh paranira urip, weruh kabeh kang gumelar, kang gumreget kang kumelip.
Tan samar weruh sadarum, anane samita iki, sira kabeh poma-poma, anakingsun para murid, sireku aywa sembrana, weruha rasaning tulis.
Dene sira yen wis weruh, kekerana ingkang werit, aywa umyung pagerana, aywa sembarangan kuwi, nganggo duga kira-kira, aywa dumeh bisa angling.
Lan maneh aywa kawetu, mring wong ahli syara’ nenggih, yen maido temah kopar, karana rerasan iki, ora amicara syara’, amung sajatining ‘ilmi.
Ingkang renteng ingkang racut, tan ana kaetang malih, caritane soal ika, pada anggiten ing batin, dadi wijange sadaya, sira ingkang ahli budi.
*****
Ingkang kepengin ngersakaken Serat Gatoloco, sumangga  dipun copy lan mugi-mugi sageta manfaat kagem bebrayan sedaya.
Nuwun.
—————————————————————————————————
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
KAENDAHANING BAWANA
« Reply #3 on: February 25, 2010, 11:00:44 am »
DHANDHANGGULA
   1.
      Gara-gara : goro reh kagiri, ruharaning bumikneng hangkara, Hyang Yama-brata, puwara warsa surud, datan mantra tumruning siti, bumi sasat kinuras, pameresing trutuh, papanas sumuk manglanas, saisining bumi kandhah kasmala gring, taru lata mangarang.
   2.
      Sato-sato kukilaning wanrdi, pinanljer dening bentering surya, maketer yayah tanpa reh, masrang saparan tinut, ing papanas tanpa ntuk matis, wimbuh sinarang boga, gung haksana surud, larupala kasangsaya, tela-tela telenge ngluweng ngajrihi, yeku wahyeng sasmita.
   3.
      Yayah catuning hardayaning gring, rencem tumameng sulaning prana, kapranan temah tanpa reh, isthaning mangeng wuyung, kawiyungyun ciptaning wingit, tinus yayah katuntas, pangetusing gandrung, ing reh kendran hasmararda, harda tikbra padresing manggung gong kingkin, nir dayaning waluya.
   4.
      Lebu mangampak mbubul kasilir, tiniyub dening maruta manda, lumeng ing tawang wus dene, meses lesus pamusus, taru mabra winaweng langit, lir lekasing sungkawa, ning dyah mangrontog glung, labet kalungsen hasmara, puspitaning weni paraning geng runtik, menur malathi wigar.
   5.
      Kawur sumawur mawra kasawasih, hangsanane agung sinagsaya, elik tanpa ndon rum-rume, taru-taru tumuyung, wiyang dening lebu manindhih, roning pisang lumayang, dresing driya nempuh manguwir rujit katiwar, aken sampur alneru serenging runtik, dadya paraning duka.
   6.
      Wimbuh ing taman kataman wingit, rengating sari yayah karuna, sinerang Hyang Harunane, ambasmi angkup-angkup, kukudhupe bela kaswasih, rondhon sru kararantan, malum layu-layu, yayah sasmiteng pralaya, lalu njengtung tuntunging wreksa prihatin, kendraning taru mabra.
   7.
      Hergula bang cahyanya ngalentrih, tanpa jwala kaniran suganda, awelu pasang pasmone, kucem manisnya surud, roning bakung tan ketang amrih, resmi langening keswa, pangosweng buratrum, wilising taru sinamar, panaputing lebu weh sureming eksi, laring manyura bela.
   8.
      Amantoni tyasing magong wingit, wilising lar temah tan tumular, ing keswa tambuh papaes, soka hangsana tanjung, kasok lesah kusut kaswasih, ngenani geng duhkita, mayanira surud, kaharat sruning katresan, tinres dening trenyuhing wardaya rujit, nglentrih lir tanpa jiwa.
   9.
      Tikbra mangarang kabotan agring, dlana lara lir pegating tresna, runtuhing kudhup saweneh, yayah pedhoting tuntung, malathine mawreng pratiwi, lir drawajeng sungkawa, tengis layu-layu, tidhem sahaweng kukila, tanpa merdhu katiran erek kaswasih, nir pangarum srinata.

S I N O M
   1.
      nDungkap praptaning ubaya, tanggaping mangsa gumanti, Hyang Jagad masung sasmita, mintonken pratandhaning sih, masih kasmaleng bumi, kang keneng dhendhaning waktu, gumanti Kwera-brata, masung kamartaning bumi, mendhung-mendhung ngendhanu ing dirgantara.
   2.
      Sinuksmeng tidharsa maya, gumebyar thathit sisiring, masrang sumungsun liweran, winantu guntur nggeteri, tidhem ing ngawiyati, Hyang Warsa sreseg tumurun, riwis mangrawis raras, sesep-sinesep ing bumi, temah tuntum rengating bantala rengka.
   3.
      Kadresan warsa tumumpa, satataning maosadi, pangusadaning bantala, kasmala lalu pinulih, lir gring meh prapteng wanci, petiting yatma rinacut, puwara lebda jiwa, mangkana isthaning bumi, wrekseng wana mintonken nir duka cipta.
   4.
      Sumungsun semi ngrembaka, srining pradapa sung resmi, manardi lir sinumbaga, sumbageng tingkah geng kingkin, kakenan geng prihatin, kuru aking semu surud, murud jwaliteng netya, temah luwaring punagi, nir kasmala mala gung pinaripurna.
   5.
      Satata salin husika, sinuk semining mamanis, wenesing netya wiletan, wimbuh sumbaga pinardi, taru-tarunira ari,  asri sawang pamurweng glung, roning pakis sasmita, apan sasangkon sinuji, kancana bra pinatik ing candrakanta.
   6.
      Wimbuh srining uparengga, regganing wisma kadeling, dumeling cahya muewendah, sirnaning lebu ingusir, kengser wimbaning riris, raras pupuling kukuwung, amsung lam-laming tingal, pan katemben ing pangeksi, mulyeng laman kataman we martasada.
   7.
      Sakala ambabar warna, panjarahing kang sarwa sari, saruni kalak kananga, hangsana noja bang kuning, abra babaring gambir, menur malathi sumawur, edangane ngayangan, basanta teleng taluki, tarate bang gumawang aruming slaga.
   8.
      Rum-ruming gandakusuma, sumyar ing angin sumilir, marbuk tumameng ngakasa, saparan kebekan amrik, masung hasmareng gati, panggrejitaning lulut-kung, ron pucang kamarutan, ingaken wudharing weni, kombang-kombang umung mangrabaseng puspa.
   9.
      pangisepe reresepan, pantatan pamudyaning sih, ruruhing capaka mulya, tinut ing gambir malathi, yayah rengganing weni, rontog pareng wudharing glung, srenging priya srenggara, raragam ngunus mamanis, roning tiris mirut kerit ing maruta.
  10.
      Kengising ponang nyudenta, katali sulaning eksi, satata sampur kawedhar, puthon mas katon dumeling, masung kesar sawitning, wangwang rinancaneng wangun, wangunaning pranaja, maharja hasmareng branti, kawatgata titis tumetesing cipta.
  11.
      Angkup-angkupe kuwangwang, mengkap lir kincanging alis, kudhupe kumedhap-kedhap, ing netya amiwal kapti, namun pancering liring, saruni sekar sisirun, pepes pange lumayang, kandhah panuksmaning warih, lir sasmitaning dyah tan sambadeng karsa.
  12.
      Sri raras ruming udyana, kumonang sru milangoni, ngenati sucipta branta, branta rarasing geng wingit, duk kaprananing gati, panggupitaning wedyeng nung, kongas ungasing netya, sunigya stya maworsih, sru tinula tulyeng tyas tan paja muga.
  13.
      Laraping baskara-sata, duk arsa silem ing tasik, manglong srengganing acala, sru mangu-mangangen dening, langening bawana sri, yayah datan wasa surud, kascaryan sireng pamyat, myat langening sarwa sari, panjetunging surya lir lekasing lekasing priya.
  14.
      Angles tumilar papreman, ing dyah kang kapati guling, kasok pinudyeng srenggara, labeting driya kaliling, roning aren mangrawit, ingaken lir wudharing glung, wohing aren upama, roroncen gambir malathi, galugune ingaken wentis kawedhar.
  15.
      Swasana sinuksmeng praba, soroting pradanggapati, lalayung mabang sumirat, sirate tumameng bumi, ngenani sarwa sari, taru-taruna sumunu, taman-taman murwendah, wus dene wangunan sami, wimbuh praba prabawaning puspatenja.
  16.
      Sagung wangunan kumonang, mintonken srining pangeksi, bumi wimbuh binusanan, rumenyep-renyep mangrawit, maharjeng cipta witning, lumilir pudyasmareng rum, kukileng wreksa lumrang, rumebut pang swaranya sri, manyunare mangungong lir pudyastawa.
  17.
      Kitiran mangimbal raras, araras ruming kekawin, pangidunging priyembada, mardu-mardaweng palupi, tidharsa ngelik-elik, mintonken raras-kung lulut, surud soroting surya, lir mutung silem ing tasik, kari mangu Hyang Bumi kaniran praba.
  18.
      Gumanti Sang Hyang Candrama, mungup bang wetan mangrawit, kendraning Hyang Dewanggana, panuju purnamasidi, sumirat narambahai, wenesing cahya mangedus, ari langening bawana, masung lam-laming oangeksi, lintang mabra ing tawang kesisan ima.
  19.
      Nglangut langite kumelap, mangalap langening eksi, suruding cipta hangkara, pinaribaweng wiyati, harda-kahardan kendhih, katindhih ing suci marum, rum-ruming tyas rumaras, rarasing cipta ngugemi, nir sumala malaning budi suh sirna.
  20.
      Satataning widayaka, nayakaning sujanadi, dining tyas wening ngumala, martani sotyeng mamanis, yayah candhanasari, sarira kebekan  mardu, mardu-mardaweng ulah, mangulahing mangastuti, pun pangripta tangeh lamun makatena.
  21.
      Yekti tan paja tumimbang, widnya mindha ngirib-irip, satataning Muniwara, mandar kawangsul sawitning, ina sru dameng budi, pangrurahing wisaya gung, manggung keneng durmala, liniput dursila juti, sru karoban karmaning hangkara murka.
  22.
      Mungkur rehing tri susila, silaning sujana sebit, dahat sruning mudha dama, kotamaning tyas tan kesthi, rinantas rontang-ranting, kawiseseng pangulah dur, kari dhustha candhala, marma dahat sru minta sih, maring sanggyaning sudyapta amariksa.
  23.
      Ing sastra tanpa mardawa, tangeh lamun anglabeti, masung ing reh parikrama, kramaning sarjana niti, puwara kang kekawin, sinegeg pamarneng kidung, ri Soma manis enjang, punggung mudha Soemodidjojo Ngajogja.

Kapetik saking Serat Nawalapatra.
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
DARMAGANDHUL
« Reply #4 on: February 25, 2010, 11:07:56 am »
Darmagandhul
Carita adege nagara Islam ing Demak bedhahe nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama Islam.
* * *

Gancaran basa Jawa ngoko;
Babon asli tinggalane KRT Tandhanagara, Surakarta;
Cap-capan ingkang kaping sekawan, 1959;
Toko Buku “Sadu-Budi” Sala.
* * *

BEBUKA
Sinarkara sarjunireng galih, myat carita dipangiketira, kiyai Kalamwadine, ing nguni anggeguru, puruhita mring Raden Budi, mangesthi amiluta, duta rehing guru, sru sêtya nglampahi dhawah, panggusthine tan mamang ing lair batin, pinindha lir Jawata.

Satuduhe Raden Budi ening, pan ingembun pinusthi ing cipta, sumungkem lair batine, tan etung lebur luluh, pangesthine ing awal akhir, tinarimeng Bathara, sasedyanya kabul, agung nugraheng Hyang Suksma, sinung ilham ing alam sahir myang kabir, dumadya auliya.

Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi, pan biyasa mituhu susetya, mring dhawuh weling gurune, kedah medharken kawruh, karya suka pireneng jalmi, mring sagung ahli sastra, tuladhaning kawruh, kyai Kalamwadi ngarang, sinung aran srat Darmagandhul jinilid, sinung tembang macapat.

Pan katemben amaos kinteki, tembang raras rum seya prasaja, trewaca wijang raose, mring tyas gung kumacelu, yun darbeya miwah nimpeni, pinirit tinuladha, lelepiyanipun, sawusnya winaos tamat, linaksanan tinedhak tinurun sungging, kinarya nglipur manah.

Pan sinambi-sambi jagi panti, saselanira ngupaya tedha, kinarya cagak lenggahe, nggennya dama cinubluk, mung kinarya ngarem-aremi, tarimanireng badan, anganggur ngethekur, ngebun-bun pasihaning Hyang, suprandene tan kaliren wayah siwi, sagotra minulyarja.

Wus pinupus sumendhe ing takdir, pan sumarah kumambang karseng Hyang, ing lokhilmakful tulise, panitranira nuju, ping trilikur ri Tumpak manis, Ruwah Je warsanira, Sancaya kang windu, masa Nem ringkêlnya Aryang, wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata [taun Jawa 1830].

DARMAGANDHUL

Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?”
Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrêti, nanging aku tau dikandhani guruku, ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya, nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul”.

Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?”

Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satêmêne iya prêlu dikandhakake, supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti”.

Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka, dene ênggone jênêng Majapahit iku, mung kanggo pasêmon, nanging kang durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku jênêng sakawit. (1)
Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu Brawijaya.
Ing wêktu iku, Sang Prabu lagi kalimput panggalihe, Sang Prabu krama oleh Putri Cêmpa, (2) ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam, sajrone lagi sih-sinihan, Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata, bab luruhe agama Islam, sabên marak, ora ana maneh kang diaturake, kajaba mung mulyakake agama Islam, nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau.

Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat tinjo mênyang Majalêngka, sarta nyuwun idi marang Sang Nata, kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul. Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing (3) anggêlarake agama Rasul. Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha têka, para ngulama lan para maulana iku padhamarêk sang Prabu ing Majalêngka, sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing pasisir. Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. Suwe-suwe pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda, wong Jawa banjur akeh bangêt kang padha agama Islam.
Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh, dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban. Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah, mula bisa dadi gurune wong Islam. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha, banjur ngrasuk agama Rasul. Ing Balambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên, wonge uga padha kelu rêmbuge Sayid Kramat.
Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti sewu taun, dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa. Budi iku Dzate Hyang Widdhi, Hawa iku karêping hati, manusa ora bisa apa-apa, bisane mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake.
Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina, miyose putra mau ana ing Palembang, diparingi têtêngêr Raden Patah.
Barêng Raden Patah wis diwasa, sowan ingkang rama, nganti sadhereke seje rama tunggal ibu, arane Raden Kusen. Satêkane Majalêngka Sang Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutan marang putrane, awit yen miturut lêluri saka ingkang rama, Jawa Buddha agamane, yen nglêluri lêluhur kuna, putraning Nata kang pambabare ana ing gunung, sêsêbutane Bambang. Yen miturut ibu, sêsêbutane: Kaotiang, dene yen wong ‘Arab sêsêbutane Sayid utawa Sarib. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka, padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang putra mau. Saka ature Patih, yen miturut lêluhur kuna putrane Sang Prabu mau disêbut Bambang, nanging sarehne ibune bangsa Cina, prayoga disêbut Babah, têgêse pambabare ana nagara liya. Ature Patih kang mangkono mau, para nayaka uga padha mupakat, mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya, yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah. Katêlah nganti tumêka saprene, yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane Babah. Ing nalika samana, Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama, mulane katone iya sênêng, sênênge mau amung kanggo samudana bae, mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan Babah iku.
Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak, madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon, sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing, kabênêr wayahe kiyai Agêng Ngampel. Barêng wis sawatara masa, banjur boyong marang Dêmak, ana ing desa Bintara, sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam, anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane, dene Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5), pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha.
Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda, para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan, Sunan iku têgêse budi, uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala, yen wohe budi ngrêti marang kaelingan bêcik, iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin.
Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik, durung padha duwe karêp kang cidra, isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare. sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih, para ngulama sarake Buddha, kok nganggo sêsêbutan Sunan, lakune isih padha cêgah mangan, cêgah turu. Yen sarak rasul, sirik cêgah mangan turu, mung nuruti rasaning lesan lan awak. Yen cêgah mangan rusak, Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar. Ing wêktu iku ana nalar kang aneh, ora kêna dikawruhi sarana netra karna sarta lesan, wêtune saka engêtan, jroning utêk iku yen diwarahi budi nyambut gawe, kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora, iya kudu ditimbang ing sabênêre, saiki isih ana wujuding patilasane, isih kêna dinyatakake, mula saka pangiraku iya nyata.
Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri, kang ndherekake mung sakabat loro. Satêkane lor Kadhiri, iya iku ing tanah Kêrtasana, kêpalangan banyu, kali Brantas pinuju banjir. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang, satêkane wetan kali banjur niti-niti agamane wong kono apa wis Islam, apa isih agama Budi. Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang, sarak Buddha mung sawatara, dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik, wong ing kono akeh padha agama Kalang, mulyakake Bandung Bandawasa. Bandung dianggêp Nabine, yen pinuji dina Riyadi, wong-wong padha bêbarêngan mangan enak, padha sênêng-sênêng ana ing omah. Sunan Benang ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah, Gêdhah iku ora irêng ora putih, tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah”.
Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjênêngan, kula ingkang nêkseni”. Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah, nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah, nanging kang mangkono mau arang kang padha ngrêti mula-bukane.
Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon mênyang padesan, kali iki isih banjir, banyune isih buthêk, yen diombe nglarani wêtêng, lan maneh iki wancine luhur, aku arêp wudhu, arêp salat”.
Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu, têkan ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang, kang ana mung bocah prawan siji, wajah lagi arêp mêpêg birahi, ing wêktu iku lagi nênun. Sakabat têka sarta alon calathune: “mBok Nganten, kula nêdha toya imbon bêning rêsik”. mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang, barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri, MBok Prawan salah cipta, pangrasane wong lanang arêp njêjawat, mêjanani marang dheweke, mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: “nDika mêntas liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon, ngriki botên entên carane wong ngimbu banyu, kajaba uyuh kula niki imbon bêning, yen sampeyan ajêng ngombe”.
Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundêlan turut dalan, satêkane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu. Sunan Benang mirêng ature sakabate, bangêt dukane, nganti kawêtu pangandikane nyupatani, ing panggonan kono disabdakake larang banyu, prawane aja laki yen durung tuwa, sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka tuwa, barêng kêna dayaning pangandika mau, ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik, iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan patêgalan, akeh desa kang padha rusak, awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline, kali kang maune iline gêdhe sanalika dadi asat. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang banyu, jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. Sunan Benang têrus tindak mênyang Kadhiri.
Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing, iya iku dhêmit ing sumur Tanjungtani, tansah digubêl anak putune, padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang, gawene nyikara marang para lêlêmbut, ngêndêl-êndêlake kaprawirane, kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika, iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine, mula akeh desa, alas, sawah sarta patêgalan, kang padha rusak, iya iku saka panggawene Sunan Benang, kang uga ngêsotake wong ing kono, lanang wadon ngantiya kasep ênggone omah-omah, sarta kono disotake larang banyu sarta diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah, Sunan Benang dhêmêne salah gawe. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang, bisaa tumêka ing pati, dadi ora tansah ganggu gawe. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune mangkono mau, enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang, nanging dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang, amarga rasane awake padha panas bangêt kaya diobong. Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri, satêkane ing Kadhiri, matur marang ratune, ngaturake kahanane kabeh. ratune manggon ing Selabale. (6) Jênênge Buta Locaya, dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya, maune jênênge kiyai Daha, duwe adhi jênênge kiyai Daka. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri, barêng Sri Jayabaya rawuh, jênênge kiyai Daha dipundhut kanggo jênênge nagara, dheweke diparingi Buta Locaya, sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya.
Buta iku têgêse: butêng utawa bodho, Lo têgêse kowe, caya têgêse: kêna dipracaya, kiyai Buta Locaya iku bodho, nanging têmên mantêp sêtya ing Gusti, mulane didadekake patih. Wiwite ana sêbutan kiyai, iya iku kiyai daha lan kiyai Daka, kiyai têgêse: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe.
Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka, ana ing kono Sang Prabu sawadya-balane disugata, mula sang Prabu asih bangêt marang kiyai Daka, jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa, dene kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung, sarta dadi senapatining pêrang.
Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu Pagêdhongan, Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa; Ni Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa, kuthane ana sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. Sakabehe lêlêmbut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa, kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin.
Buta Locaya panggonane ana ing Selabale, dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut, rumêksa kawah sarta lahar, yen lahar mêtu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane.
Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana kang dilemeki kasur babut isi sari, sarta kinêbutan êlaring mêrak, diadhêp patihe aran Megamêndhung, lan putrane kakung loro uga padha ngadhêp, kang tuwa arane Panji Sêktidiguna, kang anom aran panji Sarilaut.
Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp, kaget kasaru têkane Nyai Plêncing, ngrungkêbi pangkone, matur bab rusake tanah lor Kadhiri, sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku, wong saka Tuban kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri, arane Sunan Benang. Nyai Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa.
Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane, sarirane nganti kaya gêni, sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin pêri parajangan, didhawuhi nglawan Sunan Benang. Para lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang, sarta lakune barêng karo angin, ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring desa Kukum, ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre, dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora ngaton, kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring wit sambi, ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor.
Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor, Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhêmit, sumêdya ganggu gawe, katitik saka awake panas kaya mawa. Dene lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh, ora bêtah kêna prabawane Sunan Benang. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah cêdhak karo kiyai Sumbre, amarga kaya dene cêdhak mawa, kiyai Sumbre mangkono uga.
Sakabat loro kang maune padha sumaput, banjur padha katisên, amarga kêna daya prabawane kiyai Sumbre.
Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! kowe kok mêthukake lakuku, sarta nganggo jênêng Sumbre, kowe apa padha slamêt?”.
Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke, dadi dheweke kawanguran karêpe, wusana banjur matur marang Sunan Benang: “Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika Buta Locaya?”.
Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran, aku ngrêti yen kowe ratuning dhêmit Kadhiri, jênêngmu Buta Locaya.”.
Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa, dene mangangge pating gêdhabyah, dede pangagêm Jawi. Kados wangun walang kadung?”.
Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab, jênêngku Sayid Kramat, dene omahku ing Benang tanah Tuban, mungguh kang dadi sêdyaku arêp mênyang Kadhiri, pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya, iku prênahe ana ing ngêndi?”.
Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9), sadaya patilasan sampun sami sirna, kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun botên wontên, kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna, pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna, namung kantun namaning dhusun, sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking rêdi Kêlut. Kula badhe pitaken, paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam, nyabdakakên ingkang botên patut, prawan tuwa jaka tuwa, sarta ngêlih nami Kutha Gêdhah, ngêlih lepen, lajêng nyabdakakên ing ngriki awis toya, punika namanipun siya-siya botên surup, sikara tanpa dosa, saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse, lajêng botên gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa, makatên wau saking sabda paduka, sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan, lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun, wana, sabin, pintên-pintên sami risak, ngriki paduka-sotakên, sêlaminipun awis toya, lepenipun asat, paduka sikara botên surup, nyikara tanpa prakara”.
Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah, amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih, têtêpe agama biru, sabab agama Kalang, mula tak-sotake larang banyu, aku njaluk banyu ora oleh, mula kaline banjur tak-êlih iline, kene kabeh tak sotake larang banyu, dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa, amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku, prawan baleg.”.
Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botên timbang kaliyan sot panjênêngan, botên sapintên lêpatipun, tur namung tiyang satunggal ingkang lêpat, nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt, botên timbang kaliyan kukumipun, paduka punika namanipun damêl mlaratipun tiyang kathah, saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari, paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat, amargi ngrisakakên tanah, lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih, ing ngriki sagêda mirah toya malih, sagêd dados asil panggêsangan laki rabi taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. Panjênêngan sanes Narendra têka ngarubiru agami, punika namanipun tiyang dahwen”.
Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora wêdi”.
Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka banjur mêtu nêpsune, calathune sêngol: “Rêmbag paduka niki dede rêmbage wong ahli praja, patute rêmbage tiyang entên ing bambon, ngêndêlake dumeh tiyang digdaya, mbok sampun sumakehan dumeh dipunkasihi Hyang Widdhi, sugih sanak malaekat, lajêng tumindak sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan, siya dahwen sikara botên ngangge prakara, sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang nglangkungi kaprawiran paduka, nanging sami ahli budi sarta ajrih sêsikuning Dewa, têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng sêsami nyikara tanpa prakara, punapa paduka punika tiyang tunggilipun Aji Saka, muride Ijajil. Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat saking tanah Jawi, sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta minggat sadaya, Aji Saka tiyang saka Hindhu, paduka tiyang saking ‘Arab, mila sami siya-siya dhatêng sêsami, sami damêl awising toya, paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur, damêl wilujêng dhatêng tiyang kathah, nanging kok jêbul botên makatên, wujud paduka niki jajil bêlis katingal, botên tahan digodha lare, lajêng mubal nêpsune gêlis duka, niku Sunan napa? Yen pancen Sunaning jalma yêktos, mêsthi simpên budi luhur. Paduka niksa wong tanpa dosa, nggih niki margi paduka cilaka, tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam, yen sampun dados, lajêng paduka-ênggeni piyambak, siram salêbêting kawah wedang ingkang umob mumpal-mumpal. Kula niki bangsaning lêlêmbut, sanes alam kaliyan manusa, ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. Inggih sampun ta, sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên malih, lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun, manawi panjênêngan botên karsa mangsulakên, sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-têluh kajêngipun pêjah sadaya, kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul”.
Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute, dene gawe kasusahan warna-warna, nyikara wong kang ora dosa, mula banjur ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan, ora kêna mbaleni caturku kang wus kawêtu, besuk yen wus limang atus taun, kali iki bisa bali kaya mau-maune”.
Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang, banjur nêpsu maneh, nuli matur marang Sunan Benang: “Kêdah paduka- wangsulna sapunika, yen botên sagêd, paduka kula-banda”.
Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kêna mangsuli, aku pamit nyimpang mangetan, woh sambi iki tak-jênêngake cacil, dene kok kaya bocah cilik padha tukaran, dhêmit lan wong pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah, sarta susahe jalma lan dhêmit, dak-suwun marang Rabbana, woh sambi dadi warna loro kanggone, daginge dadiya asêm, wijine mêtuwa lêngane, asêm dadi pasêmoning ulat kêcut, dene dhêmit padu lan manusa, lênga têgêse dhêmit mlêlêng jalma lunga. Ing besuk dadiya pasêksen, yen aku padu karo kowe, lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki, kang lor jênênge desa Singkal, ing kene desa ing Sumbre, dene panggonane balamu kang ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran”.
Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali, katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa aran Kawanguran, Sumbre sarta Singkal, Kawanguran têgêse kawruhan, Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal.
Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. Sunan Benang tindake têkan ing desa Bogêm, ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran, rêca mau awak siji êndhase loro, dene prênahe ana sangisoring wit trênggulun, wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti amblasah, Sunan Benang ngasta kudhi, rêca jaran êndhase digêmpal.
Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing rêca jaran, saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse: “Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya, kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi, benjing jaman Nusa Srênggi, sintên ingkang sumêrêp rêca punika, lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi”.
Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo manusa, jênênge dhêmit kêmênthus”.
Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa, ngriku Sunan, kula Ratu”.
Sunan Benang ngandika: “Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos, dadiya pangeling-eling ing besuk, yen aku kêrêngan karo dhêmit kumênthus, prakara rusaking rêca”.
Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene, woh trênggulun jênênge kênthos, awit saka sabdane Sunan Benang, iku pituture Raden Budi Sukardi, guruku”.
Sunan Benang banjur tindak mangalor, barêng wis wanci asar, kêrsane arêp salat, sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane, sumure banjur digolingake, dene Sunan Benang sawise, nuli sagêd mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat.
Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling, Sunan Benang kang anggolingake, iku pituture Raden Budi guruku, êmbuh bênêr lupute”.
Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake, satêkane desa Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon, prênahe ana sangisoring wit dhadhap, wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange, sarta akeh kang tiba kanan keringe rêca buta mau, nganti katon abang mbêranang, saka akehe kêmbange kang tiba, Sunan Benang priksa rêca mau gumun bangêt, dene ana madhêp mangulon, dhuwure ana 16 kaki, ubênge bangkekane 10 kaki, saupama diêlih saka panggonane, yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat, kajaba yen nganggo piranti, baune têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang, bathuke dikrowak.
Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca, dheweke nêpsu maneh, calathune: “Panjênêngan nyata tiyang dahwen, rêca buta bêcik-bêcik dirusak tanpa prakara, saniki awon warnine, ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya, lah asilipun punapa panjênêngan ngrisak rêca?”
Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rêca iki tak-rusak, supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh, aja tansah disajeni dikutugi, yen wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar.”
Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrêtos, yen punika rêca sela, botên gadhah daya, botên kuwasa, sanes Hyang Latawalhujwa, mila sami dipunladosi, dipunkutugi, dipunsajeni, supados para lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng, amargi siti utawi kajêng punika wontên asilipun, dados têdhanipun manusa, mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca, panjênêngan-tundhung dhatêng pundi? Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa, wontên ing rêca, sarta nêdha ganda wangi, dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos sumyah, langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang agêng, sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan alamipun manusa, manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara, dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya dhatêng sasamining tumitah, makluking Pangeran. Aluwung manusa Jawa ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa, wangsul tiyang bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah, wujude nggih tugu sela, punika inggih langkung sasar”.
Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjêng Nabi Ibrahim, ing kono pusêring bumi, didelehi tugu watu disujudi wong akeh, sing sapa sujud marang Ka’batu’llah, Gusti Allah paring pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”.
Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe Pangeran, angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun, punapa sampun angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit?
Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasêbut ing kitabku, besuk yen mati oleh kamulyan”.
Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: “Pêjah malih yen sumêrêpa, kamulyan sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup, sasar nyêmbah tugu sela, manawi sampun nrimah nêmbah curi, prayogi dhatêng rêdi Kêlut kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran, sami maujud piyambak saking sabda kun, punika wajib dipunsujudi. Saking dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos, manusa sadaya kêdah sumêrêp ing Batu’llahipun, badanipun manusa punika Baitu’llah ingkang sayêktos, sayêktos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos, punika kêdah dipunrêksa, sintên sumêrêp asalipun badanipun, sumêrêp budi hawanipun, inggih punika ingkang kenging kangge tuladha. Sanadyan rintên dalu nglampahi salat, manawi panggenanipun raga pêtêng, kawruhipun sasar-susur, sasar nêmbah tugu sela, tugu damêlan Nabi, Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah, ta, pinaringan wahyu nyata pintêr sugih engêtan, sidik paningalipun têrus, sumêrêp
cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. Dene ingkang yasa rêca punika Prabu Jayabaya, inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos, pinaringan wahyu mulya, inggih pintêr sugih engêtan sidik paningalipun têrus, sumêrêp saderengipun kalampahan, paduka pathokan tulis, tiyang Jawi pathokan sastra, bêtuwah saking lêluhuripun. sami-sami nyungkêmi kabar, aluwung nyungkêmi kabar sastra saking lêluhuripun piyambak, ingkang patilasanipun taksih kenging dipuntingali. Tiyang nyungkêmi kabar ‘Arab, dereng ngrêtos kawontênanipun ngrika, punapa dora punapa yêktos, anggêga ujaripun tiyang nglêmpara. Mila panjênêngan anganjawi, nyade umuk, nyade mulyaning nagari Mêkah, kula sumêrêp nagari Mêkah, sitinipun panas, awis toya, tanêm-tanêm tuwuh botên sagêd mêdal, bênteripun bantêr awis jawah, manawi tiyang ingkang ahli nalar, mastani Mêkah punika nagari cilaka, malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang, kangge rencang tumbasan. Panjênêngan tiyang duraka, kula-aturi kesah saking ngriki, nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya, asrêp lan bênteripun cêkapan, tanah pasir mirah toya, punapa ingkang dipuntanêm sagêd tuwuh, tiyangipun jalêr bagus, wanitanipun ayu, madya luwês wicaranipun. Rêmbag panjênêngan badhe priksa pusêring jagad, inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi punika, sapunika panjênêngan ukur, manawi kula lêpat panjênêngan jotos. Rêmbag panjênêngan punika mblasar, tandha kirang nalar, kirang nêdha kawruh budi, rêmên niksa ing sanes. Ingkang yasa rêca punika Maha Prabu Jayabaya, digdayanipun ngungkuli panjênêngan, panjênêngan punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta, kula aturi kesah kemawon saking ngriki, manawi botên purun kesah sapunika, badhe kula undhangakên adhi kula ingkang wontên ing rêdi Kêlut, panjênêngan kula-kroyok punapa sagêd mênang, lajêng kula bêkta mlêbêt dhatêng kawahipun rêdi Kêlut, panjênêngan punapa botên badhe susah, punapa panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatêng Selabale, dados murid kula!”.
Sunan Benang ngandika: “Ora arêp manut rêmbugmu, kowe .......... brêkasakan”.
Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhêmit, nanging dhêmit raja, mulya langgêng salamine, panjênêngan dereng tampu mulya kados kula, tekad panjênêngan rusuh, rêmên nyikara niaya, mila panjênêngan dhatêng tanah Jawi, wontên ing ‘Arab nakal kalêbêt tiyang awon, yen panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking ‘Arab, mila minggat, saking lêpat, tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban, maoni adating uwong, maoni agama, damêl risak barang sae, ngarubiru agamane lêluhur kina, Ratu wajib niksa, mbucal dhatêng Mênadhu”.
Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake celung, uwohe kledhung, sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung rêmbag, dadiya pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit, kalah kawruh kalah nalar”.
Mula katêlah nganti tumêka saprene, woh dhadhap jênênge kledhung, kêmbange aran celung.
Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arêp mulih mênyang Benang”.
Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Inggih sampun, panjênêngan enggala kesah, wontên ing ngriki mindhak damêl sangar, manawi kadangon wontên ing ngriki mindhak damêl susah, murugakên awis wos, nambahi bênter, nyudakakên toya”.
Sunan Benang banjur tindak, dene Buta Locaya sawadya-balane uga banjur mulih. Gênti kang cinarita, nagari ing Majalêngka, anuju sawijining dina, Sang Prabu Brawijaya miyos sinewaka, diadhêp Patih sarta para wadya bala, Patih matur, yen mêntas nampani layang saka Tumênggung ing Kêrtasana, dene surasane layang ngaturi uninga yen nagara Kêrtasana kaline asat, kali kang saka Kadhiri miline nyimpang mangetan, saperanganing layang mau unine mangkene: “Wontên ler-kilen Kadhiri, pintên-pintên dhusun sami karisakan, anggenipun makatên wau, saking kenging sabdanipun ngulama saking ‘Arab, namanipun Sunan Benang.
Sang Prabu mirêng ature Patih bangêt dukane, Patih banjur diutus mênyang Kêrtasana, niti-priksa ing kono kabeh, kahanane wonge sarta asile bumi kang katrajang banyu kapriye? Sarta didhawuhi nimbali Sunan Benang.
Gêlising carita, Patih sawise niti-priksa, banjur ngaturake kahanane kabeh, dene duta kang diutus mênyang Tuban uga wis têka, matur yen ora oleh gawe, amarga Sunan Benang lunga ora karuhan parane.
Sang Prabu midhangêt ature para wadya banjur duka, paring pangandika yen ngulama saka ‘Arab pada ora lamba atine. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih, wong ‘Arab kang ana ing tanah Jawa padha didhawuhi lunga, amarga gawe ribêding nagara, mung ing Dêmak lang Ngampelgadhing kang kêparêng ana ing tanah Jawa, nglêstarekake agamane, liyane loro iku didhawuhi ngulihake mênyang asale, dene yen padha ora gêlêm lunga didhawuhi ngrampungi bae. Ature Patih: “Gusti! lêrês dhawuh paduka punika, amargi ngulama Giripura sampun tigang taun botên sowan utawi botên ngaturakên bulubêkti, mênggah sêdyanipun badhe rêraton piyambak, botên ngrumaosi nêdha ngombe wontên tanah Jawi, dene namanipun santri Giri anglangkungi asma paduka, pêparabipun Sunan ‘Aênalyakin, punika nama ing têmbung ‘Arab, mênggah têgêsipun Sunan punika budi, têgêsipun Aenal punika ma’rifat, têgêsipun Yakin punika wikan, sumêrêp piyambak, dados nama tingal ingkang têrus, suraosipun ing têmbung Jawi nama Prabu Satmata, punika asma luhur ingkang makatên punika ngirib-irib tingalipun Kang Maha Kuwasa, mariksa botên kasamaran, ing alam donya botên wontên kalih ingkang asma Sang Prabu Satmata, kajawi namung Bathara Wisnu nalika jumênêng Nata wontên ing nagari Mêdhang-Kasapta. Sang Prabu midhangêt ature Patih, banjur dhawuh nglurugi pêrang mênyang Giri, Patih budhal ngirid wadya-bala prajurit, nglurug mênyang Giri. Patih sawadya-balane satêkane ing Giri banjur campuh pêrang. Wong ing Giri geger, ora kuwat nanggulangi pangamuke wadya Majapahit. Sunan Giri mlayu mênyang Benang, golek kêkuwatan, sawise oleh bêbantu, banjur pêrang maneh mungsuh wong Majalêngka, pêrange rame bangêt, ing wêktu iku tanah jawa wis meh saparo kang padha ngrasuk agama Islam, wong-wong ing Pasisir lor wis padha agama Islam, dene kang kidul isih têtêp nganggo agama Buddha. Sunan Benang wis ngrumasani kaluputane, ênggone ora sowan mênyang Majalêngka, mula banjur lunga karo Sunan Giri mênyang Dêmak, satêkane ing Dêmak, banjur ngêbang marang Adipati Dêmak, diajak nglurug mênyang Majalêngka, pangandikane Sunan Benang marang Adipati Dêmak: “Wêruha yen saiki wis têkan masa rusake Kraton Majalêngka, umure wis satus têlu taun, saka panawangku, kang kuwat dadi Ratu tanah Jawa, sumilih Kaprabon Nata, mung kowe, rêmbugku rusakên Kraton Majalêngka, nanging kang sarana alus, aja nganti ngêtarani, sowana besuk Garêbêg Mulud, nanging rumantiya sikêping pêrang: 1. gaweya samudana, 2. dhawuhana balamu para Sunan kabeh lan para Bupati kang wis padha Islam kumpulna ana ing Dêmak, yen kumpule iku arêp gawe masjid, mêngko yen wis kumpul, para Sunan sarta Bupati sawadya-balane kang wis padha Islam, kabeh mêsthi nurut marang kowe”.
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
Re: DARMAGANDHUL
« Reply #5 on: February 25, 2010, 11:18:49 am »
Ature Adipati Dêmak: “Kula ajrih ngrisak Nagari Majalêngka, amêngsah bapa tur raja, kaping tiganipun damêl sae paring kamukten ing dunya, lajêng punapa ingkang kula-walêsakên, kajawi namung sêtya tuhu. Dhawuhipun eyang Sunan Ngampelgadhing, botên kaparêng yen kula mêngsah bapa, sanadyan Buddha nanging margi-kula sagêd dumados gêsang wontên ing dunya. Inggih sanadyan Buddha punapa kapir, tiyang punika bapa inggih kêdah dipunhurmati, punapa malih dereng wontên lêpatipun dhatêng kula”.
Sunan Benang ngandika mêneh: “Sanadyan mungsuh bapa lan ratu, ora ana alane, amarga iku wong kapir, ngrusak kapir Buddha kawak: kang kok-têmu ganjaran swarga. Eyangmu kuwi santri mêri, gundhul bêntul butêng tanpa nalar, patute mung dadi godhogan, sapira kawruhe Ngampelgadhing, bocah kalairan Cêmpa, masa padhaa karo aku Sayid Kramat, Sunan Benang kang wis dipuji wong sabumi ‘alam, têdhak Rasul panutaning wong Islam kabeh. Kowe mungsuh bapakmu Nata, sanadyan dosa pisan, mung karo wong siji, tur ratu kapir, nanging yen bapakmu kalah, wong satanah Jawa padha Islam kabeh. Kang mangkono iku, sapira mungguh kauntunganmu nugrahaning Pangeran tikêl kaping êmbuh, sihing Hyang Kang Maha Kuwasa kang dhawuh marang kowe. Satêmêne ramanira iku siya-siya marang sira, tandhane sira diparingi jênêng Babah, iku ora prayoga, têgêse Babah iku saru bangêt, iya iku: bae mati bae urip, wiji jawa digawa Putri Cina, mula ibumu diparingake Arya Damar, Bupati ing Palembang, wong pranakan buta; iku mêgat sih arane. Ramanira panggalihe têtêp ora bêcik, mulane rêmbugku, walêsên kalawan alus, lire aja katara, ing batin sêsêpên gêtihe, mamahên balunge”.
Sunan Giri nyambungi rêmbug: Aku iki ora dosa dilurugi ramamu, didakwa rêraton, amarga aku ora seba marang Majalêngka. Sumbare Patih, yen aku kacandhak arêp dikuciri lan dikon ngêdusi asu, akeh bangsa Cina kang padha têka ana ing tanah Jawa, ana ing Giri padha tak-Islamake awit kang muni ing kitabku, yen ngislamake wong kapir, besuk ganjarane swarga, mula akeh bangsa Cina kang padha tak- Islamake, tak-anggêp kulawarga. Dene têkaku mrene ini ngungsi urip mênyang kowe, aku wêdi marang Patih Majalêngka, lan ramanira sêngit bangêt marang santri kang muji dhikir, ênggone ngarani jare lara ayan esuk lan sore, yen kowe ora ngukuhi, mêsthi rusak agama Mukhammad Nabi”.
Wangsulane Sang Adipati Dêmak: “Anggenipun nglurugi punika lêrês, tiyang rêraton, botên ngrumaosi yen kêdah manut prentahing Ratu ingkang mbawahakên, sampun wajibipun dipunlurugi, dipunukum pêjah, awit panjênêngan botên ngrumaosi dhahar ngunjuk wontên in tanah Jawi”.
Sunan Benang ngandika maneh: “Yen ora kok-rêbut dina iki, kowe ngênteni surude bapakmu, kaprabone bapakmu wis mêsthi ora bakal tiba kowe, mêsthi dipasrahake marang Adipati Pranaraga, amarga iku putrane kang tuwa, utawa dipasrahake marang putra mantu, iya iku Ki Andayaningrat ing Pêngging, kowe anak nom, ora wajib jumênêng Nata, mumpung iki ana lawang mênga, Giri kang dadi jalarane ngrusak Majalêngka, nadyan mati, mungsuh wong kapir, mati sabilu’llah, patine slamêt nampani swarga mulya, wis wajibe wong Islam mati dening wong kapir, saka ênggone nyungkêmi agamane, karo wis wajibe wong urip golek kamuktening dunya, golek darajat kang unggul dhewe, yen wong urip ora wêruh marang uripe, iku durung gênêp uripe, lamun sipat manusa mêsthi melik mêngku praja angreh wadya bala, awit Ratu iku Khalifa wakile Hyang Widdhi, apa bae kang dikarêpake bisa kêlakon, satêmêne kowe wis pinasthi bakal jumênêng Ratu ana ing tanah Jawa, sumilih kaprabone ramamu, ananging ing laire iya kudu nganggo sarat dirêbut sarana pêrang, yen kowe ora gêlêm nglakoni, mêsthine sihe Gusti Allah kang mênyang kowe bakal dipundhut bali, dadi kowe jênênge nampik sihe Allah, aku mung sadarma njurungi, amarga aku wis wêruh sadurunge winarah, wis tak-sêmprong nganggo sangkal bolong katon nêrawang ora samar sajroning gaib, kowe kang katiban wahyu sihe Pangeran, bisa dadi Ratu ana ing tanah Jawa, murwani agama suci, ambirat ênggonmu madêg Narendra, bisa ngideni adêgmu Nata mêngku tanah Jawa, bisa lêstari satêruse”. Akeh-akeh dhawuhe Sunan Benang, pambujuke marang adipati Dêmak supaya mêtu nêpsune, gêlêm ngrusak Majalêngka, malah diwenehi lêpiyan carita Nabi, kang gêlêm ngrusak bapa kapir, iku padha nêmu rahayu.
Adipati Dêmak matur: “Manawi karsa panjênêngan makatên, kula namung sadarmi nglampahi dhawuh, panjênêngan ingkang mbotohi”.
Sunan Benang ngandika maneh: “Iya mangkono iku kang tak karêpake, saiki kowe wis gêlêm tak botohi, lah saiki uga kowe kirima layang marang adhimu Adipati Têrung, ananging têmbungmu kang rêmit sarta alus, adhimu antêpên, apa abot Sang Nata, apa abot sadulur tuwa kang tunggal agama. Yen adhimu wis rujuk adêgmu Nata, gampang bangêt rusaking Majalêngka. Majapahit sapa kang diêndêlake yen Kusen mbalik, Si gugur isih cilik, masa ndadak waniya, Patihe wis tuwa, dithothok bae mati, mêsthi ora bisa nadhahi yudamu”. Adipati Dêmak banjur kirim layang marang Têrung, ora suwe utusan bali, wis tinampan wangsulane Sang Adipati Têrung, saguh ambiyantu pêrang, layang banjur katur Sunan Benang, ndadekake sukaning panggalih, Sunan Benang banjur ngandika marang Adipati Dêmak, supaya Sang Adipati ngaturi para Sunan lan para Bupati kabeh, samudana yen arêp ngêdêgake masjid, lan diwenehana sumurup yen Sunan Benang wis ana ing Dêmak. Gêlising carita, ora suwe para Sunan lan para Bupati padha têka kabeh, banjur pakumpulan ngêdêgake masjid, sawise mêsjid dadi, banjur padha salat ana ing masjid, sabakdane salat, banjur tutup lawang, wong kabeh dipangandikani dening Sunan Benang, yen Adipati Dêmak arêp dijumênêngake Nata, sarta banjur arêp ngrusak Majapahit, yen wis padha rujuk, banjur arêp kêpyakan tumuli. Para Sunan lan para Bupati wis padha rujuk kabeh, mung siji kang ora rujuk, iya iku Syekh Sitijênar. Sunan Benang duka, Syekh Sitijênar dipateni, dene kang kadhawuhan mateni iya iku Sunan Giri, Syekh Sitijênar dilawe gulune mati. Sadurunge Syekh Sitijênar tumêka ing pati, ninggal swara: “Eling-eling ngulama ing Giri, kowe ora tak-walês ing akhirat, nanging tak-walês ana ing dunya kene bae, besuk yen ana Ratu Jawa kanthi wong tuwa, ing kono gulumu bakal tak-lawe gênti”. Sunan Giri mangsuli: “Iya besuk wani, saiki wani, aku ora bakal mundur”. Sawise golong karêpe, nglêstarekake apa kang wis dirêmbug. Sang Adipati Dêmak banjur ingidenan jumênêng Nata, amêngku tanah Jawa, jêjuluk Senapati Jimbuningrat, patihe wong saka Atasaning aran Patih Mangkurat. Esuke Senapati Jimbuningrat wis miranti sapraboting pêrang, banjur budhal mênyang Majapahit, diiringake para Sunan lan para Bupati, lakune kaya dene Garêbêg Maulud, para wadya bala ora ana kang ngrêti wadining laku, kajaba mung para Tumênggung lan para Sunan apa dene para ngulama, Sunan Benang lan Sunan Giri ora melu mênyang Majapahit, pawadane sarehne wis sêpuh, mung arêp salat ana ing masjid bae, lan paring idi rahayuning laku, dadi mung para Sunan lan para Bupati bae kang ngiringake Sultan Bintara, ora kacarita lakune ana ing dalan.
Gênti kocapa nagara in Majapahit, Patih saulihe saka ing Giri banjur matur sang Praba, bab ênggone mukul pêrang ing Giri, mungguh kang dadi senapati ing Giri iya iku sawijining bangsa Cina kang wis ngrasuk agama Islam, arane Sêcasena, mangsah mêncak nganggo gêgêman abir, sawadya-balane watara wong têlung atus, padha bisa mêncak kabeh, brêngose capang sirahe gundhul, padha manganggo srêban cara kaji, mangsah pêrang paculat kaya walang kadung, wadya Majapahit ambêdhili, dene wadya-bala ing Giri pating jênkelang ora kêlar nadhahi tibaning mimis. Senapati Sêcasena wis mati, dene bala Cina liyane lang kari padha mlayu salang tunjang, bala ing Giri ngungsi mênyang alas ing gunung, sawêneh ngambang ing sagara, mlayu mênyang Benang têrus diburu dening wadya-bala Majapahit, Sunan Giri lan Sunan Benang banjur nunggal saprau-layar ngambang ing sagara, kinira banjur minggat marang Arab ora bali ngajawa. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih, supaya utusan mênyang Dêmak, andhawuhake yen ngulama ing Giri lan ing Benang padha têka ing Dêmak, didhawuhi nyêkêl, kaaturna bêbandan ing ngarsa Nata, awit dosane santri Benang ngrusak bumi ing Kêrtasana, dene dosane santri Giri ora gêlêm seba marang ngarsa Prabu, tekade sumêdya nglawan pêrang.
Patih samêtune ing paseban jaba, banjur nimbali duta kang arêp diutus mênyang Dêmak, sajrone ana ing paseban jaba, kêsaru têkane utusane Bupati ing Pathi, ngaturake layang marang Patih, layang banjur diwaos kiyai Patih, mungguh surasaning layang. Menak Tunjungpura ing Pathi ngaturi uninga, yen Adipati ing Dêmak, iya iku Babah Patah, wis madêg Ratu ana ing Dêmak, dene kang ngêbang- êbang adêging Nata, iya iku Sunan Benang lan Sunan Giri, para Bupati pasisir lor sawadyane kang wis padha Islam uga padha njurungi, dene jêjuluking Ratu, Senapati Jimbuningrat, utawa Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’rrasul Amiri’lmukminin Tajudi’l’Abdu’lhamid Kak, iya Sultan Adi Surya ‘Alam, ing Bintara. Ing samêngko Babah Patah sawadya-balane wis budhal nglurug marang Majapahit, sêdya mungsuh ingkang rama, Babah Patah abot mênyang gurune, ngenthengake ingkang rama, para Sunan lan para Bupati padha ambiyantu anggone arêp mbêdhah Majapahit. Babah Patah anggone nggawa bala têlung lêksa miranti sapraboting pêrang, mungguh kature Sang Prabu amborongake kiyai Patih. Layang kang saka Pathi mau katitimasan tanggal kaping 3 sasi Mulud taun Jimakir 1303, masa Kasanga Wuku Prangbakat. Kiyai Patih sawise maos layang, njêtung atine, sarta kêrot, gêrêng-gêrêng, gedheg-gedheg, bangêt pangungune, banjur tumênga ing tawang karo nyêbut marang Dewa kang Linuwih, bangêt gumune mênyang wong Islam, dene ora padha ngrêti mênyang kabêcikane Sang Prabu, malah padha gawe ala. Kyai Patih banjur matur Sang Prabu, ngaturake surasane layang mau.
Sang Prabu Brawijaya midhangêt ature Patih kaget bangêt panggalihe, njêgrêg kaya tugu, nganti suwe ora ngandika, jroning panggalih ngungun bangêt marang putrane sarta para Sunan, dene padha duwe sêdya kang mangkono, padha diparingi pangkat, wêkasane malah padha gawe buwana balik, kolu ngrusak Majapahit. Sang Prabu nganti ora bisa manggalih apa mungguh kang dadi sababe, dene putrane lan para ngulama têka arêp ngrusak karaton, digoleki nalar-nalare tansah wudhar, lair batin ora tinêmu ing nalar, dene kok padha duwe pikir ala. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt, sungkawane ratu Gêdhe kang linuwih, sinêmonan dening Dewa, kaya dene atining kêbo êntek dimangsa ing tumaning kinjir. Sang Prabu banjur andangu marang Patih, apa ta mungguh kang dadi sababe, dene putrane lan para ngulama apa dene para Bupati kolu ngrusak Majapahit, ora padha ngelingi marang kabêcikan.
Ature Patih, mratelakake yen uga ora mangêrti, amarga adoh karo nalare, wong dibêciki kok padha malês ala, lumrahe mêsthi, padha malês bêcik. Ki Patih uga mung gumun, dene wong Islam pikire kok padha ora bêcik, dibêciki walêse kok padha ala.
Sang Prabu banjur ngandika marang patih, bab anane lêlakon kaya mangkono iku amarga saka lêpate sang nata piyambak, dene nggêgampang marang agama kang wis kanggo turun-tumurun, sarta ênggone kêgiwang marang ature Putri Cêmpa, ngideni para ngulama mêncarake agama Islam. Sang Nata saka putêking panggalihe nganti kawêdhar pangandikane ngêsotake marang wong Islam: Sun-suwung marang Dewa Gung, muga winalêsna susah-ingsun, wong Islam iku besuk kuwalika agamanira, manjalma dadi wong kucir, dene tan wruh kabêcikan, sun-bêciki walêse angalani”. “Sabdaning Ratu Agung sajroning kasusahan, katarima dening Bathara, sinêksen ing jagad, katandhan ana swara jumêgur gêtêr patêr sabuwana, iya iku kawitane manuk kuntul ana kang kucir. Sunan, ngulama kabeh ngrangkêp jênêng walikan, katêlah tumêka saprene, ngulama jênênge walian, kuntul kucir githoke. Sang Prabu banjur mundhut pamrayoga marang Patih, prakara têkane mungsuh, santri kang ngrêbut nagara, iku dilawan apa ora? Sang Nata rumaos gêtun lan ngungun, dene Adipati Dêmak kapengin mêngkoni Majapahit bae kok dirêbut sarana pêrang, saupama disuwun kalayan aris bae mêsthi diparingake, amarga Sang Nata wis sêpuh. Ature Patih prayoga nglawan têkaning mungsuh. Sang Prabu ngandika, yen nganti nglawan rumaos lingsêm bangêt, dene mungsuh karo putra, mula dhawuhe Sang Prabu, yen mapag pêrang kang sawatara bae, aja nganti ngrusakake bala. Patih didhawuhi nimbali Adipati Pêngging sarta Adipati Pranaraga, amarga putra kang ana ing Majapahit durung wanci yen mapagake pêrang, sawise paring pangandika mangkono. Sang Prabu banjur lolos arsa têdhak marang Bali, kadherekake abdi kêkasih, Sabdapalon lan Nayagenggong. Sajrone Sang Prabu paring pangandika, wadya-bala Dêmak wis pacak baris ngêpung nagara, mula kasêsa tindake. Wadya Dêmak banjur campuh karo wadya Majapahit, para Sunan banjur ngawaki pêrang, Patih Majapahit ngamuk ana samadyaning papêrangan. Para Bupati Nayaka wolu uga banjur melu ngamuk. Pêrange rame bangêt, bala Dêmak têlung lêksa, balang Majapahit mung têlung ewu, sarehne Majapahit karoban mungsuh, prajurite akeh kang padha mati, mung Patih sarta Bupati Nayaka pangamuke saya nêsêg. Bala Dêmak kang katrajang mêsthi mati. Putrane Sang Prabu aran Raden Lêmbupangarsa ngamuk ana satêngahing papêrangan, tandhing karo Sunan Kudus, lagi rame-ramene têtandhingan pêrang, Patih Mangkurat ing Dêmak nglambung, Putra Nata tiwas, saya bangêt nêpsune, pangamuke kaya bantheng kataton, ora ana kang diwêdeni, Patih ora pasah sakehing gêgaman, kaya dene tugu waja, ora ana braja kang tumama marang sarirane, ing ngêndi kang katrajang bubar ngisis, kang tadhah mati nggêlasah, bangkening wong tumpang tindhih, Patih binendrongan saka kadohan, tibaning mimis kaya udan tiba ing watu. Sunan Ngudhung mapagake banjur mrajaya, nanging ora pasah, Sunan Ngudhung disuduk kêna, barêng Sunan Ngudhung tiwas, Patih dibyuki wadya ing Dêmak, dene wadya Majapahit wis êntek, sapira kuwate wong siji, wêkasan Patih ing Majapahit ngêmasi, nanging kuwandane sirna, tinggal swara: “Eling-eling wong Islam, dibêciki gustiku walêse ngalani, kolu ngrusak nagara Majapahit, ngrêbut nagara gawe pêpati, besuk tak-walês, tak-ajar wêruh nalar bênêr luput, tak-damoni sirahmu, rambutmu tak-cukur rêsik”.
Sapatine Patih, para Sunan banjur mlêbu mênyang kadhaton. nanging sang Prabu wis ora ana, kang ana mung Ratu Mas, iya iku Putri Cêmpa, sang Putri diaturi sumingkir mênyang Benang uga karsa.
Para prajurit Dêmak banjur padha mlêbu mênyang kadhaton, ana ing kono pada njarah rayah nganti rêsik, wong kampung ora ana kang wani nglawan. Raden Gugur isih timur lolos piyambak. Adipati Têrung banjur mlêbu mênyang jêro pura, ngobongi buku-buku bêtuwah Buddha padha diobongi kabeh, wadya sajroning pura padha bubar, beteng ing Bangsal wis dijaga wong Têrung. Wong Majapahit kang ora gêlêm têluk banjur ngungsi mênyang gunung lan alas-alas, dene kang padha gêlêm têluk, banjur dikumpulake karo wong Islam, padha dikon nyêbut asmaning Allah. Layone para putra santana lan nayaka padha kinumpulake, pinêtak ana sakidul-wetan pura. Kuburan mau banjur dijênêngake Bratalaya, jarene iku kubure Raden Lêmbupangarsa.
Barêng wis têlung dina, Sultan Dêmak budhal mênyang Ngampel, dene kang dipatah tunggu ana ing Majapahit, iya iku Patih Mangkurat sarta Adipati Têrung, njaga kaslamêtan mbokmanawa isih ana pakewuh ing wuri, Sunan Kudus njaga ana ing kraton dadi sulihe Sang Prabu, Têrung uga dijaga ngulama têlung atus, sabên bêngi padha salat kajat sarta andêrês Kur’an, wadya-bala kang saparo lan para Sunan padha ndherek Sang Prabu mênyang Ngampelgadhing, Sunan Ngampel wis seda, mung kari garwane kang isih ana ing Ngampel, garwane mau asli saking Tuban, putrane Arya Teja, sasedane Sunan Ngampel, Nyai Agêng kanggo têtuwa wong Ngampel. Sang Prabu Jambuningrat satêkane ing Ngampel, banjur ngabekti Nyai Agung, para Sunan sarta para Bupati gênti-gênti padha ngaturake sêmbah mênyang Nyai Agêng. Prabu Jimbuningrat matur yen mêntas mbêdhah Majapahit, ngaturake lolose ingkang rama sarta Raden Gugur, ngaturake patine Patih ing Majapahit lan matur yen panjênêngane wis madêg Nata mêngku tanah Jawa, dene jêjuluke: Senapati Jimbun, sarta Panêmbahan Palembang, ênggone sowan mênyang Ngampel iku, prêlu nyuwun idi, têtêpa jumênêng Nata nganti run-tumurun aja ana kang nyêlani.
Nyai Agêng Ngampel sawise mirêng ature Prabu Jimbun, banjur muwun sarta ngrangkul Sang Prabu, Nyai Agêng ing batos karaos-raos, mangkene pangudaraosing panggalih: “Putuku, kowe dosa têlung prakara, mungsuh Ratu tur sudarmane, sarta kang aweh kamukten ing dunya, têka dirusak kang tanpa prakara, yen ngelingi kasaeane uwa Prabu Brawijaya, para ngulama padha diparingi panggonan kang wis anggawa pamêtu minangka dadi pangane, sarta padha diuja sakarêpe, wong pancene rak sêmbah nuwun bangêt, wusana banjur diwalês ala, seda utawa sugênge ora ana kang wêruh”.
Nyai Agêng banjur ndangu Sang Prabu, pangandikane: “Êngger! aku arêp takon mênyang kowe, kandhaa satêmêne, bapakmu tênan kuwi sapa? Sapa kang ngangkat kowe dadi Ratu tanah Jawa lan sapa kang ngideni kowe? Apa sababe dene kowe syikara kang tanpa dosa?”
Sang Prabu banjur matur, yen Prabu Brawijaya iku jarene ramane têmênan. Kang ngangkat sarirane dadi Ratu mêngku tanah Jawa iku para Bupati pasisir kabeh. Kang ngideni para Sunan. Mulane nagara Majapahit dirusak, amarga Sang Prabu Brawijaya ora karsa salin agama Islam, isih ngagêm agama kapir kupur, Buddha kawak dhawuk kaya kuwuk.
Nyai Agêng barêng mirêng ature Prabu Jimbun, banjur njêrit ngrangkul Sang Prabu karo ngandika: “Êngger! kowe wêruha, kowe iku dosa têlung prakara, mêsthi kêsiku ing Gusti Allah. Kowe wani mungsuh Ratu tur wong tuwamu dhewe, sarta sing aweh nugraha marang kowe, dene kowe kok wani ngrusak kang tanpa dosa. Anane Islam lan kapir sapa kang gawe, kajaba mung siji Gusti Allah piyambak. Wong ganti agama iku ora kêna dipêksa yen durung mêtu saka karêpe dhewe. Wong kang nyungkêmi agamane nganti mati isih nggoceki tekade iku utama. Yen Gusti Allah wis marêngake, ora susah ngango dikon, wis mêsthi salin dhewe ngrasuk agama Islam. Gusti Allah kang sipat rahman, ora dhawuh lan ora malangi marang wong kang salin agama. Kabeh iki sasênênge dhewe-dhewe. Gusti Allah ora niksa wong kapir kang ora luput, sarta ora paring ganjaran marang wong Islam kang tumindak ora bênêr, mung bênêr karo lupute sing diadili nganggo têtêping adil, lalar-lulurên asalmu, ibumu Putri Cêmpa nyêmbah pikkong, wujud dluwang utawa rêja watu. Kowe ora kêna sêngit mênyang wong kang agama Buddha, tandha mripatmu iku lapisan, mula blero pandêlêngmu, ora ngrêti marang kang bênêr lan kang luput, jarene anake Sang Prabu, têka kolu marang bapa, kêduga ngrusak ora nganggo prakara, beda matane wong Jawa, Jawa Jawi ngrêti matane mung siji, dadi wêruh ing bênêr lan luput, wêruh kang bêcik lan kang ala, mêsthi wêdi mênyang bapa, kapindhone Ratu lan kang aweh nugraha, iku wajib dibêkteni. Eklasing ati bêkti bapa, ora bêkti wong kapir, amarga wis wajibe manusa bêkti marang wong tuwane. Kowe tak-dongengi, wong Agung Kuparman, iku agamane Islam, duwe maratuwa kapir, maratuwane gêthing marang wong Agung amarga seje agama, maratuwane tansah golek sraya bisane mantune mati, ewadene Wong Agung tansah wêdi- asih lang ngaji-aji, amarga iku wong tuwane, dadi ora dielingi kapire, nanging kang dielingi wong tuwane, mula Wong Agung iya ngaji-aji marang maratuwane. Iya iku êngger, kang diarani wong linuwih, ora kaya tekadmu, bapa disiya-siya, dupeh kapir Budha ora gêlêm ganti agama, iku dudu padon. Lan aku arêp takon, apa kowe wis matur marang wong tuwamu, kok-aturi salin agama? nagarane kok nganti kok-rusak iku kapriye?
Prabu Jimbun matur, yen durung ngaturi salin agama, têkane Majapahit banjur ngêpung nagara bae.
Nyai Agêng Ngampel gumujêng karo ngandika: “Tindakmu iku saya luput bangêt, sanadyan para Nadi dhek jaman kuna, ênggone padha wani mungsuh wong tuwane, iku amarga sabên dinane wis ngaturi santun agama, nanging ora karsa, mangka sabên dinane wis diaturi mujijade, kang nandhakake yen kudu wis santun agama Islam, ananging atur mau ora dipanggalih, isih nglêstarekake agamane lawas, mula iya banjur dimungsuh. Lamun mangkono tumindake, sanadyan mungsuh wong tuwa, lair batine ora luput. Barêng wong kang kaya kowe, mujijadmu apa? Yen nyata Khalifatu’llah wênang nyalini agama lah coba wêtokna mujijadmu tak-tontone”.
Prabu Jimbun matur yen ora kagungan mujijad apa-apa, mung manut unine buku, jare yen ngislamake wong kapir iku ing besuk oleh ganjaran swarga.
Nyai Agêng Ngampel gumujêng nanging wêwah dukane. Ujar-jare bae kok disungkêmi, tur dudu bukuning lêluhur, wong ngumbara kok diturut rêmbuge, sing nglakoni rusak ya kowe dhewe, iku tandha yen isih mêntah kawruhmu, durung wani marang wong tuwa, saka kêpenginmu jumênêng Nata, kasusuhane ora dipikir. Kowe kuwi dudu santri ahli budi, mung ngêndêlake ikêt putih, nanging putihe kuntul, sing putih mung ing jaba, ing jêro abang, nalika eyangmu isih sugêng, kowe tau matur yen arêp ngrusak Majapahit, eyangmu ora parêng, malah manti-manti aja nganti mungsuh wong tuwa, saiki eyangmu wis seda, wêwalêre kok-trajang, kowe ora wêdi papacuhe. Yen kowe njaluk idi marang aku, prakara têtêpmu dadi Ratu tanah Jawa, aku ora wênang ngideni, aku bangsa cilik tur wong wadon, mêngko rak buwana balik arane, awit kowe sing mêsthine paring idi marang aku, amarga kowe Khalifatu’llah sajroning tanah Jawa, mung kowe dhewe sing tuwa, saucapmu idu gêni, yen aku tuwa tiwas, yen kowe têtêp tuwa Ratu”.
Banjure pangandikane Nyai Agêng Ngampel: “Putu! kowe tak- dongengi kupiya patang prakara, ing kitab hikayat wis muni, carita tanah Mêsir, panjênêngane Kanjêng Nabi Dhawud, putrane anggege kapraboning rama, Nabi Dhawud nganti kengsêr saka nagara, putrane banjur sumilih jumênêng Nata, ora lawas Nabi Dhawud sagêd wangsul ngrêbut nagarane. Putrane nunggang jaran mlayu mênyang alas, jarane ambandhang kêcanthol-canthol kayu, nganthi pothol gumantung ana ing kayu, iya iku kang diarani kukuming Allah. Ana maneh caritane Sang Prabu Dewata-cêngkar, iku iya anggege kapraboning rama, nanging banjur disotake dening ingkang rama banjur dadi buta, sabên dina mangsa jalma, ora suwe antarane, ana Brahmana saka tanah sabrang angajawa, aran Aji Saka, anggêlarake panguwasa sulap ana ing tanah Jawa. Wong Jawa akeh kang padha asih marang Aji Saka, gêthing marang Dewatacêngkar, Ajisaka diangkat dadi Raja, Dewatacêngkar dipêrangi nganti kêplayu, ambyur ing sagara, dadi bajul, ora antara suwe banjur mati. Ana maneh caritane nagara Lokapala uga mangkono, Sang Prabu Danaraja wani karo ingkang rama, kukume iya isih tumindak kaya kang tak-caritakake mau, kabeh padha nêmu sangsara. Apa maneh kaya kowe, mungsuh bapa kang tanpa prakara, kowe mêsthi cilaka, patimu iya mlêbu mênyang yomani, kang mangkono iku kukume Allah”.
Sang Prabu Jimbun mirêng pangandikane ingkang eyang, panggalihe rumasa kêduwung bangêt, nanging wis ora kêna dibalekake.
Nyai Agêng Ngampel isih nêrusake pangandikane: “Kowe kuwi dilêbokake ing loropan dening para ngulama lan para Bupati, mung kowe kok gêlêm nglakoni, sing nglakoni cilaka rak iya mung kowe dhewe, tur kelangan bapa, salawase urip jênêngmu ala, bisa mênang pêrang nanging mungsuh bapa Aji, iku kowe mrêtobata marang Kang Maha Kuwasa, kiraku ora bakal oleh pangapura, sapisan mungsuh bapa, kapindho murtat ing Ratu, kaping têlune ngrusak kabêcikan apa dene ngrusak prajane tanpa prakara. Adipati Pranaraga lan Adipati Pêngging masa trimaa rusaking Majapahit, mêsthine labuh marang bapa, iku bae wis abot sanggane”. Nyai Agêng akeh-akeh pangandikane marang Prabu Jimbun. Sawise Sang Prabu dipangandikani, banjur didhawuhi kondur mênyang Dêmak, sarta didhawuhi nglari lolose ingkang rama, yen wis kêtêmu diaturana kondur mênyang Majapahit, lan aturana mampir ing Ngampelgadhing, nanging yen ora kêrsa, aja dipêksa, amarga yen nganti duka mangka banjur nyupatani, mêsthi mandi.
Sang Prabu Jimbun sarawuhe ing Dêmak, para wadya padha sênêng-sênêng lan suka-suka nutug, para santri padha trêbangan lan dhêdhikiran, padha angucap sukur lan bungah bangêt dene Sang Prabu wis kondur sarta bisa mênang pêrange.
Sunan Benang mêthukake kondure Sang Prabu Jimbun, Sang Nata banjur matur marang Sunan Benang yen Majapahit wis kêlakon bêdhah, layang-layang Buddha iya wis diobongi kabeh, sarta ngaturake yen ingkang rama lan Raden Gugur lolos, Patih Majapahit mati ana samadyaning papêrangan, Putri Cêmpa wis diaturi ngungsi mênyang Benang, wadya Majapahit sing wis têluk banjur padha dikon Islam.
Sunan Benang mirêngake ature Sang Prabu Jimbun, gumujêng karo manthuk-manthuk, sarta ngandika yen wis cocog karo panawange.
Sang Prabu matur, yen kondure uga mampir ing Ngampeldênta, sowan ingkang eyang Nyai Agêng Ngampel, ngaturake yen mêntas saka Majapahit, sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata, nanging ana ing Ngampel malah didukani sarta diuman-uman, ênggone ora ngrêti marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya, nanging sawise, banjur didhawuhi ngupaya ingkang rama, apa sapangandikane Nyai Agêng Ngampel diaturake kabeh marang Sunan Benang.
Sunan Benang sawise mirêngake ature Sang Nata ing batos iya kêduwung, rumaos lupute, dene ora ngelingi marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. Nanging rasa kang mangkono mau banjur dislamur ing pangandika, samudanane nyalahake Sang Prabu Brawijaya lan Patih, ênggone ora karsa salin agama Islam.
Sunan Benang banjur ngandika, yen dhawuhe Nyai Agêng Ngampel ora pêrlu dipanggalih, amarga panimbange wanita iku mêsthi kurang sampurna, luwih bêcik ênggone ngrusak Majapahit dibanjurake, yen Prabu Jimbun mituhu dhawuhe Nyai Ngampeldênta, Sunan Benang arêp kondur mênyang ‘Arab, wusana Prabu Jimbun banjur matur marang Sunan Benang, yen ora nglakoni dhawuhe Nyai Ngampel, mêsthine bakal oleh sabda kang ora bêcik, mula iya wêdi.
Sunan Benang paring dhawuh marang Sang Prabu, yen ingkang rama mêksa kondur mênyang Majapahit, Sang Prabu didhawuhi sowan nyuwun pangapura kabeh kaluputane, dene yen arêp ngaturi jumênêng Nata maneh, aja ana ing tanah Jawa, amarga mêsthi bakal ngribêdi lakune wong kang padha arêp salin agama Islam, supaya dijumênêngake ana seje nagara ing sajabaning tanah Jawa.
Sunan Giri banjur nyambungi pangandika, mungguh prayoganing laku supaya ora ngrusakake bala, Sang Prabu Brawijaya sarta putrane bêcik ditênung bae, awit yen mateni wong kapir ora ana dosane.
Sunan Benang sarta Prabu Jimbun wis nayogyani panêmune Sunan Giri kang mangkono mau.
Gênti kang cinarita, tindake Sunan kalijaga ênggone ngupaya Sang Prabu Brawijaya, mung didherekake sakabat loro lakune kêlunta-lunta, sabên desa diampiri, saka ênggone ngupaya warta. Lampahe Sunan Kalijaga turut pasisir wetan, sing kalangkungan tindake Sang Prabu Brawijaya.
Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis têkan ing Blambangan, sarehne wis kraos sayah banjur kendêl ana sapinggiring beji. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt, dene sing marak ana ngarsane mung kêkasih loro, iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon, abdi loro mau tansah gêguyon, lan padha mikir kahaning lêlakon kang mêntas dilakoni, ora antara suwe kêsaru sowanne Sunan Kalijaga, banjur ngabêkti sumungkêm padane Sang Prabu.
Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! kowe têka ana apa? Apa prêlune nututi aku?”
Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka, madosi panjênêngan paduka, kapanggiha wontên ing pundi-pundi, sêmbah sungkêmipun konjuka ing pada paduka Aji, nuwun pangaksama sadaya kasisipanipun, dene ngantos kamipurun ngrêbat kaprabon paduka Nata, awit saking kalimputing manah mudha punggung, botên sumêrêp tata krami, sangêt kapenginipun mêngku praja angreh wadyabala, sineba ing para bupati. Samangke putra paduka rumaos ing kalêpatanipun, dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyêngkakakên saking ngandhap aparing darajat Adipati ing Dêmak, tangeh malêsa ing sih paduka Nata, ing mangke putra paduka emut, bilih panjênêngan paduka linggar saking praja botên kantênan dunungipun, punika putra paduka rumaos yen mêsthi manggih dêdukaning Pangeran. Mila kawula dinuta madosi panjênêngan paduka, kapanggiha wontên ing pundi-pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit, têtêpa kados ingkang wau-wau, mêngku wadya sineba para punggawa, aweta dados jêjimat pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana, kinurmatan sinuwunan idi wilujêngipun wontên ing bumi. Manawi paduka kondur, putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata, putra paduka nyaosakên pêjah gêsang, yen kaparêng saking karsa paduka, namung nyuwun pangaksama paduka, sadayaning kalêpatanipun, lan nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing Dêmak, têtêpa kados ingkang sampun. Dene yen panjênêngan paduka botên karsa ngasta kaprabon Nata, sinaosan kadhaton wontên ing rêdi, ing pundi sasênênging panggalih paduka, ing rêdi ingkang karsakakên badhe dipundhêpoki, putra paduka nyaosi busana lan dhahar paduka, nanging nyuwun pusaka Karaton ing tanah Jawa, dipunsuwun ingkang rila têrusing panggalih”.
Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira, Sahid! nanging ora ingsun-gatekake, karana ingsun wis kapok rêmbugan karo santri padha nganggo mata pitu, padha mata lapisan kabeh, mula blero pandulune, mawas ing ngarêp nanging jêbul anjênggung ing buri, rêmbuge mung manis ana ing lambe, batine angandhut pasir kinapyukake ing mata, murih picêka mataku siji. Sakawit ingsun bêciki, walêse kaya kênyung buntut, apa ta salah-ingsun, têka rinusak tanpa prakara, tinggal tata adat caraning manusa, mukul pêrang tanpa panantang, iku apa nganggo tataning babi, dadi dudu tataning manusa kang utama”.
Sunan Kalijaga barêng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa ing kaluputane ênggone melu mbêdhah karaton Majapahit, ing batin bangêt panalangsane, dene kadudon kang wis kêbanjur, mula banjur ngrêrêpa, ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa dhatêng putra wayah, mugi dadosa jimat paripih, kacancang pucuking rema, kapêtêk wontên ing êmbun, mandar amêwahana cahya nurbuwat ingkang wêning, rahayunipun para putra wayah sadaya. Sarehning sampun kalêpatan, punapa malih ingkang sinuwun malih, kajawi namung pangapuntên paduka. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatêng pundi?”
Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Saiki karsaningsun arsa tindak mênyang Bali, kêtêmu karo yayi Prabu Dewa agung ing Kêlungkung, arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah, sikara wong tuwa kang tanpa dosa, lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah jawa, samêkta sakapraboning pêrang, lan Adipati Palembang sun-wehi wêruh, yen anake karo pisan satêkane tanah Jawa sun-angkat dadi Bupati, nanging ora wêruh ing dalan, banjur wani mungsuh bapa Ratu, sun-jaluk lilane anake arêp ingsun pateni, sabab murtat wani ing bapa kapindhone Ratu, lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing Cina, yen putrane wis patutan karo ingsun mêtu lanang siji, ananging ora wêruh ing dalan, wani mungsuh bapa ratu, iya ingsun-jaluk lilane, yen putune arsa ingsun-pateni, ingsun njaluk biyantu prajurit Cina, samêkta sakapraboning pêrang, njujuga nagari Bali. Yen wis samêkta sawadya prajurit, sarta padha eling marang lêlabêtan kabêcikaningsun, lan duwe wêlas marang wong wungkuk kaki-kaki, yêkti padha têka ing Bali sagêgamaning pêrang, sun-jak marang tanah Jawa angrêbut kapraboningsun, iya sanadyan pêrang gêdhe gêgêmpuran amungsuh anak, ingsun ora isin, awit ingsun ora ngawiti ala, aninggal carane wong agung.”
Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku ing sanalika mung dhêlêg-dhêlêg, ngandika sajroning ati: “Tan cidra karo dhawuhe Nyai Agêng Ngampelgadhing, yen eyang wungkuk isih mbrêgagah nggagahi nagara, ora nyawang wujuding dhiri, kulit kisut gêgêr wungkuk. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali, ora wurung bakal ana pêrang gêdhe tur wadya ing Dêmak masa mênanga, amarga katindhihan luput, mungsuh ratu pindho bapa, kaping têlune kang mbêciki, wis mêsthi bae wong Jawa kang durung Islam yêkti asih marang Ratu tuwa, angantêp tangkêping jurit, mêsthi asor wong Islam tumpês ing pêpêrangan.”
Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun Jêng Sang Prabu! saupami paduka lajêngna rawuh ing bali, nimbali para Raja, saestu badhe pêrang gêgêmpuran, punapa botên ngeman risakipun nagari Jawi, sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nêmahi kasoran, panjênêngan paduka jumênêng Nata botên lami lajêng surud, kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata, saupami kados dene sêgawon rêbatan bathang, ingkang kêrah tulus kêrah têtumpêsan sami pêjah sadaya daging lan manah kathêda ing sêgawon sanesipun”.
Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih, ingsun iki Ratu Binathara, nêtêpi mripat siji, ora nganggo mata loro, mung siji marang bênêr paningalku, kang miturut adat pranatane para lêluhur. Saupama si Patah ngrasa duwe bapa ingsun, kêpengin dadi Ratu, disuwun krananing bêcik, karaton ing tanah Jawa, iya sun-paringake krana bêcik, ingsun wis kaki-kaki, wis warêg jumênêng Ratu, nrima dadi pandhita, pitêkur ana ing gunung. Balik samêngko si Patah siya mring sun, mêsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni, luwih karsaning Jawata Gung, pamintane marang para titah ing wuri.”
Sunan Kalijaga barêng mirêng pangandikane Sang Prabu, rumasa ora kaconggah ngaturi, mula banjur nyungkêmi pada, sarta banjur nyaosake cundrike karo matur, yen Sang Prabu ora karsa nglampahi kaya ature Sunan Kalijaga, Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni bae, amarga lingsêm manawa mêruhi lêlakon kang saru.
Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono mau, panggalihe kanggêg, mula nganti suwe ora ngandika tansah têbah jaja karo nênggak waspa, sêrêt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik, tak-pikire sing bêcik, tak-timbange aturmu, bênêr lan lupute, têmên lan gorohe, amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh. Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit, si Patah seba mênyang aku, gêthinge ora bisa mari, amarga duwe bapa Buddha kawak kapir kupur, liya dina lali, aku banjur dicêkêl dibiri, dikon tunggu lawang pungkuran, esuk sore diprêdi sêmbahyang, yen ora ngrêti banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing.”
Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga: “Mara pikirên, Sahid! saiba susahing atiku, wong wis tuwa, nyêkrukuk, kok dikum ing banyu”.
Sunan Kalijaga gumujêng karo matur: “Mokal manawi makatên, benjing kula ingkang tanggêl, botên-botênipun manawi putra paduka badhe siya-siya dhatêng panjênêngan paduka, dene bab agami namung kasarah sakarsa paduka, namung langkung utami manawi panjênêngan paduka karsa gantos sarak rasul, lajêng nyêbut asmaning Allah, manawi botên karsa punika botên dados punapa, tiyang namung bab agami, pikêkahipun tiyang Islam punika sahadat, sanadyan salat dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrêtos sahadat punika inggih têtêp nama kapir”.
Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa, aku kok durung ngrêti, coba ucapna tak-rungokne”.
Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha ila’llah, wa ashadu anna Mukhammadar-Rasulu’llah, têgêsipun: Ingsung anêkseni, ora ana Pangeran kang sajati, amung Allah, lan anêkseni, Kangjêng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”.
Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nêmbah dhatêng arah kemawon, botên sumêrêp wujud têgêsipun, punika têtêp kapiripun, lan malih sintên tiyang ingkang nêmbah puji ingkang sipat wujud warni, punika nêmbah brahala namanipun, mila tiyang punika prêlu mangrêtos dhatêng lair lan batosipun. Tiyang ngucap punika kêdah sumêrêp dhatêng ingkang dipunucapakên, dene têgêsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan, dados badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir, muji badanipun piyambak, botên muji Mukhammad ing ‘Arab, raganipun manusa punika wêwayanganing Dzating Pangeran, wujud makam kubur rasa, Rasul rasa kang nusuli, rasa pangan manjing lesan, Rasule minggah swarga, lu’llah, luluh dados êndhut, kasêbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda salah, riningkês dados satunggal Mukhammad Rasula’llah, kang dhingin wêruh badan, kaping kalih wêruh ing têdhi, wajibipun manusa mangeran rasa, rasa lan têdhi dados nyêbut Mukhammad rasulu’llah, mila sêmbahyang mungêl “uzali” punika têgêsipun nyumêrêpi asalipun. Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi, rohipun Mukhammad Rasul, têgêsipun Rasul rasa, wijile rasaning urip, mêdal saking badan kang mênga, lantaran ashadualla, manawi botên mêngrêtos têgêsipun sahadat, botên sumêrêp rukun Islam, botên mangrêtos purwaning dumados”.
Sunan kalijaga ature akeh-akeh, nganti Prabu Brawijaya karsa santun agama Islam, sawise banjur mundhut paras marang Sunan Kalijaga nanging remane ora têdhas digunting, mulane Sunan Kalijaga banjur matur, Sang Prabu diaturi Islam lair batos, amarga yen mung lair bae, remane ora têdhas digunting. Sang Prabu banjur ngandika yen wis lair batos, mulane kêna diparasi.
Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan tak-tuturi, wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha, ngrasuk agama Islam, banjur nyêbut asmaning Allah Kang Sajati. Saka karsaku, kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha”.
Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, kula manawi tilêm ngantos 200 taun, sadangunipun kula tilêm tamtu wontên pêpêrangan sadherek mêngsah sami sadherek, ingkang nakal sami nêdha jalma, sami nêdha bangsanipun piyambak, dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, nêtêpi wiwit sapisan ngestokakên agami Buddha. Sawêg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. Jawi têgêsipun ngrêti, têka narimah nama Jawan, rêmên manut nunut-nunut, pamrihipun damêl kapiran muksa paduka mbenjing.”
Sabdane Wiku tama sinauran gêtêr-patêr.
Sang Prabu Brawijaya sinêmonan dening Jawata, ênggone karsa mlêbêt agama Rasul, iya iku rêrupan kahanan ing dunya ditambahi warna têlu: 1: aran sukêt Jawan, 2: pari Randanunut, lan 3: pari Mriyi.
Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kêkêncênganmu, apa gêlêm apa ora ninggal agama Buddha, salin agama Rasul, nyêbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi, lan nyêbut asmaning Allah Kang Sajati?”
Sabdapalon ature sêndhu: “Paduka mlêbêt piyambak, kula botên têgêl ningali watak siya, kados tiyang ‘Arab. Siya punika têgêsipun ngukum, tur siya dhatêng raga, manawi kula santun agami, saestu damêl kapiran kamuksan-kula, ing benjing, dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya, anggenipun ngalêm badanipun piyambak. Manawi kula, mastani botên urus, ngalêm saening tangga, ngapêsakên badanipun piyambak, kula rêmên agami lami, nyêbut Dewa Ingkang Linangkung.
Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa, sampun dados wajibipun manusa punika manut dhatêng eling budi karêpan, dados botên ngapirani, manawi nyêbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah, têgêse Mukhammad niku makaman kubur, kubure rasa kang salah, namung mangeran rasa wadhag wadhahing êndhut, namung tansah nêdha eca, botên ngengêti bilahinipun ing wingking, mila nami Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir, roh idlafi têgêsipun lapisan, manawi sampun risak wangsul dhatêng asalipun malih. Wangsul Prabu Brawijaya lajêng manggen wontên pundi. Adam punika muntêl kaliyan Hyang Brahim, têgêsipun kêbrahen nalika gêsangipun, botên manggih raos ingkang saestu, nanging tangining raos wujud badan, dipunwastani Mukhammadun, makaman kuburing rasa, jasanipun budi, dados sipatipun tiyang lan raos. Manawi dipunpundhut ingkang Mahakuwasa, sarira paduka sipate tiyang wujud dados, punika dadosipun piyambak, lantaranipun ngabên awon, bapa biyung botên damêl, mila dipunwastani anak, wontênipun wujud piyambak, dadosipun saking gaib samar, saking karsaning Latawalhujwa, ingkang nglimputi wujud, wujudipun piyambak, risak-risakipun piyambak, manawi dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa, namung kantun rumaos lan pangraos ingkang paduka-bêkta dhatêng pundi kemawon, manawi dados dhêmit ingkang têngga siti, makatên punika ingkang nistha, namung prêlu nênggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti, makatên wau têtêp botên wontên prêlunipun. Ingkang makatên punika amargi namung saking kirang budi kawruhipun, kala gêsangipun dereng nêdha woh wit kawruh lan woh wit budi, nrimah pêjah dados .........., nêdha siti ngajêng-ajêng tiyang ngirim sajen tuwin slamêtanipun, ing têmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatêng anak putunipun ingkang kantun. Tiyang pêjah botên kêbawah pranataning Ratu ing lair, sampun mêsthi sukma pisah kaliyan budi, manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan, nanging manawi tekadipun awon inggih nampeni siksanipun. Cobi paduka-jawab atur-kula punika”.
Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale, asal Nur bali marang Nur”.
Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang bingung gêsangipun rugi, botên gadhah kawruh kaengêtan, dereng nêdha woh kawruh lan budi, asal siji mantuk satunggal, punika sanes pêjah ingkang utami, dene pêjah ingkang utami punika sewu satus têlung puluh. Têgêsipun satus punika putus, têlu punika tilas, puluh punika pulih, wujud malih, wujudipun risak, nanging ingkang risak namung ingkang asal saking roh idlafi. Uripipun langgêng namung raga pisah kaliyan sukma, inggih punika sahadat ingkang botên mawi ashadu, gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mêsthi saking pundi asalipun wiwit dados jalmi. Surup têgêsipun: sumurup purwa madya wasananipun, nêtêpana namane tiyang lumampah, sampun ebah saking prênahipun mlêbêt mbêkta sir cipta lami”.
Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”. Sabdapalon matur: “Punika tiyang kêsasar, kados dene kêmladeyan tumemplek wit-witan agêng, botên bawa piyambak, kamuktenipun namung nêmpil. Punika botên pêjah utami, pêjahipun tiyang nistha, rêmênipun namung nempel, nunut-nunut, botên bawa piyambak, manawi dipuntundhung, lajêng klambrangan, dados brêkasakan, lajêng nempel dhatêng sanesipun malih”.
Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali, mênyang suwung, nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa, dadi patiku iya mangkono”.
Sabdapalon: “Punika pêjahipun tiyang kalap nglawong, botên iman ‘ilmi, nalika gêsangipun kados kewan, namung nêdha ngombe lan tilêm, makatên punika namung sagêd lêma sugih daging, dados nama sampun narimah ngombe uyuh kemawon, ical gêsangipun salêbêtipun pêjah”.
Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur, yen wis luluh dadi lêbu”.
Sabdapalon: “Inggih punika pêjahipun tiyang cubluk, dados .......... kuburan, nênggani daging wontên kuburan, daging ingkang sampun luluh dados siti, botên mangrêtos santun roh hidlafi enggal. Inggih punika tiyang bodho mangrêtosa. Nun!”
Sang Prabu ngandika: “Aku arêp muksa saragaku”.
Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul têrang botên sagêd muksa, botên kuwawi ngringkês nguntal raganipun, lêma kakathahên daging. Tiyang pêjah muksa punika cêlaka, amargi nami pêjah, nanging botên tilar jisim, namanipun botên sahadat, botên pêjah, botên gêsang, botên sagêd dados roh idlafi enggal, namung dados gunungan dhêmit”.
Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa, ora ikhtiar nampik milih, sakarsane Kang Maha Kuwasa”.
Sabdapalon: “Paduka nilar sipat, botên ngrumaosi yen tinitah linangkung, nilar wajibing manusa, manusa dipunwênangakên nampik milih, manawi sampun narimah dados sela, sampun botên prêlu pados ‘ilmi kamulyaning seda”.
Sang Prabu: “Ciptaku arêp mulih mênyang akhirat, munggah swarga seba Kang maha Kuwasa”.
Sabdapalon matur: “Akhirat, swarga, sampun paduka-bêkta ngaler ngidul, jagadipun manusa punika sampun mêngku ‘alam sahir kabir, nalika tapêl Adam, sampun pêpak: akhirat, swarga, naraka ‘arasy kursi. Paduka badhe tindak dhatêng akhirat pundi, mangke manawi kêsasar lo, mangka ênggene akhirat punika têgêse mlarat, saênggen- ênggen wontên akhirat, manawi kenging kula-singkiri, sampun ngantos kula mantuk dhatêng kamlaratan sarta minggah dhatêng akhirat adil nagari, manawi lêpat jawabipun tamtu dipunukum, dipunbanda, dipunpaksa nyambut damêl awrat tur botên tampa arta. Klêbêt akhirat nusa Srênggi, nusa têgêsipun manusa, Srêng têgêsipun padamêlan ingkang awrat sangêt. Ênggi têgêsipun gawe. Dados têgêsipun jalma pinêksa nyambut damêl dhatêng Ratu Nusa Srênggi namanipun, punapa botên cilaka, tiyang gêsang wontên ing dunya kados makatên wau, sakulawargane mung nadhah bêras sapithi, tanpa ulam, sambêl, jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair, manawi akhiratipun tiyang pêjah malah langkung saking punika, paduka sampun ngantos kondur dhatêng akhirat, sampun ngantos minggah dhatêng swarga, mindhak kêsasar, kathah rajakaya ingkang wontên ing ngriku, sadaya sami trima tilêm kêmul siti, gêsangipun nyambut damêl kanthi paksan, botên salah dipunpragat, paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah, amargi Gusti Allah punika botên kantha botên warna, wujudipun amung asma, nglimputi wontên ing dunya tuwin ing akhirat, paduka dereng têpang, têpangipun amung têpang kados cahyanipun lintang lan rêmbulan, kapanggihe cahya murub dados satunggal, botên pisah botên kumpul, têbihipun botên mawi wangênan, cêlak botên panggihan, kula botên kuwawi cêlak, punapa malih paduka, Kangjêng Nabi Musa toh botên kuwawi mandêng dhatêng Gusti Allah, mila Allah botên katingal, namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud, paduka wiji rohani, sanes bangsanipun malaekat, manusa raganipun asal saking nutfah, sowan Hyang Latawalhujwa, manawi panggenanipun sampun sêpuh, nyuwun ingkang enggal, dados botên wongsal-wangsul, ingkang dipunwastani pêjah gêsang, ingkang gêsang napasipun taksih lumampah, têgêsipun urip, ingkang têtêp langgêng, botên ewah botên gingsir, ingkang pêjah namung raganipun, botên ngraosakên kanikmatan, pramila tumrap tiyang agami Buddha, manawi raganipun sampun sêpuh, suksmanipun mêdal nyuwun gantos ingkang sae, nglangkungi ingkang sampun sêpuh, nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun, jagadipun manusa punika langgêng, botên ewah gingsir, ingkang ewah punika makaming raos, raga wadhag ingkang asal roh idlafi.
Prabu Brawijaya botên anem botên sêpuh, nanging langgêng manggen wontên satêngahipun jagadipun, lumampah botên ebah saking panggenanipun, wontên salêbêting guwa sir cipta kang êning. Gawanên gêgawanmu, ngGêgawa nêdha raga. Tulis ical, etangan gunggunge: kumpul, plêsatipun wêtaha. Ningali jantung kêtêg kiwa: surut marga sire cipta, jujugipun ingkang cêtha cêthik cêthak. Punika pungkasanipun kawruh, kawruhipun tiyang Buddha. Lêbêtipun roh saking cêthak marginipun, kendêl malih wontên cêthik, mêdal wontên kalamwadi, kentir sagara rahmat lajêng lumêbêt ing guwa indra-kilaning estri, tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat, wontên ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya, dadosipun saking sabda kun, dados wontên têngahing jagad swarganing tiyang sêpuh estri, mila jalma keblatipun wontên têngahing jagad, jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun, dipunbêkta dhatêng pundi- pundi botên ewah, umuripun sampun dipunpasthekakên, botên sagêd ewah gingsir, sampun dipunsêrat wontên lokhil-makful, bêgja cilakanipun gumantung wontên ing budi nalar lan kawruhipun, ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bêgjanipun. Wiwitanipun keblat sakawan, inggih punika wetan kilen kidul ler : têgêsipun wetan : wiwitan manusa maujud; têgêsipun kulon : bapa kêlonan; têgêsipun kidul : estri didudul wêtênge ing têngah; têgêsipun lor : laire jabang bayi, tanggal sapisan kapurnaman, sênteg sapisan tênunan sampun nigasi. Têgêsipun pur: jumbuh, na; ana wujud, ma; madhêp dhatêng wujud; jumbuh punika têgêsipun pêpak, sarwa wontên, mêngku alam sahir kabir, tanggalipun manusa, lairipun saking tiyang sêpuhipun estri, sarêng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarêp adhi ragil, kakang mbarêp punika kawah, adhi punika ari-ari, sadherek ingkang sarêng tanggal gaibipun, rumêksa gêsangipun elingipun panjanmaning surya, lênggah rupa cahya, kontêning eling sadayanipun, siyang dalu sampun sumêlang dhatêng sadaya rêrupen, ingkang engêt sadayanipun, surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin, sapunika lan benjing, punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buddha. Raga punika dipunibaratakên baita, dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontên ing baita wau, ingkang nêdahakên pandomipun, manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun, tamtu manggih cilaka, baita pêcah, tiyangipun rêbah. Pramila kêdah ingkang mapan, mumpung baitanipun taksih lumampah, manawi botên mapan gêsangipun, pêjah malih sagêda mapan, nêtêpi kamanusanipun, manawi baitanipun bibrah, inggih pisah kaliyan tiyangipun; têgêsipun suksma ugi pisah kaliyan budi, punika namanipun sahadat, pisahipun kawula kaliyan Gusti, sah têgêsipun pisah, dat punika Dzating Gusti, manawi sampun pisah raga suksma, budinipun lajêng santun baitu’llah, napas tali, muji dhatêng Gusti, manawi pisaha raga suksma lan budi, mrêtitis ingkang botên-botên, yen tunggal, kabêsaran, tanggalipun botên surup salaminipun, punika kêdah ingkang waspada, ngengêtana dhatêng asaling kawula, kawula ugi wajib utawi wênang matur dhatêng Gusti, nyuwun baitu’llah ingkang enggal, ngungkulana ingkang lami. Raganing manusa punika namanipun baitu’llah, inggih prau gaweyaning Allah, dadosipun saking sabda kun, manawi baitanipun tiyang Jawi sagêd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae, baitanipun tiyang Islam gêsangipun kantun pangrasa, praunipun sampun rêmuk, manawi suksma punika pêjah ing ‘alam dunya suwung, botên wontên tiyang, manawi tiyang punika têrus gêsang, ing dunya kêbak manusa, lampahipun saking ênem urut sêpuh, ngantos roh lapisan, sanadyan suksmanipun tiyang, nanging manawi tekadipun nasar, pêjahipun manjalma dados kuwuk, sanadyan suksmanipun kewan, nanging sagêd manjalma dados tiyang (kajêngipun, adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak). Nalika panjênênganipun Bathara Wisnu jumênêng Nata wontên ing Mêndhang Kasapta, sato wana tuwin lêlêmbut dipuncipta dados manusa, dados wadya-balanipun Sang Nata. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontên ing Gajahoya, sato wana tuwin lêlêmbut inggih dipuncipta dados tiyang, pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun beda-beda, gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. Sêrat tapak Hyang, ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat, dados saking sabda kun, ingkang dipunwastani jithok têgêsipun namung puji thok. Dewa ingkang damêl cahya murub nyrambahi badan, têgêsipun incêngên aneng cêngêlmu. Jiling punika puji eling marang Gusti. Punuk têgêsipun panakna. Timbangan têgêsipun salang. Pundhak punika panduk, urip wontên ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi, manawi angsal woh kuldi kathah, untungipun sugih daging, yen angsal woh kawruh kathah, kenging kangge sangu gêsang, gêsang langgêng ingkang botên sagêd pêjah. Têpak têgêsipun têpa-tapanira. Walikat: walikane gêsang. Ula-ula: ulatana, lalarên gêgêrmu sing nggligir. Sungsum têgêsipun sungsungên. Lambung: waktu Dewa nyambung umur, alamipun jalma sambungan, lali eling urip mati. Lêmpeng kiwa têngên têgêsipun tekadmu sing lêmpêng lair batin, purwa bênêr lawan luput, bêcik lawan ala. Mata têgêsipun tingalana batin siji, sing bênêr keblatira, keblat lor bênêr siji. Têngên têgêsipun têngênên ingkang têrang, wontên ing dunya amung sadarmi ngangge raga, botên damêl botên tumbas. Kiwa têgêsipun: raga iki isi hawa kêkajêngan, botên wênang ngêkahi pêjah. Makatên punika ungêling sêrat. Manawi paduka maibên, sintên ingkang damêl raga? Sintên ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa, manawi paduka maibên, paduka têtêp kapir, kapiran seda paduka, botên pitados dhatêng sêratipun Gusti, sarta murtat dhatêng lêluhur Jawi sadaya, nempel tosan, kajêng sela, dados dhêmit têngga siti, manawi paduka botên sagêd maos sastra ingkang wontên ing badanipun manusa, saseda paduka manjalma dhatêng kuwuk, dene manawi sagêd sagêd maos sastra ingkang wontên ing raga wau, saking tiyang inggih dados tiyang, kasêbut ing sêrat Anbiya, Kanjêng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pêjah wontên ing kubur, lajêng tangi malih, gêsangipun gantos roh lapis enggal, gantos makam enggal. Manawi paduka ngrasuk agami Islam, tiyang Jawi tamtu lajêng Islam sadaya. Manawi kula, wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub, sampun jumbuh dados satunggal, inggih nglêbêt inggih jawi, dados kantun sasêdya-kula kemawon, ngadam utawi wujud sagêd sami sanalika, manawi kula kêpengin badhe wujud, inggih punika wujud-kula, sêdya ngadam, inggih sagêd ical sami sanalika, yen sêdya maujud sagêd katingal sanalika. Raga-kawula punika sipating Dewa, badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon, sampun kalingan pajar, saking pajaripun ngantos sampun botên katingal wujudipun Sabdapalon, kantun asma nglimputi badan, botên ênem botên sêpuh, botên pêjah botên gêsang, gêsangipun nglimputi salêbêting pêjahipun, dene pêjahipun nglimputi salêbêting gêsangipun, langgêng salaminipun”.
Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngêndi Pangeran Kang Sajati?”
Sabdapalon matur: “Botên têbih botên cêlak, paduka wayangipun wujud sipating suksma, dipunanggêp sarira tunggal, budi hawa badan, tiga-tiga punika tumindakipun; botên pisah, nanging inggih botên kumpul. Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botên badhe kêkilapan dhatêng atur-kula punika”.
Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?”
Sabdapalon ature sêndhu: “Manut agami lami, dhatêng agami enggal botên manut! Kenging punapa paduka gantos agami têka botên nantun kula, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.”
Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki, aku wis kêbacut mlêbu agama Islam, wis disêkseni Sahid, aku ora kêna bali agama Buddha maneh, aku wirang yen digêguyu bumi langit.”
Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun, lakar paduka-lampahi piyambak, kula botên tumut-tumut.” Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu, kang surasane ora prêlu manggalih kang akeh-akeh, amarga agama Islam iku mulya bangêt, sarta matur yen arêp nyipta banyu kang ana ing beji, prêlu kanggo tandha yêkti, kapriye mungguh ing gandane. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi, iku tandha yen Sang Prabu wis mantêp marang agama Rasul, nanging yen gandane ora wangi, iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. Sunan Kalijaga banjur nyipta, padha sanalika banyu sêndhang banjur dadi wangi gandane, ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu, kaya kang wis kathandha, yen Sang Prabu nyata wis mantêp marang agama Rasul, amarga banyu sêndhang gandane wangi. (11)
Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasêkten punapa? kasêktening uyuh kula wingi sontên, dipunpamerakên dhatêng kula. Manawi kula timbangana nama kapilare, mêngsah uyuh-kula piyambak, ingkang kula rêbat punika? Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. Manawi kula sumêdya ngêdalakên kaprawiran, toya kula-êntut sêpisan kemawon, sampun dados wangi. Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, adi Guru namung ngideni kemawon, ing wêkdal samantên tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing, saking agênging latu ingkang wontên ing ngandhap siti, rêdi-rêdi sami kula êntuti, pucakipun lajêng anjêmblong, latunipun kathah ingkang mêdal, mila tanah Jawi lajêng botên goyang, mila rêdi-rêdi ingkang inggil pucakipun, sami mêdal latunipun sarta lajêng wontên kawahipun, isi wedang lan toya tawa, punika inggih kula ingkang damêl, sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa, ingkang damêl bumi lan langit. Punapa cacadipun agami Buddha, tiyang sagêd matur piyambak dhatêng Ingkang Maha Kuwasa. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.
Cobi paduka-yêktosi, benjing: sasi murub botên tanggal, wiji bungkêr botên thukul, dipuntampik dening Dewa, tinanêma thukul mriyi, namung kangge têdha pêksi, mriyi punika pantun kados kêtos, amargi paduka ingkang lêpat, rêmên nêmbah sela. Paduka-yêktosi, benjing tanah Jawa ewah hawanipun, wêwah bênter awis jawah, suda asilipun siti, kathah tiyang rêmên dora, kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata, jawah salah masa, damêl bingungipun kanca tani. Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda, amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. Benjing yen sampun mrêtobat, sami engêt dhatêng agami Buddha malih, lan sami purun nêdha woh kawruh, Dewa lajêng paring pangapura, sagêd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”.
Sang Prabu mirêng ature Sabdapalon, ing batos rumaos kaduwung bangêt dene ngrasuk agama Islam, nilar agama Buddha. Nganti suwe ora ngandika, wasana banjur ngandika, amratelakake yen ênggone mlêbêt agama Islam iku, amarga kêpencut ature putri Cêmpa, kang ngaturake yen wong agama Islam iku, jarene besuk yen mati, antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir.
Sabdapalon matur, angaturake lêpiyan, yen wiwit jaman kuna mula, yen wong lanang manut wong wadon, mêsthi nêmu sangsara, amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah, ora wênang miwiti karêp, Sabdapalon akeh-akeh ênggone nutuh marang Sang Prabu.
Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe, amarga barang wis kêbacut, saiki mung kowe kang tak-tari, kapriye kang dadi kêkêncênganing tekadmu? Yen aku mono ênggonku mlêbu agama Islam, wis disêkseni dening si Sahid, wis ora bisa bali mênyang Buddha mêneh”.
Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.
Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nêngêri banyu sêndhang, yen gandane mari wangi, besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh.
Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa, sijine diiseni banyu sêndhang. Banyu sêndhang mau kanggo tandha, yen gandane mari wangi, wong tanah Jawa padha salin agama kawruh. Bumbung sawise diiseni banyu, banjur disumpêli godhong pandan-sili, sabanjure digawa sakabate loro.
Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro, tindake kawêngen ana ing dalan, nyare ana ing Sumbêrwaru, esuke bumbunge dibukak, banyune diambu isih wangi, nuli mbanjurake tindake, wayah surup srêngenge, wis têkan ing Panarukan. Sang Prabu nyare ana ing kono, ing wayah esuk, banyu ing bumbu diganda isih wangi, Sang Prabu mbanjurake tindake.
Barêng wis wayah surup srêngenge, têkan ing Bêsuki, Sang Prabu uga nyare ana ing kono, esuke banyu ing bumbung diganda mundhak wangine, Sang Prabu banjur nêrusake tindake nganti wayah surup srêngenge, têkan ing Prabalingga, ana ing kono uga nyare sawêngi, esuke banyune ditiliki, banyune tawa isih enak, nanging munthuk, unthuke gandane arum, nanging mung kari sathithik, amarga kêrêp diunjuk ana ing dalan, dene banyune sêndhang barêng ditiliki gandane dadi bangêr, tumuli dibuwang. Sang Prabu banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jênênge loro, Prabalingga karo Bangêrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintêran lan kabatinan, Prabalingga têgêse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”. Sang Prabu mbanjurake tindake, ing pitung dinane, wis têkan ing Ampelgadhing. Nyai Agêng Ampelgadhing tumuli mêthukake banjur ngabêkti marang Sang Prabu karo muwun, sarta akeh-akeh sêsambate.
Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis êngger, mupusa yen kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa, kudu mangkene. Aku lan kowe mung sadarma nglakoni, kabeh lêlakon wis ditulis aneng lokhilmakful. Bêgja cilaka ora kêna disinggahi, nanging wajibe wong urip kudu kêpengin mênyang ilmu”.
Nyai Agêng Ampel banjur matur marang Sang Prabu, ngaturake patrape ingkang wayah Prabu Jimbun, kaya kang wis kasêbut ing ngarêp. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. Nyai Ampel nuli utusan mênyang Dêmak nggawa layang, satêkane ing Dêmak, layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun, ora antara suwe Prabu Jimbun budhal sowan mênyang Ampel.
Kacarita putra Nata ing Majapahit, kang aran Raden Bondhankajawan ing Tarub, mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak, malah Sang Prabu lolos saka jroning pura, ora karuhan mênyang ngêndi tindake, rumasa ora kapenak panggalihe, banjur tindak marang Majapahit, tindake Raden Bondhankajawan namur kula, nungsung warta ing ngêndi dununge ingkang rama, satêkane Surabaya, mirêng warta yen ingkang rama Sang Prabu têdhak ing Ampel, nanging banjur gêrah, Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabêkti.
Sang Prabu ndangu: “Sing ngabêkti iki sapa?”
Raden Bondhankajawan matur yen panjênêngane kang ngabêkti.
Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra, gêrahe Sang Prabu sangsaya mbatêk, ngrumaosi yen wis arêp kondur marang jaman kalanggêngan, pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid, nyêdhaka mrene, aku wis arêp mulih marang jaman kalanggêngan, kowe gaweya layang mênyang Pêngging lan Pranaraga, mêngko tak-wenehane tandha asta, wis padha narima rusake Majalêngka, aja padha ngrêbut kapraboningsun, kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci, aja padha pêrang, mundhak gawe rudahing jagad, balik padha ngemana rusaking wadya-bala, sebaa marang Dêmak, sapungkurku sing padha rukun, sapa sing miwiti ala, tak-suwun marang Kang maha Kuwasa, yudane apêsa.”
Sunan Kalijaga banjur nyêrat, sawise rampung banjur ditapak-astani dening sang Prabu, sabanjure diparingake marang Pêngging lan Pranaraga.
Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid, sapungkurku kowe sing bisa momong marang anak putuku, aku titip bocah iki, saturun-turune êmongên, manawa ana bêgjane, besuk bocah iki kang bisa nurunake lajêre tanah Jawa, lan maneh wêkasku marang kowe, yen aku wis kondur marang jaman kalanggêngan, sarekna ing Majapahit sa-lor-wetane sagaran, dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jênêng Sastrawulan, lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri Cêmpa, lan maneh wêlingku, besuk anak-putuku aja nganti entuk liya bangsa, aja gawe senapati pêrang wong kang seje bangsa.”
Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang Prabu botên paring idi dhatêng ingkang putra Prabu Jimbun jumênêngipun Nata wontên ing tanah Jawi?”
Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi, nanging mung mandhêg têlung turunan.”
Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh têgêse araning bakal pasareyane Sang Prabu.
Sang Prabu ngandika: “Sastra têgêse tulis, Wulan têgêse damaring jagad, tulise kuburku mung kaya gêbyaring wulan, yen isih ana gêbyaring wulan, ing têmbe buri, wong Jawa padha wêruh yen sedaku wis ngrasuk agama Islam, mula tak-suwurake Putri Cêmpa, amarga aku wis diwadonake si Patah, sarta wis ora dianggêp priya, nganti kaya mangkene siya-siyane marang aku, mulane ênggonku mangêni madêge Ratu mung têlung turunan, amarga si Patah iku wiji têlu, Jawa, Cina lan raksasa, mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake, mula wêkasku, anak-putuku aja entuk seje bangsa, amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane, bisaa ngapêsake urip, mula aku paring piwêling aja gawe senapati pêrang wong kang seje jinis, mundhak ngenthengake Gustine, ing sajroning mangun yuda, banjur mangro tingal, wis Sahid, kabeh pitungkasku, tulisên.”
Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono, astane banjur sidhakêp, têrus seda, layone banjur disarekake ana ing astana Sastrawulan ing Majapahit, katêlah nganti saprene kocape kang sumare ana ing kono iku Sang Putri Cêmpa, dene mungguh satêmêne Putri Cêmpa iku sedane ana ing Tuban, dununing pasareyan ana ing Karang Kumuning.
Barêng wis têlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya, kacarita Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai Agêng.
Nyai Agêng ngandika: “Wis bêgjane Prabu Jimbun ora nungkuli sedane ingkang rama, dadi ora bisa ngabêkti sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata, sarta nyuwun pangapura kabeh kaluputane kang wis kêlakon”.
Prabu Jimbun ature marang Nyai Agêng, iya mung mupus pêpêsthen, barang wis kêbacut iya mung kudu dilakoni.
Sultan Dêmak ana ing Ampel têlung dina lagi kondur.
Kacarita Adipati Pêngging lan Pranaraga, iya iku Adipati Andayaningrat ing Pêngging lan Bathara katong ing Pranaraga, wis padha mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak, nanging êngg
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
Re: DARMAGANDHUL
« Reply #6 on: February 25, 2010, 12:18:58 pm »
Kacarita Adipati Pêngging lan Pranaraga, iya iku Adipati Andayaningrat ing Pêngging lan Bathara katong ing Pranaraga, wis padha mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak, nanging ênggone mbêdhah sinamun sowan riyaya, dene ingkang rama Sang Prabu lan putra Raden Gugur lolos saka praja, ora karuhan jujuge ana ing ngêndi, Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga bangêt dukane, mula banjur dhawuh ngundhangi para wadya sumêdya nglurug pêrang marang Dêmak, labuh bapa ngrêbut praja, para wadya-bala wis rumanti gêgamaning pêrang pupuh, mung kari budhale bae, kasaru têkane utusane Sang Prabu maringake layang. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga sawise tampa layang lan diwaos, layang banjur disungkêmi kanthi bangêt ing pamuwune lan bangêt anjêntung panggalihe, tansah gedheg-gedheg lan gêrêng-gêrêng, wajane kêrot-kêrot, surya katon abang kaya gêni, lan kawiyos pangandikane sêru, kang surasane nyupatani marang panjênêngane dhewe, muga aja awet urip, mundhak ndêdawa wirang.
Adipati sakarone padha puguh ora karsa sowan marang Dêmak, amarga saka putêking panggalihe banjur padha gêrah, ora antara lawas padha nêmahi seda, dene kaol kang gaib, sedane Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga padha ditênung dening Sunan Giri, pamrihe supaya aja ngribêdi ing têmbe buri. Mula carita bêdhahe Majapahit iku mung dicêkak, ora satimbang karo gêdhene nagara sarta ambane jajahane, amarga aran ambuka wêwadining ratu, putra mungsuh bapa, yen dirasa satêmêne saru bangêt. Mula carita bêdhahe Majapahit sinêmonan dening para pujangga wicaksana, mangkene pasêmone:
1] Amarga saka kramate para Wali, kêrise Sunan Giri ditarik mêtu tawone ngêntupi wong Majapahit.
[2] Sunan Cirêbon badhonge mêtu tikuse maewu-ewu, padha mangani sangu lan bêkakas jaran, wong Majapahit bubar, amarga wêruh akehing tikus.
[3] Pêthi saka Palembang ana satêngahing paprangan dibukak mêtu dhêmite, wong Majapahit padha kagegeran amarga ditêluh ing dhêmit.
[4] Sang Prabu Brawijaya sedane mekrad.
Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi marang muride kang aran Darmagandhul, kaya kang kapratelakake ing ngisor iki: Kabeh mau mung pasêmon, mungguh sanyatane, carita bêdhahing Majapahit iku kaya kang tak-caritakake ing ngarêp. Nagara Majapahit iku rak dudu barang kang gampang rusake, ewadene bisa rusak mung amarga dikritiki tikus. Lumrahe tawon iku bubar amarga saka dipangan ing wong. Alas angkêr akeh dhêmite, bubaring dhêmit yen alase dirusak dening wong, arêp ditanduri. Nanging yen Majapahit rusake amarga saking tikus, tawon lan dhêmit, sapa kang ngandêl yen rusake Majapahit amarga tikus, tawon lan dhêmit, iku pratandha yen wong mau ora landhêp pikire, amarga carita kang mangkono mau kalêbu aneh lan ora mulih ing nalar, ora cocog lair lan batine, mula mung kanggo pasêmon, yen dilugokake jênênge ambukak wadine Majapahit, mula mung dipralambangi pasêmon kang orang mulih karo nalare. Dene têgêse pasêmon mau mangkene:
Tikus iku watake ikras-ikris, suwe-suwe yen diumbar banjur ngrêbda, têgêse: para ‘ulama dhek samana, nalika lagi têkane nyuwun panguripan marang sang Prabu ing Majapahit, barêng wis diparingi, piwalêse ngrusak. Tawon iku nggawa madu kang rasane manis, gêgamane ana ing silit, dene panggonane ana ing gowok utawa tala, têgêse: maune têkane nganggo têmbung manis, wusana ngêntup saka ing buri, dene tala têgêse mêntala ngrusak Majapahit, sapa kang ngrungu padha gawok.
Dene dhêmit diwadhahi pêthi saka Palembang, barêng dibukak muni jumêglug, têgêse: Palembang iku mlembang, iya iku ganti agama, pêthi têgêse wadhah kang brukut kanggo madhahi barang kang samar, dhêmit têgêse samar, rêmit, rungsid, dhêmit iku uga tukang nêluh. Mungguh gênahe mangkene: bêdhahe nagara Majapahit sarana ditêluh kalayan primpên lan samar, nalika arêp pambêdhahe ora ana rêmbag apa-apa, samudanane mung sowan garêbêbro, dadi dikagetake, mula wong Majapahit ora sikêp gêgaman pêrang, wêruh-wêruh Adipati Têrung wis ambantu Adipati Dêmak.
Kuna-kunane ora ana praja gêdhe kaya Majapahit bêdhahe mung saka diêntup ing tawon sarta dikritiki ing tikus bae, apa dene bubare wong sapraja mung saka ditêluh ing dhêmit.
Bêdhahe Majapahit swarane jumêgur, kêprungu saka ing ngêndi-êndi nagara, yen bêdhahe saka binêdhah dening putra, iya iku Wali wolu utawa Sunan wolu kang padha dimêmule wong Jawa, sangane Adipati Dêmak, kabeh mau padha mbalela mbalik.
Banjure maneh pangandikane kiyai Kalamwadi: Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi, sadurunge Majapahit bêdhah, manuk kuntul iku durung ana kang nganggo kucir, barêng nagara wis ngalih marang Dêmak, kahanan ing dunya nuli malih, banjur ana manuk kuntul nganggo kucir.
Prabu Brawijaya sinêmonan ing gaib: kêbo kombang atine êntek dimangsa tuma kinjir, kêbo têgêse ratu sugih, kombang têgêse mênêng swarane kang mbrêngêngêng, iya iku Prabu Brawijaya panggalihe têlas nalika bêdhahe Majapahit, kajaba mung kendêl gêrêng-gêrêng bae, ora karsa nglawan pêrang, dene tuma kijir iku tumane celeng, tuma têgêse tuman, celeng iku iya aran andhapan, iya iku Raden Patah nalika têkane ana ing Majapahit sumungkêm marang ingkang rama Sang Prabu, ing wêktu iku banjur diparingi pangkat, têgêse oleh ati saka Sang Prabu, wusana banjur mukul pêrang ngrêbut nagara, ora ngetung bênêr utawa luput, nganti ngêntekake panggalihe Sang Prabu.
Dene kuntul nganggo kucir iku pasêmone Sultan Dêmak, ênggone nyêri-nyêri marang ingkang rama Sang Prabu, dumeh agamane Buddha kawak kapir kupur, mulane Gusti Allah paring pasêmon, githok kuntul kinuciran, têgêse: tolehên githokmu, ibumu Putri Cina, ora kêna nyêri-nyêri marang wong seje bangsa, Sang Prabu Jimbun iku wiji têlu, purwane Jawa, iya iku Sang Prabu Brawijaya, mula Sang Prabu Jimbun gêdhe panggalihe melik jumênêng Nata, mulane melik ênggal sugih, amarga katarik saka ibune, dene ênggone kêndêl nanging tanpa duga iku saka wijine Sang Arja Damar, amarga Arja Damar iku ibune putri raksasa, sênêng yen ngokop gêtih, pambêkane siya, mula ana kuntul nganggo kucir iku wis karsaning Allah, ora mung Sunan Dêmak dhewe bae kang didhawuhi ngrumasani kaluputane, nanging sanadyan para Wali liyane uga didhawuhi ngrumasani, yen ora padha gêlêm ngrumasani kaluputane, dosane lair batin, mula jênênge Wali ditêgêsi Walikan: dibêciki malês ngalani.
Dene anane bangsa Cina padha nênêka ana ing tanah Jawa iku dêdongengane mangkene: Jare, dhek jaman kuna, nalika santri Jawa durung akeh kawruhe, sawise padha mati, suksmane akeh kang katut angin banjur thukul ana ing tanah China, mula saiki banjur padha bali mulih marang tanah Jawa, dadi suksmane bangsa mau, iku mau-maune iya akeh kang suksma Jawa.
Darmagandhul matur: “kiyai! Kang diarani agama Srani iku kang kaya apa?”
Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake: “Kang diarani agama Srani iku têgêse sranane ngabêkti: têmên-têmên ngabêkti marang Pangeran, ora nganggo nêmbah brahala, mung nêmbah marang Allah, mula sêbutane Gusti Kanjêng Nabi ‘Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, mangkono kang kasêbut ing kitab Anbiya”.
Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi.
Sultan Dêmak waskitha ing gaib, rumaos kadukan dening Kang Maha Kuwasa, mula banjur ngrumaosi kabeh kaluputane, nuli sowan andêdagan ana ing pasareyane ingkang rama, barêng wis antara têlung dina lawase, kaprênah pusêring kuburan tanpa sangkan thukul wit-witan warna papat, siji warnane irêng sêmu abang dalah godhong sarta kêmbange, loro wit sarta kêmbange putih godhonge sêdhêngan, têlu wit kang godhonge ngrêmbuyut mubêng kaya payung, papat wit kang godhonge lêmbut sarta mawa êri, lan wêktu iku sajroning pasareyane Sang Prabu kêprungu ana swara dumêling, mangkene ujaring swara: “Êntek katrêsnanku marang anak. Den enak mangan turu. Ana gajah digêtak kaya kucing, sanajan matiya ing tata-kalairane, nanging lah eling-elingên ing besuk, yen wis agama kawruh, ing têmbe bakal tak-walês, tak-ajar wêruh ing nalar bênêr lan luput, pranatane mêngku praja, mangan babi kaya dhek jaman Majapahit.”
Sultan Dêmak mirêng swara dumêling kang surasane mangkono iku, ing batos bangêt kaduwung marang apa kang wis dilampahi, mula nganti suwe njêgrêg ora bisa ngandika, ngrumaosi klirune dene nuruti rêmbuge para Sunan kabeh, nganti wani mungsuh ingkang rama sarta ngrusak Majapahit. Iya wiwit titi masa iku anane wit-witan warna papat kang padha thukul ana ing kuburan, dadi pasêmon kabeh, iya iku Tlasih, Sêmboja, Turugajah lan Gêtakkucing. Mula nganti tumêka saprene wit Sêmboja panggonane ana ing kuburan, kêmbang Tlasih kanggo ngirim para lêluhur, godonge Gêtakkucing yen kasenggol banjur obah, godhonge uga banjur mingkup kaya dene godhong Gêtakkucing.
Sawise mangkono, Sultan Dêmak banjur kondur, sakondure saka pasareyane ingkang rama, bangêt panalangsane ing dalêm batos, tansah ngrumaosi ing kalêpatane.
Sunan Kalijaga uga waskitha ing gaib yen sinêmonan dening Kang Maha Kuwasa, mula uga bangêt panalangsane sarta ngrumaosi kaluputane, mula banjur mangagêm sarwa wulung, beda karo para Wali liyane isih padha manganggo sarwa putih. Kabeh mau ora padha ngrumasani kaluputane, mung Sunan Kalijaga piyambak rumaos yen kadukan dening Kang Maha Kuwasa, mula bangêt mrêtobate, wasana banjur pinaringan pangapura dening Allah, sinêmonan wiwit anane orong-orong githoke tumêka ing punuk disêsêli tataling kayu jati, mungguh karêpe: punukmu panakna, sajatining ‘ilmu iku ora susah maguru marang wong ‘Arab, ‘ilmuning Gusti Allah wis ana ing githokmu dhewe-dhewe,wujude puji thok, nanging dudu puji jatining kawruh, kang ngawruhi sajatining urip, urip dadi wayangan Dzating Pangeran, manusa bisa apa, mobah mosik mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake, sabda iku mêtu saka ing karêp, karêp mêtu saka ing budi, budi iku Dzate Kang Maha Agung, agung iku wis samêkta, tanpa kurang tan wuwuh, tanpa luwih sarta ora arah ora ênggon.
Kiyai kalamwadi nutugake caritane: “Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi mangkene: mungguh kang katarima, muji marang Allah iku, iku sindhenan Dharudhêmble. Têmbung dhar iku têgêse wudhar, ru iku têgêse ruwêt sulit lan rungsit, dene dhêmble têgêse dhêmbel dadi siji, yen wis sumurup têpunge sarat sari’at tarekat hakekat lan ma’rifat, iku mau wis muji tanpa ngucap, sarak iku sarate ngaurip, iya iku nampik milih iktiyar lan manggaota, sari’at iku saringane kawruh agal alus, tarekat iku kang nimbang lan nandhing bênêr lan luput, hakekat iku wujud, wujud karsaning Allah, kang ngobahake sarta ngosikake rasane budi, wêruh ora kasamaran ing sawiji-wiji. Yen kowe wis ngrêti marang têgêse Dharudhêmble, mêsthi wis marêm marang kawruhmu dhewe. Mangan woh kawruh lan budi, sêmbahe kaya wêsi kang dilabuh ana ing gêni ilang abange mung rupa siji, kang muji lan kang dipuji wis nunggal dadi sawiji, dhêmble wujud siji. Yen kowe wis bisangawruhi surasane kang tak-kandhakake iki, jênênge munajad. Saupama wong nulup manuk, yen ra wêruh prênahe manuke, masa kênaa, ênggone nulup mung ngawur. Yen kawruhe wong pintêr ora angel yen disawang, mêtune saka ing utêk”.
Darmagandhul matur, nyuwun ditêrangake bab ênggone Nabi Adam lan Babu Kawa padha kêsiku dening Pangeran, sabab saka ênggone padha dhahar wohe kayu Kawruh kang ditandur ana satêngahing taman Pirdus. Ana maneh kitab kang nêrangake, kang didhahar Nabi Adam lan Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur ana ing swarga. Mula nyuwun têrange, yen ing kitab Jawa caritane kapriye, kang nyêbutake kok mung kitab ‘Arab lan kitabe wong Srani.
Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake, yen kitabe wong Jawa ora nyêbutake bab mangkono iku, dene Sajarah Jawa iya ana kang nyêbutake turun Adam, iya kitab Manik Maya.
Kiyai Kalamwadi banjur ngandhakake: “Sawise buku-buku pathokan agama Buddha diobongi, amarga mundhak ngrêribêdi agama Rasul, sanadyan buku kang padha disimpêni dening para wadya, iya dipundhut banjur diobongi, nalika sabêdhahe Majapahit, sapa kang durung gêlêm nganggo agama Islam banjur dijarah rajah, mula wong-wong ing kono padha wêdi marang wisesaning Ratu. Dene wong-wong kang wis padha gêlêm salin agama Rasul, banjur padha diganjar pangkat utawa bumi sarta ora padha nyangga pajêg, mulane wong-wong ing Majapahit banjur padha ngrasuk agama Islam, amarga padha melik ganjaran. Ing wêktu iku Sunan Kalijaga, kagungan panggalih, caritane lêluhure supaya aja nganti pêdhot, banjur iyasa wayang, kanggo gantine kitab-kitab kuna kang wis padha diobongi. Ratu Mataram uga mangun carita sajarahe para lêluhur Jawa, buku-buku sakarine, kang isih padha disimpên uga padha dipundhut kabeh, nanging wis padha amoh, Sang Nata ing Mataram andangu para wadya, nanging wis padha ora mênangi, wiwit Kraton Gilingwêsi nganti tumêka Mataram wis ora kasumurupan caritane, buku-buku asli saka ing Dêmak lan Pajang padha dipriksa, nanging tinêmu tulisan ‘Arab, kitab Pêkih lan Taju-salatina apa dene Surya-Alam kang kanggo pikukuh, mula Sang Prabu ing Mataram kewran panggalihe ênggone kagungan karsa iyasa babad carita tanah Jawa. Sang Prabu banjur dhawuh marang para pujangga, andikakake padha gawe layang Babad Tanah Jawa, ananging sarehne kang gawe Babad mau ora ngêmungake wong siji bae, mula ora bisa padha gaweyane, kang diênggo pathokan layang Lokapala, mungguh caritane kaya kang kasêbut ing ngisor iki”.
Wayahe Nabi Adam iya iku putrane Nabi Sis, arane Sayid Anwar. Sayid Anwar didukani ingkang rama lan ingkang eyang, amarga wani- wani mangan wohe wit kayu Budi sêngkêrane Pangeran kang tinandur ana ing swarga. Ciptane Sayid Anwar supaya kuwasane bisa ngiribi kaya dene kuwasane Pangeran, ora narima yen mung mangan who Kawruh lan woh Kuldi bae, nanging wohe kayu Budi kang disuwun. Sayid Anwar miwiti yasa sarengat dhewe, ora karsa ngagêm agamane ingkang rama lan ingkang eyang, dadi murtat sarta nampik agamane lêluhure, mangkono uga karsa ngakoni yen turune Adam sarta Sis, pangraose Sayid Anwar iku dadi saka dadine piyambak, mung waranane bae saka Adam lan Sis, dadine saka budi hawaning Pangeran. Ênggone Kagungan pamanggih mangkono mau diantêpi bangêt, jalaran mangkene: asal suwung mulih marang sêpi, bali marang asale maneh. Sarehne Sayid Anwar banjur lunga nuruti karêping atine, lakune mangetan nganti tumêka ing tanah Dewani, ana ing kono banjur kêtêmu karo ratuning jin arane Prabu Nuradi, Sayid Anwar ditakoni iya banjur ngandharake lêlakone kabeh, wusanane Sayid Anwar diêpek mantu sarta dipasrahi kaprabon, ngratoni para jin, jêjuluk Prabu Nurcahya, wiwit jumênênge Prabu Nurcahya, jênênge nagara banjur diêlih dadi aran nagara Jawa. Misuwure, kang jumênêng Nata, Jawa jawi ngrêti kawruh agal alus. Sawise iku Sang Prabu banjur nganggit sastra mung salikur aksara, saucaping wong Jawa bisa kaucap, dijênêngake Sastra Endra Prawata. Têmbung Jawa, ditêgêsi: nguja hawa, karsane Sang Prabu: bisaa rowa, saturun-turune bisaa jumênêng Nata mêngkoni tanah Jawa. Sang Prabu putrane siji pêparab Sang Hyang Nurrasa, uga dhaup karo putri jin putrane mung siji iya iku Sang Hyang Wênang. Sang Hyang Wênang uga dhaup karo putri jin, dene putrane uga mung siji kakung pêparab Sang Hyang Tunggal, krama oleh putri jin. Sang Hyang Tunggal pêputra Sang Hyang Guru, kabeh mau turune Sang Hyang Nurcahya, kang padha didhahar woh wit kayu Budi. Sang Hyang Guru kagungan pangraos yen kuwasane padha karo Gusti Allah, mula banjur iyasa kadhaton ana pucaking Mahameru, sarta ngakoni yen purwaning dumadi mêtune asal saka budi hawa nêpsu. Aran Dewa ngaku misesani mujudake sipat roh, agamane Buddha budi, mangeran digdayane sarta ngaku Gusti Allah. Sêdya kang mangkono mau iya diideni dening Kang Maha Kuwasa, sarta kalilan nimbangi jasane Kang Maha Kuwasa. Dewa iku wêrdine ana loro têgêse: budi hawa, sarta: wadi dawa, mulane agamane Buddha. Sêbutan Dewi: têgêse: dening wadining wadon iku bisa ngêtokake êndhas bocah.
Darmagandhul didhawuhi nimbang mungguh kang bênêr kang êndi, mangan woh wit kayu Kawruh, apa wit kayu Budi, apa woh wit Kuldi?
Saka panimbange Darmagandhul, kabeh iku iya bênêr, sênêngan salah siji êndi kang disênêngi, diantêpi salah siji aja nganti luput. Yen kang dipangan woh wit kayu Budi, agamane Buddha budi, panyêbute marang Dewa; manawa mangan woh wit kawruh, pênyêbute marang Kangjêng Nabi ‘Isa, agamane srani, yen sênêng mangan woh wit kayu Kuldi, agamane Islam, sambate marang nabi panutan; iya iku Gusti Kangjêng Nabi Rasul; dene yen dhêmên Godhong Kawruh Godhong Budi, panêmbahe marang Pikkong, sarta manut sarake Sisingbing lan Sicim; salah sijine aja nganti luput. Yen bisa woh-wohan warna têlu iku mau iya dipangan kabeh, yen wong ora mangan salah sijine woh mau, mêsthine banjur dadi wong bodho, uripe kaya watu ora duwe kêkarêpan lan ora mangrêti marang ala bêcik. Dene mungguh bêcike wong urip iku mung kudu manut marang apa alame bae, dadi ora aran siya-siya marang uripe, yen Kalifah dhahar woh Budi, iya melu mangan woh Budi, yen Kalifah dhahar woh kawruh, iya melu mangan who kawruh, yen kalifah dhahar woh Kuldi, iya melu mangan woh Kuldi. Dene prakara bênêr utawa lupute, uki Kalifah kang bakal tanggung. Sarehne diênut wong akeh, dadi Panutan kudu kang bênêr, amarga wong dadi Panutan iku saupama têtuwuhan minangka wite. Yen wong ora gêlêm manut marang kang bênêre kudu diênut, iku kaya dene iwak kang mêtu saka ing banyu. Saupama woh ora gêlêm nempel wit, mêsthi dadi glundhungan kang tanpa dunung. Awit saka iku, mulane wong iku kudu ngelingi marang agamane kang nurunake, amarga sanadyan saupama ana salahe, Gusti Allah mêsthi paring pangapura. Darmagandhul matur nyuwun têrange agama Rasul lan liya-liyane, mungguh kang dadi bedane apa?
Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake beda-bedane, yen saka dhawuhe kang Maha Kuwasa, manusa didhawuhi muja marang agamane. Nanging banjur akeh kang kliru muja marang barang kang katon, kaya ta kêris, tumbak, utawa liya-liyane barang. Kang kaya mangkono mau ngrusakake agama, amarga banjur mangeran marang wujud, satêmah lali marang Pangerane, amarga maro tingal marang barang rêrupan. Wong urip iku kudu duwe gondhelan agama, amarga yen ora duwe agama mêsthi duwe dosa, mung bae dosane mau ana kang sathithik lan ana kang akeh. Dene kang bisa nyirnakake (nyudakake) dosa iku, mung banyu suci, iya iku tekad suci lair batin. Kang diarani banyu tekad suci iku kang êning, iya iku minangka aduse manusa, bisa ngrêsiki lair batine. Yen wong luwih, ora ngarêp-arêp munggah swarga, kang digoleki bisaa nikmat mulya punjula saka sapadhane, aja nganti nêmu sangsara, bisaa duwe jênêng kang bêcik, sinêbut kang utama, bisaa nikmat badan lan atine, mulya kaya maune, kaya nalika isih ana ing alam samar, ora duwe susah lan prihatin. Lawang swarga iku prêlu dirêsiki, dirêngga ing tekad kang utama, supaya aja ngrêribêdi ana ing donyane, bisaa slamêt lair batine. Kang diarani lawang swarga lan lawang nêraka iku, pancadan kang tumuju marang kabêgjan utawa kacilakan. Yen bêcik narik raharja, yen ala ngundhuh cilaka, mula pangucap kang ala, mêsthi mlêbu yomani. Yen bêcik, bisa tampa ganjaran.
Darmagandhul matur maneh, nyuwun têrange, manusa ing dunya wujude mung lanang lan wadon, dadine kok banjur warna-warna, ana Jawa, ‘Arab, Walanda lan Cina. Dene sastrane kok uga beda-beda. Iku maune kêpriye, dalah têgêse sarta cacahing aksarane kok uga beda-beda. Geneya kok ora nganggo aksara warna siji bae?
Kyai Kalamwadi banjur nêrangake, yen kabeh-kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. Mula aksarane digawe beda-beda, supaya para kawulane padha mangan woh wit kayu Budi lan woh wit kayu Kawruh, amarga manusa diparingi wahyu kaelingan, bisa mêthik who Kawruh lan woh Budi, pamêthike sapira sagaduke. Gusti Allah uga iyasa sastra, nanging sastrane nglimputi ing jêro, lan manut wujud, iya iku kang diarani sastra urip, manusa ora bisa anggayuh, sanadyan para Auliya sarta para Nabi ênggone nggayuh iya mung sagaduke. Woh wit Kawruh lan woh wit Budi ditandhani nganggo sipat wujud, dicorek ana ing dluwang, nganggo mangsi supaya wong bisa wêruh, mula jênênge dalwang, têgêse mêtu wangune, mangsi têgêse mangsit, dadi yen dalwang ditrapi mangsi, mêsthi banjur mêtu wangune, mangsit mangan kawruh, mula jênêng kalam, amarga kawruhe anggawa alam. Sastra warna-warna paringe kang Maha-Kuwasa, iku wajib dipangan, supaya sugih pangrêten lan kaelingan, mung wong kang ora ngrêti sastra paringe Gusti Allah, mêsthi ora mangêrti marang wangsit. Auliya Gong Cu kumênthus niru sastra tulisan paringe Gusti allah, nanging panggawene ora bisa, sastrane unine kurang, dadi pelon, para Auliya panggawene sastra dipathoki cacahe, mung aksara Cina kang akeh bangêt cacahe, nanging unine pelo, amarga Auliya kang nganggit kêsusu mangan woh Kawruh, ing mangka iya kudu mangan woh wit kayu Budi. Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa. Ewadene mêksa nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa, anggayuh kang dudu wajibe, kêsusu tampa panglulu nganggit sastra kang nganti tanpa etungan cacahe, jênênge sastra godhong. Godhonge wit Budi lan wit Kawruh, dipêthik saka sathithik, ditata dikumpulake, banjur dianggit kanggo sastra, mulane aksarane nganti ewon. Auliya Cina kêsiku, amarga arêp gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. Auliya Jawa ênggone mangan woh wit kayu Budi nganti warêg, mula ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Auliya Arab ênggone mangan woh wit kayu Kuldi akeh bangêt. Dene ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Nanging yen sastra yasane Gusti Allah, dadine saka sabda, wujude dadi dhewe, mulane unine iya cêtha, sastrane ora ana kang padha.
Darmagandhul banjur didhawuhi nimbang, mungguh anggitane para Auliya kabeh mau kang mratandhani asor luhuring budine kang êndi?
Saka panimbange Darmagandhul, kabeh mau iya bênêr, nanging anggêr mêtu saka budi. Dene kang gawe aksara mung sathithik, nanging wis bisa nyukupi, iku mratandhani yen luwih pintêr tinimbang karo liya-liyane.
Kiyai Kalamwadi ngandika: “Yen manusa arêp wêruh sastrane Gusti Allah, tulisan mau ora kêna ditonton nganggo mripat lair – kudu ditonton nganggo mripat batin. Yen mangkono iya bisa katon, Gusti Allah iku mung sawiji, nanging Dzate nyarambahi sakabehing wujud. Yen ndêlêng kudu nganggo ati kang bêning, ora kêna kacampuran pikiran kang warna-warna, sarta kudu kang mêlêng ênggone mawas, supaya ora bisa kliru karo kanyatane”.
Kiyai Kalamwadi lênggah diadhêp garwane aran Endhang Prêjiwati. Darmagandhul sarta para cantrik iya padha marak. Kiyai Kalamwadi paring piwulang marang garwane, dadi nêtêpi jênênge priya kudu mulang muruk marang rabine. Dene kang diwulangake, bab kawruh kasunyatan sarta kawruh kang kanggo yen wis tumêka ing pati, ing wong sêsomahan iku. Kang wadon diupamakake omah, sanadyan kahanane wis sarwa bêcik. Nanging sabên dinane isih kudu dipiyara lan didandani. Saka pangandikane Kiayi Kalamwadi, wong iku yen dipitakoni, satêmêne ragane wis bisa mangsuli, sabab ing kono wis ana pangandikane Gusti Allah paring piwulang, nanging ora mêtu ing lesan, mung paring sasmita kang wis ditulis ana saranduning badan sakojur.
Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Sarehne aku iku wong cubluk, dadi ora bisa aweh piwulang kang endah, aku mung arêp pitakon marang ragamu, amarga ragamu iku wis bisa sumaur dhewe”.
Banjure pangandika kiyai Kalamwadi kaya ing ngisor iki. Tanganmu kiwa iku wis anggawa têgês dhewe, lan wis dadi piwulang kang bêcik lan nyata, kang anuduhake yen ragamu iku wujude kiwa, mung hawa kang katon. Têmbung ki: iku têgêse iki, wa: têgêse wêwadhah, ragamu iku di’ibaratake prau, prau dadi ‘ibarate wong wadon, wong têgêse ngêlowong, wadon têgêse mung dadi wadhah, dene isine mung têlung prakara, iya iku: “kar-ri-cis”. Yen prau wis isi têlung prakara iku, wong wadon wis kêcukup butuhe, dadi ora goreh atine. Dene têgêse kar-ri-cis iku mangkene.
1. Kar, têgêse dakar, iya iku yen wong lanang wis bisa nêtêpi lanange, mêsthi wong wadon atine marêm, wusanane dadi nêmu slamêt ênggone jêjêdhowan.
2. Ri, têgêse pari, iya iku kang minangka pangane wong wadon, yen wong lanang wis bisa nyukupi pangane, mêsthi wong wadon bisa têntrêm ora goreh.
3. Cis, têgêse picis, utawa dhuwit, ya iku yen wong lanang wis bisa aweh dhuwit kang nyukupi, mêsthi wong wadon bisa têntrêm, tak baleni maneh, cis têgêse bisa goreh atine.
Kosok baline yen wong lanang ora bisa aweh momotan têlung prakara mau, wong wadon bisa goreh atine. Tangan têngên têgêse etungên panggawemu, sabên dina sudiya,
sanggup dadi kongkonan, wong wadon wis dadi wajibe ngrewangi kang lanang anggone golek sandhang pangan.
Bau têgêse kanthi, gênahe wong wadon iku dadi kanthine wong lanang, tumrap nindakake samubarang kang prêlu.
Sikut têgêse singkurên sakehing panggawe kang luput. Ugêl-ugêl têgêse sanadyan tukar padu, nanging yen isih padha trêsnane iya ora bisa pêdhot. Epek-epek têgêse ngêpek-ngêpek jênênge kang lanang, awit wong wadon iku yen wis laki, jênênge banjur melu jênênge kang lanang. Iya iku kang diarani warangka manjing curiga, warangkane wanita, curigane jênênge wong lanang.
Rajah (ing epek-epek) têgêse wong wadon iku panganggêpe marang guru-lakine dikaya dene panganggêpe marang raja.
Driji têgêse drêjêg utawa pagêr, iya iku idêrana jiwamu nganggo pagêr kautaman, wanita iku kudu andarbeni ambêk kang utama, dene driji kabeh mau ana têgêse dhewe-dhewe.
Jêmpol têgêse êmpol, yen wanita dikarsakake dening priyane, iku kang gampang gêtas rênyah kaya dene êmpoling klapa.
Driji panuduh têgêse wanita nglakonana apa sapituduhe kang priya.
Driji panunggul, têgêse wanita wajib ngunggulake marang priyane, supaya nyupangati bêcik.
Driji manis, têgêse wanita kudu duwe pasêmon utawa polatan kang manis, wicarane kudu kang manis lan prasaja.
Jênthik, têgêse wong wadon iku panguwasane mung sapara limane wong lanang, mula kudu sêtya tuhu marang priyane.
Kuku têgêse ênggone rumêksa marang wadi, paribasane aja nganti kêndho tapihe.
Mungguh pikikuhe wong jêjodhowan iku, wanita kudu sêtya marang lakine sarta nglakoni patang prakara, iya iku: pawon, paturon, pangrêksa, apa dene kudu nyingkiri padudon.
Wong jêjodhowan yen wis nêtêpi kaya piwulang iki, mêsthi bisa slamêt sarta akeh têntrême.
Kiyai Kalamwadi banjur paring pangandika maneh, dene kang dipangandikakake bab pikukuhe wong jêjodhowan. Saka pangandikane kiyai Kalamwadi, wong jêjodhowan iku pikukuhe kudu duwe ati eling, aja nganti tumindak kang ora bênêr. Mungguh pikukuhe wong laki-rabi iku, dudu dunya lan dudu rupa, pikukuhe mung ati eling. Wong jêjodhowan, yen gampang luwih gampang, nanging yen angel, angele ngluwihi. Wong jêjodhowan itu luput pisan kêna pisan, yen wis luput, ora kêna tinambak ing rajabrana lan rupa. Wanita kudu tansah eling yen winêngku ing priya, yen nganti ora eling, lupute banjur ngambra-ambra, amargi yen wanita nganti cidra, iku ugi ngilangake Pangerane wong jêjodhowan, dene kang diarani cidra iku ora mung jina bae, nanging samubarang kang ora prasaja iya diarani cidra, mula wanita kudu prasaja lair batine, amarga yen ora mangkono bakal nandhang dosa rong prakara, kang sapisan dosa marang kang lanang, kapindhone dosa marang Gusti Allah, kang mangkono iku mêsthi ora bisa nêmu lêlakon kang kapenak. Mula ati, kudu tansah eling, amarga tumindaking badan mung manut karêping ati, awit ati iku dadi ratuning badan. Wong jêjodhowan di’ibaratake prau kang gêdhe, lakuning prau manut satang lan kêmudhine, sanadyan satange bênêr, yen kêmudhine salah, prau ora bêcik lakune. Wong lanang iku lakuning satang, dene kang wadon ngêmudheni, sanadyan bêcik ênggone ngêmudheni, nanging yen kang nyatang ora bênêr, lakune prau iya ora bisa jêjêg, sarta bisa têkan kang disêdya, amarga kang padha nglakokake padha karêpe, dadi têgêse, wong jêjodhowan, kudu padha karêpe, mula kudu rukun, rukun iku gawe karaharjan sarta mahanani katêntrêman, ora ngêmungake wong jêjodhowan kang rukun bae, kang oleh katêntrêmaning ati, sanadyan tangga têparone iya melu têntrêm, mula wong rukun iku bêcik bangêt.
Kowe tak-pituturi, mungguh dalane kamulyan iku ana patang prakara:
(1) Mulya saka jênêng.
(2) Mulya saka bandha.
(3) Mulya saka sugih ‘ilmu.
(4) Mulya saka kawignyan.
Kang diarani mulya saka jênêng, iku wong kang utama, bisa oleh kabêgjan kang gêdhe, nanging kabêgjane mau ora mung kanggo awake dhewe, kapenake uga kanggo wong akeh liyane. Dene kang mulya saka ing bandha, lan mulya saka ênggone sugih ‘ilmu, lan mulya saka kapintêran, iku ana ngêndi bae, iya akeh rêgane.
Mungguh dalane kasangsaran uga ana patang prakara:
(1) Rusaking ati, manusa iku yen pikire rusak, ragane mêsthi iya melu rusak.
(2) Rusaking raga, iya iku wong lara.
(3) Rusaking jênêng, iya iku wong mlarat.
(4) Rusaking budi, iya iku wong bodho, cupêt budine, wong bodho lumrahe gampang nêpsune.
Kang diarani tampa kanugrahing Gusti Allah, iya iku wong kang sêgêr kawarasan sarta kacukupan, apa dene têntrêm atine.
Wong urip kang kêpengin bisaa dadi wong utama, duweya jênêng kang bêcik, kanggo têtuladhan marang wong kang padha ditinggal ing têmbene”.
Ki Darmagandhul matur lang nyuwun ditêrangake bab anane wong ing jaman kuna karo wong ing jaman saiki, iku satêmêne pintêr kang êndi, amarga wong akeh panêmune warna-warna tumrape bab iku.
Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Wong kuna lan wong saiki, iku satêmêne iya padha pintêre, mung bae tumrape wong ing jaman kuna, akeh kang durung bisa mujudake kapintêrane, mula katone banjur kaya dene ora pintêr. Ana dene wong ing jaman saiki ênggone katon luwih pintêr iku amarga bisa mujudake kapintêrane. Wong ing jaman kuna kapintêrane iya wis akeh, dene kang mujudake iya iku wong ing jaman saiki. Saupama ora ana kapintêrane wong ing jaman kuna, mêsthi bae tumrape wong ing jaman saiki ora ana kang kanggo têtuladhan, amarga kahanan saiki iya akeh kang nganggo kupiya kahanan ing jaman kuna. Wong ing jaman saiki ngowahi kahanan kang wis ana, êndi kang kurang bêcik banjur dibêcikake. Wong ing jaman saiki ora ana kang bisa nganggit sastra, yen manusa iku rumasa pintêr, iku têgêse ora rumasa yen kawula, mangka uripe manusa mung sadarma nglakoni, mung sadarma nganggo raga, dene mobah mosik, wis ana kang murba. Yen kowe arêp wêruh wong kang pintêr têmênan, dununge ana wong wadon kang nutu sabên dina, tampahe diiseni gabah banjur diubêngake sadhela, gabah kang ana kabur kabeh, sawise, banjur dadi beda-beda, awujud bêras mênir sarta gabah, nuli mung kari ngupuki bae, sabanjure dipilah-pilah. Têgêse: bêras yen arêp diolah kudu dirêsiki dhisik, miturut kaya karêpe kang arêp olah-olah. Yen kowe bisa mangreh marang manusa, kaya dene wong wadon kang nutu mau, ênggone nyilah-nyilahake bêras aneng tampah, kowe pancen wong linuwih, nanging kang mangkono mau dudu kawadjibanmu, awit iku dadi kawajibane para Raja, kang misesa marang kawulane. Dene kowe, mung wajib mangrêti tataning praja supaya uripmu aja kongsi dikul dening sapadhaning manusa, uripmu dadi bisa slamêt, kowe bakal dadi têtuwa, kêna kanggo pitakonan tumraping para mudha bab pratikêle wong ngawula ing praja. Mula wêlingku marang kowe, kowe aja pisan- pisan ngaku pintêr, amarga kang mangkono mau dudu wajibing manusa, yen ngrumasani pintêr, mundhak kêsiku marang Kang Maha Kuwasa, kaelokane Gusti Allah, ora kêna ginayuh ing manusa, ngrumasanana yen wong urip iku mung sadarma, ana wong pintêr isih kalah pintêr karo wong pintêr liyane, utawa uga ana wong pintêr bisa kasoran karo wong kompra, bodho pintêring manusa iku saka karsane Kang Maha Kuwasa, manusa anduweni apa, bisane apa, mung digadhuhi sadhela dening Kang Maha Kuwasa, yen wis dipundhut, kabeh mau bisa ilang sanalika, saka kalangkungane Gusti Allah, yen kabeh mau kapundhut banjur diparingake marang wong kompra, wong kompra banjur duwe kaluwihan kang ngungkuli kaluwihane wong pintêr. Mula wêlingku marang kowe, ngupayaa kawruh kang nyata, iya iku kawruh kang gandheng karo kamuksan”.
Ki Darmagandhul banjur matur maneh, nyuwun têrange bab tilase kraton Kêdhiri, iya iku kratone Sang Prabu Jayabaya. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Sang Prabu Jayabaya ora jumênêng ana ing Kêdhiri, dene kratone ana ing Daha, kaprênah sawetane kali Brantas. Dene yen Kêdhiri prênahe ana sakuloning kali Brantas lan sawetaning gunung Wilis, ana ing desa Klotok, ing kono iku ana bata putih, iya iku patilasane Sri Pujaningrat. Dene yen patilasane Sri Jayabaya ika ana ing daha, saikine jênênge desa Mênang, patilasane kadhaton wis ora katon, amarga kurugan ing lêmah lahar saka gunung Kêlut, patilasan-patilasan mau wis ilang kabeh, pasanggrahan Wanacatur lan taman Bagendhawati uga wis sirna, dene pasanggrahan Sabda, kadhatone Ratu Pagêdhongan uga wis sirna. Kang isih mung rêca yasane Sri Jayabaya, iya iku candhi Prudhung, Têgalwangi, prênahe ing sa-lor-wetane desa Mênang, lan rêca buta wadon, iya iku rêca kang diputung tangane dening Sunan Benang nalika lêlana mênyang Kêdhiri, rêca mau lungguhe madhêp mangulon, ana maneh rêca jaran awak siji êndhase loro, panggonane ana ing desa Bogêm, wêwêngkon dhistrik Sukarêja, mula Sri Jayabaya yasa rêca, mangkene caritane, (kaya kang kapratelakake ing ngisor ini)”.
Ing Lodhaya ana buta wadon ngunggah-unggahi Sang Prabu Jayabaya, nanging durung nganti katur ing ngarsa Prabu, buta wadon wis dirampog dening wadya cilik-cilik, buta wadon banjur ambruk, nanging durung mati, barêng ditakoni, lagi waleh yen sumêdya ngunggah-unggahi Sang Prabu. Sang Prabu banjur mriksani putri buta mau, barêng didangu iya matur kang dadi sêdyane. Sang Prabu banjur paring pangandika mangkene: “Buta! andadekna sumurupmu, karsaning Dewa Kang Linuwih, aku iku dudu jodhomu, kowe dak-tuturi, besuk sapungkurku, kulon kene bakal ana Ratu, nagarane ing Prambanan, iku kang pinasthi dadi jodhomu, nanging kowe aja wujud mangkono, wujuda manusa, aran Rara Jonggrang”.
Sawise dipangandikani mangkono, putri buta banjur mati. Sang Prabu banjur paring pangandika marang para wadya, supaya desa ing ngêndi papan matine putri buta mau dijênêngake desa Gumuruh. (11) Ora antara suwe Sri Jayabaya banjur jasa rêca ana ing desa Bogêm. Rêca mau wujud jaran lagaran awak siji êndhase loro, kiwa têngên dilareni. Patihe Sang Prabu kang aran Buta Locaya sarta Senapatine kang aran Tunggulwulung padha matur marang sang Prabu, kang surasane nyuwun mitêrang kang dadi karsa-Nata, ênggone Sang Prabu yasa rêca mangkono mau, apa mungguh kang dadi karsane. Sang Prabu banjur paring pangandika, yen ênggone yasa rêca kang mangkono itu prêlu kanggo pasêmon ing besuk, sapa kang wêruh marang wujude rêca iku mêsthi banjur padha mangrêti kang dadi tekade wong wadon ing jaman besuk, yen wis jaman Nusa Srênggi. Bogêm têgêse wadhah bangsa rêtna-rêtna kang adi, têgêse wanita iku bangsa wadhah kang winadi. Laren (12) kang ngubêngi jaran têgêse iya sêngkêran. Dene jaran sêngkêran iya iku ngibaratake wong wadon kang disêngkêr. Sirah loro iku dadi pasêmone wong wadon ing jaman besuk, kang akeh padha mangro tingal, sanadyan ora kurang ing panjagane, iya bisa cidra, lagaran, iku têgêse tunggangan kang tanpa piranti. Ing jaman besuk, kang kêlumrah wong arêp laki-rabi, ora nganggo idine wong tuwane, margane saka lagaran dhisik, yen wis mathuk pikire, iya sida diêpek rabi, nanging yen ora cocog, iya ora sida laki-rabi.
Sang Prabu ênggone yasa candhi, prêlu kanggo nyêdhiyani yen ana wadyabala kang mati banjur diobong ana ing kono, supaya bisa sirna mulih marang alam sêpi. Yen pinuju ngobong mayit, Sang Prabu uga karsa rawuh ngurmati.
Kang mangkono iku wis dadi adate para raja ing jaman kuna. Mula kang dadi panyuwunku marang Dewa, muga Sang Prabu karsa yasa candhi kanggo pangobongan mayit, kaya adate Raja ing jaman kuna, amarga aku iki anak dhalang, aja suwe-suwe kaya mêmêdi, duwe rupa tanpa nyawa, bisaa mulih marang asale.
Samuksane Sang Prabu Jayabaya, Patih Buta Locaya sarta Senapati Tunggulwulung, apa dene putrane Sang Prabu kang kêkasih Ni Mas Ratu Pagêdhongan, kabeh banjur padha andherek muksa.
Buta Locaya banjur dadi ratuning dhêdhêmit ing Kêdhiri. Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut, dene Ni Mas Ratu Pagêdhongan banjur dadi ratuning dhêdhêmit ana ing sagara kidul, asmane ratu Anginangin.
Ana kêkasihe Sang Prabu Jayabaya, jênênge Kramatruna, nalika Sri Jayabaya durung muksa, Kramatruna didhawuhi ana ing sêndhang Kalasan. Sawise têlung atus taun, putrane Ratu ing Prambanan, kêkasih Lêmumbardadu iya Sang Pujaningrat, jumênêng Nata ana ing Kêdhiri, kadhatone ana sakuloning bangawan (3), kêdhi têgêse wong wadon kang ora anggarap sari, dene dhiri iku têgêse anggêp, kang paring jênêng iku Rêtna Dewi Kilisuci, dicocogake karo adate Sang Rêtna piyambak, amarga Sang Rêtna Dewi Kilisuci iku wadat, sarta ora anggarap sari. Dewi Kilisuci nyawabi nagarane, aja akeh gêtihe wong kang mêtu. Mula Kêdhiri iku diarani nagara wadon, yen nglurug pêrang akeh mênange, nanging yen dilurugi apês. Kang kêlumrah pambêkane wanita ing Kêdhiri iku gêdhe atine, amarga kasawaban pambêkane Sang Rêtna Dewi Kilisuci. Dene Rêtna Dewi Kilisuci iku sadhereke sêpuh Nata ing Jênggala. Sang Rêtna mau tapa ana ing guwa
Selamangleng, sukune gunung Wilis.
WUWUHAN KATÊRANGAN.
Kanjeng Susuhunan Ampeldênta pêputra ratu Fatimah, patutan saka Nyai Agêng Bela. Ratu Fatimah krama oleh pangeran Ibrahim, ing Karang Kumuning Satilare Pangeran Karang Kumuning. Ratu Fatimah banjur tapa ana ing manyura, karo Pangeran Ibrahim Ratu Fatimah pêputra putri nama Nyai Agêng Malaka, katêmokake Raden Patah.
Raden Patah (Raden Praba), putrane Prabu Brawijaya patutan saka putri Cêmpa kang katarimakake marang Arya Damar Adipati ing Palembang, barêng Raden Patah wis jumênêng Nata, jêjuluk Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’lRasul Amiri’lMu’minin Rajudi’l’Abdu’l Hamid Kak, iya Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara (Dêmak).
Putri Cêmpa nama Aranawanti (Ratu Êmas) kagarwa Prabu Brawijaya, pêputra têlu:
[1] Putri nama Rêtna Pambayun, katrimakake marang Adipati Andayaningrat ing Pêngging, nalika jaman pambalelane nagara Bali marang Majapahit.
[2] Raden Arya Lêmbupêtêng Adipati ing Madura.
[3] Isih timur rêmên marang laku tapa, nama Raden Gugur, barêng muksa kasêbut nama Sunan Lawu.
Panênggak Putri Cêmpa nama Pismanhawanti kagarwa putrane Jumadi’l Kubra I, patutan saka ibu Sitti Fatimah Kamarumi, isih têdhake Kangjêng Nabi Mukammad, asma Maulana Ibrahim, dêdalêm ana ing Jeddah, banjur pindhah ing Cêmpa, dadi Imam ana ing Asmara tanah ing Cêmpa, banjur kasêbut nama Maulana Ibrahim Asmara, iku kang pêputra Susuhunan Ampeldênta Surabaya. Dene putra Cêmpa kang waruju kakung, nama Awastidab, wus manjing Islam, nyakabat marang maulana Ibrahim, jumênêng Raja Pandhita ing Cêmpa anggênteni ingkang rama, pêputra siji kakung kêkasih Raden Rachmat. Kang ibu putri Cêmpa (garwa Maulana Ibrahim), pêputra Sayid ‘Ali
Rachmat, ngêjawa nama Susuhunan Katib ing Surabaya, dêdalêm ing Ampeldênta, kasêbut Susuhunan Ampeldênta. Cêmpa iku kutha karajan ing India buri (Indo china).
Sayid Kramat kang kasêbut ing buku iki pêparabe Susuhunan ing Bonang (Sunan Benang).
TAMAT
KATRANGAN:
(1) Kulon kutha Majakêrta lêt +/- 10 km.
(2) Pêlabuhane saiki aran: “Haipong”.
(3) Lor Stasiyun: Surabayakota “Sêmut”.
(4) Benang = Bonang ing Karêsidhenan Rêmbang.
(5) Tarik.
(6) Kulon kutha Kêdhiri.
(9) Akire Mênang didêgi pabrik gula arane iya pabrik Mênang,
stasiyune ing Gurah antarane Kêdhiri – Pare +/- 7 km. saka Kêdhiri.
(10) Kidul Majaagung lêt +/- 15-16 km. Saiki dicêluk desa Ngrimbi.
(11) Ing sacêlakipun pabrik Mênang, wontên dhusun nama Guruh.
1. mbok manawi ewah-ewahan saking Gumêrah-Gumuruh.
2. Gurah = gusah.
3. ngrêsiki gorokan.
(12) Laren = kalenan.
(13) Bangawan = Brantas.
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
BUDAYA KEBATINAN
« Reply #7 on: February 26, 2010, 07:09:17 am »
BUDAYA KEBATINAN

Di dalam serat Wulang Reh, karya “kasusastran” Jawa (dalam bentuk syair) yang ditulis oleh Sunan Paku Buono IV, terdapat juga ajaran untuk hidup secara asketik, dengan mana usaha menuju kasampurnaning urip (kesempurnaan hidup) dan mendekat Yang Maha Widi (Allah Yang Maha Kuasa) bisa dicapai.

Dalam tembang Kinanthi ajaran itu bertutur :

Pada gulangen ing kalbu ing sasmita amrih lantip aja pijer mangan nendra kaprawiran den kaesti pesunen sarira nira sudanen dhahar lan guling

(Intinya, orang harus melatih kepekaan hati agar tajam menangkap gejala dan tanda-tanda. Orang pun tak boleh mengumbar nafsu makan serta tidur).
Sejarah budaya Kebatinan
Pada tanggal 19 dan 20 Agustus 1955 di Semarang telah diadakan kongres dari berpuluh-puluh budaya kebatinan yang ada di berbagai daerah di jawa dengan tujuan untuk mempersatukan semua organisasi yang ada pada waktu itu. Kongres berikutnya yang diadakan pada tanggal 7 Agustus tahun berikutnya di Surakarta sebagai lanjutannya, dihadiri oleh lebih dari 2.000 peserta yang mewakili 100 organisasi. Pertemuan-pertemuan itu berhasil mendirikan suatu organisasi bernama Badan Kongres Kebatinan Indonesia (BKKI) (Badan 1956), yang kemudian juga menyelenggarakan dua kongres serta seminar mengenai masalah kebatinan dalam tahun 1959, 1961 dan 1962 (Pakan 1978:98).

Kebanyakan budaya kebatinan di Jawa awalnya merupakan budaya lokal saja dengan anggota yang terbatas jumlahnya, yakni tidak lebih dari 200 orang. Budaya  seperti  itu secara resmi merupakan “aliran kecil”, seperti Penunggalan, perukunan kawula manembah gusti, jiwa ayu dan pancasila handayaningratan dari Surakarta; ilmu kebatinan kasunyatan dari yogyakarta; ilmu sejati dari madiun; dan trimurti naluri majapahit dari mojokerto dan lain-lain.

Sebagian kecil dari budaya kebatinan  ini biasanya mempunyai anggota tak lebih dari 200 orang namun ada yang beranggotakan lebih dari 1000 orang yang tersebar di berbagai kota di jawa dan terorganisasi dalam cabang-cabang. dan lima yang besar adalah hardapusara dari purworejo, susila budi darma (SUBUD) yang asalnya berkembang di semarang, paguyuban ngesti tunggal (pangestu) dari surakarta, paguyuban sumarah dan sapta dari yogyakarta.

Hardapusara adalah yang tertua diantara kelima gerakan yang terbesar itu, yang dalam tahun 1895 didirikan oleh Kyai Kusumawicitra, seorang petani desa kemanukan dekat purworejo. Ia konon menamatkan ilmu dari menerima wangsit dan ajaran-ajarannya semula disebut kawruh kasunyatan gaib. Para pengikutnya mula-mula adalah seorang priyayi dari Purworejo dan beberapa kota lain di daerah bagelan.  organisasi ini dahulu pernah  berkembang dan mempunyai cabang-cabangnya di berbagai kota di Jawa Tengah, Jawa timur, dan juga Jakarta. Jumlah anggotanya konon sudah mencapai beberapa ribu orang. Ajaran-ajarannya termaktub dalam dua buah buku yang oleh para pengikutnya sudah hampir dianggap keramat, yaitu Buku Kawula Gusti dan Wigati.

Susila budi (SUBUD) didirikan pada tahun 1925 di semarang, pusatnya sekarang berada di Jakarta. Budaya ini tidak mau disebut budaya kebatinan, melainkan menamakan dirinya “Pusat Latihan Kejiwaan”. Anggota-anggotanya yang berjumlah beberapa ribu itu tersebar di berbagai kota diseluruh Indonesia dan mempunyai sebanyak 87 cabang di luar negeri. Banyak dari para pengikutnya adalah orang Asia, Eropa, Australia dan Amerika. Doktrin ajaran organisasi itu dimuat dalam buku berjudul susila budhi dharma; selain itu gerakan itu juga menerbitkan majalah berkala berjudul Pewarta Kejiwaan Subud.

Pagguyuban ngesti tunggal, atau lebih terkenal dengan nama Pangestu adalah sebuah budaya kebatinan lain yang luas jangkauannya. Gerakan ini didirikan oleh Soenarto, yang di antara tahun 1932 dan 1933 menerima wangsit yang oleh kedua orang pengikutnya dicatat dan kemudian diterbitkan menjadi buku sasangka djati.

Pangestu didirikan di surakarta pada bulan mei 1949, dan anggota-anggotanya yang kini sudah berjumlah 50.000 orang tersebar di banyak kota di Jawa, terutama berasal dari kalangan priyayi. Namun anggota yang berasal dari daerah pedesaan juga banyak yaitu yang tinggal di pemukiman transmigrasi di sumatera dan kalimantan. Majalah yang dikeluarkan organisasi itu dwijawara merupakan tali pengikat bagi para anggotanya yang tersebar itu.

Paguyuban sumarah juga merupakan organisasi besar yang dimulai sebagai suatu gerakan kecil, dengan pemimpinnya bernama R. Ng. Sukirno Hartono dari Yogyakarta. Ia mengaku menerima wahyu pada tahun 1935. Pada akhir tahun 1940-an gerakan itu mulai mundur, namun berkembang kembali tahun 1950 di Yogyakarta. Jumlah anggotanya kini sudah mencapai 115.000 orang baik yang berasal dari golongan priyayi maupun dari kelas-kelas masyarakat lain.

Sapta darma adalah yang termuda  dari kelima gerakan kebatinan yang terbesar di jawa yang didirikan tahun 1955 oleh guru agama bernama Hardjosaputro yang kemudian mengganti namanya menjadi Panuntun Sri Gutomo. Beliau berasal dari desa keplakan dekat pare. Berbeda dengan keempat organisasi yang lain, sapta darma beranggotakan orang-orang dari daerah pedesaan dan orang-orang pekerja kasar yang tinggal di kota-kota. Walaupun demikian para pemimpinnya hampir semua priyayi. Buku yang berisi ajarannya adalah kitab pewarah sapta darma.

Walaupun budaya kebatinan ada di seluruh daerah di jawa, namun Surakarta sebagai pusat kebudayaan jawa agaknya masih merupakan tempat dimana terdapat paling banyak organisasi kebatinan yang terpenting. Dalam tahun 1970 ada 13 organisasi kebatinan di sana; lima diantaranya dengan anggota sebanyak antara 30-70 orang, tetapi ada satu yang anggotanya sekitar 500 orang dalam tahun 1970. Sepuluh lainnya adalah organisasi-organisasi yang besar, yang berpusat dikota-kota lain seperti Jakarta, Yogyakarta, Madiun, Kediri dan sebagainya (jong 1973: 10-12).

S. de jong yang mempelajari budaya kebatinan jawa di jawa tengah, melaporkan bahwa dalam propinsi jawa tengah saja tercatat sebanyak 286 organisasi kebatinan dalam tahun 1870, dengan kemungkinan bahwa masih ada organisasi-organisasi kecil lainnya yang tidak terdaftar di sana.

Pengikut-pengikut terkemuka dari budaya kebatinan, yang diantaranya ada yang berlatar belakang pendidikan psikologi, biasanya menjelaskan bahwa timbulnya berbagai budaya itu disebabkan karena sebagian besar orang jawa butuh mencari hakekat alam semesta, intisari kehidupan dan hakekat Tuhan. Ahli sosiolagi Selosoemardjan berpendirian bahwa orang jawa pada umumnya cenderung untuk mencari keselarasan dengan lingkungan dan hati nuraninya, yang sering dilakukannya dengan cara-cara metafisik.
Mistik Kebatinan

Menurut pandangan ilmu mistik kebatinan orang jawa, kehidupan manusia merupakan bagian dari alam semesta secara keseluruhan, dan hanya merupakan bagian yang sangat kecil dari kehidupan alam semesta yang abadi, dimana manusia itu seakan-akan hanya berhenti sebentar untuk minum.

Sikap. Gaya hidup, dan banyak aktivitas sebagai latihan upacara yang harus diterima dan dilakukan oleh seorang, yang ingin menganut mistik dibawah pimpinan guru dan panuntun agama itu, pada dasarnya sama pada berbagai gerakan kebatinan jawa yang ada. Hal yang mutlak perlu adalah kemampuan untuk melepaskan diri dari dunia kebendaan, yaitu memiliki sifat rila (rela) untuk melepaskan segala hak milik, pikiran atau perasaan untuk memiliki, serta keinginan untuk memiliki.. melalui sikap rohaniah ini orang dapat membebaskan diri dari berbagai kekuatan serta pengaruh dunia kebendaan di sekitarnya. Sikap menyerah serta mutlak ini tidak boleh dianggap sebagai tanda sifat lemahnya seseorang; sebaliknya ia menandakan bahwa orang seperti itu memiliki kekuatan batin dan keteguhan iman.

Kemampuan untuk membebaskan diri dari dunia kebendaan dan kehidupan duniawi juga melibatkan sikap narima yaitu sikap menerima  nasib, dan sikap bersabar, yang berarti sikap menerima nasib dengan rela. Kemampuan untuk memiliki sikap-sikap semacam itu dapat diperoleh dengan hidup sederhana dalam arti yang sesungguhnya, hidup bersih, tetapi juga dengan jalan melakukan berbagai kegiatan upacara kegiatan upacara yang meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dengan jalan mengendalikan diri, dan melakukan berbagai latihan samadi. Melalui latihan bersemedi di harapkan agar orang dapat membebaskan dirinya dari keadaan sekitarnya, yaitu menghentikan segala fungsi tubuh dan keinginan serta nafsu jasmaninya.

Hal ini dapat memberikan keheningan pikiran dan membuatnya mengerti dan menghayati hakekat hidup serta keselarasan antara kehidupan rohaniah dan jasmaniah. Apabila orang sudah bebas dari beban kehidupan duniawi (pamudharan), maka orang itu setelah melalui beberapa tahap berikutnya, pada suatu saat akan dapat bersatu dengan Tuhan ( jumbuhing kawula Gusti, atau manunggaling kawula-Gusti ) /Pendekatan kepada Illahi.

Namun dengan tercapainya pamudharan, yang memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari kehidupan dunia kebendaan, orang itu juga tidak terbebas dari kewajiban-kewajibannya dalam kehidupan yang konkret; bahkan, orang yang sudah mencapai pamudharan, wajib amemayu ayuning bawana, atau berupaya memperindah dunia, yaitu berusaha memelihara dan memperindah dengan jalan melakukan hal-hal yang baik, dan hidup dengan penuh tanggung jawab.
Gerakan Untuk Purifikasi Jiwa

Semua organisasi kebatinan yang besar umumnya,  memang bersifat mistis; banyak gerakan kebatinan, terutama yang jumlah anggotanya sedikit, hanya berusaha untuk mencapai purifikasi jiwa,  Hal yang mereka inginkan adalah memperoleh suatu kehidupan kerohanian yang mantap, tanpa rasa takut dan rasa ketidak-pastian. Inilah yang oleh orang jawa disebut orang yang sudah “bebas” (kamanungsan, kasunyatan).

Cara untuk kamanungsan pada umumnya sama dengan cara untuk mencapai pamudharan tersebut diatas. Kecuali beberapa variasi kecil, maka cara untuk mencapai purifikasi jiwa pada dasarnya adalah dengan menjalankan kehidupan yang penuh tanggung jawab, baik secara moral, sederhana, mampu membebaskan diri dari keduniawian, mempunyai sikap yang baik terhadap kehidupan, nasib dan kematian dan melakukan samadi secara ketat. Oleh karena gerakan-gerakan kebatinan ini berusaha mencari kebebasan rohaniah individu, maka orang mudah mengerti bahwa sifatnya agak individualis; gerakan-gerakan seperti itu paling tidak menarik bagi orang-orang yang membutuhkan kehidupan keagamaan, tanpa harus menaati peraturan-peraturan keagamaan yang resmi secara ketat, namun menyesuaikan dengan adat istiadat (Said 1972-a: 153-154)
Kebatinan Yang Berdasarkan Ilmu Gaib

Di seluruh daerah tempat tinggal orang jawa banyak terdapat gerakan-gerakan kebatinan yang hanya beranggotakan beberapa puluh orang saja. Kebanyakan dari gerakan seperti itu berpusat di kota-kota dan pada umumnya bersifat rahasia, yaitu dengan tujuan-tujuan yang bersifat mistik, moralis, atau etis dan dipimpin oleh seorang guru. Untuk mencapai tujuannya, para anggota gerakan seperti itu banyak melakukan praktek-praktek ilmu gaib, disamping studi dan bersamadi.

Banyak dari budaya semacam itu pada awalnya adalah suatu organisasi yang mengajar seni bela diri pencak. Kecuali memberi latihan fisik, gurunya juga melatih murid-muridnya untuk melakukan meditasi. Untuk menciptakan suasana keramat, ada juga yang  ditambah berbagai ritus ilmu gaib secara rahasia yang dimaksudkan agar para muridnya, memperoleh kekebalan dan kesaktian tertentu.
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
DASA WASITA
« Reply #8 on: February 26, 2010, 07:41:10 am »
DASA WASITA

Oleh : Bapak Mei Kartawinata

PERTAMA:
Janganlah membiarkan dirimu dihina dan direndahkan oleh siapapun, sebab dirimu tidak lahir dan besar oleh sendirinya, akan tetapi dilahirkan dan dibesarkan penuh dengan cinta kasih Ibu dan Bapakmu. Bahkan dirimu itu sendirilah yang melaksanakan segala kehendak dan cita-citamu yang seyogyanya kamu berterima kasih kepadanya.

KEDUA:
Barang siapa menghina dan merendahkan dirimu, sama juga artinya dengan menghina dan merendahkan Ibu Bapakmu, bahkan Leluhur Bangsamu.

KETIGA:
Tiada lagi kekuatan dan kekuasaan yang melebihi Tuhan Yang Maha Belas dan Kasih. Sifat belas kasih itupun dapat mengatasi dan menyelesaikan segala pertentangan/pertengkaran, bahkan dapat memadukan paham dan usaha untuk mencapai tujuan yang lebih maju, serta menyempurnakan akhlak dan meluhurkan budi pekerti manusia.

KEEMPAT:
Dengan kagum dan takjub kamu menghitung-hitung tetesan air yang mengalir merupakan kesatuan mutlak menuju lautan, sambil memberi manfaat kepada kehidupan manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi belum pernah kamu mengagumi dan takjub terhadap dirimu sendiri yang telah mempertemukan kamu dengan dunia dan isinya. Bahkan kamu belum pernah menghitung kedip matamu dan betapa nikmat yang kamu telah rasakan sebagai hikmat dari Tuhan Yang Maha Esa.

KELIMA:
Kemana kamu pergi dan di manapun kamu berada Tuhan Yang Maha Esa selalu beserta denganmu.

KEENAM:
Perubahan besar dalam kehidupan dan penghidupan manusia akan menjadi pembalasan terhadap segala penindasan, serta mencetuskan/melahirkan kemerdekaan hidup Bangsa.

KETUJUH:
Apabila pengetahuan disertai kekuatan raga dan jiwanya digunakan secara salah untuk memuaskan hawa nafsu, akan menimbulkan dendam kesumat, kebencian, pembalasan dan perlawanan. Sebaliknya apabila pengetahuan dan kekuatan raga serta jiwamu digunakan untuk menolong sesama, akan menumbuhkan rasa kasih sayang dan persaudaraan yang mendalam.

KEDELAPAN:
Cintailah sesama hidupmu tanpa memandang jenis dan rupa, sebab apabila hidup telah meninggalkan jasad, siapapun akan berada dalam keadaan sama tiada daya dan upaya. Justru karena itu selama kamu masih hidup berusahalah agar dapat memelihara kelangsungan hidup sesamamu sesuai dengan kodratnya menurut kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

KESEMBILAN:
Batu di tengah kali (sungai), jikalau olehmu digarap menurut kebutuhan, kamu bisa menjadi kaya raya karenanya. Dalam hal itu yang membuat kamu kaya raya bukanlah pemberian dari batu itu, akan tetapi adalah hasil kerjamu sendiri.

KESEPULUH:
Geraklah untuk kepentingan sesamamu, bantulah yang sakit untuk mengurangi penderitaannya. Kelak akan tercapailah masyarakat kemanusiaan yang menegakkan kemerdekaan dan kebenaran
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
KEJAYAAN MATARAM
« Reply #9 on: February 26, 2010, 08:07:27 am »
KEJAYAAN MATARAM



Bait 01

Tertulis dalam babad tanah Jawi, dalam ingatan orangtua
tentang Prabu Brawijaya Sang Kertabumi, raja di Majapahit
bahwa ia memperistri Putri Wandan, dan memperoleh putra
tampan berwibawa rupanya, ia disebut Raden Bondan Kejawan
Saat ia dilahirkan Majapahit telah mendekati kehancurannya
karena itu dititipkanlah ia kepada Ki Juru Sabin
apalagi karena ibundanyapun meninggal sewaktu melahirkan
Setelah mencapai usia remaja Bondan Kejawan dibawa ke Tarub
untuk dibina jiwa dan raganya oleh Ki Ageng Tarub
ketika disanalah ia berganti nama menjadi Raden Lembu Peteng

Bait 02

Adapun Ki Ageng Tarub itu sebenarnya putra Dewi Rasawulan
yaitu putri tumenggung Tuban Wilatikta yang perkasa
ia pun adik Raden Said, yang disebut juga Sunan Kalijaga
Ki Ageng itu menikah dengan Dewi Nawang Wulan
dan menurunkan seorang anak wanita bernama Dewi Nawangsih
maka dengan Dewi Nawangsihlah Bondan Kejawan menikah
dan berputra Raden Getas Pandawa, yang lalu menurunkan
Ki Ageng Sela, abdi setia, prajurit di kesultanan Demak
Ia cakap mengabdi, bahkan turut perang melawan Majapahit
tetapi setelah tua kembalilah ia ke desanya
di sana menulis sebuah serat pepali untuk anak cucu

Bait 03

Dari putri Sumedang Ki Ageng sela menurunkan dua orang anak
yaitu Nyi Ageng Saba dan Ki Ageng Ngenis ing Nglawean
Ki Ageng Ngenis adalah pengabdi dan pendukung Mas Karebet
bahkan hingga naik takhta dengan gelar Sultan Hadiwijaya
Karena jasa-jasanya dari raja Pajang itu memperoleh dukuh Perdikan
yaitu Nglaweyan di mana ia kemudian menetap hingga mangkatnya
Putra Ki Ageng, yang bernama Ki Gede Pemanahan
menjadi abdi Sultan Pajang, dan diangkat menjadi kakak
Karena kasihnya ia selalu membela junjungannya
hingga berani menghadapi Arya Penangsang dari Jipang
seorang musuh Pajang yang sombong dan angkuh sikapnya
karena dukungan Ki Juru Mertani, Ki Penjawi dan Sutawijaya
berhasillah Ki Gede Pemanahan membinasakan Arya Penangsang
yang gugur dalam kemarahan di aliran Bengawan Sore
Karena jasanya itu maka Sultan Pajang menghadiahkan
Alas Mentaok dan daerah Kadipaten Pati
kepada Pemanahan dan kepada Penjawi.

Bait 04

Demikianlah maka pada suatu hari yang penuh berkat
berangkatlah rombongan Ki Gede ke Alas Mataram
di situ ada di antaranya: Nyi Ageng Ngenis, Nyi Gede Pemanahan
Ki Juru Mertani, Sutawijaya, Putri Kalinyamat, dan pengikut dari Sesela
Ketika itu adalah hari Kamis Pon, tanggal Tiga Rabiulakir
yaitu pada tahun Jemawal yang penuh mengandung makna
Setibanya di Pengging rombongan berhenti selama dua minggu
Sementara Ki Gede bertirakat di makam Ki Ageng Pengging
Lalu meneruskan perjalanan hingga ke tepi sungai Opak
Di mana rombongan dijamu oleh Ki gede Karang Lo
Setelah itu berjalan lagi demi memenuhi panggilan takdir
hingga tiba di suatu tempat, disana mendirikan Kota Gede

Bait 05

Semakin lama negeripun semakin berkembang jua
malah dilengkapi keraton yang selesai dibangun tahun 1578
Di sanalah Ki Gede Pemanahan memerintah, sebagai bawahan Pajang
Hingga akhirnya mangkat dipanggil ke hadirat Sang Pencipta
serta dimakamkan di halaman mesjid Agung di Kuto Gede
pada tahun ber-candrasengkala “Lunga trus rumpaking bala”
Maka Ki Gede Pemanahan meninggalkan tujuh orang anak:
Pertama Mas Danang, yang disebut pula Sutawijaya
dan sering dipanggil Raden Ngabehi Lor ing Pasar
kedua Raden Jambu, ketiga Raden Santri
keempat Raden Kedawung, kelima Raden Tompe
keenam istri Arya Dadap Tulis, ketujuh istri Tumenggung Mayang

Bait 06

Tersebutlah Sutawijaya ditunjuk Sultan Pajang
menjadi pengganti ayahnya, dengan gelar Senopati Ing Alaga
Ia adalah pemimpin yang cakap, dan prajurit yang gagah perkasa
tegasnya pantas ia menjadi raja, sebagaimana yang dicita-citakannya
Sewaktu bertirakat di batu besar Lipura ia mendapat wahyu
bahwa akan menjadi raja, yang menurunkan Wangsa Agung
diperingati oleh paman Ki Martani, ia menyusuri kali Opak ke arah timur
lalu bertapa di laut selatan, yaitu di tepi ombak yang menderu
di tempat bernama Sawangan, di wilayah Kanjeng Ratu Kidul
Sementara itu Ki Juru Martanipun memberinya dukungan
dengan menjalankan prihatin tapa, di lereng gunung Merapi

Bait 07

Setelah itu bersiaplah mereka mempersiapkan kebangunan Mataram
menjawab panggilan sejarah, memenuhi amanat leluhur
Segala adipati, penguasa, dan tokoh di sekitar Mataram
ditundukannya untuk menjadi pendukung usahanya
Ki Ageng Mangir, adipati Kulon Progo, yang ingin merdeka
dibinasakannya, walau ia adalah seorang menantu
yaitu suami Kanjeng Ratu Pembayun, putri Senopati
yang suka supaya ayahandanya dan suaminya mau bersatu
Seterusnya Senopatipun memperkuat semua pasukannya
juga membangun parit dan benteng, seakan menantang Pajang
Setelah itu ditemukannya berpuluh dan beratus halaman
tempat dituliskannya seribu satu malam alasan
untuk tidak datang ke Pajang, dan bersembah kepada raja
Marahlah Adiwijaya, Pajang menyerbu, pertempuran pecah di Prambanan
gagah orang Mataram berjuang, maka Pajangpun mengundurkan diri
Pada perjalanan pulang Sultan Adiwijaya jatuh sakit
dan sangat parah keadaannya sewaktu tiba di kota
penuh hormat dan kasih Senopati mengiringkan perjalanannya
malah menyuruh letakkan serumpun kembalian cinta
berupa kembang selasih, yang diletakkan di gerbang istana
akhirnya mangkatlah Sri Sultan, terbukalah jalan bagi Mataram
Maka kemenangan Mataram itu terjadi pada tahun Saka 1508
dan diperingati dengan Candrasengkala pada gerbang mesjid Agung

Bait 08

Setelah itu mulailah Sang Panembahan Senopati berperang
untuk menaklukkan daerah-daerah di tanah Jawa
ia pergi bertempur melawan adipati-adipati di timur
bahkan pernah pula berlaga melawan Pati
berperang melawan Pragola Pertama, putra Ki Penjawi
demikianlah hidupnya penuh perjuangan, hingga ia mangkat
pada tahun 1601 di Bale Kajenar yang disebut juga Gedhong Kuning
seperti ayahandanya iapun dimakamkan di halaman mesjid Agung
di ibukota praja Mataram, negeri para perwira

Bait 09

Lalu naiklah raja baru, yaitu Mas Jolang, anak Kanjeng Ratu Pati
ia mengenakan gelar Sunan Hadi Prabu Anyakrawati
Walaupun sebentar memerintah iapun sering bertempur
melawan para adipati di timur dan di pesisir utara
serta terus berusaha menanam pengaruh, di Sumatra dan Sukadana
Di bidang pembangunan ia rajin memperindah istana
juga tekun mendorong perkembangan sastra
Sebagai contoh adalah menjadi majunya ilmu pewayangan
sebagai buah-tangan hasil karya Ki Dalang Panjang Mas
Adapun Sunan Hadi Prabu Anyakrawati mangkat
ketika celaka sewaktu melakukan perburuan di Krapyak
maka iapun disebut orang Panembahan Seda Krapyak
ia dimakamkan di Kota Gede bersama dengan seluruh keluarga istana

Bait 10

Lalu naik takhtalah Mas Rangsang, putra prabu
dari Kanjeng Ratu Pajang
pembawaannya sungguh seperti Senopati Ing Alaga
dan sebagai imam disebut pula Sayidin Panatagama Khalifatullah
sedangkan gelarnya adalah Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma
Ia adalah negarawan yang berkemauan dan bercita-cita keras
bijaksana, jujur, adil, menyukai sastra, dan bertakwa
Sejak mulai memerintah tekun membina roda pemerintahan
memperkuat tentara dan mengukuhkan kehormatan Mataram
kesiagaan kerajaan agung ditingkatkan dan kewaspadaan dijaga
sebab dimana-mana timbul tantangan dan perlawanan
Tahun 1614 Mataram menyerbu kota-kota Pasuruan dan Lumajang
tetapi lalu mundur di kejar gabungan tentara Wetan
pecah pertempuran di tepi sungai Andaka dan Matarampun jaya
Tahun 1615 di bawah pimpinan Prabu Agung Mataram menyerbu
Wirasaba, kota benteng di Maja Agung, diporak-porandakan
Tetapi telah berkumpul di Lasem para adipati Wetan
dipimpin dipati Surabaya yang ingin menahan kemajuan Mataram
Tentara Mataram yang sedang kembali dikejar mundur
hingga di Pajang dimana tentara Wetan dipukul mundul
Tidak menyerah pada tahun 1616 gabungan adipati Wetan ganti menyerbu
di Siwalan-Pajang pecah pertempuran yang dimenangkan Mataram
terus Mataram maju menyerang dan merebut Lasem
dan pada tahun berikutnya menaklukkan Pasuruan
hingga adipatinya terpaksa lari ke Surabaya

Bait 11

Seterusnya pada tahun 1618 Pajang memberontak maka dijarah habis
kotanya dihancurkan dan penduduknya digiring ke Mataram
Tahun 1619 pelabuhan Tuban di kepung selama berbulan-bulan
hingga rakyatnya menyerah karena tak tahan derita
Tahun 1620 dan 1621 Mataram menyerbu Surabaya, tetapi gagal
sebab selat Madura belum dikuasai, dan bantuan pangan tetap datang
dari para sekutu di Madura dan di Sukadana
Tahun 1623 Mataram menyerbu lagi dengan ganasnya
habis rusak Jortan, Gresik dan seluruh kitaran Surabaya
Adipati Kendalpun dikirim untuk merebut Sukadana
Tetapi tetap saja Surabaya tangguh bertahan dalam serbuan itu
akhirnya gelombang prajurit Mataram menyapu Madura
Sumenep, Bangkalan dan Sampang semua tunduk tanpa kecuali
banyak para ningrat terbunuh, banyak pula yang lari ke Giri dan Banten
Setelah itu dikepunglah Surabaya dan dibendunglah sungai Mas
ditaburkan racun dan bisa pada airnya yang menggenang di kota
ribuan rakyatnya mati karena penyakit dan kelaparan
maka setelah bertempur dengan penuh keberanian dan kegagahan
akhirnya Surabaya tunduk dan menyerah kalah
Pada tahun 1625 yaitu di puncak kejayaan Mataram
dibuatlah meriam Pancawura sebagai lambang kekuasaan
Tetapi perang penaklukkan oleh Mataram belum selesai
sebab tanah Jawa belumlah semuanya tunduk

Bait 12

Pada tahun 1627 Prabu Agung memimpin pasukan menyerbu Pati
karena Pragola kedua terlihat akan memberontak
kota Pati dijarah habis dan rakyatnya dijadikan tawanan
sedangkan keluarga Pragolapun sirna dari sejarah Jawa
Setelah itu bersama tentara Sunda dari Ukur dan Sumedang
pasukan Mataram menyerbu kedudukan Belanda di Betawi
dalam penyerbuan pertama di tahun 1625
dan dalam penyerbuan kedua di tahun 1626
Walaupun gagah dalam menyerbu Mataram terpaksa mundur
karena kuatnya pertahanan kota Belanda di Betawi
dan jayanya armada laut serta mutakhirnya persenjataan
Beberapa saat setelah itu bergolak pula daerah Kulon
karena Ukur dan Sumedang memberontak kepada raja
maka dengan dukungan Panembahan Cirebon dan para umbul Sunda
menyerbulah Mataram dan memadamkan pemberontakan
sedangkan adipati Ukurpun dihukum mati

Bait 13

Tetapi Sultan Agung bukanlah hanya pemenang dalam perang
sebab ia juga menjadi pelopor pembangunan dan kebudayaan
Kraton didirikan, mesjid diperindah, dan gerbang Tembayat dipugar
Ia menulis surat sastra Gending, tentang hal kebatinan
yaitu persatuan antara sastra aksara dan gending marifat
Ia juga menyatukan tarikh saka dan tarikh hijrah
dan memadu perayaan garebeg dengan puasa dan maulud
maka di masa itu ia memerintahkan penulisan babad kejayaan
Walaupun semua berjalan dengan lancar dan baik
terjadi pula beberapa keresahan di Mataram
Pada tahun 1630 beberapa pengikut Tembayat
dengan dukungan Tepasana dan Kajoran memberontak
tetapi kemudian tunduk kepada kewibawaan Prabu Agung
Selanjutnya pada tahun 1636 Panembahan Kawis Guwa
yaitu keturunan Sunan Giri, menolak kekuasaan Mataram
akibatnya Giri diserbu dan Panembahan dikalahkan
Pada tahun 1635 Matarampun telah menyerbu Balambangan dan Panatukan
yang kukuh bertahan karena bantuan Dewa Agung dari Gelgel
Lalu pada tahun 1639 sekali lagi Mataram menyerbu ke timur
Setelah menang ingin terus menyerbu ke pulau Bali
tetapi rencana dibatalkan karena banyak perwira telah gugur
Demikianlah Mataram itu pada puncak kekuasaannya
besar, megah dan sangat unggul di sebagian besar Jawa
serta dihormati oleh Jambi, Palembang, Banjar dan Makasar
yang sering mengirimkan utusan dengan hadiah ke ibu kota
Akhirnya pada bulan Februari tahun masehi 1646
mangkatlah Sultan Agung dan dimakamkan di Imogiri
yaitu bukit pemakaman keramat keluarga istana
yang menjadi lambang dan tanda keagungan Mataram

Bait 14

Lalu naik takhtalah Pangeran Adipati Anom,
putra prabu dari Kanjeng Ratu Kulon
yang memerintah dengan gelar Susuhunan Amangkurat pertama
Pada dirinya itulah terhimpun riwayat dan sejarah keluarga
dari pihak ayahandanya berdarah Senopati dan Pamanahan
dari pihak ibundanya ia mewarisi darah para pemuka Sunda
Sebab ibunda Kanjeng Ratu Kulon bukan saja memiliki Batang,
sebagai tanah gaduhan
tetapi ia juga putri Panembahan Cirebon, yaitu Panembahan Ratu
Sedangkan Panembahan Ratu adalah turunan darah Syarif Hidayatullah
yaitu wali yang disebut Susuhunan Gunung Jati, dan
Ibunda Gunung Jati adalah Nyi Rara Santang yang saleh
adik Panembahan Cakrabuwana,
yaitu Raden Arya Santang atau Haji Abdul Iman
dan kakak Sunan Rakhmat Suci,
yaitu Raden Kian Santang atau Prabu Sagara
Maka mereka bertiga itu adalah anak Nyi Ratu Subang Karancang
yaitu santri wanita, putri patih Mangkubumi dari Jayasingapura
yang dijadikan istri oleh Prabu Siliwangi Ratu Jayadewata
penguasa Prahajyan Sunda yang agung dan luhur
disebut juga Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran
Karena itu pada diri sang Adipati Anomlah bersatu
darah Brawijaya, darah Mataram dan darah Siliwangi

Bait 15

Adapun masa pemerintahan Susuhunan Amangkurat Ingalaga Mataram itu
penuh dengan kemelut, bencana, dan gejolak musuhnya
banyak baik di luar maupun di dalam istana
baik di kalangan sentana raja, ulama, maupun penguasa daerah
dan sering pula mengalami pecahnya pemberontakan
Pada tahun 1647 Balambangan mengangkat senjata
dipimpin Tawang Alun yang ingin merdeka dari Mataram
maka terjadilah penyerbuan ke timur dan pertempuranpun pecah
banyaklah pejabat Mataram yang gugur dalam memadamkan pemberontakan
Demikian pula di Mataram Pangeran Alit dibinasakan para pengawal raja
karena dengan keris terhunus ingin membunuh kakanda prabu
Seterusnya Amangkurat bersilang jalan pula dengan Pamanda Purbaya
dan bahkan di kemudian hari dengan anak kandungnya, Adipati Anom
yang lahir dari Kanjeng Ratu Surabaya, putri Pangeran Pekik
yaitu Adipati Surabaya yang dihukum mati Amangkurat
Maka dalam suasana kemelut dan pecah-belah itu
kekuatan lawan perlahan-lahan mulai tersusun
Trunojoyo, turunan Sampang dan Bangkalan membangkang
dibantu Kraeng Galesung, pemimpin pelarian Makasar di Demang-Basuki
didukung oleh keluarga besar Kajoran di Klaten
yang di pimpin oleh Raden Kajoran Ambalik, yaitu Panembahan Rama
bahkan putra mahkota Adipati Anom mulanya bersahabat dengan Trunojoyo

Bait 16

Pada tahun 1675 serangan Madura dan Makasar datang melanda
dan secara singkat wilayah dari Gresik hingga Pajarakan jatuh
di Madura Trunojoyo mengambil gelar Panembahan Maduretna
dan dengan restu Sunan Giri menundukkan kota Surabaya
Akhirnya bergeraklah tentara Mataram dengan dukungan pasukan Sunda
di bawah pimpinan Pangeran Purbaya
dan Adipati Anom yang bersetengah hati
pertempuran pecah di Gegodog, di sebelah timur Tuban
Mataram dikalahkan, Purbaya gugur dan Anom melarikan diri
Tentara Trunojoyo terus menyerbu dengan penuh semangat
hingga jatuh seluruh pantai utara, kecuali kota Jepara
Sementara itu Belanda ingin melihat Mataram berkuasa terus
maka pada tahun 1677 menyerbu Madura dan merusak Maduretna
Tetapi tentara Trunojoyo dan Kajoran telah memasuki Mataram
tanpa tertahan oleh para pangeran yang terpecah belah
maka kraton di Pleredpun jatuh serta dibakar habis
seluruh harta kekayaannya diangkut ke Jawa Timur

Bait 17

Dalam keadaan sakit Susuhunan mengundurkan diri ke barat
untuk meminta bantuan keluarga ibunya merebut Mataram
dengan diiringi keluarga dan para pengawal yang setia
dilintasinya Bagelen, pegunungan Kendeng, wilayah Banyumas
kemudian terus ke utara menujun ke daerah Batang
Sementara itu Adipati Anom bertobat dan menggabungkan diri
lalu dari tangan ayahnya menerima semua pusaka kraton
Sebelum mencapai Tegal Susuhunan Amangkurat meninggal dunia
dan disemayamkan di sebuah bukit kecil di Tegal Arum
dan sejak saat itu disebut Panembahan Seda Tegal Arum

Bait 18

Maka hilanglah segala kebingungan dan kelesuan dari putra sang Prabu
bangkitlah semangatnya dan bercahaya wajahnya karena wahyu keratuan
disebutnya dirinya dengan gelar Susuhunan Amangkurat kedua
dan diterimanya pengakuan dari para pangeran dan penguasa
Pasir luhur, Batang, Cirebon, Semarang dan Jepara mendukungnya
juga diterimanya janji untuk membantu dari Belanda
Bersama pasukannya ia maju kearah timur untuk merebut hak
tetapi tertahan di batas Mataram, karena ulah kakanda Puger
yang dalam keadaan kacau telah mengangkat dirinya menjadi raja
maka Amangkurat Amral berbelok ke utara menuju Jepara
di sana menandatangani perjanjian dengan Belanda
dilepasnya seluruh hak atas Jawa Barat, dan ditanggungnya biaya perang
kemudian Belanda merebut seluruh wilayah Pantai utara
untuk diserahkan kembali sebagai milik Susuhunan
Raja Mataram sendiri merebut Kediri, dimana Trunojoyo ditangkap
dengan kerisnya sendiri Susuhunan menghukumnya mati
Lalu pada tahun1680 Amangkurat mendirikan istana di Pajang-Wanakerta
dan pada tahun 1681 menerima penyerahan diri kakanda Puger
tetapi keluarga Kertasana dari Brantas dan Kajoran dari Klaten
begitu pula orang-orang Wanakusuma dari Gunung Kidul
dengan teguh meneruskan perjuangan mereka
hingga kelak bergabung dengan Untung Surapati di tahun 1686

Bait 19

Susuhunan Amangkurat ke dua memerintah hingga tahun 1703
yaitu tahun dimana sang prabu meninggal dunia dan dimakamkan
Lalu naik takhtalah putra sang prabu, yaitu Susuhunan Amangkurat ketiga
dibantu oleh Patih Nerang Kusuma, Panembahan Cakraningrat
dan Untung Surapati
raja muda itu ingin mengikis habis pengaruh Belanda di Mataram
Pamanda Puger yang ingin menjadi raja merasa dicurigai
maka larilah ia ke Semarang untuk meminta bantuan Belanda
kembali bersama Belanda ke Mataram ia mengangkat dirinya menjadi raja
dan disebut dengan gelar Sinuwun Pakubuwono pertama
sedangkan Amangkurat ke tiga dan para pengikutnya lari ke timur
untuk meneruskan perjuangan melawan Belanda bersama Surapati
Setelah Surapati gugur pada tahun 1706
Susuhunan terus melawan hingga tahun 1708
yaitu ketika ia menyerah kepada Belanda
Seterusnya ia diasingkan ke negeri Sailan,
hingga mangkat disana pada tahun 1737.

Bait 20

Di negeri Mataram Pakubuwana pertama diikuti oleh yang kedua dan ketiga
maka pada masa Pakubuwana ketigalah Pangeran Mangkubumi memberontak
Karena ia tak terkalahkan diadakanlah perjanjian Giyanti pada tahun 1755
Mataram dibagi menjadi dua, yaitu Surakarta dan Yogyakarta
di Surakarta berkuasa wangsa Pakubuwana
dan di Yogyakarta wangsa Hamengkubuwana
Selanjutnya terjadi lagi pemberontakan oleh Raden Mas Said,
putra Mangkunegara,
yang selama masa peperangan disebut Pangeran Samber Nyawa
Iapun tak terkalahkan, sepak terjangnya benar-benar perkasa
Pada tahun 1757 diadakanlah perjanjian Salatiga
antara Raden Mas Said, Kasunanan dan Kompeni Belanda
di mana di sepakati bersama pembentukan wilayah Mangkunegaran
Terakhir adalah pembentukan wilayah Paku Alaman
Sewaktu Inggris menguasai Jawa dari tahun 1814 hingga 1818
ketika itu Pangeran Natakusuma dianggap berjasa
dan diangkat Gubernur Jendral menjadi Sri Paku Alam Kesatu
Demikianlah berlalu kebesaran dan kejayaan Mataram
untuk dikenang oleh semua orang yang menjadi pewarisnya

By alang alang
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

Offline Alhamas

  • biasa aja belum
  • Up Level
  • Master
  • ********
  • Posts: 6147
  • Age: 38
  • Location: Indonesia Satu
  • Reputasi : 351
  • SAVE OUR EARTH
  • OS:
  • Windows 7/Server 2008 R2 Windows 7/Server 2008 R2
  • Browser:
  • SeaMonkey 2.0.1 SeaMonkey 2.0.1
    • cahgalexs
Re: Mengenal budaya kita INDONESIA
« Reply #10 on: February 26, 2010, 01:44:27 pm »
Ramalan Sabdo Palon


( Terjemahan bebas bahasa Indonesia )

1.
Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.
2.
Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”
3.
Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.
4.
Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.
5.
Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin .......... dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.
6.
Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.
7.
Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.
8.
Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.
9.
Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.
10.
Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.
11.
Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.
12.
Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.
13.
Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.
14.
Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.
15.
Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.
16.
Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.
OJO RUMONGSO BISO NING BISO O RUMONGSO

Offline Alhamas

  • biasa aja belum
  • Up Level
  • Master
  • ********
  • Posts: 6147
  • Age: 38
  • Location: Indonesia Satu
  • Reputasi : 351
  • SAVE OUR EARTH
  • OS:
  • Windows 7/Server 2008 R2 Windows 7/Server 2008 R2
  • Browser:
  • SeaMonkey 2.0.1 SeaMonkey 2.0.1
    • cahgalexs
Re: Mengenal budaya kita INDONESIA
« Reply #11 on: February 26, 2010, 01:47:49 pm »
Ramalan 7 Satria Ronggowarsito

27 Oktober, 2009 · Disimpan dalam Misteri Dunyo · Tagged Ramalan Ronggo Warsito · Sunting

Dipaparkan ada tujuh satrio piningit yang akan muncul sebagai tokoh yang dikemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit , yaitu : Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu.Berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :

   1. SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO. Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.
   2. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR. Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.
   3. SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR. Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.
   4. SATRIO LELONO TAPA NGRAME. Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.
   5. SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH. Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.
   6. SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO. Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong / dari menteri menjadi presiden)/(tambahan bisa juga perpindahan dari Istana Negara ke Rumah Pribadinya di Puri Cikeas) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.
   7. SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU. Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati.

OJO RUMONGSO BISO NING BISO O RUMONGSO

Offline Alhamas

  • biasa aja belum
  • Up Level
  • Master
  • ********
  • Posts: 6147
  • Age: 38
  • Location: Indonesia Satu
  • Reputasi : 351
  • SAVE OUR EARTH
  • OS:
  • Windows 7/Server 2008 R2 Windows 7/Server 2008 R2
  • Browser:
  • SeaMonkey 2.0.1 SeaMonkey 2.0.1
    • cahgalexs
Re: Mengenal budaya kita INDONESIA
« Reply #12 on: February 26, 2010, 01:50:31 pm »
Bait Terakhir Ramalan Jayabaya

27 Oktober, 2009 · Disimpan dalam Misteri Dunyo · Tagged Ramalan Jayabaya · Sunting

140.
polahe wong Jawa kaya gabah diinteri
endi sing bener endi sing sejati
para tapa padha ora wani
padha wedi ngajarake piwulang adi
salah-salah anemani pati

tingkah laku orang Jawa seperti gabah ditampi
mana yang benar mana yang asli
para pertapa semua tak berani
takut menyampaikan ajaran benar
salah-salah dapat menemui ajal

141.
banjir bandang ana ngendi-endi
gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni
gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni
marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti

banjir bandang dimana-mana
gunung meletus tidak dinyana-nyana, tidak ada isyarat dahulu
sangat benci terhadap pendeta yang bertapa, tanpa makan dan tidur
karena takut bakal terbongkar rahasianya siapa anda sebenarnya

142.
pancen wolak-waliking jaman
amenangi jaman edan
ora edan ora kumanan
sing waras padha nggagas
wong tani padha ditaleni
wong dora padha ura-ura
beja-bejane sing lali,
isih beja kang eling lan waspadha

sungguh zaman gonjang-ganjing
menyaksikan zaman gila
tidak ikut gila tidak dapat bagian
yang sehat pada olah pikir
para petani dibelenggu
para pembohong bersuka ria
beruntunglah bagi yang lupa,
masih beruntung yang ingat dan waspada

143.
ratu ora netepi janji
musna kuwasa lan prabawane
akeh omah ndhuwur kuda
wong padha mangan wong
kayu gligan lan wesi hiya padha doyan
dirasa enak kaya roti bolu
yen wengi padha ora bisa turu

raja tidak menepati janji
kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya
banyak rumah di atas kuda
orang makan sesamanya
kayu gelondongan dan besi juga dimakan
katanya enak serasa kue bolu
malam hari semua tak bisa tidur

144.
sing edan padha bisa dandan
sing ambangkang padha bisa
nggalang omah gedong magrong-magrong

yang gila dapat berdandan
yang membangkang semua dapat
membangun rumah, gedung-gedung megah

145.
wong dagang barang sangsaya laris, bandhane ludes
akeh wong mati kaliren gisining panganan
akeh wong nyekel bendha ning uriping sengsara

orang berdagang barang makin laris tapi hartanya makin habis
banyak orang mati kelaparan di samping makanan
banyak orang berharta namun hidupnya sengsara

146.
wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencil
sing ora abisa maling digethingi
sing pinter duraka dadi kanca
wong bener sangsaya thenger-thenger
wong salah sangsaya bungah
akeh bandha musna tan karuan larine
akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebabe

orang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil
yang tidak dapat mencuri dibenci
yang pintar curang jadi teman
orang jujur semakin tak berkutik
orang salah makin pongah
banyak harta musnah tak jelas larinya
banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab

147.
bumi sangsaya suwe sangsaya mengkeret
sakilan bumi dipajeki
wong wadon nganggo panganggo lanang
iku pertandhane yen bakal nemoni
wolak-walike zaman

bumi semakin lama semakin sempit
sejengkal tanah kena pajak
wanita memakai pakaian laki-laki
itu pertanda bakal terjadinya
zaman gonjang-ganjing

148.
akeh wong janji ora ditepati
akeh wong nglanggar sumpahe dhewe
manungsa padha seneng ngalap,
tan anindakake hukuming Allah
barang jahat diangkat-angkat
barang suci dibenci

banyak orang berjanji diingkari
banyak orang melanggar sumpahnya sendiri
manusia senang menipu
tidak melaksanakan hukum Allah
barang jahat dipuja-puja
barang suci dibenci

149.
akeh wong ngutamakake royal
lali kamanungsane, lali kebecikane
lali sanak lali kadang
akeh bapa lali anak
akeh anak mundhung biyung
sedulur padha cidra
keluarga padha curiga
kanca dadi mungsuh
manungsa lali asale

banyak orang hamburkan uang
lupa kemanusiaan, lupa kebaikan
lupa sanak saudara
banyak ayah lupa anaknya
banyak anak mengusir ibunya
antar saudara saling berbohong
antar keluarga saling mencurigai
kawan menjadi musuh
manusia lupa akan asal-usulnya

150.
ukuman ratu ora adil
akeh pangkat jahat jahil
kelakuan padha ganjil
sing apik padha kepencil
akarya apik manungsa isin
luwih utama ngapusi

hukuman raja tidak adil
banyak yang berpangkat, jahat dan jahil
tingkah lakunya semua ganjil
yang baik terkucil
berbuat baik manusia malah malu
lebih mengutamakan menipu

151.
wanita nglamar pria
isih bayi padha mbayi
sing pria padha ngasorake drajate dhewe

wanita melamar pria
masih muda sudah beranak
kaum pria merendahkan derajatnya sendiri

Bait 152 sampai dengan 156 tidak ada (hilang dan rusak)

157.
wong golek pangan pindha gabah den interi
sing kebat kliwat, sing kasep kepleset
sing gedhe rame, gawe sing cilik keceklik
sing anggak ketenggak, sing wedi padha mati
nanging sing ngawur padha makmur
sing ngati-ati padha sambat kepati-pati

tingkah laku orang mencari makan seperti gabah ditampi
yang cepat mendapatkan, yang lambat terpeleset
yang besar beramai-ramai membuat yang kecil terjepit
yang angkuh menengadah, yang takut malah mati
namun yang ngawur malah makmur
yang berhati-hati mengeluh setengah mati

158.
cina alang-alang keplantrang dibandhem nggendring
melu Jawa sing padha eling
sing tan eling miling-miling
mlayu-mlayu kaya maling kena tuding
eling mulih padha manjing
akeh wong injir, akeh centhil
sing eman ora keduman
sing keduman ora eman

cina berlindung karena dilempari lari terbirit-birit
ikut orang Jawa yang sadar
yang tidak sadar was-was
berlari-lari bak pencuri yang kena tuduh
yang tetap tinggal dibenci
banyak orang malas, banyak yang genit
yang sayang tidak kebagian
yang dapat bagian tidak sayang

159.
selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun
sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu
bakal ana dewa ngejawantah
apengawak manungsa
apasurya padha bethara Kresna
awatak Baladewa
agegaman trisula wedha
jinejer wolak-waliking zaman
wong nyilih mbalekake,
wong utang mbayar
utang nyawa bayar nyawa
utang wirang nyaur wirang

selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun
(sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu)
akan ada dewa tampil
berbadan manusia
berparas seperti Batara Kresna
berwatak seperti Baladewa
bersenjata trisula wedha
tanda datangnya perubahan zaman
orang pinjam mengembalikan,
orang berhutang membayar
hutang nyawa bayar nyawa
hutang malu dibayar malu

160.
sadurunge ana tetenger lintang kemukus lawa
ngalu-ngalu tumanja ana kidul wetan bener
lawase pitung bengi,
parak esuk bener ilange
bethara surya njumedhul
bebarengan sing wis mungkur prihatine manungsa kelantur-lantur
iku tandane putra Bethara Indra wus katon
tumeka ing arcapada ambebantu wong Jawa

sebelumnya ada pertanda bintang pari
panjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timur
lamanya tujuh malam
hilangnya menjelang pagi sekali
bersama munculnya Batara Surya
bebarengan dengan hilangnya kesengsaraan manusia yang berlarut-larut
itulah tanda putra Batara Indra sudah nampak
datang di bumi untuk membantu orang Jawa

161.
dunungane ana sikil redi Lawu sisih wetan
wetane bengawan banyu
andhedukuh pindha Raden Gatotkaca
arupa pagupon dara tundha tiga
kaya manungsa angleledha

asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur
sebelah timurnya bengawan
berumah seperti Raden Gatotkaca
berupa rumah merpati susun tiga
seperti manusia yang menggoda

162.
akeh wong dicakot lemut mati
akeh wong dicakot semut sirna
akeh swara aneh tanpa rupa
bala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis
tan kasat mata, tan arupa
sing madhegani putrane Bethara Indra
agegaman trisula wedha
momongane padha dadi nayaka perang
perange tanpa bala
sakti mandraguna tanpa aji-aji

banyak orang digigit nyamuk,
mati banyak orang digigit semut, mati
banyak suara aneh tanpa rupa
pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar
tak kelihatan, tak berbentuk
yang memimpin adalah putra Batara Indra,
bersenjatakan trisula wedha
para asuhannya menjadi perwira perang
jika berperang tanpa pasukan
sakti mandraguna tanpa azimat

163.
apeparap pangeraning prang
tan pokro anggoning nyandhang
ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang
sing padha nyembah reca ndhaplang,
cina eling seh seh kalih pinaringan sabda hiya gidrang-gidrang

bergelar pangeran perang
kelihatan berpakaian kurang pantas
namun dapat mengatasi keruwetan orang banyak
yang menyembah arca terlentang
cina ingat suhu-suhunya dan memperoleh perintah, lalu melompat ketakutan

164.
putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu
hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti
mumpuni sakabehing laku
nugel tanah Jawa kaping pindho
ngerahake jin ..........
kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo
kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda
landhepe triniji suci
bener, jejeg, jujur
kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong

putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu
yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti
menguasai seluruh ajaran (ngelmu)
memotong tanah Jawa kedua kali
mengerahkan jin dan ..........
seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu
membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda
tajamnya tritunggal nan suci
benar, lurus, jujur
didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong

165.
pendhak Sura nguntapa kumara
kang wus katon nembus dosane
kadhepake ngarsaning sang kuasa
isih timur kaceluk wong tuwa
paringane Gatotkaca sayuta

tiap bulan Sura sambutlah kumara
yang sudah tampak menebus dosa
dihadapan sang Maha Kuasa
masih muda sudah dipanggil orang tua
warisannya Gatotkaca sejuta

166.
idune idu geni
sabdane malati
sing mbregendhul mesti mati
ora tuwo, enom padha dene bayi
wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada
garis sabda ora gentalan dina,
beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira
tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa
nanging inung pilih-pilih sapa

ludahnya ludah api
sabdanya sakti (terbukti)
yang membantah pasti mati
orang tua, muda maupun bayi
orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi
garis sabdanya tidak akan lama
beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya
tidak mau dihormati orang se tanah Jawa
tetapi hanya memilih beberapa saja

167.
waskita pindha dewa
bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira
pindha lahir bareng sadina
ora bisa diapusi marga bisa maca ati
wasis, wegig, waskita,
ngerti sakdurunge winarah
bisa pirsa mbah-mbahira
angawuningani jantraning zaman Jawa
ngerti garise siji-sijining umat
Tan kewran sasuruping zaman

pandai meramal seperti dewa
dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda
seolah-olah lahir di waktu yang sama
tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati
bijak, cermat dan sakti
mengerti sebelum sesuatu terjadi
mengetahui leluhur anda
memahami putaran roda zaman Jawa
mengerti garis hidup setiap umat
tidak khawatir tertelan zaman

168.
mula den upadinen sinatriya iku
wus tan abapa, tan bibi, lola
awus aputus weda Jawa
mung angandelake trisula
landheping trisula pucuk
gegawe pati utawa utang nyawa
sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan
sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda

oleh sebab itu carilah satria itu
yatim piatu, tak bersanak saudara
sudah lulus weda Jawa
hanya berpedoman trisula
ujung trisulanya sangat tajam
membawa maut atau utang nyawa
yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain
yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan

169.
sirik den wenehi
ati malati bisa kesiku
senenge anggodha anjejaluk cara nistha
ngertiyo yen iku coba
aja kaino
ana beja-bejane sing den pundhuti
ateges jantrane kaemong sira sebrayat

pantang bila diberi
hati mati dapat terkena kutukan
senang menggoda dan minta secara nista
ketahuilah bahwa itu hanya ujian
jangan dihina
ada keuntungan bagi yang dimintai
artinya dilindungi anda sekeluarga

170.
ing ngarsa Begawan
dudu pandhita sinebut pandhita
dudu dewa sinebut dewa
kaya dene manungsa
dudu seje daya kajawaake kanti jlentreh
gawang-gawang terang ndrandhang

di hadapan Begawan
bukan pendeta disebut pendeta
bukan dewa disebut dewa
namun manusia biasa
bukan kekuatan lain diterangkan jelas
bayang-bayang menjadi terang benderang

171.
aja gumun, aja ngungun
hiya iku putrane Bethara Indra
kang pambayun tur isih kuwasa nundhung ..........
tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh
hiya siji iki kang bisa paring pituduh
marang jarwane jangka kalaningsun
tan kena den apusi
marga bisa manjing jroning ati
ana manungso kaiden ketemu
uga ana jalma sing durung mangsane
aja sirik aja gela
iku dudu wektunira
nganggo simbol ratu tanpa makutha
mula sing menangi enggala den leluri
aja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelu
beja-bejane anak putu

jangan heran, jangan bingung
itulah putranya Batara Indra
yang sulung dan masih kuasa mengusir ..........
turunnya air brajamusti pecah memercik
hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk
tentang arti dan makna ramalan saya
tidak bisa ditipu
karena dapat masuk ke dalam hati
ada manusia yang bisa bertemu
tapi ada manusia yang belum saatnya
jangan iri dan kecewa
itu bukan waktu anda
memakai lambang ratu tanpa mahkota
sebab itu yang menjumpai segeralah menghormati,
jangan sampai terputus, menghadaplah dengan patuh
keberuntungan ada di anak cucu

172.
iki dalan kanggo sing eling lan waspada
ing zaman kalabendu Jawa
aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa
cures ludhes saka braja jelma kumara
aja-aja kleru pandhita samusana
larinen pandhita asenjata trisula wedha
iku hiya pinaringaning dewa

inilah jalan bagi yang ingat dan waspada
pada zaman kalabendu Jawa
jangan melarang dalam menghormati orang berupa dewa
yang menghalangi akan sirna seluruh keluarga
jangan keliru mencari dewa
carilah dewa bersenjata trisula wedha
itulah pemberian dewa

173.
nglurug tanpa bala
yen menang tan ngasorake liyan
para kawula padha suka-suka
marga adiling pangeran wus teka
ratune nyembah kawula
angagem trisula wedha
para pandhita hiya padha muja
hiya iku momongane kaki Sabdopalon
sing wis adu wirang nanging kondhang
genaha kacetha kanthi njingglang
nora ana wong ngresula kurang
hiya iku tandane kalabendu wis minger
centi wektu jejering kalamukti
andayani indering jagad raya
padha asung bhekti

menyerang tanpa pasukan
bila menang tak menghina yang lain
rakyat bersuka ria
karena keadilan Yang Kuasa telah tiba
raja menyembah rakyat
bersenjatakan trisula wedha
para pendeta juga pada memuja
itulah asuhannya Sabdopalon
yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur
segalanya tampak terang benderang
tak ada yang mengeluh kekurangan
itulah tanda zaman kalabendu telah usai
berganti zaman penuh kemuliaan
memperkokoh tatanan jagad raya
semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi

Tambahan dari berbagai sumber

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
Tanah Jawa kalungan wesi.
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
Kali ilang kedhunge.
Pasar ilang kumandhang.
Iku tandane yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.
Bumi saya suwe saya mengkeret.
Sekilan bumi dipajeki.
Jaran doyan mangan sambel.
Wong wadon nganggo pakaian lanang.
Iku tandane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
Akeh janji ora ditetepi.
Akeh wong wani mlanggar sumpahe dhewe.
Manungsa pada seneng nyalah.
Ora ngindhahake hukum Allah.
Barang jahat diangkat-angkat.
Barang suci dibenci.
Akeh manungsa mung ngutamake dhuwit.
Lali kamanungsan.
Lali kabecikan.
Lali sanak lali kadang.
Akeh bapa lali anak.
Akeh anak wani nglawan ibu.
Nantang bapa.
Sedulur pada cidra.
Kulawarga pada curiga.
Kanca dadi mungsuh.
Akeh manungsa lali asale.
Ukuman ratu ora adhil.
Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
Akeh kelakuan sing ganjil.
Wong apik-apik pada kepencil.
Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.
Luwih utama ngapusi.
Wegah nyambut gawe.
Kepingin urip mewah.
Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
Wong bener thenger-thenger.
Wong salah bungah.
Wong apik ditampik-tampik.
Wong jahat munggah pangkat.
Wong agung kesinggung.
Wong ala kepuja.
Wong wadon ilang kawirangane.
Wong lanang ilang kaprawirane.
Akeh wong lanang ora duwe bojo.
Akeh wong wadon ora setya marang bojone.
Akeh ibu pada ngedol anake.
Akeh wong wadon ngedol awake.
Akeh wong ijol bebojo.
Wong wadon nunggang jaran.
Wong lanang linggih plangki.
Randha seuang loro.
Prawan seaga lima.
Dudha pincang laku sembilan uang.
Akeh wong ngedol ngelmu.
Akeh wong ngaku-aku.
Njabane putih njerone dhadhu.
Ngakune suci, nanging sucine palsu.
Akeh bujuk akeh lojo.
Akeh udan salah mangsa.
Akeh prawan tuwa.
Akeh randha nglairake anak.
Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapake.
Agama akeh sing nantang.
Perikamanungsan saya ilang.
Omah suci dibenci.
Omah ala saya dipuja.
Wong wadon lacur ing ngendi-endi.
Akeh laknat.
Akeh pengkhianat.
Anak mangan bapak.
Sedulur mangan sedulur.
Kanca dadi mungsuh.
Guru disatru.
Tangga padha curiga.
Kana-kene saya angkara murka.
Sing weruh kebubuhan.
Sing ora weruh ketutuh.
Besuk yen ana peperangan.
Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor.
Akeh wong becik saya sengsara.
Wong jahat saya seneng.
Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul.
Wong salah dianggep bener.
Pengkhianat nikmat.
Durjana saya sempurna.
Wong jahat munggah pangkat.
Wong lugu kebelenggu.
Wong mulya dikunjara.
Sing curang garang.
Sing jujur kojur.
Pedagang akeh sing keplarang.
Wong main akeh sing ndadi.
Akeh barang haram.
Akeh anak haram.
Wong wadon nglamar wong lanang.
Wong lanang ngasorake drajate dhewe.
Akeh barang-barang mlebu luang.
Akeh wong kaliren lan wuda.
Wong tuku nglenik sing dodol.
Sing dodol akal okol.
Wong golek pangan kaya gabah diinteri.
Sing kebat kliwat.
Sing telat sambat.
Sing gedhe kesasar.
Sing cilik kepleset.
Sing anggak ketunggak.
Sing wedi mati.
Sing nekat mbrekat.
Sing jirih ketindhih.
Sing ngawur makmur.
Sing ngati-ati ngrintih.
Sing ngedan keduman.
Sing waras nggagas.
Wong tani ditaleni.
Wong dora ura-ura.
Ratu ora netepi janji, musna kekuwasaane.
Bupati dadi rakyat.
Wong cilik dadi priyayi.
Sing mendele dadi gedhe.
Sing jujur kojur.
Akeh omah ing ndhuwur jaran.
Wong mangan wong.
Anak lali bapak.
Wong tuwa lali tuwane.
Pedagang adol barang saya laris.
Bandhane saya ludes.
Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.
Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sengsara.
Sing edan bisa dandan.
Sing bengkong bisa nggalang gedong.
Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil.
Ana peperangan ing njero.
Timbul amarga para pangkat akeh sing pada salah paham.
Durjana saya ngambra-ambra.
Penjahat saya tambah.
Wong apik saya sengsara.
Akeh wong mati jalaran saka peperangan.
Kebingungan lan kobongan.
Wong bener saya tenger-tenger.
Wong salah saya bungah-bungah.
Akeh banda musna ora karuan lungane.
Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe.
Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram.
Bejane sing lali, bejane sing eling.
Nanging sauntung-untunge sing lali.
Isih untung sing waspada.
Angkara murka saya ndadi.
Kana-kene saya bingung.
Pedagang akeh alangane.

Akeh buruh nantang juragan.
Juragan dadi umpan.
Sing suwarane seru oleh pengaruh.
Wong pinter diingar-ingar.
Wong ala diuja.
Wong ngerti mangan ati.
Banda dadi memala.
Pangkat dadi pemikat.
Sing sawenang-wenang rumangsa menang.
Sing ngalah rumangsa kabeh salah.
Ana Bupati saka wong sing asor imane.
Patihe kepala judi.
Wong sing atine suci dibenci.
Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat.
Pemerasan saya ndadra.
Maling lungguh wetenge mblenduk.
Pitik angkrem saduwurane pikulan.
Maling wani nantang sing duwe omah.
Begal pada ndugal.
Rampok pada keplok-keplok.
Wong momong mitenah sing diemong.
Wong jaga nyolong sing dijaga.
Wong njamin njaluk dijamin.
Akeh wong mendem donga.
Kana-kene rebutan unggul.
Angkara murka ngombro-ombro.
Agama ditantang.
Akeh wong angkara murka.
Nggedheake duraka.
Ukum agama dilanggar.
Prikamanungsan diiles-iles.
Kasusilan ditinggal.
Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi.
Wong cilik akeh sing kepencil.
Amarga dadi korbane si jahat sing jajil.
Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit.
Lan duwe prajurit.
Negarane ambane sapra-walon.
Tukang mangan suap saya ndadra.
Wong jahat ditampa.
Wong suci dibenci.
Timah dianggep perak.
Emas diarani tembaga.
Dhandhang diandakake kuntul.
Wong dosa sentosa.
Wong cilik disalahake.
Wong nganggur kesungkur.
Wong sregep krungkep.
Wong nyengit kesengit.
Buruh mangluh.
Wong sugih krasa wedi.

Wong wedi dadi priyayi.
Senenge wong jahat.
Susahe wong cilik.
Akeh wong dakwa dinakwa.
Tindake menungsa saya kuciwa.
Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi.
Hore! hore!.
Wong Jawa kari separo,
Landa-Cina kari sejodo.
Akeh wong ijir, akeh wong cethil.
Sing eman ora keduman.
Sing keduman ora eman.
Akeh wong mbambung.
Akeh wong limbung.
Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka.
OJO RUMONGSO BISO NING BISO O RUMONGSO

Offline Alhamas

  • biasa aja belum
  • Up Level
  • Master
  • ********
  • Posts: 6147
  • Age: 38
  • Location: Indonesia Satu
  • Reputasi : 351
  • SAVE OUR EARTH
  • OS:
  • Windows 7/Server 2008 R2 Windows 7/Server 2008 R2
  • Browser:
  • SeaMonkey 2.0.1 SeaMonkey 2.0.1
    • cahgalexs
Re: Mengenal budaya kita INDONESIA
« Reply #13 on: February 26, 2010, 01:53:39 pm »
JANGKA JAYABAYA dalam kitab MUSARAR

Prabu Jayabaya raja Kediri bertemu pendita dari Rum yang sangat sakti, Maulana Ali Samsuyen. Ia pandai meramal serta tahu akan hal yang belum terjadi. Jayabaya lalu berguru padanya, sang pendeta menerangkan berbagai ramalan yang tersebut dalam kitab Musaror dan menceritakan penanaman orang sebanyak 12.000 keluarga oleh utusan Sultan Galbah di Rum, orang itu lalu ditempatkan di pegunungan Kendenag, lalu bekerja membuka hutan tetapi banyak yang mati karena gangguan makhluk halus, jin dsb, itu pada th rum 437, lalu Sultan Rum memerintahkan lagi di Pulau Jawa dan kepulauan lainnya dgn mengambil orang dari India, Kandi, Siam. Sejak penanaman orang-orang ini sampai hari kiamat kobro terhitung 210 tahun matahari lamanya atau 2163 tahun bulan, Sang pendeta mengatakan orang di Jawa yang berguru padanya tentang isi ramalan hanyalah Hajar Subroto di G. Padang. Beberapa hari kemudian Jayabaya menulis ramalan Pulau Jawa sejak ditanami yang keduakalinya hingga kiamat, lamanya 2.100 th matahari. Ramalannya menjadi Tri-takali, yaitu :

I. Jaman permulaan disebut KALI-SWARA, lamanya 700 th matahari (721 th bulan). Pada waku itu di jawa banyak terdengar suara alam, gara-gara geger, halintar, petir, serta banyak kejadian-kejadian yang ajaib dikarenakan banyak manusia menjadi dewa dan dewa turun kebumi menjadi manusia.

II. Jaman pertengahan disebut KALI-YOGA, banyak perobahan pada bumi, bumi belah menyebabkan terjadinya pulau kecil-kecil, banyak makhluk yang salah jalan, karena orang yamg mati banyak menjelma (nitis).

III. Jaman akhir disebut KALI-SANGARA, 700 th. Banyak hujan salah mangsa dan banyak kali dan bengawan bergeser, bumi kurang manfaatnya, menghambat datangnya kebahagian, mengurangi rasa-terima, sebab manusia yang yang mati banyak yang tetap memegang ilmunya.

Tiga jaman tsb. Masing-masing dibagi menjadi Saptama-kala, artinya jaman kecil-kecil, tiap jaman rata-rata berumur 100 th. Matahari (103 th. bulan), seperti dibawah ini :

I. JAMAN KALI-SWARA dibagi menjadi :

Kala-kukila 100 th, (th. 1-100): Hidupnya orang seperti burung, berebutan mana yang kuat dia yang menang, belum ada raja, jadi belum ada yang mengatur/memerintah.

Kala-buddha (th. 101-200): Permulaan orang Jawa masuk agama Buddha menurut syariat Hyang agadnata (Batara Guru).

Kala-brawa (th. 201 – 300): Orang-orang di Jawa mengatur ibadahnya kepada Dewa, sebab banyak Dewa yang turun kebumi menyiarkan ilmu.

Kala-tirta (th. 301-400): Banjir besar, air laut menggenang daratan, di sepanjang air itu bumi menjadi belah dua. Yang sebelah barat disebut pulau Sumatra, lalu banyak muncul sumber-sumber air, disebut umbul, sedang, telaga, dsb.

Kala-swabara (th. 401-500): Banyak keajaiban yang tampak atau menimpa diri manusia.

Kala-rebawa (th. 501-600): Orang Jawa mengadakan keramaian2-kesenian dsb.

Kala-purwa (th. 601-700): Banyak tumbuh2an keturunan orang2 besar yang sudah menjadi orang biasa mulai jadi orang besar lagi.

II. JAMAN KALA-YOGA dibagi menjadi :

Kala-brata (th. 701-800): Orang mengalami hidup sebagai fakir.

Kala-drawa (th. 801-900): Banyak orang mendapat ilham, orang pandai menerangkan hal-hal yang gaib.

Kala-dwawara (th. 901-1.000): Banyak kejadian yang mustahil.

Kala-praniti (th. 1.001- 1.101): Banyak orang mementingkan ulah pikir.

Kala-teteka (th. 1.101 – 1.200): Banyak oran g datang dari negeri-negeri lain.

Kala-wisesa (th. 1.201 – 1.300): Banyak orang yang terhukum.

Kala-wisaya (th. 1.301 – 1.400): Banyak orang memfitnah.

III. JAMAN KALA-SANGARA dibagi menjadi :

Kala-jangga (th. 1.401 – 1.500): Banyak orang ulah kehebatan.

Kala-sakti (th. 1.501 – 1.600): Banyak orang ulah kesaktian.

Kala-jaya (th. 1.601 – 1.700): Banyak orang ulah kekuatan untuk tulang punggung kehidupannya.

Kala-bendu (th. 1.701 – 1.800): Banyak orang senang berbantahan, akhirnya bentrokkan.

Kala-suba (th. 1.801 – 1.900 ) : Pulau Jawa mulai sejahtera, tanpa kesulitan, orang bersenang hati.

Kala-sumbaga (th. 1.901 – 2.000) : Banyak orang tersohor pandai dan hebat.

Kala-surasa (th. 2.001 – 2.100): Pulau Jawa ramai sejahtera, serba teratur, tak ada kesulitan, banyak orang ulah asmara.

Ramalan yang ditulis Jayabaya itu disetujui oleh pendeta Ali Samsujen, kemudian sang pendeta pulang ke negerinya, diantar oleh Jayabaya dan putera mahkotanya Jaya-amijaya di Pagedongan, sampai di perbatasan. Jayabaya diiringi oleh puteranya pergi ke Gunung Padang, disambut oleh Ajar Subrata dan diterima di sanggar semadinya. Sang Anjar hendak menguji sang Prabu yang terkenal sebagai pejelmaan Batara Wisnu, maka ia memberi isyarat kepada endang-nya (pelayan wanita muda) agar menghidangkan suguhan yang terdiri dari :

Kunir (kunyit) satu akar

Juadah satu takir (mangkok dibuat dari daun pisang)

Geti (biji wijen bergula) satu takir

Kajar (senthe sebangsa ubi rasanya pahit memabokkan satu batang)

Bawang putih satu takir

Kembang melati satu takir

Kembang seruni (serunai; tluki) satu takir

Anjar Subrata menyerahkan hidangan itu kepada sang prabu. Seketika Prabu Jayabaya menjadi murka dan menghunus kerisnya, sang Anjar ditikamnya hingga mati, jenazahnya muksa hilang. Endangnya yang hendak laripun ditikamnya pula dan mati seketika.

Sang putera mahkota sangat heran melihat murkanya Sang Prabu yang membunuh mertuanya (Anjar Subrata) tanpa dosa. Melihat putera mahkotanya sedih, sesudah pulang Prabu Jayabaya berkata dengan lemah lembut. “Ya anakku putera mahkota, janganlah engkau sedih karena matinya mertuamu, sebab sebenarnya ia berdosa terhadap Kraton. Ia bermaksud mempercepat berakhirnya, para raja di tanah Jawa yang belum terjadi. Hidangan sang Ajar menjadi perlambang akan hal-hal yang belum terjadi. Kalau ku-sambut (hidangan itu) niscaya tidak akan ada kerajaan melainkan hanya para pendeta yang menjadi orang-orang yang dihormati oleh orang banyak, sebab menurut guruku Baginda Ali Samsujen, semua ilmu Ajar itu sama dengan semua ilmuku”.

Sang prabu anom bertunduk kepala memahami, kemudian mohon penjelasan tentang hidangan-hidangan sang pendeta dalam hubungannya dengan kraton-kraton yang bersangkutan, Sabda Prabu Jayabaya, “Ketahuilah anakku, bahwa aku ini penjelmaan Wisnu Murti, berkewajiban mendatangkan kesejahteraan kepada dunia, sedang penjelmaanku itu tinggal dua kali lagi. Sesudah penjelmaan di Kediri ini, aku akan menjelma Malawapati dan yang terakhir di Jenggala, sesudah itu aku tidak akan lagi menjelma di pulau Jawa, sebab hal itu tidak menjadi kewajibanku lagi. Tata atau rusaknya jagad aku tidak ikut-ikut, serta keadaanku sudah gaib bersatu dengan keadaan di dalam kepala-tongkat guruku. Waktu itulah terjadinya hal-hal yang dilambangkan dengan hidangan Sang Ajar tadi. Terdapat pada 7 tingkat kerajaan, alamnya bergantian, berlainan peraturannya. Wasiatkanlah hal itu kepada anak cucumu di kemudian hari”.

Adapun keterangan tentang 7 (tujuh) kraton itu sbb:

Jaman Anderpati dalam jaman Kalawisesa, ibukotanya Pajajaran, tanpa adil dan peraturan. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa emas. Itulah yang diperlambangkan dalam suguhan si Ajar berupa kunyit. Lenyapnya kerajaan karena pertengkaran di antara saudara. Yang kuat menjadi-jadi kesukaanya akan perang dalam tahun rusaknya negara.

Jaman Srikala Rajapati Dewaraja, ibukotanya Majapahit, ada peraturan negara sementara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa perak. Itulah diperlambangkan suguhan Ajar berupa juadah. Dalam 100 th. Kraton itu sirna, karena bertengkar dengan putera sendiri.

Jaman Hadiyati dalam jaman Kalawisaya. Disanalah mulai ada hukum keadilan dan peraturan negara, ibukota kerajaan di Bintara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa tenaga kerja. Itulah yang diperlambangkan dalam suguhan berupa geti. Kraton sirna karena bertentangan dengan yang memegang kekuasaan peradilan.

Jaman Kalajangga, bertakhtalah seorang raja bagaikan Batara, ibukotanya di Pajang. Disanalah mulai ada peraturan kerukunan dalam perkara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa segala macam hasil bumi di desa. Itulah yang diperlambangkan dalam suguhan Ajar berupa kajar sebatang. Sirnanya kerajaan karena bertengkar dengan putera angkat.

Jaman Kala-sakti yang bertakhta raja bintara, ibukotanya Mataram. Disanalah mulai ada peraturan agama dan peraturan negara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa uang perak. Itulah yang dilambangkan dalam suguhan Ajar berupa bawang putih.

Jaman Kala-jaya dalam pemerintahan raja yang angkara murka, semua orang kecil bertabiat sebagai kera karena sulitnya penghidupan, ibukotanya di Wanakarta. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa uang real. Itulah lambang suguhan yang berupa kembang melati. Kedudukan raja diganti oleh sesama saudara karena terjadi kutuk. Hilanglah manfaat bumi, banyak manusia menderita, ada yang bertempat tinggal di jalanan, ada yang di pasar. Sirnanya Karaton karena bertengkar dengan bangsa asing.

. Jaman Kala-bedu di jaman raja hartati, artinya yang menjadi tujuan manusia hanya harta, terjadilah Karaton kembali di Pajang-Mataram. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa macam-macam, ada yang berupa emas-perak, beras, padi dsb. Itulah yang dilambangkan Ajar dengan suguhannya yang berupa bunga serunai. Makin lama makin tinggi pajak orang kecil, berupa senjata dan hewan ternak dsb, sebab negara bertambah rusak, kacau, sebab pembesar-pembesarnya bertabiat buruk, orang kecil tidak menghormat. Rajanya tanpa paramarta, karena tidak ada lagi wahyunya, banyak wahyu .........., tabiat manusia berubah-ubah.

Perempuan hilang malunya, tiada rindu pada sanak saudara, tak ada berita benar, banyak orang melarat, sering ada peperangan, orang pandai kebijaksanaannya terbelakang, kejahatan menjadi-jadi, orang-orang yang berani kurangajar tetap menonjol, tak kena dilarang, banyak maling menghadang di jalanan, banyak gerhana matahari dan bulan, hujan abu, gempa perlambang tahun, angin puyuh, hujan salah mangsa, perang rusuh, tak ketentuan musuhnya.

Itulah semua perlambang si Ajar yang mengandung berbagai maksud yang dirahasiakan dengan endangnya ditemukan dengan Prabu Jayabaya. Saat itu sudah dekat dengan akhir jaman Kalabendu. Sirnanya raja karena bertentangan dengan saingannya (maru=madu). Lalu datanglah jaman kemuliaan raja.

Di saat inilah pulau Jawa sejahtera, hilang segala penyakit dunia, karena datangnya raja yang gaib, yaitu keturunan utama disebut Ratu Amisan karena sangat hina dan miskin, berdirinya tanpa syarat sedikitpun, bijaksanalah sang raja. Kratonnya Sunyaruri, artinya sepi tanpa sesuatu sarana tidak ada sesuatu halangan. Waktu masih dirahasiakan Tuhan membikin kebalikan keadaan, ia menjadi raja bagaikan pendeta, adil paramarta, menjauhi harta, disebut Sultan Herucakra.

Datangnya ratu itu tanpa asal, tidak mengadu bala manusia, prajuritnya hanya Sirullah, keagungannya berzikir, namun musuhnya takut. Yang memusuhinya jatuh, tumpes ludes menyingkir, sebab raja menghendaki kesejahteraan negara dan keselamatan dunia seluruhnya.

Setahun bukannya dibatasi hanya 7.000 real tak boleh lebih. Bumi satu jung (ukuran lebar. kl. 4 bahu) pajaknya setahun hanya satu dinar, sawah seribu (jung?) hasilnya (pajaknya) hanya satu uwang sehari, bebas tidak ada kewajiban yang lain. Oleh karena semuanya sudah tobat, takut kena kutuk (kuwalat) ratu adil yang berkerajaan di bumi Pethikat dengan kali Katangga, di dalam hutan Punhak. Kecepit di Karangbaya. Sampai kepada puteranya ia sirna, karena bertentangan dengan nafsunya sendiri.

Lalu ada Ratu (raja) Asmarakingkin, sangat cantik rupanya, menjadi buah tutur pujian wadya punggawa, beribukota di Kediri. Keturunan ketiganya pindah ke tanah Madura. Tak lama kemudian Raja sirna karena bertentangan dengan kekasihnya.

Lalu ada 3 orang raja disatu jaman, yaitu :

Ber-ibukota di bumi Kapanasan

Ber-ibukota di bumi Gegelang

Ber-ibukota di bumi Tembalang. Sesudah 30 th. mereka saling bertengkar, akhirnya ketiganya sirna semua. Pada waktu itu tidak ada raja, para bupati di Mancapraja berdiri sendiri-sendiri, karena tidak ada yang dianggap (disegani).

Beberapa tahun kemudian ada seorang raja yang berasal dari sabrang (lain negeri). Nusa Srenggi menjadi raja di Pulau Jawa ber-ibukotadi sebelah timur Gunung Indrakila, di kaki gunung candramuka. Beberapa tahun kemudian datang prajurit dari Rum memerangi raja dari Nusa Srenggi, raja dari Nusa Srenggi kalah, sirna dengan bala tentaranya. Para prajurit Rum mengangkat raja keturunan Herucakra, ber-ibukota di sebelah timur kali opak, negaranya menjadi lebih sejahtera, disebut Ngamartalaya. Sampai pada keturunanya yang ke tiga, sampailah umur Pulau jawa genap 210 matahari. Ramalan di atas disambung dengan “Lambang Praja” yang dengan kata-kata indah terbungkus melukiskan sifat keadaan kerajaan kerajaan di bawah ini

JANGGALA

PAJAJARAN

MAJAPAHIT

DEMAK

PAJANG

MATARAM KARTASURA

SURAKARTA

JOGJAKARTA.

Yang terakhir mengenai hal yang belum terjadi ialah :

Negara Ketangga Pethik tanah madiun

Negara Ketangga kajepit Karangboyo

Kediri

Bumi Kepanasan, Gegelang (Jipang), Tembilang (Dekat Tembayat)

Ngamartalaya

Perlu diterangkan bahwa tidak semua naskah Ramalan Jayabaya memuat “Lambang Praja”. Maka hal ini banyak menimbulkan dugaan, bahwa ini sebuah tambahan belaka. Demikianlah pokok inti ramalan Jayabaya.
OJO RUMONGSO BISO NING BISO O RUMONGSO

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
NEGARA KERTAGAMA
« Reply #14 on: February 26, 2010, 06:22:10 pm »
NEGARA KERTAGAMA

Pupuh I

1.

Om! Sembah pujiku orang hina ke bawah telapak kaki Pelindung jagat Siwa-Buda Janma-Batara sentiasa tenang tenggelam dalam Samadi Sang Sri Prawatanata, pelindung para miskin, raja adiraja dunia Dewa-Batara, lebih khayal dari yang khayal, tapi tampak di atas tanah.

2.

Merata serta meresapi segala makhluk, nirguna bagi kaum Wisnawa Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, hartawan bagai Jambala Wagindra dalam segala ilmu, dewa Asmara di dalam cinta berahi Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damai dunia.

3.

Begitulah pujian pujangga penggubah sejarah raja, kepada Sri Nata Rajasanagara, Sri Nata Wilwatikta yang sedang memegang tampuk negara Bagai titisan Dewa-Batara beliau menyapu duka rakyat semua Tunduk setia segenap bumi Jawa, bahkan malah seluruh nusantara.

4.

Tahun Saka masa memanah surya (1256) beliau lahir untuk jadi narpati Selama dalam kandungan di Kahuripan, telah tampak tanda keluhuran Gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar Gunung Kampud gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari Negara.

5.

Itulah tanda bahwa Batara Girinata menjelma bagai raja besar Terbukti, selama bertakhta, seluruh tanah Jawa tunduk menadah p’rintah Wipra, satria, waisya, sudra, keempat kasta sempurna dalam pengabdian Durjana berhenti berbuat jahat, takut akan keberanian Sri Nata.

Pupuh II

1.

Sang Sri Rajapatni yang ternama adalah nenekanda Sri Baginda Seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya Selaku wikuni tua tekun berlatih yoga menyembah Buda

Tahun Saka dresti saptaruna (1272) kembali beliau ke Budaloka.

2.

Ketika Sri Rajapatni pulang ke Jinapada, dunia berkabung Kembali gembira bersembah bakti semenjak Baginda mendaki takhta Girang ibunda Tribuwana Wijayatunggadewi mengemban takhta Bagai rani di Jiwana resmi mewakili Sri Narendra-putera.

Pupuh III

1.

Beliau bersembah bakti kepada ibunda Sri Rajapatni Setia mengikuti ajaran Buda, menyekar yang telah mangkat Ayahanda Baginda raja yalah Sri Kertawardana raja Keduanya teguh beriman Buda demi perdamaian praja.

2.

Ayahnya Sri Baginda raja bersemayam di Singasari Bagai Ratnasambawa menambah kesejahteraan bersama Teguh tawakal memajukan kemakmuran rakyat dan negara Mahir mengemudikan perdata, bijak dalam segala kerja.

Pupuh IV

1.

Puteri Rajadewi Maharajasa, ternama rupawan Bertakhta di Daha, cantik tak bertara, bersandar nam guna Adalah bibi Baginda, adik maharani di Jiwana Rani Daha dan rani Jiwana bagai bidadari kembar.

2.

Laki sang rani Sri Wijayarajasa dari negeri Wengker Rupawan bagai titisan Upendra, mashur bagai sarjana Setara raja Singasari, sama teguh di dalam agama Sangat mashurlah nama beliau di seluruh tanah Jawa.

Pupuh V

1.

Adinda Baginda raja di Wilwatikta: Puteri jelita, bersemayam di Lasem Puteri jelita Daha, cantik ternama Indudewi puteri Wijayarajasa.

2.

Dan lagi puteri bungsu Kertawardana Bertakhta di Pajang, cantik tidak bertara Puteri Sri Narapati Jiwana yang mashur Terkenal sebagai adinda Sri Baginda.

Pupuh VI

1.

Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana Laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun Bergelar Rajasawardana sangat bagus lagi putus dalam naya Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala.

2.

Sri Singawardana, rupawan, bagus, muda, sopan dan perwira Bergelar raja Paguhan, beliaulah suami rani Pajang Mulia perkawinannya laksana Sanatkumara dan Dewi Ida Bakti kepada raja, cinta sesama, membuat puas rakyat.

3.

Bhre Lasem Menurunkan puteri jelita Nagarawardani Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana Bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra.

4.

Puteri bungsu rani Pajang mem’rintah daerah Pawanuhan Berjuluk Surawardani masih muda indah laksana gambar Para raja pulau Jawa masing-masing mempunyai negara Dan Wilwatikta tempat mereka bersama menghamba Sri Nata.

Pupuh VII

1.

Melambung kidung merdu pujian sang prabu, beliau membunuh musuh-musuh, Bagai matahari menghembus kabut, menghimpun negara di dalam kuasa Girang janma utama bagai bunga tunjung, musnah durjana bagai kumuda Dari semua desa di wilayah negara pajak mengalir bagai air.

2.

Raja menghapus duka si murba sebagai Satamanyu menghujani bumi Menghukum penjahat bagai dewa Yana, menimbun harta bagaikan Waruna Para telik masuk menembus segala tempat laksana Hyang Batara Bayu Menjaga pura sebagai dewi Pretiwi, rupanya bagus seperti bulan.

3.

Seolah-olah Sang Hyang Kama menjelma, tertarik oleh keindahan pura Semua para puteri dan isteri sibiran dahi Sri Ratih Namun sang permaisuri, keturunan Wijayarajasa, tetap paling cantik Paling jelita bagaikan Susumna, memang pantas jadi imbangan Baginda.

4.

Berputeralah beliau puteri mahkota Kusumawardani, sangat cantik Sangat rupawan jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan Sang menantu Sri Wikramawardana memegang perdata seluruh negara Sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan, menggirangkan pandang.

Pupuh VIII

1.

Tersebut keajaiban kota: tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari pura Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah tempat tunggu para tanda terus-menerus meronda, jaga paseban.

2.

Di sebelah utara bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir Di sebelah timur: panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat, Di bagian utara, di selatan pekan, rumah berjejal jauh memanjang, sangat indah, Di selatan jalan perempat: balai prajurit tempat pertemuan tiap Caitra.

3.

Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah, menghadap padang watangan Yang meluas ke empat arah; bagaian utara paseban pujangga dan menteri. Bagian timur paseban pendeta Siwa-Buda, yang bertugas membahas upacara. Pada masa grehana bulan Palguna demi keselamatan seluruh dunia.

4.

Di sebelah timur pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil siwa Di sebelah tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat, menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat; di utara tempat Buda bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir; berhamburan bunga waktu raja turun Berkorban.

5.

Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat pintu, itulah paseban Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, disela tanjung berbunga Lebat. Agak jauh di sebelah barat daya: panggung tempat berkeliaran para perwira Tepat di tengah-tengah halaman bertegak mandapa penuh burung ramai Berkicau.

6.

Di dalam, di selatan ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua.

Dibuat bertingkat-tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri Semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela Para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar Tutur.

Pupuh IX

1.

Inilah para penghadap: pengalasan Ngaran, jumlahnya tak terbilang Nyu Gading Janggala-Kediri, Panglarang, Rajadewi, tanpa upama Waisangka kapanewon Sinelir, para perwira Jayengprang Jayagung Dan utusan Pareyok Kayu Apu, orang Gajahan, dan banyak lagi.

2.

Begini keindahan lapang watangan luas bagaikan tak berbatas Menteri, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka Bhayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di deret yang kedua, Di sebelah utara pintu istana, di selatan satria dan pujangga.

3.

Di bagian barat: beberapa balai memanjang sampai mercudesa, Penuh sesak pegawai dan pembantu serta para perwira penjaga, Di bagian selatan agak jauh: beberapa ruang, mandapa dan balai, Tempat tinggal abdi Sri narapati Paguhan, bertugas menghadap.

4.

Masuk pintu kedua, terbentang halaman istana berseri-seri, Rata dan luas, dengan rumah indah berisi kursi-kursi berhias, Di sebelah timur menjulang rumah tinggi berhias lambang kerajaan, Itulah balai tempat terima tatamu Sri nata di Wilwatikta.

Pupuh X

1.

Inilah pembesar yang sering menghadap di balai witana, Wredamentri, tanda menteri pasangguhan dengan pengiring, Sang Panca Wilwatikta: mapatih, demung, kanuruhan, rangga, Tumenggung, lima priyayi agung yang akrab dengan istana.

2.

Semua patih, demung negara bawahan dan pengalasan, Semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh, Jika datang, berkumpul di kepatihan seluruh negara, Lima menteri utama, yang mengawal urusan negara.

3.

Satria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap, Berdiri di bawah lindungan asoka di sisi witana, Begitu juga dua dharmadhyaksa dan tujuh pembantunya, Bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.

Pupuh XI

1.

Itulah penghadap balai witana, tempat takhta, yang terhias serba bergas, Pantangan masuk ke dalam istana timur, agak jauh dari pintu pertama, Ke Istana Selatan, tempat Singawardana, permaisuri, putra dan putrinya, Ke Istana Utara, tempat Kertawardana. Ketiganya bagai kahyangan.

2.

Semua rumah bertiang kuat, berukir indah, dibuat berwarna-warni, Kakinya dari batu merah pating berunjul, bergambar aneka lukisan, Genting atapnya bersemarak serba meresapkan pandang, menarik Perhatian, Bunga tanjung, kesara, campaka dan lain-lainnya terpencar di halaman.

Pupuh XII

1.

Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang Brahmaraja, Selatan Buda-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka Barat tempat arya, menteri dan sanak-kadang adiraja.

2.

Di timur, tersekat lapangan, menjulang istana ajaib, Raja Wengker dan rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci, Berdekatan dengan istana raja Matahun dan rani Lasem, Tak jauh di sebelah selatan raja Wilwatikta.

3.

Di sebelah utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi, Di situ menetap patih Daha, adinda Baginda di wengker, Batara Narapati, termashur sebagai tulang punggung praja, Cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak.

4.

Di timur laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada, Menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada Negara, Fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur, Tangan kanan maharaja sebagai, penggerak roda Negara.

5.

Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi bagus, Sebelah timur perumahan Siwa, sebelah barat Buda, Terlangkahi rumah para menteri, para arya dan satria, Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura.

6.

Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang-cemerlang, Menandingi bulan dan matahari, indah tanpa upama, Negara-negara di nusantara, dengan Daha bagai pemuka, Tunduk menengadah, berlindung di bawah Wilwatika.

Pupuh XIII

1.

Terperinci demi pulau negara bawahan, paling dulu M’layu: Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya pun ikut juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang, negara Perlak dan Padang.

2.

Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus Itulah terutama negara-negara Melayu yang t’lah tunduk, Negara-negara di pulau Tanjungnegara: Kapuas-Katingan Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut.

Pupuh XIV

1.

Kadandangan, Landa Samadang dan Tirem tak terlupakan Sedu, Barune (ng), Kalka, Saludung, Solot dan juga Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei, Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.

2.

Di Hujung Medini Pahang yang disebut paling dahulu, Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta Trengganu, Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah, Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun.

3.

Di sebelah timur Jawa seperti yang berikut: Bali dengan negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah, Gurun serta Sukun, Taliwang, pulau Sapi dan Dompo, Sang Hyang Api, Bima, Seran, Hutan Kendali sekaligus.

4.

Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah, Dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya, Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk, Sampai Udamakatraya dan pulau lain-lainnya tunduk.

5.

Tersebut pula pulau-pulau Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian serta Salayar, Sumba, Solot, Muar, Lagi pula Wanda (n), Ambon atau pulau Maluku, Wanin, Seran, Timor, dan beberapa lagi pulau-pulau lain.

Pupuh XV

1.

Inilah nama negara asing yang mempunyai hubungan, Siam dengan Ayudyapura, begitu pun Darmanagari, Marutma, Rajapura, begitu juga Singanagari, Campa, Kamboja dan Yawana yalah negara sahabat.

2.

Tentang pulau Madura, tidak dipandang negara asing, Karena sejak dahulu dengan Jawa menjadi satu, Konon tahun Saka lautan menantang bumi, itu saat, Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh.

3.

Semenjak nusantara menadah perintah Sri Baginda, Tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti, Terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan, Pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti.

Pupuh XVI

1.

Pujangga-pujangga yang lama berkunjung di nusantara, Dilarang mengabaikan urusan negara, mengejar untung, Seyogyanya, jika mengemban perintah ke mana juga, Menegakkan agama Siwa, menolak ajaran sesat.

2.

Konon kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata, Dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata, Dilarang menginjak tanah sebelah barat pulau Jawa, Karena penghuninya bukan penganut ajaran Buda.

3.

Tanah sebelah timur Jawa terutama Gurun, Bali, Boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan, Bahkan menurut kabaran mahamuni Empu Barada, Serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh.

4.

Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja, Dikirim ke timur ke barat, di mana mereka sempat, Melakukan persajian seperti perintah Sri Nata, Resap terpandang mata jika mereka sedang mengajar.

5.

Semua negara yang tunduk setia menganut perintah, Dijaga dan dilindungi Sri Nata dari pulau Jawa, Tapi yang membangkang, melanggar perintah, dibinasakan, Pimpinan angkatan laut, yang telah mashur lagi berjasa.

Pupuh XVII

1.

Telah tegak teguh kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah nusantara, Di Sripalatikta tempat beliau bersemayam, menggerakkan roda dunia, Tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas, girang dan lega, Wipra, pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi mashur.

2.

Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung dan raja utama, Lepas dari segala duka, mengeyam hidup penuh segala kenikmatan, Terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Janggala Kediri, Berkumpul di istana bersama yang terampas dari negara tetangga.

3.

Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Baginda, Ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura, Semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan, Gunung dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya.

4.

Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling, Desa Sima di sebelah selatan Jalagiri, di sebelah timur pura, Ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetyan, Girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi Lima.

5.

Atau pergilah beliau bersembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati, Biasanya terus menuju Blitar, Jimur mengunjungi gunung-gunung permai, Di Daha terutama ke Polaman, ke Kuwu dan Lingga hingga desa Bangin, Jika sampai di Jenggala, singgah di Surabaya, terus menuju Buwun.

6.

Tahun Aksatisurya (1275) sang prabu menuju Pajang membawa banyak pengiring, Tahun Saka angga-naga-aryama (1276) ke Lasem, melintasi pantai samudra, Tahun Saka pintu-gunung-mendengar-indu (1279) ke laut selatan menembus hutan, Lega menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu dan Sideman.

7.

Tahun Saka seekor-naga-menelan bulan (1281) di Badrapada bulan tambah, Sri Nata pesiar keliling seluruh negara menuju kota Lumajang, Naik kereta diiringi semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi, Menteri, tanda, pendeta, pujangga, semua para pembesar ikut serta.

8.

Juga yang menyamar Prapanca girang turut mengiring paduka Maharaja, Tak tersangkal girang sang kawi, putera pujangga, juga pencinta kakawin, Dipilih Sri Baginda sebagai pembesar kebudaan mengganti sang ayah, Semua pendeta Buda umerak membicarakan tingkah lakunya dulu.

9.

Tingkah sang kawi waktu muda menghadap raja, berkata, berdamping, tak lain, Maksudnya mengambil hati, agar disuruh ikut beliau ke mana juga, Namun belum mampu menikmati alam, membinanya, mengolah dan menggubah, Karya kakawin; begitu warna desa sepanjang marga terkarang berturut.

10.

Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk-rebah, Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa, Daluwang, Bebala di dekat Kanci, Ratnapangkaja serta Kuti Haji Pangkaja memanjang bersambung-sambungan, Mandala Panjrak, Pongging serta Jingan, Kuwu Hanyar letaknya di tepi Jalan.

11.

Habis berkunjung pada candi makam Pancasara, menginap di Kapulungan, Selanjutnya sang kawi bermalam di Waru, di Hering, tidak jauh dari pantai, Yang mengikuti ketetapan hukum jadi milik kepala asrama Saraya, Tetapi masih tetap dalam tangan lain, rindu termenung-menung menunggu.

Pupuh XVIII

1.

Seberangkat Sri Nata dari Kapulungan, berdesak abdi berarak, Sepanjang jalan penuh kereta, penumpangnya duduk berimpit-impit, Pedati di muka dan di belakang, di tengah prajurit berjalan kaki, Berdesak-desakan, berebut jalan dengan binatang gajah dan kuda.

2.

Tak terhingga jumlah kereta, tapi berbeda-beda tanda cirinya, Meleret berkelompok-kelompok, karena tiap ment’ri lain lambangnya, Rakrian sang menteri patih amangkubumi penatang kerajaan, Keretanya beberapa ratus berkelompok dengan aneka tanda.

3.

Segala kereta Sri Nata Pajang semua bergambar matahari, Semua kereta Sri Nata Lasem bergambar cemerlang banteng putih, Kendaraan Sri Nata Daha bergambar Dahakusuma mas mengkilat, Kereta Sri Nata Jiwana berhias bergas menarik perhatian.

4.

Kereta Sri Nata Wilwatikta tak ternilai, bergambar buah maja, Beratap kain geringsing, berhias lukisan mas, bersinar merah indah, Semua pegawai, parameswari raja dan juga rani Sri Sudewi, Ringkasnya para wanita berkereta merah, berjalan paling muka.

5.

Kereta Sri Nata berhias mas dan ratna manikam paling belakang, Jempana-jempana lainnya bercadar beledu, meluap gemerlap, Rapat rampak prajurit pengiring Janggala Kediri, Panglarang, Sedah, Bhayangkari gem’ruduk berbondong-bondong naik gajah dan kuda.

6.

Pagi-pagi telah tiba di Pancuran Mungkur; Sri Nata ingin rehat, Sang rakawi menyidat jalan, menuju Sawungan mengunjungi akrab, Larut matahari berangkat lagi tepat waktu Sri Baginda lalu, Ke arah timur menuju Watu Kiken, lalu berhenti di Matanjung.

7.

Dukuh sepi kebudaan dekat tepi jalan, pohonnya jarang-jarang, Berbeda-beda namanya Gelanggang, Badung, tidak jauh dari Barungbung, Tak terlupakan Ermanik, dukuh teguh-taat kepada Yanatraya, Puas sang dharmadhyaksa mencicipi aneka jamuan makan dan minum.

8.

Sampai di Kulur, Batang di Gangan Asem perjalanan Sri Baginda Nata, Hari mulai teduh, surya terbenam, telah gelap pukul tujuh malam, Baginda memberi perintah memasang tenda di tengah-tengah sawah, Sudah siap habis makan, cepat-cepat mulai membagi-bagi tempat.

Pupuh XIX

1.

Paginya berangkat lagi menuju Baya, rehat tiga hari tiga malam, Dari Baya melalui Katang, Kedung Dawa, Rame, menuju Lampes,Times, Serta biara pendeta di Pogara mengikut jalan pasir lemah-lembut, Menuju daerah Beringin Tiga di Dadap, kereta masih terus lari.

2.

Tersebut dukuh kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah, Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajah Mada, teratur rapi, Di situlah Baginda menempati pasanggrahan yang terhias sangat bergas, Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandi-bakti.

Pupuh XX

1.

Sampai di desa kasogatan Baginda dijamu makan minum, Pelbagai penduduk Gapuk, Sada, Wisisaya, Isanabajra, Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lambang, Kuran, Pancar, We Petang, Yang letaknya di lingkungan biara, semua datang menghadap.

2.

Begitu pula desa Tunggilis, Pabayeman ikut berkumpul, Termasuk Ratnapangkaja di Carcan, berupa desa perdikan, Itulah empat belas desa kasogatan yang berakuwu, Sejak dahulu delapan saja yang menghasilkan bahan makanan.

Pupuh XXI

1.

Fajar menyingsing; berangkat lagi Baginda melalui, Lo Pandak, Ranu Kuning, Balerah, Bare-bare, Dawohan, Kapayeman, Telpak, Baremi, Sapang serta Kasaduran, Kereta berjalan cepat-cepat menuju Pawijungan.

2.

Menuruni lurah, melintasi sawah, lari menuju, Jaladipa, Talapika, Padali, Arnon dan Panggulan, Langsung ke Payaman, Tepasana ke arah kota Rembang, Sampai di Kemirahan yang letaknya di pantai lautan.

Pupuh XXII

1.

Di Dampar dan Patunjungan Sri Baginda bercengkerma menyisir tepi lautan, Ke jurusan timur turut pasisir datar, lembut-limbur dilintas kereta, Berhenti beliau di tepi danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga, Asyik memandang udang berenang dalam air tenang memperlihatkan dasarnya.

2.

Terlangkahi keindahan air telaga yang lambai-melambai dengan lautan, Danau ditinggalkan, menuju Wedi dan Guntur tersembunyi di tepi jalan, Kasogatan Bajraka termasuk wilayah Taladwaja sejak dulu kala, Seperti juga Patunjungan, akibat perang, belum kembali ke asrama.

3.

Terlintas tempat tersebut, ke timur mengikut hutan sepanjang tepi lautan, Berhenti di Palumbon berburu sebentar, berangkat setelah surya larut, Menyeberangi sungai Rabutlawang yang kebetulan airnya sedang surut, Menuruni lurah Balater menuju pantai lautan, lalu bermalam lagi.

4.

Pada waktu fajar menyingsing, menuju Kunir Basini, di Sadeng bermalam, Malam berganti malam Baginda pesiar menikmati alam Sarampuan, Sepeninggalnya beliau menjelang kota Bacok bersenang-senang di pantai, Heran memandang karang tersiram riak gelombang berpancar seperti Hujan.

5.

Tapi sang rakawi tidak ikut berkunjung di Bacok, pergi menyidat jalan, Dari Sadeng ke utara menjelang Balung, terus menuju Tumbu dan Habet, Galagah, Tampaling, beristirahat di Renes seraya menanti Baginda, Segera berjumpa lagi dalam perjalanan ke Jayakreta-Wanagriya.

Pupuh XXIII

1.

Melalui Doni Bontong, Puruhan, Bacek, Pakisaji, Padangan terus ke Secang, Terlintas Jati Gumelar, Silabango, Ke utara ke Dewa Rame dan Dukun.

2.

Lalu berangkat lagi ke Pakembangan, Di situ bermalam; segera berangkat, Sampailah beliau ke ujung lurah daya, Yang segera dituruni sampai jurang.

3.

Dari pantai ke utara sepanjang jalan, Sangat sempit, sukar amat dijalani, Lumutnya licin akibat kena hujan, Banyak kereta rusak sebab berlanggar.

Pupuh XXIV

1.

Terlalu lancar lari kereta melintas Palayangan, Dan Bangkong, dua desa tanpa cerita, terus menuju, Sarana, mereka yang merasa lelah ingin berehat, Lainnya bergegas berebut jalan menuju Surabasa.

2.

Terpalang matahari terbenam berhenti di padang lalang, Senja pun turun, sapi lelah dilepas dari pasangan, Perjalanan membelok ke utara melintas Turayan, Beramai-ramai lekas-lekas ingin mencapai Patukangan.

Pupuh XXV

1.

Panjang lamun dikisahkan kelakuan para ment’ri dan abdi, Beramai-ramai Baginda telah sampai di desa Patukangan, Di tepi laut lebar tenang rata terbentang di barat Talakrep, Sebelah utara pakuwuan pasanggrahan Baginda Nata.

2.

Semua menteri, mancanagara hadir di pakuwuan, Juga jaksa Pasungguhan Sang Wangsadiraja ikut menghadap, Para Upapati yang tanpa cela, para pembesar agama, Panji Siwa dan Panji Buda, faham hukum dan putus sastera.

Pupuh XXVI

1.

Sang adipati Suradikara memimpin upacara sambutan, Diikuti segenap penduduk daerah wilayah Patukangan, Menyampaikan persembahan, girang bergilir dianugerahi kain, Girang rakyat girang raja, pakuwuan berlimpah kegirangan.

2.

Untuk pemandangan ada rumah dari ujung memanjang ke lautan, Aneka bentuknya, rakit halamannya, dari jauh bagai pulau, Jalannya jembatan goyah kelihatan bergoyang ditempuh ombak, Itulah buatan sang arya bagai persiapan menyambut raja.

Pupuh XXVII

1.

Untuk mengurangi sumuk akibat teriknya matahari, Baginda mendekati permaisuri seperti dewa-dewi, Para puteri laksana apsari turun dari kahyangan, Hilangnya keganjilan berganti pandang penuh heran-cengang.

2.

Berbagai-bagai permainan diadakan demi kesukaan, Berbuat segala apa yang membuat gembira penduduk, Menari topeng, bergumul, bergulat, membuat orang kagum, Sungguh beliau dewa menjelma, sedang mengedari dunia.

Pupuh XXVIII

1.

Selama kunjungan di desa Patukangan, Para menteri dari Bali dan Madura, Dari Balumbung, kepercayaan Baginda, Menteri seluruh Jawa Timur berkumpul.

2.

Persembahan bulu bekti bertumpah-limpah, Babi, gudel, kerbau, sapi, ayam dan anjing, Bahan kain yang diterima bertumpuk timbun, Para penonton tercengang-cengang, memandang.

3.

Tersebut keesokan hari pagi-pagi, Baginda keluar di tengah-tengah rakyat, Diiringi para kawi serta pujangga, Menabur harta, membuat gembira rakyat.

Pupuh XXIX

1.

Hanya pujangga yang menyamar Prapanca sedih tanpa upama, Berkabung kehilangan kawan kawi-Buda Panji Kertayasa, Teman bersuka-ria, teman karib dalam upacara ‘gama, Beliau dipanggil pulang, sedang mulai menggubah karya megah.

2.

Kusangka tetap sehat, sanggup mengantar aku ke mana juga, Beliau tahu tempat-tempat mana yang layak pantas dilihat, Rupanya sang pujangga ingin mewariskan karya megah indah, Namun, mangkatlah beliau, ketika aku tiba, tak terduga.

3.

Itulah lantarannya aku turut berangkat ke desa Keta, Meliwati Tal Tunggal, Halalang-panjang, Pacaran dan Bungatan, Sampai Toya Rungun, Walanding, terus Terapas, lalu bermalam, Paginya berangkat ke Lemah Abang, segera tiba di Keta.

Pupuh XXX

1.

Tersebut perjalanan Sri Narapati ke arah barat, Segera sampai Keta dan tinggal di sana lima hari, Girang beliau melihat lautan, memandang balai kambang, Tidak lupa menghirup kesenangan lain sehingga puas.

2.

Atas perintah sang arya semua menteri menghadap, Wiraprana bagai kepala, upapati Siwa-Buda, Mengalir rakyat yang datang sukarela tanpa diundang, Mambawa bahan santapan, girang menerima balasan.

Pupuh XXXI

1.

Keta t’lah ditinggalkan. Jumlah pengiring malah bertambah, Melintasi Banyu Hening, perjalanan sampai Sampora, Terus ke Daleman menuju Wawaru, Gebang, Krebilan, Sampai di Kalayu Baginda berhenti ingin menyekar.

2.

Kalayu adalah nama desa perdikan kasogatan, Tempat candi makam sanak kadang Baginda raja, Penyekaran di makam dilakukan dengan sangat hormat, “Memegat sigi” nama upacara penyekaran itu.

3.

Upacara berlangsung menepati segenap aturan, Mulai dengan jamuan makan meriah tanpa upama, Para patih mengarak Sri Baginda menuju paseban, Genderang dan kendang bergetar mengikuti gerak tandak.

4.

Habis penyekaran raja menghirup segala kesukaan, Mengunjungi desa-desa di sekitarnya genap lengkap, Beberapa malam lamanya berlumba dalam kesukaan, Memeluk wanita cantik dan meriba gadis remaja.

5.

Kalayu ditinggalkan, perjalanan menuju Kutugan, Melalui Kebon Agung, sampai Kambangrawi bermalam, Tanah anugerah Sri Nata kepada Tumenggung Nala, Candinya Buda menjulang tinggi, sangat elok bentuknya.

6.

Perjamuan Tumenggung Empu Nala jauh dari cela, Tidak diuraikan betapa rahap Baginda Nata bersantap, Paginya berangkat lagi ke Halses, B’rurang, Patunjungan, Terus langsung melintasi Patentanan, tarub dan Lesan.

Pupuh XXXII

1.

Segera Sri Baginda sampai di Pajarakan, di sana bermalam pat hari, Di tanah lapang sebelah selatan candi Buda beliau memasang tenda, Dipimpin Arya Sujanottama para mantri dan pendeta datang menghadap, Menghaturkan pacitan dan santapan, girang menerima anugerah uang.

2.

Berangkat dari situ Sri Baginda menuju asrama di rimba Sagara, Mendaki bukit-bukit ke arah selatan dan melintasi terusan Buluh, Melalui wilayah Gede, sebentar lagi sampai di asrama Sagara, Letaknya gaib ajaib di tengah-tengah hutan membangkitkan rasa kagum rindu.

3.

Sang pujangga Prapanca yang memang senang bermenung tidak selalu menghadap, Girang melancong ke taman melepaskan lelah melupakan segala duka, Rela melalaikan paseban mengabaikan tata tertib para pendeta, Memburu nafsu menjelajah rumah berbanjar-banjar dalam deretan berjajar.

4.

Tiba di taman bertingkat, di tepi pesanggrahan tempat bunga tumbuh lebat, Suka cita Prapanca membaca cacahan (pahatan) dengan slokanya di dalam cita, Di atas tiap atap terpahat ucapan seloka yang disertai nama, Pancaksara pada penghabisan tempat terpahat samara-samar, menggirangkan.

5.

Pemandiannya penuh lukisan dongengan berpagar batu gosok tinggi, Berhamburan bunga nagakusuma di halaman yang dilingkungi selokan, Andung, karawira, kayu mas, menur serta kayu puring dan lain-lainnya, Kelapa gading kuning rendah menguntai di sudut mengharu-rindu pandangan.

6.

Tiada sampailah kata meraih keindahan asrama yang gaib dan ajaib, Beratapkan hijuk, dari dalam dan luar berkesan kerasnya tata tertib, Semua para pertapa, wanita dan priya, tua-muda, nampaknya bijak, Luput dari cela dan klesa, seolah-olah Siwapada di atas dunia.

Pupuh XXXIII

1.

Habis berkeliling asrama, Baginda lalu dijamu, Para pendeta pertapa yang ucapannya sedap-resap, Segala santapan yang tersedia dalam pertapaan, Baginda membalas harta, membuat mereka gembira.

2.

Dalam pertukaran kata tentang arti kependetaan, Mereka mencurahkan isi hati, tiada tertahan, Akhirnya cengkerma ke taman penuh dengan kesukaan, Kegirang-girangan para pendeta tercengang memandang.

3.

Habis kesukaan memberi isyarat akan berangkat, Pandang sayang yang ditingggal mengikuti langkah yang pergi, Bahkan yang masih remaja puteri sengaja merenung, Batinnya: dewa asmara turun untuk datang menggoda.

Pupuh XXXIV

1.

Baginda berangkat, asrama tinggal berkabung, Bambu menutup mata sedih melepas selubung, Sirih menangis merintih, ayam roga menjerit, Tiung mengeluh sedih, menitikkan air matanya.

2.

Kereta lari cepat, karena jalan menurun, Melintasi rumah dan sawah di tepi jalan, Segera sampai Arya, menginap satu malam, Paginya ke utara menuju desa Ganding.

3.

Para ment’ri mancanegara dikepalai, Singadikara, serta pendeta Siwa-Buda, Membawa santapan sedap dengan upacara, Gembira dibalas Baginda dengan mas dan kain.

4.

Agak lama berhenti seraya istirahat, Mengunjungi para penduduk segenap desa, Kemudian menuju Sungai Gawe, Sumanding, Borang, Banger, Baremi lalu lurus ke barat.

Pupuh XXXV

1.

Sampai Pasuruan menyimpang jalan ke selatan menuju Kepanjangan, Menganut jalan raya kereta lari beriring-iring ke Andoh Wawang, Ke Kedung Peluk dan ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan, Segera Baginda menuju kota Singasari bermalam di balai kota.

2.

Prapanca tinggal di sebelah barat Pasuruan ingin terus melancong, Menuju asrama Indarbaru yang letaknya di daerah desa Hujung, Berkunjung di rumah pengawasnya, menanyakan perkara tanah asrama, Lempengan piagam pengukuh diperlihatkan, jelas setelah dibaca.

3.

Isi piagam: tanah datar serta lembah dan gunungnya milik wihara, Begitu pula sebagian Markaman, ladang Balunghura, sawah Hujung, Isi piagam membujuk sang pujangga untuk tinggal jauh dari pura, Bila telah habis kerja di pura, ingin ia menyingkir ke Indarbaru.

4.

Sebabnya terburu-buru berangkat setelah dijamu bapa asrama, Karena ingat akan giliran menghadap di balai Singasari, Habis menyekar di candi makam, Baginda mengumbar nafsu kesukaan, Menghirup sari pemandangan di Kedung Biru, Kasurangganan dan Bureng.

Pupuh XXXVI

1.

Pada subakala Baginda berangkat ke selatan menuju Kagenengan, Akan berbakti kepada makam batara bersama segala pengiringnya, Harta, perlengkapan, makanan, dan bunga mengikuti jalannya kendaraan, Didahului kibaran bendera, disambut sorak-sorai dari penonton.

2.

Habis penyekaran, narapati keluar, dikerumuni segenap rakyat, Pendeta Siwa-Buda dan para bangsawan berderet leret di sisi beliau, Tidak diceritakan betapa rahap Baginda bersantap sehingga puas, Segenap rakyat girang menerima anugerah bahan pakaian yang indah.

Pupuh XXXVII

1.

Tersebut keindahan candi makam, bentuknya tiada bertara, Pintu masuk terlalu lebar lagi tinggi, bersabuk dari luar, Di dalam terbentang halaman dengan rumah berderet di tepinya, Ditanami aneka ragam bunga, tanjung, nagasari ajaib.

2.

Menara lampai menjulang tinggi di tengah-tengah, terlalu indah, Seperti gunung Meru, dengan arca batara Siwa di dalamnya, Karena Girinata putera disembah bagai dewa batara, Datu-leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia.
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
NEGARA KERTAGAMA
« Reply #15 on: February 26, 2010, 06:25:52 pm »
3.

Sebelah selatan candi makam ada candi sunyi terbengkalai, Tembok serta pintunya yang masih berdiri, berciri kasogatan, Lantai di dalam, hilang kakinya bagian barat, tingggal yang timur, Sanggar dan pemujaan yang utuh, bertembok tinggi dari batu merah.

4.

Di sebelah utara, tanah bekas kaki rumah sudahlah rata, Terpencar tanamannya nagapuspa serta salaga di halaman, Di luar gapura pabaktan luhur, tapi telah longsor tanahnya, Halamannya luas tertutup rumput, jalannya penuh dengan lumut.

5.

Laksana perempuan sakit merana lukisannya lesu-pucat, Berhamburan daun cemara yang ditempuh angin, kusut bergelung, Kelapa gading melulur tapasnya, pinang letih lusuh merayu, Buluh gading melepas kainnya, layu merana tak ada hentinya.

6.

Sedih mata yang memandang, tak berdaya untuk menyembuhkan, Kecuali Hayam Wuruk sumber hidup segala makhluk, Beliau mashur bagai raja utama, bijak memperbaiki jagad,

Pengasih bagi yang menderita sedih, sungguh titisan batara.

7.

Tersebut lagi, paginya Baginda berkunjung ke candi Kidal, Sesudah menyembah batara, larut hari berangkat ke Jajago, Habis menghadap arca Jina, beliau berangkat ke penginapan, Paginya menuju Singasari, belum lelah telah sampai Bureng.

Pupuh XXXVIII

1.

Keindahan Bureng: telaga tergumpal airnya jernih, Kebiru-biruan, di tengah: candi karang bermekala, Tepinya rumah berderet, penuh pelbagai ragam bunga, Tujuan para pelancong penyerap sari kesenangan.

2.

Terlewati keindahannya; berganti cerita narpati, Setelah reda terik matahari, melintas tegal tinggi, Rumputnya tebal rata, hijau mengkilat, indah terpandang, Luas terlihat laksana lautan kecil berombak jurang.

3.

Seraya berkeliling kereta lari tergesa-gesa, Menuju Singasari, segera masuk ke pesanggrahan, Sang pujangga singgah di rumah pendeta Buda, sarjana, Pengawas candi dan silsilah raja, pantas dikunjungi.

4.

Telah lanjut umurnya, jauh melintasi seribu bulan, Setia, sopan, darah luhur, keluarga raja dan mashur, Meski sempurna dalam karya, jauh dari tingkah tekebur, Terpuji pekerjaannya, pantas ditiru k’insafannya.

5.

Tamu mendadak diterima dengan girang dan ditegur: “Wahai, orang bahagia, pujangga besar pengiring raja Pelindung dan pengasih keluarga yang mengharap kasih Jamuan apa yang layak bagi paduka dan tersedia?”

6.

Maksud kedatangannya: ingin tahu sejarah leluhur, Para raja yang dicandikan, masih selalu dihadap, Ceriterakanlah mulai dengan Batara Kagenengan, Ceriterakan sejarahnya jadi put’ra Girinata.

Pupuh XXXIX

1.

Paduka Empuku menjawab: “Rakawi, Maksud paduka sungguh merayu hati, Sungguh paduka pujangga lepas budi, Tak putus menambah ilmu, mahkota hidup.

2.

Izinkan saya akan segera mulai: Cita disucikan dengan air sendang tujuh, Terpuji Siwa! Terpuji Girinata! Semoga terhindar aral, waktu bertutur.

3.

Semoga rakawi bersifat pengampun, Di antara kata mungkin terselib salah,

Harap percaya kepada orang tua, Kurang atau lebih janganlah dicela.

Pupuh XL

1.

Pada tahun Saka lautan dasa bulan (1104) ada raja perwira yuda, Putera Girinata, konon kabarnya, lahir di dunia tanpa ibu, Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda bakti, Ranggah Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak.

2.

Daerah luas sebelah timur gunung Kawi terkenal subur makmur, Di situlah tempat putera sang Girinata menunaikan darmanya, Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan negara, Ibu negara bernama Kutaraja, penduduknya sangat terganggu.

3.

Tahun Saka lautan dadu Siwa (1144) beliau melawan raja Kediri, Sang adiperwira Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa, Kalah, ketakutan, melarikan diri ke dalam biara terpencil, Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh.

4.

Setelah kalah narapati Kediri, Jawa di dalam ketakutan, Semua raja datang menyembah membawa tanda bakti hasil tanah, Bersatu Janggala Kediri di bawah kuasa satu raja sakti,

Cikal bakal para raja agung yang akan memerintah pulau Jawa.

5.

Makin bertambah besar kuasa dan megah putera sang Girinata, Terjamin keselamatan pulau Jawa selama menyembah kakinya, Tahun Saka muka lautan Rudra (1149) beliau kembali ke Siwa pada, Dicandikan di Kagenengan bagai Siwa, di Usana bagai Buda.

Pupuh XLI

1.

Batara Anusapati, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan, Selama pemerintahannya, tanah Jawa kokoh sentosa, bersembah bakti, Tahun Saka perhiasan gunung Sambu (1170) beliau pulang ke Siwaloka, Cahaya beliau diujudkan arca Siwa gemilang di candi makam Kidal.

2.

Batara Wisnuwardana, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan, Beserta Narasinga bagai Madawa dengan Indra memerintah negara, Beliau memusnahkan perusuh Linggapati serta segenap pengikutnya, Takut semua musuh kepada beliau, sungguh titisan Siwa di bumi.

3.

Tahun Saka rasa gunung bulan (1176) Batara Wisnu menobatkan puteranya, Segenap rakyat Kediri Janggala berduyun-duyun ke pura mangastubagia, Raja Kertanagara nama gelarannya, tetap demikian seterusnya, Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama praja Singasari.

4.

Tahun Saka awan sembilan mengebumikan tanah (1192) raja Wisnu berpulang, Dicandikan di Waleri berlambang arca Siwa, di Jajago arca Buda, Sementara itu Batara Narasingamurti pun pulang ke Surapada, Dicandikan di Wengker, di Kumeper diarcakan bagai Siwa mahadewa.

5.

Tersebut Sri Baginda Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat, Bersama Cayaraja, musnah pada tahun Saka naga mengalahkan bulan (1192), Tahun Saka muda bermuka rupa (1197) Baginda menyuruh tundukkkan Melayu, Berharap Melayu takut kedewaan beliau, tunduk begitu sahaja.

Pupuh XLII

1.

Tahun Saka janma sunyi surya (1202) Baginda raja memberantas penjahat, Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh negara, Tahun Saka badan langit surya (1206) mengirim utusan menghancurkan Bali, Setelah kalah rajanya menghadap Baginda sebagai orang tawanan.

2.

Begitulah dari empat jurusan orang lari berlindung di bawah Baginda, Seluruh Pahang, segenap Melayu tunduk menekur di hadapan beliau, Seluruh Gurun, segenap Bakulapura lari mencari perlindungan, Sunda Madura tak perlu dikatakan, sebab sudah terang setanah Jawa.

3.

Jauh dari tingkah alpa dan congkak, Baginda waspada tawakal dan bijak, Faham akan segala seluk beluk pemerintahan sejak zaman Kali, Karenanya tawakal dalam agama dan tapa untuk teguhnya ajaran Buda, Menganut jejak para leluhur demi keselamatan seluruh praja.

Pupuh XLIII

1.

Menurut kabaran sastra raja Pandawa memerintah sejak zaman Dwapara, Tahun Saka lembu gunung indu tiga (3179) beliau pulang ke Budaloka, Sepeninggalnya datang zaman Kali, dunia murka, timbul huru hara, Hanya batara raja yang faham dalam nam guna, dapat menjaga Jagad.

2.

Itulah sebabnya Baginda teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni, Teguh tawakal memegang pancasila, laku utama, upacara suci, Gelaran Jina beliau yang sangat mashur yalah Sri Jnyanabadreswara, Putus dalam filsafat, ilmu bahasa dan lain pengetahuan agama.

3.

Berlumba-lumba beliau menghirup sari segala ilmu kebatinan, Pertama-tama tantra Subuti diselami, intinya masuk ke hati, Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja, Menghindarkan tenung, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba.

4.

Di antara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau, Faham akan nan guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama, Adil, teguh dalam Jinabrata dan tawakal kepada laku utama, Itulah sebabnya beliau turun-temurun menjadi raja pelindung.

5.

Tahun Saka laut janma bangsawan yama (1214) Baginda pulang ke Jinalaya, Berkat pengetahuan beliau tentang upacara, ajaran agama, Beliau diberi gelaran: Yang Mulia bersemayam di alam Siwa-Buda, Di makam beliau bertegak arca Siwa-Buda terlampau indah permai.

6.

Di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan berkesan, Serta arca Ardanareswari bertunggal dengan arca Sri Bajradewi, Teman kerja dan tapa demi keselamatan dan kesuburan negara, Hyang Wairocana-Locana bagai lambangnya pada arca tunggal, terkenal.

Pupuh XLIV

1.

Tatkala Sri Baginda Kertanagara pulang ke Budabuana, Merata takut, duka, huru hara, laksana zaman Kali kembali, Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat,

Berkhianat, karena ingin berkuasa di wilayah Kediri.

2.

Tahun Saka laut manusia (1144) itulah sirnanya raja Kertajaya, Atas perintah Siwaput’ra Jayasaba berganti jadi raja, Tahun Saka delapan satu satu (1180) Sastrajaya raja Kediri, Tahun tiga sembilan Siwa raja (1193) Jayakatwang raja terakhir.

3.

Semua raja berbakti kepada cucu putera Girinata, Segenap pulau tunduk kepada kuasa raja Kertanagara, Tetapi raja Kediri Jayakatwang membuta dan mendurhaka, Ternyata damai tak baka akibat bahaya anak piara Kali.

4.

Berkat keulungan sastra dan keuletannya jadi raja sebentar, Lalu ditundukkan putera Baginda; ketenteraman kembali, Sang menantu Dyah Wijaya, itu gelarnya yang terkenal di dunia, Bersekutu dengan bangsa Tatar, menyerang melebur Jayakatwang.

Pupuh XLV

1.

Sepeninggal Jayakatwang jagad gilang-cemerlang kembali, Tahun Saka masa rupa surya (1216) beliau menjadi raja, Disembah di Majapahit, k’sayangan rakyat, pelebur musuh, Bergelar Sri Narapati Kretarajasa Jayawardana.

2.

Selama Kretarajasa Jayawardana duduk di takhta, Seluruh tanah Jawa bersatu padu, tunduk menengadah, Girang memandang pasangan Baginda empat jumlahnya, Puteri Kertanagara cantik-cantik bagai bidadari.

Pupuh XLVI

1.

Sang Parameswari Tribuwana yang sulung, luput dari cela, Lalu Parameswari Mahadewi, rupawan tidak bertara, Prajnyaparamita Jayendradewi, cantik manis m’nawan hati, Gayatri, yang bungsu, paling terkasih, digelarai Rajapatni.

2.

Perkawinan beliau dalam kekeluargaan tingkat tiga, Karena Batara Wisnu dengan Batara Narasingamurti, Akrab tingkat pertama; Narasinga menurunkan Dyah Lembu Tal, Sang perwira yuda, dicandikan di Mireng dengan arca Buda.

Pupuh XLVII

1.

Dyah Lembu Tal itulah bapa Baginda Nata, Dalam hidup atut runtun sepakat sehati, Setitah raja diturut, menggirangkan pandang, Tingkah laku mereka semua meresapkan,

2.

Tersebut tahun Saka tujuh orang dan surya (1217), Baginda menobatkan put’ranya di Kediri, Perwira, bijak, pandai, putera Indreswari, Bergelar Sang raja putera Jayanagara.

3.

Tahun Saka surya mengitari tiga bulan (1231), Sang prabu mangkat, ditanam di dalam pura, Antahpura, begitu nama makam beliau, Dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa.

Pupuh XLVIII

1.

Beliau meninggalkan Jayanagara sebagai raja Wilwatikta, Dan dua orang puteri keturunan Rajapatni, terlalu cantik, Bagai dewi Ratih kembar, mengalahkan rupa semua bidadari, Yang sulung jadi rani di Jiwana, yang bungsu jadi rani Daha.

2.

Tersebut pada tahun Saka mukti guna memaksa rupa (1238) bulan Madu, Baginda Jayanagara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh, Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan, Giris miris segenap jagad melihat keperwiraan Sri Baginda.

3.

Tahun Saka bulatan memanah surya (1250) beliau berpulang, Segera dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama, Di Sila Petak dan Bubat ditegakkan arca Wisnu terlalu indah, Di Sukalila terpahat arca Buda sebagai jelmaan Amogasidi.

Pupuh XLIX

1.

Tahun Saka Uma memanah dwi rupa (1256), Rani Jiwana Wijayatunggadewi, Bergilir mendaki takhta Wilwatikta, Didampingi raja put’ra Singasari.

2.

Atas perintah ibunda Rajapatni, Sumber bahagia dan pangkal kuasa, Beliau jadi pengemban dan pengawas, Raja muda, Sri Baginda Wilwatikta.

3.

Tahun Saka api memanah hari (1253), Sirna musuh di Sadeng, Keta diserang, Selama bertakhta, semua terserah, Kepada menteri bijak, Mada namanya.

4.

Tahun Saka panah musim mata pusat (1265), Raja Bali yang alpa dan rendah budi, Diperangi, gugur bersama balanya, Menjauh segala yang jahat, tenteram.

5.

Begitu ujar Dang Acarya Ratnamsah, Sungguh dan mengharukan ujar Sang Kaki, Jelas keunggulan Baginda di dunia, Dewa asalnya, titisan Girinata.

6.

Barangsiapa mendengar kisah raja, Tak puas hatinya, bertambah baktinya, Pasti takut melakukan tidak jahat, Menjauhkan diri dari tindak durhaka.

7.

Paduka Empu minta maaf berkata: “Hingga sekian kataku, sang rakawi Semoga bertambah pengetahuanmu Bagai buahnya, gubahlah puja sastra”.

8.

Habis jamuan rakawi dengan sopan, Minta diri kembali ke Singasari, Hari surut sampai pesanggrahan lagi, Paginya berangkat menghadap Baginda.

Pupuh L

1.

Tersebut Baginda Raja berangkat berburu, Berlengkap dengan senjata, kuda dan kereta, Dengan bala ke hutan Nandawa, rimba belantara, Rungkut rimbun penuh gelagah rumput rampak.

2.

Bala bulat beredar membuat lingkaran, Segera siap kereta berderet rapat, Hutan terkepung, terperanjat kera menjerit, Burung ribut beterbangan berebut dulu.

3.

Bergabung sorak orang berseru dan membakar, Gemuruh bagaikan deru lautan mendebur, Api tinggi menyala menjilat udara, Seperti waktu hutan Kandawa terbakar.

4.

Lihat rusa-rusa lari lupa darat, Bingung berebut dahulu dalam rombongan, Takut miris menyebar, ingin lekas lari, Malah menengah berkumpul tumpuk timbun.

5.

Banyaknya bagai banteng di dalam Gobajra, Penuh sesak, bagai lembu di Wresabapura, Celeng, banteng, rusa, kerbau, kelinci, Biawak, kucing, kera, badak dan lainnya.

6.

Tertangkap segala binatang dalam hutan, Tak ada yang menentang, semua bersatu, Srigala gagah, yang bersikap tegak-teguh, Berunding dengan singa sebagai ketua.

Pupuh LI

1.

Izinkanlah saya bertanya kepada sang raja satwa, Sekarang raja merayah hutan, apa yang diperbuat? Menanti mati sambil berdiri ataukah kita lari, Atau tak gentar serentak melawan, jikalau diserang?

2.

Seolah-olah demikian kata srigala dalam rapat, Kijang, kaswari, rusa dan kelinci serempak menjawab: “Hemat patik tidak ada jalan lain kecuali lari Lari mencari keselamatan diri sedapat mungkin”.

3.

Banteng, kerbau, lembu serta harimau serentak berkata: “Amboi! Celaka bang kijang, sungguh binatang hina lemah Bukanlah sifat perwira lari, atau menanti mati, Melawan dengan harapan menang, itulah kewajiban.”

4.

Jawab singa: Usulmu berdua memang pantas diturut, Tapi harap dibedakan, yang dihadapi baik atau buruk, Jika penjahat, terang kita lari atau kita lawan, Karena sia-sia belaka, jika mati terbunuh olehnya.

5.

Jika kita menghadapi tripaksa, resi Siwa-Buda, Seyogyanya kita ikuti saja jejak sang pendeta, Jika menghadapi raja berburu, tunggu mati saja, Tak usah engkau merasa enggan menyerahkan hidupmu.

6.

Karena raja berkuasa mengakhiri hidup makhluk, Sebagai titisan Batara Siwa berupa narpati, Hilang segala dosanya makhluk yang dibunuh beliau, Lebih utama daripada terjun ke dalam telaga.

7.

Siapa di antara sesama akan jadi musuhku? Kepada tripaksa aku takut, lebih utama menjauh, Niatku, jika berjumpa raja, akan menyerahkan hidup, Mati olehnya, tak akan lahir lagi bagai binatang.

Pupuh LII

1.

Bagaikan katanya: “Marilah berkumpul!”, Kemudian serentak maju berdesak, Prajurit darat yang terlanjur langkahnya, Tertahan tanduk satwa, lari kembali.

2.

Tersebut adalah prajurit berkuda, Bertemu celeng sedang berdesuk kumpul, Kasihan! Beberapa mati terbunuh, Dengan anaknya dirayah tak berdaya.

3.

Lihatlah celeng jalang maju menerjang, Berempat, berlima, gemuk, tinggi, marah, Buas membekos-bekos, matanya merah, Liar dahsyat, saingnya seruncing golok.

Pupuh LIII

1.

Tersebut pemburu kijang rusa riuh seru menyeru, Ada satu yang tertusuk tanduk, lelah lambat jalannya, Karena luka kakinya, darah deras meluap-luap, Lainnya mati terinjak-injak, menggelimpang kesakitan.

2.

Bala kembali berburu, berlengkap tombak serta lembing, Berserak kijang rusa di samping bangkai bertumpuk timbun, Banteng serta binatang galak lainnya bergerak menyerang, Terperanjat bala raja bercicir lari tunggang langgang.

3.

Ada yang lari berlindung di jurang, semak, kayu rimbun, Ada yang memanjat pohon, ramai mereka berebut puncak, Kasihanlah yang memanjat pohon tergelincir ke bawah, Betisnya segera diseruduk dengan tanduk, pingsanlah!.

4.

Segera kawan-kawan datang menolong dengan kereta, Menombak, melembing, menikam, melanting, menjejak-jejak, Karenanya badak mundur, meluncur berdebak gemuruh, Lari terburu, terkejar; yang terbunuh bertumpuk timbun.

5.

Ada pendeta Siwa dan Buda yang turut menombak, mengejar, Disengau harimau, lari diburu binatang mengancam, Lupa akan segala darma, lupa akan tata sila, Turut melakukan kejahatan, melupakan darmanya.

Pupuh LIV

1.

Tersebut Baginda telah mengendarai kereta kencana, Tinggi lagi indah ditarik lembu yang tidak takut bahaya, Menuju hutan belantara, mengejar buruan ketakutan, Yang menjauhkan diri lari bercerai-berai meninggalkan bangkai.

2.

Celeng, kaswari, rusa dan kelinci tinggal dalam ketakutan, Baginda berkuda mengejar yang riuh lari bercerai-berai, Menteri, tanda dan pujangga di punggung kuda turut memburu, Binatang jatuh terbunuh, tertombak, terpotong, tertusuk, tertikam.

3.

Tanahnya luas lagi rata, hutannya rungkut, di bawah terang, Itulah sebabnya kijang dengan mudah dapat diburu kuda, Puaslah hati Baginda, sambil bersantap dihadap pendeta, Bercerita tentang caranya berburu, menimbulkan gelak tawa.

Pupuh LV

1.

Terlangkahi betapa narpati sambil berburu menyerap sari keindahan, Gunung dan hutan, kadang-kadang kepayahan kembali ke rumah perkemahan, Membawa wanita seperti cengkerma; di hutan bagai menggempur negara, Tahu kejahatan satwa, beliau tak berdosa terhadap darma ahimsa.

2.

Tersebut beliau bersiap akan pulang, rindu kepada keindahan pura, Tatkala subakala berangkat menuju Banyu Hanget, Banir dan Talijungan, Bermalam di Wedwawedan, siangnya menuju Kuwarahan, Celong dan Dadamar, Garuntang, Pagar Telaga, Pahanjangan, sampai di situ perjalanan beliau.

3.

Siangnya perjalanan melalui Tambak, Rabut, Wayuha terus ke Balanak, Menuju Pandakan, Banaragi, sampai Pandamayan beliau lalu bermalam, Kembali ke selatan, ke barat, menuju Jejawar di kaki gunung berapi, Disambut penonton bersorak gembira, menyekar sebentar di candi Makam.

Pupuh LVI

1.

Adanya candi makam tersebut sudah sejak zaman dahulu, Didirikan oleh Sri Kertanagara, moyang Baginda raja, Di situ hanya jenazah beliau sahaja yang dimakamkan, Kar’na beliau dulu memeluk dua agama Siwa-Buda.

2.

Bentuk candi berkaki Siwa, berpuncak Buda, sangat tinggi, Di dalamnya terdapat arca Siwa, indah tak dapat dinilai, Dan arca Maha Aksobya bermahkota tinggi tidak bertara, Namun telah hilang; memang sudah layak, tempatnya: di Nirwana.

Pupuh LVII

1.

Konon kabarnya tepat ketika arca Hyang Aksobya hilang, Ada pada Baginda guru besar, mashur, Pada Paduka, Putus tapa, sopan suci penganut pendeta Sakyamuni, Telah terbukti bagai mahapendeta, terpundi sasantri.

2.

Senang berziarah ke tempat suci, bermalam dalam candi, Hormat mendekati Hyang arca suci, khidmat berbakti sembah, Menimbulkan iri di dalam hati pengawas candi suci, Ditanya, mengapa berbakti kepada arca dewa Siwa.

3.

Pada Paduka menjelaskan sejarah candi makam suci, Tentang adanya arca Aksobya indah, dahulu di atas, Sepulangnya kembali lagi ke candi menyampaikan bakti, Kecewa! Tercengang memandang arca Maha Aksobya hilang.

4.

Tahun Saka api memanah hari (1253) itu hilangnya arca, Waktu hilangnya halilintar menyambar candi ke dalam, Benarlah kabaran pendeta besar bebas dari prasangka, Bagaimana membangun kembali candi tua terbengkalai?.

5.

Tiada ternilai indahnya, sungguh seperti surga turun, Gapura luar, mekala serta bangunannya serba permai, Hiasan di dalamnya naga puspa yang sedang berbunga, Di sisinya lukisan puteri istana berseri-seri.

6.

Sementara Baginda girang cengkerma menyerap pemandangan, Pakis berserak sebar di tengah tebat bagai bulu dada, Ke timur arahnya di bawah terik matahari Baginda, Meninggalkan candi Pekalongan girang ikut jurang curam.

Pupuh LVIII

1.

Tersebut dari Jajawa Baginda b’rangkat ke desa Padameyan, Berhenti di Cunggrang, mencahari pemandangan, masuk hutan rindang, Ke arah asrama para pertapa di lereng kaki gunung menghadap jurang, Luang jurang ternganga-nganga ingin menelan orang yang memandang.

2.

Habis menyerap pemandangan, masih pagi kereta telah siap, Ke barat arahnya menuju gunung melalui jalannya dahulu, Tiba di penginapan Japan, barisan tentara datang menjemput, Yang tinggal di pura iri kepada yang gembira pergi menghadap.

3.

Pukul tiga itulah waktu Baginda bersantap bersama-sama, Paling muka duduk Baginda, lalu dua paman berturut tingkat, Raja Matahun dan Paguhan bersama permaisuri agak jauhan, Di sisi Sri Baginda; terlangkahi berapa lamanya bersantap.

Pupuh LIX

1.

Paginya pasukan kereta Baginda berangkat lagi, Sang pujangga menyidat jalan ke Rabut, Tugu, Pengiring, Singgah di Pahyangan, menemui kelompok sanak kadang, Dijamu sekadarnya karena kunjungannya mendadak.

2.

Banasara dan Sangkan Adoh telah lama dilalui, Pukul dua Baginda t’lah sampai di perbatasan kota, Sepanjang jalan berdesuk-desuk, gajah, kuda, pedati, Kerbau, banteng dan prajurit darat sibuk berebut jalan.

3.

Teratur rapi mereka berarak di dalam deretan, Narpati Pajang, permaisuri dan pengiring paling muka, Di belakangnya, tidak jauh, berikut Narpati Lasem, Terlampau indah keretanya, menyilaukan yang memandang.

4.

Rani Daha, rani Wengker semuanyan urut belakang, Disusul rani Jiwana bersama laki dan pengiring, Bagai penutup kereta Baginda serombongan besar, Diiringi beberapa ribu perwira dan para ment’ri.

5.

Tersebut orang yang rapat rampak menambak tepi jalan, Berjejal ribut menanti kereta Baginda berlintas, Tergopoh-gopoh perempuan ke pintu berebut tempat, Malahan ada yang lari telanjang lepas sabuk kainnya.

6.

Yang jauh tempatnya, memanjat ke kayu berebut tinggi, Duduk berdesak-desak di dahan, tak pandang tua muda, Bahkan ada juga yang memanjat batang kelapa kuning, Lupa malu dilihat orang, karena tepekur memandang.

7.

Gemuruh dengung gong menampung Sri Baginda raja datang, Terdiam duduk merunduk segenap orang di jalanan, Setelah raja lalu, berarak pengiring di belakang, Gajah, kuda, keledai, kerbau berduyun beruntun-runtun.

Pupuh LX

1.

Yang berjalan rampak berarak-arak, Barisan pikulan bejalan belakang, Lada, kesumba, kapas, buah kelapa, Buah pinang, asam dan wijen terpikul.

2.

Di belakangnya pemikul barang berat, Sengkeyegan lambat berbimbingan tangan, Kanan menuntun kirik dan kiri genjik, Dengan ayam itik di k’ranjang merunduk.

3.

Jenis barang terkumpul dalam pikulan, Buah kecubung, rebung, s’ludang, cempaluk, Nyiru, kerucut, tempayan, dulang, periuk, Gelaknya seperti hujan panah jatuh.

4.

Tersebut Baginda telah masuk pura, Semua bubar masuk ke rumah masing-masing,

Ramai bercerita tentang hal yang lalu, Membuat gembira semua sanak kadang.

Pupuh LXI

1.

Waktu lalu; Baginda tak lama di istana, Tahun Saka dua gajah bulan (1282) Badra pada, Beliau berangkat menuju Tirib dan Sempur, Nampak sangat banyak binatang di dalam hutan.

2.

Tahun Saka tiga badan dan bulan (1283) Waisaka, Baginda raja berangkat menyekar ke Palah, Dan mengunjungi Jimbe untuk menghibur hati, Di Lawang Wentar, Blitar menenteramkan cita.

3.

Dari Blitar ke selatan jalannya mendaki, Pohonnya jarang, layu lesu kekurangan air, Sampai Lodaya bermalam beberapa hari, Tertarik keindahan lautan, menyisir pantai.

4.

Meninggalkan Lodaya menuju desa Simping, Ingin memperbaiki candi makam leluhur,

Menaranya rusak, dilihat miring ke barat, Perlu ditegakkan kembali agak ke timur.

Pupuh LXII

1.

Perbaikan disesuaikan dengan bunyi prasati, yang dibaca lagi, Diukur panjang lebarnya; di sebelah timur sudah ada tugu, Asrama Gurung-gurung diambil sebagai denah candi makam, Untuk gantinya diberikan Ginting, Wisnurare di Bajradara.

2.

Waktu pulang mengambil jalan Jukung, Jnyanabadran terus ke timur, Berhenti di Bajralaksmi dan bermalan di candi Surabawana, Paginya berangkat lagi, berhenti di Bekel, sore sampai pura, Semua pengiring bersowang-sowang pulang ke rumah masing-masing.

Pupuh LXIII

1.

Tersebut paginya Sri naranata dihadap para ment’ri semua, Di muka para arya, lalu pepatih, duduk teratur di manguntur, Patih amangkubumi Gajah Mada tampil ke muka sambil berkata: “Baginda akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan.

2.

Atas perintah sang rani Sri Tribuwana Wijayatunggadewi, Supaya pesta serada Sri Rajapatni dilangsungkan Sri Baginda, Di istana pada tahun Saka bersirah empat (1284) bulan Badrapada, Semua pembesar dan Wreda menteri diharap memberi sumbangan”.

3.

Begitu kata sang patih dengan ramah, membuat gembira Baginda, Sorenya datang para pendeta, para budiman, sarjana dan ment’ri, Yang dapat pinjaman tanah dengan Ranadiraja sebagai kepala, Bersama-sama membicarakan biaya di hadapan Sri Baginda.

4.

Tersebut sebelum bulan Badrapada menjelang surutnya Srawana, Semua pelukis berlipat giat menghias “tempat singa” di setinggil, Ada yang mengetam baki makanan, bokor-bokoran, membuat arca, Pandai emas dan perak turut sibuk bekerja membuat persiapan,

Pupuh LXIV

1.

Ketika saatnya tiba, tempat telah teratur sangat rapi, Balai Witana terhias indah, di hadapan rumah-rumahan, Satu di antaranya berkaki batu karang, bertiang merah, Indah dipandang, semua menghadap ke arah takhta Baginda.

2.

Barat, mandapa dihias janur rumbai, tempat duduk para raja, Utara, serambi dihias berlapis ke timur, tempat duduk, Para isteri, pembesar, menteri, pujangga serta pendeta, Selatan, beberapa serambi berhias bergas untuk abdi.

3.

Demikian persiapan Sri Baginda memuja Buda Sakti, Semua pendeta Buda berdiri dalam lingkaran bagai saksi, Melakukan upacara, dipimpin oleh pendeta Stapaka, Tenang, sopan, budiman faham tentang sastra tiga tantra.

4.

Umurnya melintasi seribu bulan, masih belajar tutur, Tubuhnya sudah rapuh, selama upacara harus dibantu, Empu dari Paruh selaku pembantu berjalan di lingkaran, Mudra, mantra, dan japa dilakukan tepat menurut aturan.

5.

Tanggal dua belas nyawa dipanggil dari surga dengan doa, Disuruh kembali atas doa dan upacara yang sempurna, Malamnya memuja arca bunga bagai penampung jiwa mulia, Dipimpin Dang Acarya, mengheningkan cipta, mengucap puja.

Pupuh LXV

1.

Pagi purnamakala arca bunga dikeluarkan untuk upacara, Gemuruh disambut dengan dengung salung, tambur, terompet serta genderang, Didudukkan di atas singasana, besarnya setinggi orang berdiri, Berderet beruntun-runtun semua pendeta tua muda memuja.

2.

Berikut para raja, parameswari dan putera mendekati arca, Lalu para patih dipimpin Gajah Mada maju ke muka berdatang sembah, Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru, Habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur.

3.

Sri Nata Paguhan paling dahulu menghaturkan sajian makanan sedap, Bersusun timbun seperti pohon, dan sirih bertutup kain sutera, Persembahan raja Matahun arca banteng putih seperti lembu Nandini, Terus-menerus memuntahkan harta dan makanan dari nganga mulutnya.

4.

Raja Wengker mempersembahkan sajian berupa rumah dengan taman bertingkat, Disertai penyebaran harta di lantai balai besar berhambur-hamburan, Elok persembahan raja Tumapel berupa perempuan cantik manis, Dipertunjukkan selama upacara untuk mengharu-rindukan hati.

5.

Paling haibat persembahan Sri Baginda berupa gunung besar Mandara, Digerakkan oleh sejumlah dewa dan danawa dahsyat menggusarkan pandang, Ikan lambora besar berlembak-lembak mengebaki kolam bujur lebar, Bagaikan sedang mabuk diayun gelombang, ditengah tengah lautan besar.

6.

Tiap hari persajian makanan yang dipersembahkan dibagi-bagi, Agar para wanita, menteri, pendeta dapat makanan sekenyangnya, Tidak terlangkahi para kesatria, arya dan para abdi di pura, Tak putusnya makanan sedap nyaman diedarkan kepada bala tentara.

Pupuh LXVI

1.

Pada hari keenam pagi Sri Baginda bersiap mempersembahkan persajian, Pun para kesatria dan pembesar mempersembahkan rumah-rumahan yang terpikul, Dua orang pembesar mempersembahkan perahu yang melukiskan kutipan kidung, Seperahu sungguh besarnya, diiringi gong dan bubar mengguntur menggembirakan.

2.

Esoknya patih mangkubumi Gajah Mada sore-sore menghadap sambil menghaturkan, Sajian perempuan sedih merintih di bawah nagasari dibelit rajasa, Menteri, arya, bupati, pembesar desa pun turut menghaturkan persajian, Berbagai ragamnya, berduyun-duyun, ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan….

3.

Sungguh- sungguh mengagumkan persembahan Baginda raja pada hari yang ketujuh, Beliau menabur harta, membagi-bagi bahan pakaian dan hidangan makanan, Luas merata kepada empat kasta, dan terutama kepada para pendeta, Hidangan jamuan kepada pembesar, abdi dan niaga mengalir bagai air.

4.

Gemeruduk dan gemuruh para penonton dari segenap arah, berdesak-desak, Ribut berebut tempat melihat peristiwa di balai agung serta para luhur, Sri Nata menari di balai witana khusus untuk para puteri dan para istri, Yang duduk rapat rapi berimpit, ada yang ngelamun karena tercengang memandang.

5.

Segala macam kesenangan yang menggembirakan hati rakyat diselenggarakan, Nyanyian, wayang, topeng silih berganti setiap hari dengan paduan suara, Tari perang prajurit, yang dahsyat berpukul-pukulan, menimbulkan gelak-mengakak, Terutama derma kepada orang yang menderita membangkitkan gembira rakyat.

Pupuh LXVII

1.

Pesta serada yang diselenggarakan serba meriah dan khidmat, Pasti membuat gembira jiwa Sri Rajapatni yang sudah mangkat, Semoga beliau melimpahkan berkat kepada Baginda raja, Sehingga jaya terhadap musuh selama ada bulan dan surya.

2.

Paginya pendeta Buda datang menghormati, memuja dengan sloka, Arwah Prajnyaparamita yang sudah berpulang ke Budaloka, Segera arca bunga diturunkan kembali dengan upacara, Segala macam makanan dibagikan kepada segenap abdi.

3.

Lodang lega rasa Baginda melihat perayaan langsung lancar, Karya yang masih menunggu, menyempurnakan candi di Kamal Pandak, Tanahnya telah disucikan tahun dahana tujuh surya (1274), Dengan persajian dan puja kepada Brahma oleh Jnyanawidi.

Pupuh LXVIII

1.

Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya, Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah, Karena cinta raja Erlangga kepada dua puteranya.

2.

Ada pendeta Budamajana putus dalam tantra dan yoga, Diam di tengah kuburan Lemah Citra, jadi pelindung rakyat, Waktu ke Bali berjalan kaki, tenang menapak di air lautan, Hyang Mpu Barada nama beliau, faham tentang tiga zaman.

3.

Girang beliau menyambut permintaan Erlangga membelah negara, Tapal batas negara ditandai air kendi, mancur dari langit, Dari barat ke timur sampai laut; sebelah utara, selatan, Yang tidak jauh, bagaikan dipisahkan oleh samudera besar.

4.

Turun dari angkasa sang pendeta berhenti di pohon asam, Selesai tugas kendi suci ditaruhkan di dusun Palungan, Marah terhambat pohon asam tinggi yang puncaknya mengait jubah, Mpu Barada  lagi, mengutuk asam agar jadi kerdil.

5.

Itulah tugu batas gaib, yang tidak akan mereka lalui, Itu pula sebabnya dibangun candi, memadu Jawa lagi, Semoga Baginda serta rakyat tetap tegak, teguh, waspada, Berjaya dalam memimpin negara, yang sudah bersatu padu.

Pupuh LXIX

1.

Prajnyaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangun, Arca Sri Rajapatni diberkahi oleh Sang pendeta Jnyanawidi, Telah lanjut usia, faham akan tantra, menghimpun ilmu agama, Laksana titisan Empu Barada, menggembirakan hati Baginda

2.

Di Bayalangu akan dibangun pula candi makam Sri Rajapatni, Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkahi tanahnya, Rencananya telah disetujui oleh sang menteri demung Boja, Wisesapura namanya, jika candi sudah sempurna dibangun.

3.

Candi makam Sri Rajapatni tersohor sebagai tempat keramat, Tiap bulan Badrapada disekar oleh para menteri dan pendeta, Di tiap daerah rakyat serentak membuat peringatan dan memuja, Itulah suarganya, berkat berputera, bercucu narendra utama.

Pupuh LXX

1.

Tersebut pada tahun Saka angin delapan utama (1285), Baginda menuju Simping demi pemindahan candi makam, Siap lengkap segala persajian tepat menurut adat, Pengawasnya Rajaparakrama memimpin upacara.

2.

aham tentang tatwopadesa dan kepercayaan Siwa, Memangku jabatannya semenjak mangkat Kertarajasa, Ketika menegakkan menara dan mekala gapura, Bangsawan agung Arya Krung, yang diserahi menjaganya.

3.

Sekembalinya dari Simping, segera masuk ke pura, Terpaku mendengar Adimenteri Gajah Mada gering, Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa, Di pulau Bali serta kota Sadeng memusnahkan musuh.

Pupuh LXXI

1.

Tahun Saka tiga angin utama (1253) beliau mulai memikul tanggung jawab, Tahun rasa (1286) beliau mangkat; Baginda gundah, terharu, bahkan putus asa, Sang dibyacita Gajah Mada cinta kepada sesama tanpa pandang bulu, Insaf bahwa hidup ini tidak baka, karenanya beramal tiap hari.

2.

Baginda segera bermusyawarah dengan kedua rama serta ibunda, Kedua adik dan kedua ipar tentang calon pengganti Ki patih Mada, Yang layak akan diangkat hanya calon yang sungguh mengenal tabiat rakyat, Lama timbang-menimbang, tetapi seribu sayang tidak ada yang memuaskan.

3.

Baginda berpegang teguh, Adimenteri Gajah Mada tak akan diganti, Bila karenanya timbul keberatan, beliau sendiri bertanggung jawab, Memilih enam menteri yang menyampaikan urusan negara ke istana, Mengetahui segala perkara, sanggup tunduk kepada pimpinan Baginda.

Pupuh LXXII

1.

Itulah putusan rapat tertutup, Hasilnya yang diperoleh perundingan, Terpilih sebagai wredamenteri, Karib Baginda bernama Mpu Tandi.

2.

Penganut karib Sri Baginda Nata, Pahlawan perang bernama Mpu Nala, Mengetahui budi pekerti rakyat, Mancanegara bergelar tumenggung.

3.

Keturunan orang cerdik dan setia, Selalu memangku pangkat pahlawan, Pernah menundukkan negara Dompo, Serba ulet menaggulangi musuh.

4.

Jumlahnya bertambah dua menteri, Bagai pembantu utama Baginda, Bertugas mengurus soal perdata, Dibantu oleh para upapati.

5.

Mpu Dami menjadi menteri muda, Selalu ditaati di istana, Mpu Singa diangkat sebagai saksi, Dalam segala perintah Baginda.

6.

Demikian titah Sri Baginda Nata, Puas, taat teguh segenap rakyat, Tumbuh tambah hari setya baktinya, Karena Baginda yang memerintah.

Pupuh LXXIII

1.

Baginda makin keras berusaha untuk dapat bertindak lebih bijak, Dalam pengadilan tidak serampangan, tapi tepat mengikut undang-undang, Adil segala keputusan yang diambil, semua pihak merasa puas, Mashur nama beliau, mampu menembus zaman, sungguhlah titisan batara.

2.

Candi makam serta bangunan para leluhur sejak zaman dahulu kala, Yang belum siap diselesaikan, dijaga dan dibina dengan saksama, Yang belum punya prasasti, disuruh buatkan piagam pada ahli sastra, Agar kelak jangan sampai timbul perselisihan, jikalau sudah temurun.

3.

Jumlah candi makam raja seperti berikut, mulai dengan Kagenengan, Disebut pertama karena tertua: Tumapel, Kidal, Jajagu,Wedwawedan, Di Tuban, Pikatan, Bakul, Jawa-jawa, Antang Trawulan, Kalang Brat dan Jago, Lalu Balitar, Sila Petak, Ahrit, Waleri, Bebeg, Kukap, Lumbang dan Puger.

Pupuh LXXIV

1.

Makam rani : Kamal Pandak, Segala, Simping, Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir, Bangunan baru Prajnyaparamitapuri, Di Bayalangu yang baru saja dibangun.

2.

Itulah dua puluh tujuh candi raja, Pada Saka tujuh guru candra (1287) bulan Badra, Dijaga petugas atas perintah raja, Diawasi oleh pendeta ahli sastra.

Pupuh LXXV

1.

Pembesar yang bertugas mengawasi seluruhnya sang Wiradikara, Orang utama, yang saksama dan tawakal membina semua candi, Setia kepada Baginda, hanya memikirkan kepentingan bersama, Segan mengambil keuntungan berapa pun penghasilan candi makam.

2.

Desa-desa perdikan ditempatkan di bawah perlindungan Baginda, Darmadyaksa kasewan bertugas membina tempat ziarah dan pemujaan, Darmadyaksa kasogatan disuruh menjaga biara kebudaan, Menteri her-haji bertugas memelihara semua pertapaan.

Pupuh LXXVI

1.

Desa perdikan Siwa yang bebas dari pajak: biara relung Kunci, Kapulungan, Roma, Wwatan, Iswaragreha, Palabdi, Tanjung, Kutalamba, begitu pula Taruna, Parhyangan, Kuti Jati, Candi Lima, Nilakusuma, Harimandana, Uttamasuka, Prasada-haji, Sadang, Panggumpulan, Katisanggraha, begitu pula Jayasika.

2.

Tak ketinggalan: Spatika, Yang Jayamanalu, Haribawana, Candi Pangkal, Pigit, Nyudonta, Katuda, Srangan, Kapukuran, Dayamuka, Kalinandana, Kanigara, Rambut, Wuluhan, Kinawung, Sukawijaya, dan lagi Kajaha, demikian pula, Campen, Ratimanatasrama, Kula, Kaling, ditambah sebuah lagi Batu Putih,

3.

Desa perdikan kasogatan yang bebas dari pajak: Wipulahara, Kutahaji, Janatraya, Rajadanya, Kuwanata, Surayasa, Jarak, Lagundi, serta Wadari, Wewe Pacekan, Pasaruan, Lemah Surat, Pamanikan, Srangan serta Pangiketan, Panghawan, Damalang, Tepasjita, Wanasrama, Jenar, Samudrawela dan Pamulang.

4.

Baryang, Amretawardani, Wetiwetih, Kawinayan, Patemon, serta Kanuruhan, Engtal, Wengker, Banyu Jiken, Batabata, Pagagan, Sibok dan Padurungan, Pindatuha, Telang, Suraba, itulah yang terpenting, sebuah lagi Sukalila, Tak disebut perdikan tambahan seperti Pogara, Kulur, Tangkil dan sebagainya.

Pupuh LXXVII

1.

Selanjutnya disebut berturut desa kebudaan Bajradara: Isanabajra, Naditata, Mukuh, Sambang, Tanjung, Amretasaba, Bangbang, Bodimula, Waharu Tampak, serta Puruhan dan Tadara, Tidak juga terlangkahi Kumuda, Ratna serta Nadinagara,

2.

Wungajaya, Palandi, Tangkil, Asahing, Samici serta Acitahen, Nairanjana, Wijayawaktra, Mageneng, Pojahan dan Balamasin, Krat, Lemah Tulis, Ratnapangkaya, Panumbangan, serta Kahuripan, Ketaki, Telaga Jambala, Jungul ditambah lagi Wisnuwala.

3.

Badur, Wirun, Wungkilur, Mananggung, Watukura serta Bajrasana, Pajambayan, Salanten, Simapura, Tambak Laleyan, Pilanggu, Pohaji, Wangkali, Biru, Lembah, Dalinan, Pangadwan yang terakhir, Itulah desa kebudaan Bajradara yang sudah berprasasti.

Pupuh LXXVIII

1.

Desa keresian seperti berikut: Sampud, Rupit dan Pilan, Pucangan, Jagadita, Pawitra, masih sebuah lagi Butun, Di situ terbentang taman, didirikan lingga dan saluran air, Yang Mulia Mahaguru—demikian sebutan beliau.

2.

Yang diserahi tugas menjaga sejak dulu menurut piagam, Selanjutnya desa perdikan tanpa candi, di antaranya yang penting: Bangawan, Tunggal, Sidayatra, Jaya Sidahajeng, Lwah Kali dan Twas, Wasista, Palah, Padar, Siringan, itulah desa perdikan Siwa.

3.

Wangjang, Bajrapura, Wanara, Makiduk, Hanten, Guha dan Jiwa, Jumpud, Soba, Pamuntaran, dan Baru, perdikan Buda utama, Kajar, Dana Hanyar, Turas, Jalagiri, Centing, Wekas, Wandira, Wandayan, Gatawang, Kulampayan dan Talu, pertapaan resi.

4.

Desa perdikan Wisnu berserak di Batwan serta Kamangsian, Batu, Tanggulian, Dakulut, Galuh, Makalaran, itu yang penting, Sedang, Medang, Hulun Hyan, Parung, Langge, Pasajan, Kelut, Andelmat, Paradah, Geneng, Panggawan, sudah sejak lama bebas pajak.

5.

Terlewati segala dukuh yang terpencar di seluruh Jawa, Begitu pula asrama tetap yang bercandi serta yang tidak, Yang bercandi menerima bantuan tetap dari Baginda raja, Begitu juga dukuh pengawas, tempat belajar upacara.

Pupuh LXXIX

1.

Telah diteliti sejarah berdirinya segala desa di Jawa, Perdikan, candi, tanah pusaka, daerah dewa, biara dan dukuh, Yang berpiagam dipertahankan; yang tidak segera diperintahkan, Pulang kepada dewan desa di hadapan Sang Arya Ranadiraja.

2.

Segenap desa sudah diteliti menurut perintah Raja Wengker, Raja Singasari bertitah mendaftar jiwa serta seluk-salurannya, Petugas giat menepati perintah, berpegang kepada aturan, Segenap penduduk Jawa patuh mengindahkan perintah Baginda raja.

3.

Semua tata aturan patuh diturut oleh pulau Bali, Candi, asrama, pesanggrahan telah diteliti sejarah tegaknya, Pembesar kebudaan Badahulu, Badaha Lo Gajah ditugaskan, Membina segenap candi, bekerja rajin dan mencatat semuanya.

Pupuh LXXX

1.

Perdikan kebudayaan Bali sebagai berikut; biara Baharu (hanyar), Kadikaranan, Purwanagara, Wiharabahu, Adiraja, Kuturan, Itulah enam kebudayaan Bajradara, biara kependetaan, Terlangkahi biara dengan bantuan negara seperti Arya-dadi.

2.

Berikut candi makam di Bukit Sulang, Lemah Lampung, dan Anyawasuda, Tatagatapura, Grehastadara, sangat mashur, dibangun atas piagam, Pada tahun Saka angkasa rasa surya (1260) oleh Sri Baginda Jiwana, Yang memberkahi tanahnya, membangun candinya: upasaka wreda mentri.

3.

Semua perdikan dengan bukti prasasti dibiarkan tetap berdiri, Terjaga dan terlindungi segala bagunan setiap orang budiman, Begitulah tabiat raja utama, berjaya, berkuasa, perkasa, Semoga kelak para raja sudi membina semua bangunan suci.

4.

Maksudnya agar musnah semua durjana dari muka bumi laladan, Itulah tujuan melintas, menelusur dusun-dusun sampai ke tepi laut, Menenteramkan hati pertapa yang rela tinggal di pantai, gunung dan hutan, Lega bertapa brata dan bersamadi demi kesejahteraan negara.

Pupuh LXXXI

1.

Besarlah minat Baginda untuk tegaknya tripaksa, Tentang piagam beliau bersikap agar tetap diindahkan, Begitu pula tentang pengeluaran undang-undang, supaya, Laku utama, tata sila dan adat-tutur diperhatikan.

2.

Itulah sebabnya sang caturdwija mengejar laku utama, Resi, Wipra, pendeta Siwa Buda teguh mengindahkan tutur, Catur asrama terutama catur basma tunduk rungkup tekun, Melakukan tapa brata, rajin mempelajari upacara.

3.

Semua anggota empat kasta teguh mengindahkan ajaran, Para menteri dan arya pandai membina urusan negara, Para puteri dan satria berlaku sopan, berhati teguh, Waisya dan sudra dengan gembira menepati tugas darmanya.

4.

Empat kasta yang lahir sesuai keinginan Hyang Maha Tinggi, Konon tunduk rungkup kepada kuasa dan perintah Baginda, Teguh tingkah tabiatnya, juga ketiga golongan terbawah, Candala, Mleca dan Tuca mencoba mencabut cacad-cacadnya.

Pupuh LXXXII

1.

Begitulah tanah Jawa pada zaman pemerintahan Sri Nata, Penegakan bangunan-bangunan suci membuat gembira rakyat, Baginda menjadi teladan di dalam menjalankan enam darma, Para ibu kagum memandang, setuju dengan tingkah laku sang prabu.

2.

Sri Nata Singasari membuka ladang luas di daerah Sagala, Sri Nata Wengker membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang, Mendirikan perdikan Buda di Rawi, Locanapura, Kapulungan, Baginda sendiri membuka ladang Watsari di Tigawangi.

3.

Semua menteri mengenyam tanah pelenggahan yang cukup luas, Candi, biara dan lingga utama dibangun tak ada putusnya, Sebagai tanda bakti kepada dewa, leluhur, para pendeta, Memang benar budi luhur tertabur mengikuti jejak Sri Nata.

Pupuh LXXXIII

1.

Begitulah keluhuran Sri Baginda ekananta di Wilwatika, Terpuji bagaikan bulan di musim gugur, terlalu indah terpandang, Durjana laksana tunjung merah, sujana seperti teratai putih, Abdi, harta, kereta, gajah, kuda berlimpah-limpah bagai samudera.

2.

Bertambah mashur keluhuran pulau Jawa di seluruh jagad raya, Hanya Jambudwipa dan pulau Jawa yang disebut negara utama, Banyak pujangga dan dyaksa serta para upapati, tujuh jumlahnya, Panji Jiwalekan dan Tengara yang menonjol bijak di dalam kerja.

3.

Mashurlah nama pendeta Brahmaraja bagai pujangga, ahli tutur, Putus dalam tarka, sempurna dalam seni kata serta ilmu naya, Hyang brahmana, sopan, suci, ahli weda, menjalankan nam laku utama, Batara Wisnu dengan cipta dan mentera membuat sejahtera negara.

4.

Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung, Dari Jambudwipa, Kamboja, Cina, Yamana, Campa dan Karnataka, Goda serta Siam mengarungi lautan bersama para pedagang, Resi dan pendeta, semua merasa puas, menetap dengan senang.

5.

Tiap bulan Palguna Sri Nata dihormat di seluruh negara, Berdesak-desak para pembesar, empat penjuru, para prabot desa, Hakim dan pembantunya, bahkan pun dari Bali mengaturkan upeti, Pekan penuh sesak pembeli penjual, barang terhampar di dasaran.

6.

Berputar keliling gamelan dalam tanduan diarak rakyat ramai, Tiap bertabuh tujuh kali, pembawa sajian menghadap ke pura, Korban api, ucapan mantra dilakukan para pendeta Siwa-Buda, Mulai tanggal delapan bulan petang demi keselamatan Baginda.

Pupuh LXXXIV

1.

Tersebut pada tanggal patbelas bulan petang Baginda berkirap, Selama kirap keliling kota busana Baginda serba kencana, Ditata jempana kencana, panjang berarak beranut runtun, Menteri, sarjana, pendeta beriring dalam pakaian seragam.

2.

Mengguntur gaung gong dan salung, disambut terompet meriah sahut-menyahut, Bergerak barisan pujangga menampung beliau dengan puja sloka, Gubahan kawi raja dari pelbagai kota dari seluruh Jawa, Tanda bukti Baginda perwira bagai Rama, mulia bagai Sri Kresna.

3.

Telah naik Baginda di takhta mutu-manikam, bergebar pancar sinar, Seolah-olah Hyang Trimurti datang mengucapkan puji astuti, Yang nampak, semua serba mulia, sebab Baginda memang raja agung, Serupa jelmaan Sang Sudodanaputera dari Jina bawana.

4.

Sri nata Pajang dengan sang permaisuri berjalan paling muka, Lepas dari singgasana yang diarak pengiring terlalu banyak, Menteri Pajang dan Paguhan serta pengiring jadi satu kelompok, Ribuan jumlahnya, berpakaian seragam membawa panji dan tunggul.

5.

Raja Lasem dengan permaisuri serta pengiring di belakangnya, Lalu raja Kediri dengan permaisuri serta menteri dan tentara, Berikut maharani Jiwana dengan suami dan para pengiring, Sebagai penutup Baginda dan para pembesar seluruh Jawa.

6.

Penuh berdesak sesak para penonton ribut berebut tempat, Di tepi jalan kereta dan pedati berjajar rapat memanjang, Tiap rumah mengibarkan bendera, dan panggung membujur sangat panjang, Penuh sesak perempuan tua muda, berjejal berimpit-impitan.

7.

Rindu sendu hatinya seperti baru pertama kali menonton, Terlangkahi peristiwa pagi, waktu Baginda mendaki setinggil, Pendeta menghaturkan kendi berisi air suci di dulang berukir, Menteri serta pembesar tampil ke muka menyembah bersama-sama.

Pupuh LXXXV

1.

Tanggal satu bulan Caitra bala tentara berkumpul bertemu muka, Menteri, perwira, para arya dan pembantu raja semua hadir, Kepala daerah, ketua desa, para tamu dari luar kota, Begitu pula para kesatria, pendeta dan brahmana utama.

2.

Maksud pertemuan agar para warga mengelakkan watak jahat, Tetapi menganut ajaran Rajakapakapa, dibaca tiap Caitra, Menghindari tabiat jahat, seperti suka mengambil milik orang, Memiliki harta benda dewa, demi keselamatan masyarakat.

Pupuh LXXXVI

1.

Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar, Di utara kota terbentang lapangan bernama Bubat, Sering dikunjungi Baginda, naik tandu bersudut singa, Diarak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang.

2.

Bubat adalah lapangan luas lebar dan rata, Membentang ke timur setengah krosa sampai jalan raya, Dan setengah krosa ke utara bertemu tebing sungai, Dikelilingi bangunan menteri di dalam kelompok.

3.

Menjulang sangat tinggi bangunan besar di tengah padang, Tiangnya penuh berukir dengan isi dongengan parwa, Dekat di sebelah baratnya bangunan serupa istana, Tempat menampung Baginda di panggung pada bulan Caitra.

Pupuh LXXXVII

1.

Panggung berjajar membujur ke utara menghadap barat, Bagian utara dan selatan untuk raja dan arya, Para menteri dan dyaksa duduk teratur menghadap timur, Dengan pemandangan bebas luas sepanjang jalan raya.

2.

Di situlah Baginda memberi rakyat santapan mata, Pertunjukan perang tanding, perang pukul, desuk-mendesuk, Perang keris, adu tinju, tarik tambang, menggembirakan, Sampai tiga empat hari lamanya baharu selesai.

3.

Seberangkat Baginda, sepi lagi, panggungnya dibongkar, Segala perlombaan bubar: rakyat pulang bergembira, Pada Caitra bulan petang Baginda menjamu para pemenang, Yang pulang menggondol pelbagai hadiah bukan pakaian.

Pupuh LXXXVIII

1.

Segenap ketua desa dan wadana tetap tinggal, paginya mereka, Dipimpin Arya Ranadikara menghadap Baginda minta diri di pura, Bersama Arya Mahadikara, kepala pancatanda dan padelegan, Sri Baginda duduk di atas takhta, dihadap para abdi dan pembesar.

2.

Berkatalah Sri nata Wengker di hadapan para pembesar dan wadana: “Wahai, tunjukkan cinta serta setya baktimu kepada Baginda raja, Cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu, Jembatan, jalan raya, beringin, bangunan dan candi supaya dibina.

3.

Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah, Perhatikan tanah rakyat, jangan sampai jatuh di tangan petani besar, Agar penduduk jangan sampai terusir dan mengungsi ke desa tetangga, Tepati segala peraturan untuk membuat desa bertambah besar”.

4.

Sri nata Kertawardhana setuju dengan anjuran memperbesar desa, “Harap dicatat nama penjahat dan pelanggaran setiap akhir bulan, Bantu pemeriksaan tempat durjana, terutama pelanggar susila, Agar bertambah kekayaan Baginda demi kesejahteraan negara”.

5.

Kemudian bersabda Baginda nata Wilwatikta memberi anjuran: “Para budiman yang berkunjung kemari, tidak boleh dihalang-halangi, Rajakarya, terutama bea-cukai, pelawang, supaya dilunasi, Jamuan kepada para tetamu budiman supaya diatur pantas”.

Pupuh LXXXIX

1.

Undang-undang sejak pemerintahan ibunda harus ditaati, Hidangan makanan sepanjang hari harus dimasak pagi-pagi, Jika ada tamu loba tamak mengambil makanan, merugikan,

Biar mengambilnya, tetapi laporkan namanya kepada saya.

2.

Negara dan desa berhubungan rapat seperti singa dan hutan, Jika desa rusak, negara akan kekurangan bahan makanan, Kalau tidak ada tentara, negara lain mudah menyerang kita, Karenanya peliharalah keduanya, itu perintah saya!”

3.

Begitu perintah Baginda kepada wadana, yang tunduk mengangguk, Sebagai tanda mereka sanggup mengindahkan perintah beliau, Menteri, upapati serta para pembesar menghadap bersama, Tepat pukul tiga mereka berkumpul untuk bersantap bersama.

4.

Bangunan sebelah timur laut telah dihiaisi gilang cemerlang, Di tiga ruang para wadana duduk teratur menganut sudut, Santapan sedap mulai dihidangkan di atas dulang serba emas, Segera deretan depan berhadap-hadapan di muka Baginda.

5.

Santapan terdiri dari daging kambing, kerbau, burung, rusa, madu, Ikan, telur, domba, menurut adat agama dari zaman purba, Makanan pantangan: daging anjing, cacing, tikus, keledai dan katak, Jika dilanggar, mengakibatkan hinaan musuh, mati dan noda.

Pupuh XC

1.

Dihidangkan santapan untuk orang banyak, Makanan serba banyak serta serba sedap, Berbagai-bagai ikan laut dan ikan tambak, Berderap cepat datang menurut acara.

2.

Daging katak, cacing, keledai, tikus, anjing, Hanya dihidangkan kepada para penggemar, Karena asalnya dari pelbagai desa, Mereka diberi kegemaran, biar puas.

3.

Mengalir pelbagai minuman keras segar, Tuak nyiur, tal, arak kilang, brem, tuak rumbya, Itulah hidangan minuman yang utama, Wadahnya emas berbentuk aneka ragam.

4.

Porong dan guci berdiri terpencar-pencar, Berisi minuman keras dari aneka bahan, Beredar putar seperti air yang mengalir, Yang gemar, minum sampai muntah serta mabuk.

5.

Meluap jamuan Baginda dalam pesta, Hidangan mengalir menghampiri tetamu, Dengan sabar segala sikap diizinkan, Penyombong, pemabuk jadi buah gelak tawa.

6.

Merdu merayu nyanyian para biduan, Melagukan puji-pujian Sri Baginda, Makin deras peminum melepaskan nafsu, Habis lalu waktu, berhenti gelak-gurau.

Pupuh XCI

1.

Pembesar daerah angin membadut dengan para lurah, Diikuti lagu, sambil bertandak memilih pasangan, Solah tingkahnya menarik gelak, menggelikan pandangan, Itulah sebabnya mereka memperoleh hadiah kain.

2.

Disuruh menghadap Baginda, diajak minum bersama, Menteri upapati berurut minum bergilir menyanyi, Nyanyian Manghuri Kandamuhi dapat sorak pujian, Baginda berdiri, mengimbangi ikut melaras lagu.

3.

Tercengang dan terharu hadirin mendengar swara merdu, Semerbak meriah bagai gelak merak di dahan kayu, Seperti madu bercampur dengan gula terlalu sedap manis, Resap mengharu kalbu bagai desiran buluh perindu.

4.

Arya Ranadikara lupa bahwa Baginda berlagu, Bersama Arya Mahadikara mendadak berteriak, Bahwa para pembesar ingin beliau menari topeng, “Ya!” jawab beliau; segera masuk untuk persiapan.

5.

Sri Kertawardana tampil ke depan menari panjak, Bergegas lekas panggung disiapkan di tengah mandapa, Sang permaisuri berhias jamang laras menyanyiakan lagu, Luk suaranya mengharu rindu, tingkahnya memikat hati.

6.

Bubar mereka itu, ketika Sri Baginda keluar, Lagu rayuan Baginda bergetar menghanyutkan rasa, Diiringkan rayuan sang permaisuri rapi rupendah, Resap meremuk rasa merasuk tulang sungsum pendengar,

7.

Sri Baginda warnawan telah mengenakan tampuk topeng, Delapan pengiringnya di belakang, bagus, bergas pantas, Keturunan arya, bijak, cerdas, sopan tingkah lakunya, Itulah sebabnya banyolannya selalu tepat kena.

8.

Tari sembilan orang telah dimulai dengan banyolan, Gelak tawa terus-menerus, sampai perut kaku beku, Babak yang sedih meraih tangis, mengaduk haru dan rindu, Tepat mengenai sasaran, menghanyutkan hati penonton.

9.

Silam matahari waktu lingsir, perayaan berakhir, Para pembesar minta diri mencium duli paduka, Katanya: “Lenyap duka oleh suka, hilang dari bumi!”, Terlangkahi pujian Baginda waktu masuk istana.

Pupuh XCII

1.

Begitulah suka mulia Baginda raja di pura, tercapai segala cita, Terang Baginda sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat dan negara, Meskipun masih muda, dengan suka rela berlaku bagai titisan Buda, Dengan laku utama beliau memadamkan api kejahatan durjana.

2.

Terus membumbung ke angkasa kemashuran dan peperwiraan Sri Baginda, Sungguh beliau titisan Batara Girinata untuk menjaga buana, Hilang dosanya orang yang dipandang, dan musnah letanya abdi yang disapa.

3.

Itulah sebabnya keluhuran beliau mashur terpuji di tiga jagad, Semua orang tinggi, sedang, dan rendah menuturkan kata-kata pujian, Serta berdoa agar Baginda tetap subur bagai gunung tempat berlindung, Berusia panjang sebagai bulan dan matahari cemerlang menerangi bumi.

Pupuh XCIII

1.

Semua pendeta dari tanah asing menggubah pujian Baginda, Sang pendeta Budaditya menggubah rangkaian seloka Bogawali, Tempat tumpah darahnya Kancipuri di Sadwihara di Jambudwipa, Brahmana Sri Mutali Saherdaya menggubah pujian seloka indah.

2.

Begitu pula para pendeta di Jawa, pujangga, sarjana sastra, Bersama-sama merumpaka seloka puja sastra untuk nyanyian, Yang terpenting puja sastra di prasasti, gubahan upapati Sudarma, Berupa kakawin, hanya boleh diperdengarkan di dalam istana.

Pupuh XCIV

1.

Mendengar pujian para pujanggga pura bergetar mencakar udara, Prapanca bangkit turut memuji Baginda, meski tak akan sampai pura, Maksud pujiannya, agar Baginda gembira jika mendengar gubahannya, Berdoa demi kesejahteraan negara, terutama Baginda dan rakyat.

2.

Tahun Saka gunung gajah budi dan janma (1287) bulan aswina hari purnama, Siaplah kakawin pujaan tentang perjalanan jaya keliling negara, Segenap desa tersusun dalam rangkaian, pantas disebut desawarnana, Dengan maksud, agar Baginda ingat jika membaca hikmat kalimat.

3.

Sia-sia lama bertekun menggubah kakawin menyurat di atas daun lontar, Yang pertama “Tahun Saka”, yang kedua “Lambang” kemudian “Parwasagara”, Berikut yang keempat “Bismacarana”, akhirnya cerita“Sugataparwa”, Lambang dan Tahun Saka masih akan diteruskan, sebab memang belum siap.

4.

Meskipun tidak semahir para pujangga di dalam menggubah kakawin, Terdorong cinta bakti kepada Baginda, ikut membuat puja sastra, Berupa karya kakawin, sederhana tentang rangkaian sejarah desa, Apa boleh buat harus berkorban rasa, pasti akan ditertawakan.

Pupuh XCV

1.

Nasib badan dihina oleh para bangsawan, canggung tingggal di dusun, Hati gundah kurang senang, sedih, rugi tidak mendengar ujar … manis, Teman karib dan orang budiman meningggalkan tanpa belas kasihan, Apa gunanya mengenal ajaran kasih, jika tidak diamalkan?.

2.

Karena kemewahan berlimpah, tidak ada minat untuk beramal, Buta, tuli, tak nampak sinar memancar dalam kesedihan, kesepian, Seyogyanya ajaran sang Mahamuni diserapkan bagai pegangan, Mengharapkan kasih yang tak kunjung datang, akan membawa mati muda.

3.

Segera bertapa brata di lereng gunung, masuk ke dalam hutan, Membuat rumah dan tempat persajian di tempat sepi dan bertapa, Halaman rumah ditanami pohon kamala, asana, tinggi-tinggi, Memang Kamalasana nama dukuhnya sudah sejak lama dikenal.

Pupuh XCVI

1.

Pra panca itu pra lima buah, Cirinya: cakapnya lucu, Pipinya sembab, matanya ngeliyap,

Gelaknya terbahak-bahak.

2.

Terlalu kurang ajar, tidak pantas ditiru, Bodoh, tak menurut ajaran tutur, Carilah pimpinan yang baik dalam tatwa, Pantasnya ia dipukul berulang kali.

Pupuh XCVII

1.

Ingin menyamai Mpu Winada, Mengumpulkan harta benda, Akhirnya hidup sengsara, Tapi tetap tinggal tenang.

2.

Winada mengejar jasa, Tanpa ragu wang dibagi, Terus bertapa berata, Mendapat pimpinan hidup.

3.

Sungguh handal dalam yuda, Yudanya belum selesai, Ingin mencapai nirwana, Jadi pahlawan pertapa.

Pupuh XCVIII

1.

Beratlah bagi para pujangga menyamai Winada, bertekun dalam tapa, Membalas dengan cinta kasih perbuatan mereka yang senang, Menghina orang-orang yang puas dalam ketenangan dan menjauhkan diri dari segala tingkah, menjauhkan diri dari kesukaan dan kewibawaan dengan harapan akan memperoleh faedah, Segan meniru perbuatan mereka yang dicacat dan dicela di dalam pura.

Sumber: Prof. Dr. Slamet Mulyana (Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya)
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
APAKAH ITU RASA ….??
« Reply #16 on: March 12, 2010, 12:13:45 am »
APAKAH ITU RASA ….??

Banyak orang yang bertanya, mengapa dalam mempelajari Agama mesti harus mengenal Rasa ? Memang kalau hanya sampai pada tingkat Syariat, bab rasa tidak pernah dibicarakan atau disinggung. Tetapi pada tingkat Tarekat keatas bab rasa ini mulai disinggung. Karena bila belajar ilmu Agama itu berarti mulai mengenal siapa Sang Percipta itu.
Karena ALLAH maha GHOIB maka dalam mengenal hal GHOIB kita wajib mengaji rasa.
Jadi jelas berbeda dengan tingkat syariat yang memang mengaji telinga dan mulut saja.Dan mereka hanya yakin akan hasil kerja panca inderanya.Bukan Batin!
Bab rasa dapat dibagi dalam beberapa golongan .Yaitu : RASA TUNGGAL, SEJATINYA RASA, RASA SEJATI, RASA TUNGGAL JATI.
Mengaji Rasa sangat diperlukan dalam mengenal GHOIB.Karena hanya dengan mengaji rasa yang dimiliki oleh batin itulah maka kita akan mengenal dalam arti yang sebenarnya,apa itu GHOIB.
1. RASA TUNGGAL
Yang empunya Rasa Tunggal ini ialah jasad/jasmani. Yaitu rasa lelah, lemah dan capai. Kalau Rasa lapar dan haus itu bukan milik jasmani melainkan milik nafsu.
Mengapa jasmani memiliki rasa Tunggal ini. Karena sesungguhnya dalam jasmani/jasad ada penguasanya/penunggunya. Orang tentu mengenal nama QODHAM atau ALIF LAM ALIF. Itulah sebabnya maka didalam AL QUR’AN, ALLAH memerintahkan agar kita mau merawat jasad/jasmani. Kalau perlu, kita harus menanyakan kepada orang yang ahli/mengerti. Selain merawatnya agar tidak terkena penyakit jasmani, kita pun harus merawatnya agar tidak menjadi korban karena ulah hawa nafsu maka jasad kedinginan, kepanasan ataupun masuk angin.
Bila soal-soal ini kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, niscaya jasad kita juga tahu terima kasih. Kalau dia kita perlakukan dengan baik, maka kebaikan kita pun akan dibalas dengan kebaikan pula. Karena sesungguhnya jasad itu pakaian sementara untuk hidup  sementara dialam fana ini. Kalau selama hidup jasad kita rawat dengan sungguh-sungguh (kita bersihkan 2 x sehari/mandi, sebelum puasa keramas, sebelum sholat berwudhu dulu, dan tidak menjadi korban hawa nafsu, serta kita lindungi dari pengaruh alam), maka dikala hendak mati jasad yang sudah suci itu pasti akan mau diajak bersama-sama kembali keasal, untuk kembali ke sang pencipta. Seperti halnya kita bersama-sama pada waktu dating/lahir kealam fana ini. Mati yang demikian dinamakan mati Tilem (tidur) atau mati sempurna. Pandangan yang kita lakukan malah sebaliknya. Mati dengan meninggalkan jasad. Kalau jasad sampai dikubur, maka QODHAM atau ALIF LAM ALIF, akan mengalami siksa kubur. Dan kelak dihari kiamat akan dibangkitkan.
Dalam mencari nafkah baik lahir maupun batin, jangan mengabaikan jasad. Jangan melupakan waktu istirahat. Sebab itu ALLAH ciptakan waktu 24 jam (8 jam untuk mencari nafkah, 8 jam untuk beribadah, dan 8 jam untuk beristirahat). Juga dalam hal berpuasa, jangan sampai mengabaikan jasad. Sebab itu ALLAH tidak suka yang berlebih-lebihan. Karena yang suka berlebih-lebihan itu adalah Dzad (angan-angan). Karena dzad mempunyai sifat selalu tidak merasa puas.
2. SEJATINYA RASA
Apapun yang datangnya dari luar tubuh dan menimbulkan adanya rasa, maka rasa itu dinamakan sejatinya rasa. Jadi sejatinya rasa adalah milik panca indera:

   1.
      MATA : Senang karena mata dapat melihat sesuatu yang indah atau tidak senang bila mata melihat hal-hal yang tidak pada tenpatnya.
   2.
      TELINGA : Senang karena mendengar suara yang merdu atau tidak senang mendengar isu atau fitnahan orang.
   3.
      HIDUNG : Senang mencium bebauan wangi/harum atau tidak senang mencium  bebauan yang busuk.
   4.
      KULIT : Senang kalau bersinggungan dengan orang yang disayang atau tidak senang  bersunggungan dengan orang yang nerpenyakitan.
   5.
      LIDAH : Senang makan atau minum yang enak-enak atau tidak senang memakan makanan yang busuk.

3. RASA SEJATI
Rasa sejati akan timbul bila terdapat rangsangan dari luar, dan dari tubuh kita akan mengeluarkan sesuatu. Pada waktu keluarnya sesuatu dari tubuh kita itu, maka timbul Rasa Sejati. Untuk jelasnya lagi Rasa Sejati timbul pada waktu klimaks/pada waktu melakukan hubungan seksual.
4. RASA TUNGGAL JATI
Rasa Tunggal Jati sering diperoleh oleh mereka yang sudah dapat melakukan Meraga Sukma (keluar dari jasad) dan Solat Dha’im.
Beda antara Meraga Sukma dan Sholat Dha’im ialah :

   1.
      Kalau Meraga Sukma jasad masih ada.batin keluar dan dapat pergi kemana saja.
   2.
      Kalau Sholat Dha’im jasad dan batin kembali keujud Nur dan lalu dapat pergi kemana  saja yang dikehendaki. Juga dapat kembali / bepergian ke ALAM LAUHUL MAKHFUZ.

Bila kita Meraga Sukma maupun sholat Dha’im, mula pertama dari ujung kaki akan terasa seperti ada “aliran“ yang menuju ke atas / kekepala. Pada Meraga sukma, bila “aliran“ itu setibanya didada akan menimbulkan rasa ragu-ragu/khawatir atau was-was. Bila kita ikhlas, maka kejadian selanjutnya kita dapat keluar dari jasad, dan yang keluar itu ternyata masih memiliki jasad. Memang sesungguhnyalah, bahwa setiap manusia itu memiliki 3 buah wadah lagi, selain jasad/jasmani yang tampak oleh mata lahir ini. Pada bagian lain bab ini akan kita kupas.Kalau sholat Dha’im bertepatan dengan adanya “Aliran“ dari arah ujung kaki, maka dengan cepat bagian tubuh kita akan “Menghilang“ dan kita akan berubah menjadi seberkas Nur sebesar biji ketumbar dibelah 7 bagian. Bercahaya bagai sebutir berlian yang berkilauan. Nah, rasa keluar dari jasad atau rasa berubah menjadi setitik Nur. Nur inilah yang disebut sebagai Rasa Tunggal Jati. Selain itu, baik dalam Meraga Sukma maupun Sholat Dha’im. Bila hendak bepergian kemana-mana kita tinggal meniatkan saja maka sudah sampai. Rasa ini juga dapat disebut Rasa Tunggal Jati. Sebab dalam bepergian itu kita sudah tidak merasakan haus, lapar, kehausan, kedinginan dan lain sebagainya. Bagi mereka yang berkeinginan untuk dapat melakukan Meraga Sukma dianjurkan untuk sering Tirakat/Kannat puasa. Jadikanlah puasa itu sebagai suatu kegemaran. Dan yang penting juga jangan dilupakan melakukan Dzikir gabungan NAFI-ISBAT dan QOLBU. Dalam sehari-hari sudah pada tahapan lillahi ta’ala.
Hal ini berlaku baik mereka yang menghendaki untuk dapat melakukan SHOLAT DHA’IM. Kalau Meraga Sukma mempergunakan Nur ALLAH, tapi bila SHOLAT DHA’IM sudah mempergunakan Nur ILLAHI. Karena ada Rasa Sejati, maka Rasa merupakan asal usul segala sesuatu yang ada. Oleh sebab itu bila hendak mendalami ilmu MA’RIFAT Islam dianjurkan untuk selalu bertindak berdasarkan rasa. Artinya jangan membenci, jangan menaruh dendam, jangan iri, jangan sirik, jangan bertindak sembrono, jangan bertindak kasar terhadap sesame manusia, dll. Sebab dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, kita ini semua sama , karena masing-masing memiliki rasa. Rasa merupakan lingkaran penghubung antara etika pergaulan antar manusia, juga sebagai lingkaran penghubung pergaulan umat dengan Penciptanya. Rasa Tunggal jati ini mempunyai arti dan makna yang luas. Karena bagai hidup itu sendiri. Apapun yang hidup mempunyai arti. Dan apapun yang mempunyai arti itu hidup. Sama halnya apapun yang hidup mempunyai Rasa. Dan apapun yang mempunyai Rasa itu Hidup.
Dengan penjelasan ini, maka dapat diambil kesimpilan bahwa yang mendiami Rasa itu adalah Hidup. Dan Hidup itu sendiri ialah Sang Pencipta/ALLAH. Padahal kita semua ini umat yang hidup. Jadi sama ada Penciptanya. Oleh sebab itu, umat manusia harus saling menghormati, tidak saling merugikan, bahkan harus saling tolong menolang dll.
Dan hal ini sesuai dalam firman ALLAH : “HAI MANUSIA! MASUKLAH KALIAN DALAM PERDAMAIAN, JANGAN BERPECAH BELAH MENGIKUTI LANGKAH SYAITAN, SESUNGGUHNYA SYAITAN ITU MUSUHMU YANG NYATA”
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

Offline luky

  • Ada Apa Denganku
  • Up Level
  • Guru
  • ********
  • Posts: 3479
  • Location: kota super macet >> jakarta
  • Reputasi : 235
  • ojo lali marang asalmu...>coook..
  • OS:
  • Windows XP Windows XP
  • Browser:
  • Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7
PAPAT LIMA PANCER
« Reply #17 on: March 12, 2010, 12:16:00 am »
PAPAT LIMA PANCER

Ing Kekayon wayang purwa kang kaprahe kasebut Gunungan, ana kono gambar Macan, Bantheng, Kethek lan Manuk Merak. Kocape kuwi mujudake Sedulur Papat mungguhing manungsa. Kewan cacah papat mau nggambarake nafsu patang warna yaiku : Macan nggambarake nafsu Amarah, Bantheng nggambarake nafsu Supiyah, Kethek nggambarake nafsu Aluamah, lan Manuk Merak nggambarake nafsu Mutmainah.

SEDULUR PAPAT LIMA PANCER Njupuk sumber saka Kitab Kidungan Purwajati seratane , diwiwiti saka tembang Dhandanggula kang cakepane mangkene :

Ana kidung ing kadang Marmati Amung tuwuh ing kuwasanira Nganakaken saciptane Kakang Kawah puniku Kang rumeksa ing awak mami Anekakake sedya Ing kuwasanipun Adhi Ari-Ari ingkang Memayungi laku kuwasanireki Angenakken pangarah Ponang Getih ing rahina wengi Ngrerewangi ulah kang kuwasa Andadekaken karsane Puser kuwasanipun Nguyu-uyu sabawa mami Nuruti ing panedha Kuwasanireku Jangkep kadang ingsun papat Kalimane wus dadi pancer sawiji Tunggal sawujud ingwang Ing tembang dhuwur iku disebutake yen ” Sedulur Papat ” iku Marmati, Kawah, Ari-Ari, lan Getih kang kaprahe diarani Rahsa. Kabeh kuwi mancer neng Puser (Udel) yaiku mancer ing Bayi.

Cethane mancer marang uwonge kuwi. Geneya kok disebut Marmati, kakang Kawah, Adhi Ari-Ari lan Rahsa kuwi?. Marmati iku tegese Samar Mati ! lire yen wong wadon pas nggarbini ( hamil ) iku sadina-dina pikirane uwas Samar Mati. Rasa uwas kawatir pralaya anane dhisik dhewe sadurunge metune Kawah, Ari-Ari lan Rahsa kuwi mau, mulane Rasa Samar Mati iku banjur dianggep minangka Sadulur Tuwa. Wong nggarbini yen pas babaran kae, kang dhisik dhewe iku metune Banyu Kawah sak durunge laire bayi, mula Kawah banjur dianggep Sadulur Tuwa kang lumrahe diarani Kakang Kawah. Yen Kawah wis mancal medhal, banjur disusul laire bayi, sakwise kuwi banjur disusul Metune Ari-Ari. Sarehne Ari-Ari iku metune sakwise bayi lair, mulane Ari-Ari iku diarani Sedulur Enom lan kasebut Adhi Ari-Ari Lamun ana wong abaran tartamtu ngetokake Rah ( Getih ) sapirang-pirang. Wetune Rah (Rahsa) iki uga ing wektu akhir, mula Rahsa iku uga dianggep Sedulur Enom. Puser (Tali Plasenta) iku umume PUPAK yen bayi wis umur pitung dina. Puser kang copot saka udel kuwi uga dianggep Sedulure bayi. Iki dianggep Pancer pusate Sedulur Papat. Mula banjur tuwuh unen-unen ” SEDULUR PAPAT LIMA PANCER ” 0 Kekayon wayang purwa kang kaprahe kasebut Gunungan, ana kono gambar Macan, Bantheng, Kethek lan Manuk Merak. Kocape kuwi mujudake Sedulur Papat mungguhing manungsa.

Kewan cacah papat mau nggambarake nafsu patang warna yaiku : Macan nggambarake nafsu Amarah, Bantheng nggambarake nafsu Supiyah, Kethek nggambarake nafsu Aluamah, lan Manuk Merak nggambarake nafsu Mutmainah kang kabeh mau bisa dibabarake kaya ukara ing ngisor iki: Amarah : Yen manungsa ngetutake amarah iku tartamtu tansaya bengkerengan lan padudon wae, bisa-bisa manungsa koncatan kasabaran, kamangka sabar iku mujudake alat kanggo nyaketake dhiri marang Allah SWT. Supiyah / Kaendahan : Manungsa kuwi umume seneng marang kang sarwa endah yaiku wanita (asmara). Mula manungsa kang kabulet nafsu asmara digambarake bisa ngobong jagad. Aluamah / Srakah : Manungsa kuwi umume padha nduweni rasa srakah lan aluamah, mula kuwi yen ora dikendaleni, manungsa kepengine bisa urip nganti pitung turunan. Mutmainah / Kautaman : Senajan kuwi kautaman utawa kabecikan, nanging yen ngluwihi wates ya tetep ora becik.

Contone; menehi duwit marang wong kang kekurangan kuwi becik, nanging yen kabeh duwene duwit diwenehake satemah uripe dewe rusak, iku cetha yen ora apik. Mula kuwi, sedulur papat iku kudu direksa lan diatur supaya aja nganti ngelantur. Manungsa diuji aja nganti kalah karo sedulur papat kasebut, kapara kudu menang, lire kudu bisa ngatasi krodhane sedulur papat. Yen manungsa dikalahake dening sedulur papat iki, ateges jagade bubrah. Ing kene dununge pancer kudu bisa dadi paugeran lan dadi pathokan. Bener orane, nyumanggakake
Terus belajar.............dan amalkan...............menjadikan hidup lebih berguna dan bahagia.......

komunitas forum satelit indonesia

PAPAT LIMA PANCER
« Reply #17 on: March 12, 2010, 12:16:00 am »