Serba Serbi > Lain-Lain

Renungan - Cerita Motivasi dan Inspiratif...!!

<< < (2/80) > >>

pippo_adhif:

--- Quote from: moch.michbak on May 11, 2010, 03:45:43 pm ---mantap broo... pencerahan yang mencerahkan..
suwun,
michbak


--- End quote ---


--- Quote from: joker on May 09, 2010, 09:42:41 pm ---Mantap bro >>/ (y) ';/

--- End quote ---

 ;) ;)

pippo_adhif:
Anak Kecil & Waktu

Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya.

Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”

“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja, Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.

“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.

Tetapi Imron tak beranjak.

Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”

“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis.

“Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya, Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp 5.000 ,- lebih dari itu pun ayah kasih.”

“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”

“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.

“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.   :'( :'(

Maximal Prime:
makasih bro... sangat mengharukan... :'(
semoga para ayah yg sibuk tetap bisa meluangkan waktunya untuk anak-anaknya...

pippo_adhif:

--- Quote from: maxx on May 12, 2010, 09:44:09 am ---makasih bro... sangat mengharukan... :'(
semoga para ayah yg sibuk tetap bisa meluangkan waktunya untuk anak-anaknya...

--- End quote ---

 ;) ;)

pippo_adhif:
Hanya Enam Pertanyaan

Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya.

Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan...........

Pertama : "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini......??"

Murid-muridnya ada yang menjawab, "Orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya"

Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar.......,
Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian.."
Sebab kematian adalah PASTI adanya.

Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua :
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini..??"

Murid-muridnya ada yang menjawab :
"negara Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang"

Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar........
Tapi yang paling benar adalah "Masa lalu,". Siapa pun kita, bagaimana pun kita dan betapa kayanya kita, tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang.

Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga : "Apa yang paling besar di dunia ini..??"

Murid-muridnya ada yang menjawab, "gunung", "bumi", dan "matahari".

Semua jawaban itu benar kata Sang Guru,
Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU"
Manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya...............
Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu. Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat).

Pertanyaan keempat adalah
"Apa yang paling berat di dunia ini..??"

Di antara muridnya ada yang menjawab... "baja", "besi", dan "gajah".

"Semua jawaban hampir benar...", kata Sang Guru ......., tapi yang paling berat adalah "memegang amanah ".

Pertanyaan yang kelima adalah.........
"Apa yang paling ringan di dunia ini..??"

Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan" ..

"Semua itu benar...", kata Sang Guru...tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "Meninggalkan ibadah,"

Lalu pertanyaan keenam adalah
"Apakah yang paling tajam di dunia ini..??"

Murid-muridnya menjawab dengan serentak....... "PEDANG...!!!"

"(hampir) Benar...", kata Sang Guru tetapi, yang paling tajam adalah "Lidah manusia" Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati... dan melukai perasaan saudaranya sendiri...

Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN, senantiasa belajar dari MASA LALU, dan tidak memperturutkan NAFSU...??? Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH, serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita...???
 :o :o

Navigation

[0] Message Index

[#] Next page

[*] Previous page

Go to full version